
" Sial...Arrrggghhh..." seorang pria terlihat berteriak ketika melihat berita di televisi yang kini mulai berpihak pada lawannya.
" Kalau begini, lama-lama semua akan ketahuan dan rencana ku akan gagal total.." ucap pria ini sambil kedua tangannya mencengkeram rambutya.
" Berpikir... ayo berpikir dan kau harus menemukan cara untuk membalas mereka... Ayo berpikir.." rasanya otak pria ini sudah mulai buntu karena tidak tahu harus engan rencana seperti apa agar dendamnya bisa terbalaskan.
Wanita yang amat dia cintai berakhir meninggal bersama dengan anak yang ada di dalam kandungannya. Minimal, Lucena harus merasakan hal yang sama dengan wanita yang dia cintai. Meski rencana pertama gagal karena nyatanya saat Lucena mencoba bunuh diri pertama kali, dan berakhir gagal. Sekarang, setelah dia menyebarkan video tentang pemerkosaan yang dia lakukan pada Lucena, semua orang justru kini mendukung wanita itu.
Hal ini membuat pria sangat marah dan kecewa. Kenapa saat wanita yang dia cintai berada di posisi yang sama dengan Lucena, akan tetapi semua orang memusuhinya dan menjauhinya hingga berakhir wanita ini mengakhiri hidupnya. Rasanya sangat tidak adil sekali, sama-sama perempuan dengan nasib yang sama, namun akhirnya berbeda.
" Apa perlu aku mengungkapkan kejadian itu?" tanya pria ini pada dirinya sendiri.
" Tapi, identitas kami akan segera ketahuan bila kartu AS terakhir ku ini aku keluarkan.. Apa yang harus aku lakukan?" pria ini menyambar botol berisikan wine mahal, dan langsung meminumnya dari botol itu. Berharap bisa mabuk dan melupakan semua kesakitan yang dia alami setelah semua ini terjadi.
Melakukan hal sama terhadap lawannya sebagai bentuk balas dendam, sebenarnya bukan hanya menyakiti targetnya, dia pun merasakan sakit yang sama. Melakukan setiap derita yang dialami wanita yang dia cintai pada targetnya, justru semakin membuatnya menyadari betapa berat apa yang dialami oleh kekasih hatinya saat itu.
Beruntungnya Lucena, tidak mengalami kekerasan seksual dengan Galen yang saat ini merupakan pasangannya. Andai Lucena mengalami hal sama, bukankah kejadian yang dialami oleh kekasihnya sebelum meninggal benar-benar akan dirasakan oleh Lucena. Dan pertanyaannya, akankah Lucena akan mengambil langkah yang sama seperti dengan kekasihnya, yaitu mati dengan bunuh diri.
" lakukan rencana selanjutnya.. Pastikan semuanya berjalan lancar!!" titahnya pada seseorang yang dia hubungi.
Tanpa mendengarkan jawaban dari seseorang yang mendapatkan perintah darinya, pria ini lekas menutup teleponnya dan membuangnya ke arah ranjang yang ada di belakangnya.
" Aku harus mengajak mereka berdua untuk pergi dari kota ini dan bersembunyi untuk sementara waktu.." pria ini pun keluar dari apartemennya untuk pergi menemui kedua sahabatnya yang merupakan satu komplotan dengannya menyebabkan penderitaan yang dialami oleh Lucena.
******************
Di ruang rawat yang ada di lantai empat, JN HOSPITAL, pasien yang ada di ruangan ini masih terbangun meski hari sudah sangat larut. Pria ini, mengambil kesempatan dalam kesempitan ketika keluarganya terlelap tidur, maka dia akan bangun untuk melakukan beberapa riset dengan bukti yang sepupunya kirimkan untuknya.
Siapa lagi pasien yang bisa berada di lantai khusus untuk keluarga pemilik rumah sakit jika bukan Galen yang memang tengah menjalani perawatan karena sakit yang dia derita. Galen baru bebas dari pengawasan keluarganya ketika malam sudah tiba sama seperti saat ini. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Galen yang tidak mau diam saja selama kasus mengenai istrinya belum selesai.
Apalagi semalam, untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia mendengar dengan sendirinya tangisan sang istri yang sangat menyayat hatinya. Semalam, saat Lucena pikir jika Galen sudah terlelap setelah minum obat, dia duduk di sofa yang ada di bagian luar sekat tempat Galen istirahat dan menangis di sana.Tangisannya begitu pilu, sampai Galen yang belum tidur pun ikut menangis.
Beberapa kali Galen mendengar jika memukul sesuatu yang sudah Galen tebak pasti Lucena tengah memukul dada atau kepalanya. Lucena, memang selalu seperti itu ketika menangis dalam kondisi dirinya memang sedang dalam masalah yang cukup pelik. Siapa yang bisa tahan saat mengalami apa yang dia alami? Pastilah sangat mustahil ada perempuan yang bisa menjalani masalah seperti ini dengan kuat dan tetap sabar.
