
" Lompat saja.. Setelah itu aku pun juga akan mati.. " Ucap Galen lantang.
" Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. " Galen tiba-tiba saja terbatuk. Memang dirinya belum bisa berbicara dengan lantang karena paru-paru nya baru saja dioperasi.
" Galen hentikan.. Biarkan saja kalau dia mau lompat turun ke bawah. Malah bagus buat aku dan kamu.. Aku bisa sama kamu dan kamu nggak perlu ngurusi wanita tidak tahu diri sepertinya dia.. " Sarkas Roseline yang merasa sudah gedek dengan tingkah Lucena.
" Rose.. Please.. " Galen menatap Roseline dengan tatapan memelas. Sedangkan yang ditatap, hanya menghela nafas kemudian memalingkan wajahnya.
" Aku masih tetap dengan keputusan ku, Luce.. Jika kau lompat... Maka aku... Mati.. " Nafas Galen sudah kembang kempis. Meski tidak melakukan banyak gerakan dan tidak banyak bicara, tetap saja ini berat untuknya.
" Pegang tangan ku, Luce.. Bisa kita bicarakan semuanya baik-baik.. Kita adalah sebuah keluarga, dan sudah menjadi tugas kami semua membantu mu dan Galen lepas dari masalah ini.. Kuat dan sabar, semua masalah pasti ada penyelesaian asalkan kau percaya bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar.. " Gafar berusaha mendekat sedikit demi sedikit sampai dia tinggal berjarak tiga langkah besar dari Lucena.
Galen merasa sangat bersalah saat ini. Ketidakmampuan nya saat ini, telah mendorong wanita yang dia cintai masuk ke jurang kegelapan. Dan inilah hasilnya, Lucena kembali mencoba melakukan bunuh diri setelah yang kali pertama bisa Galen hentikan. Ingin rasanya Galen menangis, tapi karena kehidupan yang berat sejak dia kecil, Galen paling tidak bisa menangis. Meski terkadang memang ada kalanya dia menangis.
" Luce.. Kemarilah.. Sambut tangan Gafar... Tidak ada yang tidak bisa kita selesaikan, Luce.. Percaya pada ku.. " Galen mulai terenggah.
" Luce.. Jika kau tidak ingin melihat Galen mengalami hal buruk saat ini, disini juga, lebih baik jangan berbuat nekat.. Saat ini, Galen masih butuh perawatan di rumah sakit. Tapi karena tidak ingin kau bunuh diri, Galen nekat kemari.. Bisa saja, jika kau tetap kekeh dengan kemauan mu, Galen bisa mati disini.. " Ucap Gaffi jujur tanpa sedikit pun ada unsur kebohongan.
" Tidak.. Galen tidak boleh mengalami hal itu.. " Lucena menggeleng, karena memang dia tidak ingin melihat Galen sakit seperti ini, bahkan bisa saja meninggal dunia.
" Kemarilah.. Kalau kau memang menyayangi Galen.. " Gafar semakin mendekat hingga akhirnya, Lucena masuk dalam pelukannya.
HAP..
" HAH.. HAH.. HAH.. Dasar kau gila ya.. Lain kali jangan berbuat sesuatu yang membuat satu keluarga khawatir pada mu.." Omel Gafar ketika berhasil mendapatkan tubuh Lucena ke bagian yang jauh dari pagar pembatas.
" Maafkan aku.. Maafkan aku.." Lucena langsung terduduk dan menangis histeris. Dia berusaha untuk mengeluarkan semua amarah, kesedihan dan kekecewaannya saat ini.
Dengan dipapah oleh Gaffi dan Roseline, Galen mendekat ke arah Lucena dan langsung memeluk wanita yang sangat dia cintai ini. Galen memeluk dengan sangat erat, menyalurkan rasa takut yang sempat bersarang padanya ketika mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri jika istrinya tengah mencoba untuk kembali bunuh diri.
