IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Saudara



Dua minggu tanpa orang yang paling kita sayang, terbayang bagaimana rasanya. Saat ini seperti itulah yang sedang Galen rasakan. Semangat untuk hidup rasanya sudah lenyap seiring dengan kepergian dari istri dan kedua anaknya.


Galen merasa lemah, tidak semangat, sedih, kecewa, marah, dan berbagai hal yang dia rasakan saat ini kecuali bahagia. Galen ingin marah, tapi disini dia sendiri yang bersalah. Dia yang mendorong Lucena untuk pergi, dan sekarang Lucena benar-benar pergi, lalu apa yang harus Galen lakukan. Bukankah seharusnya dia bersyukur.


Ya. seharusnya Galen merasa senang ketika seseorang yang dia anggap mengganggu upayanya pergi. Tapi, kenyataannya tidak seperti apa yang Galen pikirkan saat ini. Hancur, satu kata yang bisa mewakili hidupnya saat ini.


Setiap hari, kerjaan Galen hanya mengurung di dalam ruang pribadinya di Haeven Ares. Galen tidak pernah kecuali ketika orang suruhannya melapor tentang hasil pencarian tentang Lucena dan kedua buah hatinya, baru Galen keluar dari ruang pribadinya ini.


Jika kemarin-kemarin, alkohol menemani Galen di setiap jamnya, kini galen berganti mengkonsumsi nikotin. Seminggu yang lalu dia masuk rumah sakit karena dadanya sakit dan itu karena alkohol yang dia konsumsi. Menghindari gejala penyakitnya kambuh, untuk menenangkan pikirannya Galen sekarang beralih mengkonsumsi nikotin. Meski sebenarnya, baik alkohol ataupun nikotin justru memperburuk kesehatannya.


Seperti saat ini, Galen duduk di balkon kamar pribadinya di lantai paling atas Heaven Ares. Galen menyesap nikotin yang sudah ketiga kalinya sejak dia duduk di balkon ini. Pikirannya kacau saat ini dan dia butuh pengalihan agar dia masih mempertahankan kewarasannya.


Tok...Tok..


Galen yang tadinya sedang melamun, langsung tersadar ketika terdengar suara pintu ruang pribadinya diketuk. Sudah tahu siapa pelakunya, Galen hanya berteriak agar seseorang yang mengetuk ruangannya ini membuka pintu sendiri dan masuk. Galen terlalu malas untuk bangkit meninggalkan tempatnya saat ini.


" Tuan muda.." Ketos menyapa.


" Apa?" tanya Galen terlihat acuh.


" Tuan besar dan nyonya besar melakukan perjalanan ke London, Inggris." lapor Ketos yang memang mendapatkan laporan jika kedua orang tua Galen pergi ke luar negeri.


" Apa ada kemungkinan jika istri ku di sana?" tanya Galen mulai sedikit tertarik dengan topik pembicaraan ini.


" Tidak tuan.. Tapi cukup aneh jika tuan dan nyonya besar pergi ke sana tanpa tujuan yang jelas." Ketos menyampaikan kecurigaannya.


Galen paham maksud ucapan dari Ketos. Dia tahu siapa saja kenalan kedua oran tuanya dan rasanya kedua orang tuanya tidak memiliki kenalan di London. Jadi untuk menebak apakah kemungkinan Lucena berada di kota itu adalah fifty-fifty.


Galen tahu jika daddy Joaquin dan papa Daniel adalah dalang dibalik gagalnya oran-orangnya melacak keberadaan Lucena saat ini. Galen memang merupakan penerus posisi Daddy Joaquin di keluarga de Niels. Tapi saat ini, selama daddy nya masih hidup, Galen bisa dianggap hanya sebagai pengganti saja jika daddy nya tidak bisa menghadiri suatu acara.


Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa Daddy Joaquin tetaplah orang yang paling berkuasa di keluarga de Niels. Tidak ada cara saat ini selain berusaha sekuat mungkin untuk menemukan keberadaan Lucena. Memang membutuhkan waktu yang lebih banyak karena Galen harus kucing-kucingan dengan daddy dan papa mertuanya.


" Coba sebarkan beberapa orang di Heaven Ares London untuk mencari tahu. Orang-orang GhostNight tidak akan mendengarkan ucapan ku.." titah Galen.


" Dan satu lagi, selidiki semua teman-teman Lucena dan latar belakang mereka.. Jika benar Lucena keluar negeri, pasti ada seseorang yang membantunya menghilangkan jejaknya." Galen menambahkan.


