IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Mengejutkan



Lucena kini hanya seorang diri di ruangan milik mommy Noura di yayasan JN. Tadi, pengurus penari jompo meminta ibu mertua Lucena untuk mengecek persiapan acara yang akan diselenggarakan beberapa hari ke depan. Ulang tahun yayasan JN yang ke dua puluh tahun. Acara ulang tahun JN selalu diselenggarakan sederhana. Dimana anggota keluarga de Niels, dan penghuni panti saja yang datang.


Untuk masalah pengisi acara, anak yatim dan para orang tua di panti jompo yang mengisinya. Kadang ada teatrikal, musik instrumen, ada juga yang bernyanyi, membaca puisi dan lainnya. Memang hal itu sengaja dilakukan untuk memupuk kreatifitas dari para penghuni panti.


Kembali pada Lucena, istri dari putra sulung keluarga de Niels ini masih terus memikirkan ucapan mommy nya tentang kehamilan. Tanda-tanda yang diucapkan mommy Noura memang sudah ada beberapa yang Lucena alami. Tapi dia tidak berani berkesimpulan begitu karena pernikahan mereka baru berjalan tiga minggu. Lucena merasa sangsi jika dia sudah hamil, diwaktu yang secepat ini.


" Periksa tidak ya? " gumam Lucena dilema.


" Apa aku tanya Galen saja ya? Tapi, apa dia tidak akan marah? Aku tahu dia kecewa pada ku akhir-akhir ini. Kalau aku bilang padanya dan hasilnya negatif, dia pasti akan semakin kecewa.. Periksa tidak ya? "


" Periksa saja Luce.. Apa perlu mommy antar? " suara mommy Noura tiba-tiba saja mengejutkan Lucena yang sedang dilema.


" Nggak usah mom.. Biar nanti Lucena periksa sendiri. Kalau pun nanti belum isi, kan aku nggak perlu ngerasa malu sama mommy.. " Lucena nyengir kuda.


" Kamu ini, kayak sama siapa aja.. Benar nggak mau mommy antar? " tanya mommy Noura sekali lagi.


" Iya mom.. Nanti aku sendiri yang periksa ke JN Hospitals. " mommy Noura mengangguk.


Setelah semua urusan di sana selesai, sebelum memeriksakan diri ke rumah sakit, Lucena terlebih dahulu mengantar mommy Noura pulang ke mansion utama. Sekalian Lucena meminta maaf pada daddy Joaquin karena sudah membuat ayah mertuanya itu panik saat dirinya tiba-tiba saja menghilang dan tidak memberi kabar.


Lucena tersenyum menatap pria tampan yang duduk di kursi goyangnya sambil menikmati suasana di belakang mansion yang selalu sejuk karena banyak pohon di sana. Pria tampan yang paras yang begitu berkharisma, meski sekarang usianya sudah tidak muda lagi.


" Selamat siang daddy... " sapa Lucena.


" Luce? Selamat siang nak, apa gerangan yang membawa kamu kemari? " daddy Joaquin langsung menegak tubuhnya saat melihat menantunya datang.


" Mau bertemu daddy, sekaligus meminta maaf karena sudah membuat daddy khawatir waktu hari itu.. Maafkan Luce ya dad.. Luce tidak bermaksud membuat daddy dan mommy khawatir.. " ucap Lucena dengan kepala tertunduk.


Daddy Joaquin mengusap puncak kepala Lucena dengan penuh kasih sayang. Melihat Lucena membuatnya mengingat putrinya yang kini sudah mendapatkan kebahagiaan nya karena telah bertemu dengan jodohnya. Meski usia Geya dan suaminya terpaut cukup jauh, tapi bisa daddy Joaquin lihat bahwa suami Geya sangat menyayangi putrinya. Kini, daddy Joaquin ingin keempat putranya juga mendapatkan kebahagiaan.


" Terima kasih daddy.. Maaf Luce tidak bisa lama-lama.. Lucena mau ke rumah sakit untuk periksa.. " pamit Lucena setelah berbincang cukup lama dengan mertuanya.


" Memangnya kamu sakit? Daddy antar ke rumah sakit kalau begitu.. " daddy Joaquin hendak bangkit, namun Lucena mencegahnya.


" Lucena sendiri aja daddy.. Nggak apa kok, daddy tenang saja di mansion, nanti Luce pasti kasih kabar ke daddy.. Tapi, kalau kabarnya tidak sesuai harapan, daddy jangan kecewa ya.. " ujar Lucena terlihat sedikit takut.


