IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Kegiatan



" Selamat pagi miss Lucena.. Senang bisa berjumpa lagi dengan anda.. Kami dengar anda menikah ya? " tanya seorang mahasiswi di mata kuliah Lucena.


" Selamat pagi juga.. Dengar dari mana saya menikah? " tanya Lucena yang memang selalu membina hubungan baik dengan mahasiswa nya.


" Eh.. Nggak usah begitu deh.. Miss menikah dengan pria yang sering jemput miss itu kan.. Pria tampan yang vibes nya CEO ganteng begitu.. " mahasiswi Lucena menggoda.


" Hish.. Kalian ini bisa saja.. " Lucena tersipu malu.


" Tuh kan.. Miss sampai tersipu begitu.. Berarti bener ya, menikah sama tuan CEO ganteng itu.. "


" Hm.. Mohon doa nya ya.. "


" Tentu Miss.. Semoga rumah tangga miss Lucena bisa langgeng dan diberikan banyak sekali momongan.. "


" Terima kasih.. "


Hari ini, adalah hari pertama Lucena mengajar setelah menikah. Sempat off selama dua bulan, Lucena akhirnya mengikuti kata papa dan mamanya untuk tetap berinteraksi dengan orang-orang. Dengan begitu, tidak akan membuat Lucena menutup dirinya dari masyarakat, dan luka hatinya juga akan berangsur membaik.


Sejak keluar dari mobil yang dia kendarai ke Universitas swasta tempatnya bekerja, terhitung sudah banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi yang menyapanya. Membuat hati Lucena menghangat, karena ternyata masih banyak orang yang menyayanginya.


" Selamat pagi Miss Lucena.. " sapa salah seorang dosen yang juga mengajar di universitas yang sama dengan Lucena.


" Selamat pagi, Prof.. Senang bertemu dengan anda.. " Lucena menjabat tangan seniornya itu.


" Kabarnya anda menikah? Apa itu benar? " tanya senior Lucena.


" Hm.. Sepertinya berita saya menikah sudah tersebar di seluruh kampus.. " ucap Lucena terkekeh.


" Benar sekali.. Dan saya mendengar banyak sekali mahasiswa yang patah hati karena dosen yang mereka idolakan, sudah menikah.. " ucap senior Lucena.


" Hahahahaha.. Anda bisa saja, prof.. Jangan membuat saya melambung, kemudian menjatuhkan saya.. "


" Tentu saja tidak.. Tapi kami harap, kamu enjoy dengan situasi di kampus sekarang ini meski sudah menikah.. "


" Tidak ada hubungannya prof.. " keduanya tertawa.


Hari pertama ini, semuanya berjalan dengan lancar. Meski sesekali Lucena masih merasa sedih atau tertekan bila teringat tentang masalahnya dengan Galen. Tapi bisa dikatakan semuanya lancar, hingga dia bertemu dengan anak didiknya yang seharusnya sudah lulus beberapa minggu yang lalu.


" Hai miss Luce.. Akhirnya anda kembali mengajar.. " ucap mahasiswa Marcelino.


" Kamu.. Kok masih kuliah disini? " tanya Lucena heran.


" Saya tidak lulus mata pelajaran miss Luce, karena dosen penggantinya menyebalkan.. Saya tidak suka.. Jauh lebih suka kalau miss Luce yang menjadi dosen saya.. " jawab Marcelino. Namun, ada sesuatu yang aneh dari cara bicara anak didiknya ini. Nada bicaranya, terdengar sedikit ambigu di telinga Lucena.


" Benarkah? Lalu bagaimana dengan kedua teman mu itu? " tanya Lucena. Dia mengenyahkan perasaan tidak enak di hatinya.


" Kalian ini.. Kenapa bisa tidak lulus dan mengulang? Seharusnya pelajaran dari saya waktu itu bisa kalian terapkan dengan baik.. "


" Hahahahaha.. Benar sekali.. Pelajaran dengan miss Luce waktu itu, memang begitu mengenai di hati.. Karena itu kami jadi bingung kalau bukan miss Luce yang mengajar.. Rasanya kurang menarik dan kurang menyenangkan.. " alis Lucena mengernyit karena ucapan Marcelino.. Menurutnya, konteks percakapan mereka tidak satu jalan. Marcelino, membicarakan masalah lain, namun sefrekuensi dengan pembahasan Lucena.


