IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Bersyukur



Keluarga de Niels sungguh terkejut ketika kembali mendapatkan kunjungan dari keluarga Kim. Entah apa tujuan dari keluarga ini kembali mendatangi mansion keluarga de Niels di sore hari yang indah ini.


Meski terakhir kali pertemuan kedua keluarga ini tidak berlangsung dengan baik, karena ada perseteruan karena kesalahpahaman. Tapi keluarga de Niels tetap menyambut kedatangan keluarga Kim dengan baik. Bagaimana cara seseorang memperlakukan orang lain, maka begitu juga orang lain akan memperlakukan nya. Karena ini, sebisa mungkin keluarga de Niels tetap baik pada siapa saja meski pernah ada perseteruan.


" Selama sore tuan Kim.. Apa gerangan yang membawa anda sekeluarga kemari? " Daddy Joaquin menyambut kedatangan keluarga Kim.


" Maafkan kami sekeluarga, tuan de Niels.. Jika kedatangan kami mengganggu waktu anda sekeluarga.. " Tuan Kim berbicara sopan. Padahal terakhir kali, terlihat sekali pria ini berbicara kasar dan ketus.


" Tentu saja tidak mengganggu.. " Daddy Joaquin tersenyum.


Mata daddy Joaquin menatap ke arah Kim Hyorin yang sejak tadi hanya menundukan wajahnya tidak berani menatap dirinya. Daddy Joaquin memaklumi, karena pasti wanita ini merasa tidak nyaman dan malu atas perbuatannya terakhir kali. Tapi sebenarnya, daddy Joaquin dan sekeluarga tidak menyalahkan Kim Hyorin karena wanita ini juga korban disini.


" Bagaimana keadaan Hyorin? " Tanya daddy Joaquin ingin memperbaiki suasana yang canggung di antara dua keluarga.


" Baik tuan.. Terima kasih atas perhatian anda.. " Hyorin masih menunduk ketika menjawab pertanyaan daddy Joaquin.


" Eh.. " Hyorin terkejut ketika tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya. Saat dia menegakan pandangannya, Hyorin semakin terkejut saat melihat wanita yang pernah dia targetkan untuk disakiti, duduk di samping dan tersenyum ramah padanya.


" Nyonya.. "


" Eh.. Kok panggil nyonya.. Setahu saya, usia anda bahkan lebih tua satu tahu dari saya.. Panggil saja, Luce.. " Kim Hyorin terharu mendengar ucapan Lucena yang tidak ada nada permusuhan padanya.


" Maaf.. Maafkan saya atas apa yang terjadi sejak pertama kali pertemuan kita.. Maafkan saya telah menjadi benalu bagi anda dan tuan muda Galen.. Maaf.. " Hyorin menunduk dan menangis ketika meminta maaf pada Lucena.


Sebagai wanita yang pernah berada di posisi Hyorin meski dalam konteks yang berbeda, Lucena langsung memeluk Hyorin tanpa banyak bicara. Punggung Hyorin, ditepuk pelan oleh Lucena, agar Hyorin bisa merasa tenang karena ada seseorang yang akan menjadi penguatnya saat ini.


Mama Whitney, dulu juga melakukan hal yang sama seperti apa yang telah dilakukan oleh Lucena sekarang. Bagi seseorang yang tertimpa sebuah musibah, bukan banyaknya nasehat yang dibutuhkan, melainkan seseorang yang bisa menguatkannya.


Meski setelah ini Lucena dan Hyorin mungkin tidak akan pernah bertemu lagi, tapi Lucena ingin di akhir pertemuan mereka, bukan permusuhan yang terjadi, melainkan sebuah hubungan baik, seperti pertemanan. Bukankah sifat seorang wanita memang seperti ini, mereka bahkan bisa menjadikan saingan mereka sebagai teman.


" Jangan menangis lagi.. Nanti baby yang ada di kandungan kamu juga akan sedih.. Suasana hati seorang ibu hamil, berpengaruh pada baby nya.. " Nasehat Lucena agar Hyorin bisa berhenti menangis.


" Maaf.. Dan Terima kasih karena kamu tidak membenci ku.. " Hyorin menunduk malu.


" Membenci seseorang tidak akan memberikan kita kebahagiaan, jadi lebih baik kita saling berteman saja.." Lucena tersenyum manis sekali.


