
Hari ini adalah hari pertama Lucena untuk memulai mengajar di universitas swasta tak jauh dari rumah barunya. Pagi sekali Lucena bangun mempersiapkan semuanya termasuk kebutuhan kedua buah hatinya. Bersyukur sekali, keduanya tidak pernah rewel selama beberapa minggu berada di tempat ini tanpa kehadiran ayah mereka.
Lucena memasak makanan untuk sekalian siang hari, agar dua suster pengasuh anaknya tidak kerepotan dalam mengurusi anaknya juga kebutuhan mereka sendiri. Masakan yang simple dan bisa cepat selesai karena Lucena tidak bisa berlama-lama di dapur karena takut terlambat mengajar.
" Suster.. Untuk makan siang sudah saya buatkan sekalian.. Kebetulan saya ada kelas sampai sore.. " Ucap Lucena pada suster Clara yang baru turun membawa King.
" Iya nyonya.. Terima kasih.. " Suster Clara tulus mengucapkan Terima kasih. Pasalnya, jarang ada majikan yang bahkan memikirkan makan mereka. Biasanya, pandai-pandai mereka saja mengatur waktu untuk mengurus anak asuh mereka dan kebutuhan mereka.
" Suster Aida belum turun Sus? " Sambil menyiapkan bekal makan siangnya, Lucena bertanya.
" Masih memandikan nona kecil, nyonya.. Kebetulan hati ini, tuan muda kecil yang bangun lebih awal.. " Jawab suster Clara.
" Wah King.. Ingin mengantar bunda bekerja ya? " Lucena menyempatkan dirinya sebentar berinteraksi dengan buah hatinya.
" Iya bun.. " Suster Clara menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
" Hahahaha.. Tolong jaga King sebentar ya, Sus.. Saya mau mandi dan bersiap-siap.." Suster Clara mengangguk.
Kedua pengasuh si kembar sebenarnya menyayangkan perpisahan jarak dan waktu antara kedua majikannya. Pasalnya, nyonya mereka jadi kurang istirahat karena tidak ada yang membantu mengurus keduanya ketika kedua suster ini tengah makan ataupun mandi.
Bisa saja antara suster Clara dan Aida mandi secara bergantian, tapi Lucena selalu memaksa mereka untuk melakukan semuanya bersamaan agar selesainya lebih cepat dibandingkan seorang-seorang.
Bukan apa, Lucena tidak ingin kepentingan kedua pengasuh anaknya jadi terabaikan karena hampir semua waktu mereka tersita untuk mengurus si kembar. Lucena toh masih mampu menunggu kedua buah hatinya saat para suster melakukan kegiatan pribadi mereka.
" Sus, saya kerja dulu ya.. Kalau ada yang penting, telepon saya saja.. " Pamit Lucena setelah selesai mandi dan sarapan.
" Baik nyonya.. Hati-hati di jalan.." Ujar suster Clara dan suster Aida serempak.
Si kembar juga melambaikan tangannya ketika mobil bunda mereka meninggalkan pekarangan rumah sederhana mereka. Tidak menangis, tapi bisa dilihat jika kedua anak Lucena ini cemberut. Bibir mereka mengerucut, terlihat sangat lucu sekali.
" Main sama suster ya... Bunda mau kerja dulu.. Buat beli mainan King sama Queen ya, kalau bunda sudah gajian.." Suster Aida menghibur kedua anak majikannya.
*************
Kehadiran Lucena di Universitas ini disambut dengan baik oleh semua orang. Baik dari jajaran dosen dan para mahasiswa, semuanya menerima Lucena dengan tangan terbuka. Tidak ada yang mengungkit tentang video yang pernah menjadi skandal Lucena. Itu semua karena berita itu hanya tersebar di Italia. Galen dan daddy Joaquin menutup semua berita itu agar tidak sampai keluar dari Italia.
" Selamat pagi semua.. Perkenalkan nama saya Lucena Laura.. Kalian bisa memanggilnya saya Lucena.. " Salam perkenalan Lucena di kelas pertamanya hari ini.
" Selamat pagi, Miss.. " Sahut semua mahasiswa di kelas Lucena.
" Baik.. Mari kita langsung membuka materi untuk hari ini.. Dan nanti setelah kelas selesai, tolong asisten dosen untuk mengumpulkan tugas yang diminta oleh dosen sebelum saya.. " Ucap Lucena mengawali kelasnya.