" Andai waktu bisa ku ulang, apakah seharusnya aku mengikat Lucena sebagai kekasih ku.. Dengan begitu, apakah kejadian ini tidak akan terjadi? " selalu ini yang ada di dalam pikiran Galen akhir-akhir ini.
Mendengar istrinya sudah tidak lagi kuat menghadapi cobaan ini, apalagi bisa Galen lihat dengan mata kepalanya sendiri dua kali Lucena bertaruh dengan kematian. Akhirnya dia tidak bisa lagi menunggu sampai dirinya sembuh baru turun langsung menyelidiki masalah ini. Galen tidak ingin menyesal dan berakhir kehilangan Lucena untuk selamanya.
Tidak bisa Galen bayangkan hidupnya jika tidak ada Lucena di dalamnya. Apakah masih akan sama seperti ini, atau justru Galen kehilangan sesuatu yang berharga saat menyadari tiada Lucena dalam hidup dan matinya..
" Bersabarlah.. Aku berjanji, kedua tangan ku ingin membawa kunci misteri yang kita alami dan akan membalas mereka berkali-kali lipat karena telah membuat mu menderita.." gumam Galen saat matanya melihat wajah polos sang istri yang tertidur di dalam sekat ruang rawatnya, bersama dengan dirinya meski Lucena tertidur di sofa.
Malam ini, Lucena tidak lagi menangis karena di luar sekat yang masih ada di dalam ruang rawat Galen, ada beberapa anggota keluarga de Niels yang ikut tidur di rumah sakit. Ad mama Whitney, ada Gaffi dan juga Ghadi. Beruntung menurut Galen, karena kehadiran keluarganya yang lain, sang istri tidak memiliki waktu untuk bersedih.
" Belum tidur ?" Galen dikagetkan oleh suara seseorang yang menyapa dirinya.
" Kau mengagetkan ku saja... Kau sendiri kenapa kemari? Bukankah seharusnya selagi masih di Milan, kau menghabiskan waktu dengan kekasih mu.." ledek Galen.
Yang diledeknya hanya bisa mendengus kesal. Jika dengan Galen, memang sulit untuk memiliki rahasia karena selalu saja pria satu ini tahu dengan semua yang keluarganya alami. Lucifer tahu, jika setiap anggota keluarga de Niels memang memiliki pengawal pribadi yang bergerak dari jarak jauh yang nantinya akan melapor dengan Galen. Untuk kasus Geya, Gaffi dan Lucena memang galen kecolongan karena tidak ada laporan dari pengawal yang dia perintahkan untuk mengawasi saudaranya.
" Ini.. Aku menemukan sesuatu yang janggal dari data yang ada di jadwal mengajar kak Luce dan buku diary nya.." Lucifer menyerahkan hasil penyelidikannya.
" Maksudnya?" Galen sedikit tidak paham dengan maksud Lucifer. Kenapa juga mesti ada perbedaan karena Lucena biasanya selalu menulis apa yang dia alami tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi.
" Berapa orang yang ikut dalam kegiatan bimbingan yang dia jadwalkan, bukanlah kelompok dari anggota yang dia ajar hari itu.. Aku menemukan kejanggalan anggota yang dia jadwalkan ikut bimbingan ini terjadi secara berkala dan dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Tepatnya, enam bulan lamanya.." Galen tersentak karena terkejut.
" Kau tahu siapa-siapa saja yang bukan anggota kelompok itu yang hadir?" tanya Galen.
" Lebih kurangnya tahu, hanya saja rupanya hal itu juga diacak.. Otak ku tidak lagi sanggup memilah yang sekiranya bisa dijadikan tersangka.. Jika kau yang melakukannya mungkin saja bisa." ucap Lucifer yang mempercayai kemampuan kakak iparnya ini memang sangat luar biasa.
" Hm.. Akan aku pelajari.. kau selidiki latar belakang mereka saja.." ujar Galen meminta bantuan Lucifer.
" Oke.. Semoga setelah ini.. Permasalahan akan segera selesai.."
Galen tentu saja mengamini ucapan Lucifer barusan. Siapa yang tidak ingin masalah dalam hidupnya berakhir. Begitu pula Galen dan juga Lucena. Sedikit demi sedikit karena nafsu balas dendam dari lawan mereka, justru membuat mereka memiliki beberapa petunjuk yang tidak sengaja lawan tinggalkan. Bagi galen saat ini, hanya tinggal menunggu hasil akhir penyelidikan yang tengah diurus oleh seseorang di Sisilia, maka semua misteri akan terungkap.