Kim Hyorin pada akhirnya bisa memahami alasan kenapa Galen sama sekali tidak bisa meninggalkan Lucena. Karena wanita berstatus istri Galen ini memiliki hati bagaikan malaikat. Musuh saja dia rangkul untuk bisa menjadi teman. Hal yang sama sekali tidak mungkin dirinya lakukan.


Dari lantai dua, Galen menyaksikan bagaimana istrinya bisa tersenyum bersama dengan wanita yang beberapa hari yang lalu menjadi calon perusak rumah tangganya. Galen sendiri heran, Lucena benar-benar luar biasa kalau urusan hal seperti ini. Bukan membenci, tapi memilih untuk merangkul mereka yang telah berbuat salah kepadanya. Seperti tiga mahasiswa yang merusak hidup Lucena.


Ada keinginan untuk turun dan bergabung dengan kedua keluarga itu. Tapi dia urungkan, karena menurut Galen dalam peristiwa ini yang paling dirugikan adalah Lucena. Jadi sudah sepatutnya Kim Hyorin dan keluarganya mengucapkan maaf pada Lucena.


" Mereka tidak menangis? " Galen heran.


" Tidak tuan muda.. Justru mereka memanggil anda.. " Pengasuh King Grif tersenyum menjawab.


" Ya...ya..ya..ya.." Begitu Galen masuk, terdengar memang si kembar bersahut-sahutan memanggilnya.


" Hahahahaha.. My boy, my Girl.. Kenapa cari ayah? Mau gendong? " Galen mendekati box bayi King Grif dan menggendongnya terlebih dahulu, baru setelahnya Queen Fay yang dia gendong.


" Mau ketemu bunda? " Tanya Galen dan langsung kedua anaknya heboh memanggil bunda mereka.


" Bu.. Bu.. Ya... Bu.. Bu.. " Galen tersenyum.


Dibawanya kedua putranya turun menggunakan lift. Dengan menggunakan tangga cukup bahaya, sehingga Galen tidak mau mengambil resiko apapun yang bisa membuat kedua buah hatinya celaka.


" Bu... Bu.. Bu.. " Terdengar suara si kembar memanggil bunda mereka.


" Hai Queen, Hai King.. Sini-sini.. Ini ada aunty Hyorin.. " Lucena melambai memanggil kedua buah hatinya.


" Mereka.. " Hyorin terkejut ketika melihat si kembar merangkak mendekat ke sofa yang dia dan Lucena duduki.


" Putra dan putri ku.. " Dengan bangga Lucena memperkenalkan.


Lucena dapat melihat jika Hyorin begitu tertarik ketika melihat si kembar yang kini duduk dipangku oleh Lucena dan salah satunya dipangku oleh nyonya Kim. Latihan, kata nyonya Kim agar terbiasa nantinya ketika cucunya sudah lahir.


Hyorin terharu, senang dan juga sangat tidak sabar menunggu anak yang dikandungnya lahir. Melihat betapa bahagianya nyonya Kim memangku Queen Fay, dalam hati Hyorin seketika menghangat. Ketakutan jika eomma dan appa nya tidak menyukai anaknya langsung sirna.


" Terima kasih.. " Ucap Hyorin pada Lucena.


" Untuk? " Kepala Lucena dimiringkan untuk melihat wajah Hyorin.


" Membuat ku menyadari bahwa kini aku bersyukur karena janin ku selamat dari peristiwa kemarin.. Kini aku bersyukur memilikinya, sehingga akan ada waktunya dimana aku bisa bersama dengannya nanti.. Tidak peduli apakah.. " Suara Hyorin tercekat tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika ingin membahas jika janinnya tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri.


" Banyak orang yang mengalami apa yang kamu alami.. Tapi mereka tidak kecewa dan mereka tetap menerima semuanya. Janin ini, tidak bersalah, " Lucena menyentuh perut Hyorin yang sudah terlihat membuncit, " Yang salah adalah orang yang tidak mau menerimanya.. Dia bahkan sangat ingin hidup, terbukti dia selamat dari peristiwa kemarin.. Lalu apa yang membuat mu tidak menginginkan nya? "


Hyorin mengangguk. Keputusannya sudah bulat, dia akan kembali ke negaranya dan membesarkan anaknya. Suatu hari nanti dia yakin buah hatinya akan menanyakan dimana keberadaan ayahnya, dan Hyorin akan mengatakan yang sebenarnya. Hyorin yakin, buah hatinya nanti akan mengerti apa yang dia rasakan dan dia putuskan.


" Terima kasih Luce.. Kau memang orang baik.. " Batin Hyorin.