Semuanya berjalan lancar hingga kelas terakhirnya selesai. Lucena bergabung dengan para dosen terlebih dahulu sebelum kembali pulang. Pasalnya, Lucena perlu mendekatkan diri dengan rekan kerjanya. Semua ini dibutuhkan saat berada di dalam lingkungan pekerjaan.
Para dosen yang masih tersisa di ruang para dosen, menerima kehadiran Lucena dengan baik. Mereka pun mengobrol, menceritakan gosip-gosip seputar mahasiswa mereka. Dari yang paling pintar dengan sejuta prestasi, sampai ke mahasiswa yang mendapatkan predikat sebagai mahasiswa abadi.
" Miss pulang naik apa? " Tanya dosen perempuan satu fakultas dengan Lucena.
" Saya naik mobil Miss.. Anda naik apa? " Tanya Lucena basa basi.
" Saya naik bus.. Kalau naik mobil, lebih repot kalau dari rumah saya. Baik bus lebih praktis dan tidak terlambat mengajar.. " Jawab teman dosen Lucena.
" Baik miss.. Kalau begitu saya pulang dulu.." Lucena membungkuk berpamitan.
" Hati-hati di jalan miss Lucena.. " Lucena tersenyum dan langsung menuju ke tempat mobilnya terparkir di parkiran khusus dosen.
**************
Galen masih menunggu kabar dari para pekerjanya di beberapa negara di Eropa. Tidak adanya kabar masuk dari Inggris dan Jerman, jelas membuktikan jika orang tua dan mertuanya tidak pergi ke sana. Galen tinggal menunggu laporan dari pekerja clubnya di beberapa negara lain di sekitar kedua negara itu.
Dirinya tidak sabar untuk segera menemukan keberadaan istri dan anaknya. Dia rindu kebersamaan keluarga mereka. Sungguh betapa bodoh dirinya sampai membuat keluarganya jadi tercerai berai seperti ini. Galen dibutakan dengan semua jerih payahnya tanpa melihat jerih patah istrinya.
" Kalau kau tidak bisa menemukan mereka, saranku buat saja mereka yang mendatangi mu.. " Celetuk Gafar yang kembali main ke tempat Galen tinggal.
" Memangnya bisa begitu? " Tanya Galen sebenarnya tertarik dengan usulan asal dari Gafar ini.
" Tidak akan tahu jika belum kau coba.. " Jawab Gafar sambil mengedikan pundaknya.
" Aku tak yakin rencana itu akan berhasil. Saat aku masuk rumah sakit juga dia tidak kembali. " Ujar Galen lesu.
" Itu karena dia tidak tahu.. Manfaatkan media, bukankah JN GROUP punya perusahaan yang bergerak di bidang media.. " Ucap Gafar enteng sekali.
" Hei.. Aku bukan lagi CEO JN.. Sekarang itu, Kau CEO nya. " Sentak Galen.
Gafar hanya tertawa saja, sukses sudah niatnya membuat saudaranya ini kesal. Menatap Galen yang sering memiliki pandangan kosong dan ekspresi wajah yang datar dan sedih, Gafar jadi ingin membuat Galen kesal agar terlihat bahwa Galen sebenarnya masih hidup.
Setelah Galen menyetujui pertemuan mereka dikali pertama. Sekarang, setiap hari Gafar akan kemari. Menemani Galen, menyemangati Galen, agar saudaranya ini tidak putus asa. Gafar tidak ingin Galen kembali jatuh sakit seperti minggu kemarin. Rasanya belum siap saja jika kondisi Galen memburuk dan berakhir dirinya harus kehilangan saudaranya sendiri.
" Far.. Menurut mu, jika aku bertemu lagi dengan Luce, apa dia akan memaafkan ku? " Tanya Galen mulai merasa rendah diri. Kesalahannya yang membuat Lucena pergi, menjadikan dirinya orang yang lemah.
" Kau tanya padanya jika kalian bertemu nanti.. " Gafar menjawab yang mana justru membuat Galen kesal.
" Bodohnya.. Bodohnya.. Seharusnya aku tidak bertanya pada mu.. " Gafar terkekeh.
" Len.. Coba kau pergi keluar negeri.. Yang mana negara yang aku rasa Lucena ada di sana, cobalah untuk mencari ke sana. Akan lebih cepat kau temukan Lucena jika aku sendiri yang turun tangan. " Saran Gafar.
" Nanti.. Biar aku pastikan benar tidak Lucena ada di salah satu negara itu, barulah aku melakukan sesuatu untuk menutupi maksud dan tujuan ku ke sana.. " Gafar pun mengangguk.