IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Mood buruk



Galen duduk di dalam ruang kerjanya, hanya diam tanpa melakukan apapun. Fokusnya tidak lagi pada pekerjaannya. Melainkan pada laporan yang tadi disampaikan Ketos padanya beberapa menit yang lalu.


Galen tidak tahu harus menyikapi seperti apa, mengenai laporan Ketos tenang sang istri yang akhir-akhir ini kerap kali pergi keluar mansion untuk menemui seseorang di sebuah rumah sakit. Dan setelah diselidiki lagi, fakta mengejutkan harus Galen dengar dari Ketos.


Ingatan Galen jatuh ke hari dimana dia pulang kerja dan menemukan Lucena duduk di tepian ranjang dengan penampilan yang sedikit berantakan karena tidak seperti dirinya yang biasanya nampak rapi meski belum mandi sekalipun.


Yang paling membuat Galen terkejut, Lucena terlihat menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga terluka dan berdarah. Sungguh Galen saat itu panik dan langsung berniat membawa Lucena ke rumah sakit, namun langsung ditolak oleh Lucena dengan alasan bibirnya berdarah karena sariawan.


Kini Galen sungguh menyesal, andai saja saat hari itu dia tetap ngotot membawa Lucena ke rumah sakit. Maka apa yang saat ini terjadi pada Lucena tidak akan terjadi. Galen merasa kembali gagal menjadi seorang suami yang baik untuk istrinya.


" Ketos.. Masuk ke ruangan saya sekarang..!! " Perintah Galen melalui interkom yang menyambung langsung ke ruangan asisten dan sekretsrisnya.


Setelah berpikir cukup lama, meski banyak penyesalan yang terlintas dipikirannya. Selain itu juga Galen telah membuat keputusan untuk kali ini memilih berada di sisi Lucena. Kejadian ketika awal pernikahan mereka tidak akan Galen biarkan kembali terjadi. Dia, tidak akan membuat Lucena kembali mengalami rasanya ditinggalkan dan sendirian.


" Ya tuan.. " Ketos sudah berdiri di depan Galen terpisah oleh meja kerja milik Galen.


" Buat saya janji temu dengan dokter yang sering istri saya temui.. Secepatnya kalau bisa.. " Ujar Galen.


" Baik tuan.. Tapi apa perlu saya rahasiakan hal ini dari nyonya? " Tanya Ketos.


" Hm.. Dia saja tidak mengatakan apapun pada ku lalu kau pikir dengan aku mengatakan padanya dia akan jujur.. " Omel Galen terdengar ketus.


" Ya kali aja tuan mau berbicara terlebih dahulu dengan nyonya.. Selama ini, anda selalu membahas apapun masalah bersama nyonya.. " Ketos membela diri.


" Dia duluan yang mulai tidak jujur dengan saya.. Jadi ya jangan salahkan saya kalau menyembunyikan hal ini.. " Ketos pun akhirnya mengalah agar pembicaraan ini lekas selesai. Tuannya dalam mode lagi ngambek, dan akan panjang urusannya jika mencari gara-gara dengan tuannya.


" Tuan.. "


" Apa lagi? "


" Eh... Maaf tuan, bukan bermaksud mengganggu, tapi ingin mengingatkan jika lima menit lagi ada rapat dengan bagian perencanaan. "


" Hm.. Minta Bridella siapkan semuanya. "


" Baik tuan.. Saya permisi.. "


Galen mengibaskan tangannya mengusir asisten pribadinya yang menurutnya paling berani membantahnya. Mungkin karena mereka dekat sejak lama dan teman di masa kuliah, membuat hubungan mereka lebih akrab disebut teman daripada atasan dan bawahan.


Meski begitu, tidak pernah sekali pun Galen mendengar jika Ketos memanggilnya tanpa embel-embel tuan. Selalu tuan dan tuan, karena baginya meski sedekat apapun mereka, Galen tetap tuannya.


Lima menit berlalu dan kini Galen berada di dalam ruang rapat mendengarkan para pegawainya yang bekerja di bagian perencanaan. JN GROUP merupakan perusahaan yang bergerak di bidang properti dan juga kontraktor yang sudah memiliki nama di benua Eropa ini.


JN GROUP akan menjadi kontraktor sekaligus nantinya pemegang saham tertinggi karena selain menjadi kontraktor, JN GROUP juga sebagai penyedia dana untuk semua hal yang berhubungan dengan pembangunan ini.