Akhirnya, semua orang bisa bernafas dengan lega saat Lucena mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Sejak tadi mendengar dari pelayan jika Lucena hendak melompat dari rooftop, semua anggota keluarga de Niels sudah senam jantung. Dan ketika semua sudah selesai dengan hasil yang baik, mereka baru bisa bernafas lega.
***************
Lucena berjalan ke ruang keluarga di lantai dua, dimana semua anggota keluarganya sudah berkumpul untuk membahas solusi dari pemberitaan yang marak di media. Mereka kini tidak lagi bisa menunda seperti rencana awal mereka, karena lawan sudah menyerang lebih dahulu dan serangan mereka terkena telak pada pihak keluarga Lucena.
" Sekali aku minta maaf karena sudah berpikiran sempit tadi.." Lucena menunduk menyesal atas tindakannya yang sangat konyol tadi.
" Yah.. jika lain kali kejadian yang sama terulang, aku pastikan tidak akan ada yang menolong mu.. Lucena.." cibir Roseline.
" Rose.. Hentikan.. ini bukan saatnya saling menyerang dengan saudara sendiri.." tegur Gafar.
" Ya.. ya.. ya.. Andai dia tidak berbuat diluar nalar manusia itu, jelas kita sudah membahas masalah ini sejak tadi." Roseline masih belum puas menyudutkan Lucena.
" Maafkan aku, Rose.. Aku pastikan tidak akan ada lain kali.." Lucena memilih untuk mengalah dengan Roseline yang memang keras kepala, keras hati, dan bermulut tajam.
" Kita masuk dalam topik pembahasan.." ujar daddy Joaquin menengahi pertengkaran kedua keponakannya.
Beberapa diantara mereka mengeluarkan pendapat yang mana sisanya akan menjadi tim yang memberi suara. Selama kurang lebih satu jam, ada dua pendapat yang sama kuat. Menurut daddy Joaquin, dua pendapat ini harus dijabarkan agar semua yang ada di ruangan ini paham dengan maksudnya.
Pertama yang menjelaskan pendapatnya adalah Roseline. Sebagai seorang wanita independen dan memiliki karir yang cemerlang, Roseline terbiasa memikirkan dengan matang setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Termasuk pendapat yang dia ucapkan dalam pertemuan keluarga ini.
" Menurut ku kau harus jujur. Alasannya setiap kebohongan yang dibuat oleh seseorang, maka hanya akan menimbulkan kebohongan-kebohongan lainnya. Lalu kapan masalah ini selesai?" Roselien menatap tajam Lucena yang tepat berada di depannya.
" Laporkan masalah ini ke kepolisian di Roma karena kejadiannya terjadi di Roma. Setelahnya buat konferensi pers dengan kau jujur dihadapan semua orang jika di video itu benar kau.. Lalu katakan alasannya jika kau diberi obat tidur dan seterusnya.. Tidak perlu aku ajari kan kelanjutannya.." Roseline tersenyum miring.
" Lalu pendapat Ghadi?" daddy Joaquin lekas melanjutkan pembahasan ini daripada harus kembali mendengarkan dua keponakannya kembali adu mulut.
" Tunggu samapi semua bukti lengkap baru kita bicara di depan semua masyarakat. Tanpa bukti yang kuat, kita hanya akan dianggap sebagai orang yang membual di media.. Sekarang ini, masyarakat tidak butuh berita itu benar atau tidak, yang mereka butuhkan hanyalah sebuah berita yang bisa meledak di masyarakat.
Dua usulan ini sebenarnya berkesinambungan. Untuk bisa jujur di depan semua orang, memang membutuhkan banyak persiapan, dan salah satunya adalah bukti yang konkret yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.. Jika sudah berada dalam situasi ini, maka tanpa bukti, kita hanya akan dianggap membual saja.
" Lalu menurut kalian semua, keputusan apa yang akan kita ambil?"