" Tenang saja.. Kalian masih punya banyak waktu untuk berjuang, jadi jangan patah semangat kalau hasilnya tidak sesuai keinginan mu.. " Lucena mengangguk, lalu tersenyum menatap wajah ayah mertuanya yang tengah tersenyum padanya. Senyum yang begitu teduh, berbanding terbalik dengan senyum penuh kepalsuan yang dia tunjukan.


Bagaimana mau berjuang memiliki anak, kalau suaminya saja tidak pernah menyentuh dirinya lagi sejak malam pertama dulu. Itu juga lah yang membuat Lucena ragu untuk pergi ke dokter kandungan. Perasaannya tidak enak tentang hal ini, dan dia takut mengecewakan semua orang, terutama suami dan juga kedua mertuanya.


" Mohon maaf nyonya.. Dokter Milan sekarang ini tengah berada di ruang operasi. Hanya ada dokter Lora yang berjaga di bagian obgyn. Apakah anda menunggu dokter Milan saja, atau dengan dokter Lora? " tanya suster yang mengantarkan Lucena.


" Dokter Milan.... adalah dokter kandungan? " tanya Lucena terkejut sekaligus merasa ada yang aneh.


" Benar nyonya.. Dokter Milan adalah dokter yang menangani anda terakhir kali.. Jadi.. bagaimana? " sekali lagi suster itu bertanya.


" Dengan dokter Lora saja juga tidak apa, Sus.. Lagi pula kemarin juga karena ada sedikit masalah dengan perut ku.. Mungkin karena itu dokter Milan yang merawat ku.. " ucap Lucena yang tidak ingin merepotkan semua orang disini hanya karena dia ingin memeriksakan kandungan nya.


" Kalau begitu, mari saya antar nyonya.. " Lucena mengangguk dan langsung mengikuti langkah suster di depannya.


Sungguh beruntung ketika Lucena datang ke ruang praktek dokter Lora, pasien terakhir yang diperiksanya baru saja keluar dari ruangannya. Memudahkan Lucena yang langsung diantar masuk ke dalam ruangan dokter Lora oleh suster yang mengantarnya tadi.


" Nyonya muda.. Apa kabar? Apakah ada yang bisa saya bantu? " dokter Lora langsung berdiri dan menyapa menantu pemilik rumah sakit tempat bekerjanya ini.


" Baik dok.. Maaf karena kedatangan saya mendadak, semoga dokter tidak marah karena saya tidak mematuhi prosedur yang ada.. " ucap Lucena sangat sopan.


" Tidak apa nyonya muda.. Saya paham akan kesibukan anda.. Kalau boleh saya tahu, apa gerangan yang membawa anda kemari? " tanya dokter Lora sekali lagi.


Lucena dengan sedikit merasa gugup, langsung menjelaskan maksud kedatangannya. Lucena juga menjelaskan bahwa dia juga belum pasti apakah dia benar hamil atau tidak. Tapi gejala yang dia alami, memang mengarah ke sana. Untuk pastinya, Lucena ini memeriksakan dirinya. Jika benar hamil, maka itu adalah rejeki Lucena dan jika pun gejala yang dia tunjukan adalah karena sebuah penyakit, maka lekas akan mendapatkan perawatan.


" Kalau begitu kita USG saja ya nyonya muda.. Untuk lebih pasti dan jelasnya.. " Lucena mengangguk.


Dokter Lora mengoleskan gel dingin di perut Lucena bagian bawah setelah kemeja Lucena dia singkap ke atas sedikit. Transducer langsung menyentuh area bahwa perut Lucena. Sungguh hal ini membuat Lucena gugup setengah. Dia memejamkan mata karena tidak ingin melihat sesuatu yang berujung pada kekecewaan. Namun ucapan dokter Lora membuatnya merasa sangat senang.


" Selamat nyonya muda.. Benar anda saat ini telah mengandung, bisa anda lihat ke monitor yang mana ada titik di sana. Itu adalah kantong embrio yang berisi janin.. " ucap dokter Lora semangat.


" Benarkah dok... Berapa usia kandungan saya dok? Kenapa kecil sekali? " tanya Lucena.


" Kandungan anda saat ini berusia enam minggu, sangat sehat begitu pula dengan anda...... "


JEEEDDDEEERRRR


Tubuh Lucena langsung menegang kala mendengar ucapan dokter Lora, " Enam minggu dok? Apa anda tidak salah? " tanya Lucena dengan wajah yang terlihat pucat.


" Benar nyonya.. Saya tidak mungkin salah menghitung.. " tubuh Lucena langsung lemas. Kenyataan apa ini, kenapa otak Lucena langsung blank saat ini.


Dalam hatinya Lucena bertanya, " Anak siapa ini? "