" Baik tuan.. Dan Bridella tadi mengabari saya jika Tuan Gafar ingin bertemu dengan anda malam ini. Tuan Gafar berpesan agar anda mau menemuinya karena ada beberapa hal penting yang harus dibicarakan." Ketos menyampaikan pesan yang Bridella sampaikan padanya tadi.


" Minta saja bertemu disini.. Aku malas keluar dari tempat ini.." Galen menyetujui.


Selama dua minggu ini, sudah beberapa kali kembaran Galen mencoba untuk menemuinya tapi Galen menolak dengan alasan masih ingin sendiri. baik Gafar, Gaffi dan juga Ghadi, ketiganya sering kali meminta pada Ketos untuk menyampaikan jika mereka ingin bertemu dengan Galen. Dan jawabannya selalu sama selama dua minggu ini. Baru kali ini Galen menerima ajakan bertemu dari saudaranya.


Malam harinya, sepulang dari kantor JN GROUP, Gafar mampir ke Heaven Ares untuk bertemu dengan Galen. Dia khawatir dengan kondisi Galen apalagi galen sempat dilarikan ke rumah sakit seminggu yang lalu.


Gafar baru tahu jika Galen masuk rumah sakit selah Galen boleh pulang dari perawatannya. Galen memang tidak menggunakan fasilitasnya di JN Hospital karena ingin bertemu dengan Keluarganya. Daddy Joaquin sendiri sudah mencabut semua fasilitas Galen , jadi untuk apa pergi k JN Hospital.


Galen menemui Gafar di lantai dua yang tempatnya lebih private dibandingkan lantai satu. Biasanya di lantai dua sering digunakan oleh para pebisnis yang ingin bertemu dengan kolega mereka.


" Bagaimana kondisi mu?" tanya Gafar yang langsung mengambil duduk di depan Galen yang malam ini tengah menjelma menjadi bartender.


" Seperti yang kau lihat." jawab Galen tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya pada apa yang dia kerjakan saat ini.


" Aku bawakan kau makanan kesukaan mu.." Gafar menyerahkan paper bag yang berisikan makana favorit Galen dari restoran favoritenya.


" Thank... Ada apa kau kemari? Ketos bilang ada hal penting yang ingin kau sampaikan pada ku." tanya Galen acuh.


PLAK


Gafar memukul lengan Galen saat saudaranya ini telah menyelesaikan membuat minuman untuknya.


" Menengok mu apakan butuh alasan? Kalau kau lupa biar aku ingatkan. kita ini masih saudara


, Galen Avanoisk de Niels.." sentak Gafar kesal.


Salah Galen juga memancing saudaranya yang terkenal memiliki kesabaran dan toleransi setipis tisu dibelah menjadi delapan lembar. Tipiiiiiiiiiiiiis sekali.


" Sakit, Far.." Galen mengusap lengannya yang dipukul oleh Gafar.


" Aku akan membantu mu mencari keberadaan Lucena. tapi tidak bisa secepat diri mu aku mencari informasi karena harus pandai-pandai agar tidak ketahuan daddy." ucap Gafar menyampaikan alasannya datang menemui Galen.


" Tidak perlu... Daddy akan tersinggung jika kau membantu ku.. Lagipula, apa untungnya untuk mu membantu ku.." Galen menolak bantuan Gafar. Tidak ingin jika saudaranya ini dihukum oleh daddy Joaquin sama seperti dirinya.


" Aku selalu berada dipihak mu.. Sampai kapan pun aku dipihak mu Len.. Kita saudara, kita berbagi rahim mommy selama tujuh bulan lamanya. Sakit mu juga adaah sakit ku.." ucap Gafar sok puitis sekali. Galen hanya memutar bola matanya malas.


" Memang kau yang salah dalam hal ini, tapi aku yakin kau sudah menyesal. Jadi, sudah sepatutnya aku membantu mu." Galen tersenyum.


Galen tidak pernah meragukan keempat saudara kembarnya jika soal solidaritas. Keempat saudaranya selalu ada di dampingnya, di pihaknya jika dia mengalami kesulitan. Galen bersyukur, di tengah dirinya yang sedang menjalani hukuman dari daddy Joaquin, ada saudaranya yang mendukungnya dan menyemangatinya.


" Hei...Hei... Jangan lupakan kami berdua.. Kami juga akan membantu mu menemukan istri mu dan kedua anak mu.." Galen tersenyum melihat dua orang yang tiba-tiba datang tanpa diundang. galen sempat lupa, jika Gafar dan kedua orang yang baru saja mengambil duduk di depannya ini, sulit untuk dipisahkan.