" Tunggu.. Kau bilang ada tiga kandidat yang cocok untuk mensuplai semua bahan yang kita perlukan.. Kenapa hanya dua yang mengajukan proposal? " Tanya Galen menginterupsi penjelasan dari perwakilan bagian perencanaan.


" Mereka belum mengumpulkan proposalnya, tuan.. " Jawab manager bagian perencanaan terlihat sedikit gugup.


Terang saja gugup, karena entah karena alasan apa atau mungkin ada kesalahan yang tidak diketahui bagian perencanaan, tapi sejak memasuki ruang rapat ini, aura mencekam terasa begitu mencekik mereka. Tuan muda mereka yang biasanya bersikap biasa, kini terlihat memasang raut wajahnya dingin dan disekitarnya terlihat seperti ada aura hitam yang menguar dari tubuhnya.


" Jika seperti itu, kenapa kalian masih memasukan nama perusahaan itu dalam perencanaan kalian. Kalian seperti orang tidak pernah bekerja saja, hal sepele seperti ini tidak bisa kalian pikirkan dengan baik.. Perlu sekolah lagi agar bisa memahami situasi dan menarik kesimpulan sebelum membuat keputusan? " Sentak Galen.


Semua orang di dalam ruang rapat terkejut karena untuk pertama kalinya setelah sekian lamanya, tuan muda mereka menaikan nada bicaranya lebih tinggi seperti saat ini. Sepertinya, suasana hati tuan muda mereka benar-benar tidak bisa diajak untuk bicara baik-baik. Mode senggol bacok telah diaktifkan oleh Galen.


" Maaf tuan.. Perusahaan ini merupakan penyuplai semua bahan kita di proyek-proyek kita sebelum ini. JN GROUP selalu memakai jasa perusahaan ini, selain kualitas bahannya bagus juga harganya terjangkau.. " Manager perencanaan berusaha menjelaskan.


" Bukan berarti jika sejak awal kita bekerja sama, mereka bisa melupakan prosedur yang ditetapkan perusahaan kita.. Begitu maksud mu? Mau membuat aturan sendiri? " Tanya Galen yang sepertinya tidak bisa diajak kompromi kali ini.


" Begini tuan.. Batas pengumpulan proposal baru berakhir besok, jadi mungkin mereka baru akan... "


BRAK...


" Kau bercanda? " Galen menggebrak meja tepat di depannya.


" Jika batas pengumpulan proposal baru berakhir besok.. Lalu kenapa rapat ini diadakan sekarang? " Galen sudah berdiri sambil berkacak pinggang lantaran kesal.


" Rapat selesai.. " Ucap Galen langsung keluar begitu saja. Padahal rapat baru berjalan lima belas menit.


Manager perencanaan langsung menatap Ketos dan Bridella mencari bantuan dari dua orang yang selalu bisa mencairkan suasana hati tuan muda mereka. Tapi sepertinya kali ini, Ketos dan Bridella pun tidak bisa membantu karena suasana hati Galen memang sedang tidak bisa diajak bicara dari hati ke hati.


" Sabar.. Adakan rapat lagi ketika proposal sudah terkumpul dan kalian sudah membuat keputusan perusahaan mana yang akan join dengan perusahaan kita.. Untuk tuan muda, dia butuh waktu karena sedang menghadapi masalah berat saat ini.. " Ketos menepuk pundak manager keuangan agar bisa berbesar hati dan tidak patah semangat untuk ke depannya.


" Hm.. Tolong, bantu aku meminta maaf pada tuan muda.. Aku mengajukan rapat karena membutuhkan saran tuan muda mengenai tempat yang sekarang masih sedikit ada sengketa karena ada yang menolak menjual tanah mereka.. " Ucap manager perencanaan bernama Paul itu.


" Masalah itu, akan aku bicarakan dengan tuan muda.. Tapi nanti ya.. " Paul mengangguk.


Sungguh dia tidak bermaksud memperkeruh suasana hati tuan muda mereka yang sedang keruh itu. Pagi tadi, Paul dan Galen sempat berpapasan, dan terlihat Galen baik-baik saja saat itu. Siapa yang tahu jika beberapa jam kemudian, mood Galen sudah menjadi buruk karena alasan yang Paul sendiri tidak ingin ikut campur di dalamnya.


Sekarang dia hanya bisa berpasrah, semoga saja Ketos bisa membantunya bicara baik-baik dengan tuan muda mereka itu. Proyek harus selesai akhir tahun ini, jadi waktu mereka tidak lagi banyak untuk saat ini.