" Sampai ketemu besok ya.. Saya pulang dulu.. " pamit Lucena yang mulai tidak nyaman.


" Hati-hati di jalan miss.. Pasti akan sangat menyenangkan, karena miss Luce yang mengajar.. " Lucena geleng-geleng kepala.


" Tidak disangka dia kembali.. Tahun ini, pasti menyenangkan sama seperti tahun ajaran kemarin.. Al dan Podro, harus tahu hal ini.. Mereka pasti jingkrak-jingkrak ketemu sama dosen idola mereka.. Hehehehehe.. " Marcelino menyeringai.


****************


Di Milan, sudah sesiang ini, tapi Galen sama sekali belum beranjak dari kursi kebesaran nya. Sejak Lucena ikut kembali ke Roma dengan kedua orang tuanya, waktu Galen banyak dihabiskan untuk kerja dan kerja. Alasannya karena tidak ingin berlarut kepikiran Lucena di Roma sana. Rindu, dan khawatir, mendominasi menjadi satu di pikiran Galen.


" Tuan.. Waktunya makan siang.. Apa anda akan makan siang di kantor, atau di luar? " tanya Bridella. Sejak tuannya jadi mode gila kerja, urusan makan saja harus asisten dan sekretaris nya yang mengingatkan. Jika tidak, bisa sampai malam tuannya tidak akan makan.


" Di sini saja.. Kamu, Billcan dan Ketos, bisa makan di luar sana.. " ucap Galen dengan mata yang tetap tertuju ke arah berkas yang dia baca.


" Baik tuan.. Saya pesan kan menu favorit anda, apakah boleh? " Galen mengangguk.


Bridella keluar dari ruang kerja Galen, dengan raut wajah sedih yang paling banyak mendominasi. Sungguh kasian sekali, tuan mudanya jadi begini karena rumah tangganya yang tidak lancar. Padahal jika dipikir-pikir, dia dan istrinya termasuk pasangan baru. Biasanya, jika pasangan baru seperti ini, justru sedang hangat-hangatnya. Tapi lihat, tuan mudanya justru kebalikan dari itu.


Hubungan Galen dan ketiga orang kepercayaannya ini, memang sangat baik sejak dulu kala. Bridella adalah adik kelas Galen saat kuliah, Ketos adalah teman bertemu di jalan saat itu dan keduanya langsung akrab, padahal sama-sama berusia enam belas tahun. Sedangkan Billcan, dulunya adalah kekasih dari Roseline yang hanya berlangsung dua minggu saja. Karena kasian diputus sepihak oleh sepupunya, Galen menjadikannya asisten pribadi.


" Kenapa wajah mu ditekuk begitu? Jelek tahu.. " ejek Billcan.


" Ck.. Peduli setan dengan pendapat mu.. Saat ini aku merasa iba dengan kondisi tuan muda.. Sampai kapan dia begini, badannya saja sampai kurus begitu.. " ucap Bridella langsung terduduk lesu.


" Terus.. Kita jadi makan di kantin tidak? " tanya Billcan yang sudah tidak bisa lagi menahan lapar.


" Heh.. Pikiran mu cuma makan, makan dan makan terus.. Dengar tidak aku tadi bicara apa? " sentak Bridella menghadiahkan geplakan maut di punggung Billcan.


" Aaarrgghhh.. Sakit Bri.. Terus mau kamu apa sekarang? Aku lapar, kalau kau masih mau di sini, aku ke bawah duluan. " hendak Billcan beranjak dari duduknya, tangannya langsung dicekal oleh Bridella.


" Aku ada ide brilian.. Ayo.. Kita ke kantin dulu, hubungi Ketos suruh ke kantin juga.. kemana orang itu, sejak tadi tidak kelihatan. " Bridella langsung menyeret teman kerjanya itu menuju ke kantin di lantai lima belas.


Di dalam ruang kerjanya, Galen masih fokus dengan tumpukan berkas yang sebenarnya bisa di cek besok. Tapi, dia memang sengaja menyibukkan diri untuk setidaknya mampu membuat pikirannya lupa dengan masalah hidupnya. Galen memang tidak akan beranjak dari tempat duduknya karena memang dia lebih senang bersama dengan berkas dibandingkan berinteraksi dengan orang.


Semua urusan diluar kantor, mulai beberapa hari yang lalu, diwakilkan oleh Ketos dan Billcan. Galen fokus pada semua pekerjaan di dalam kantor saja. Dia enggan bertemu orang lain, karena hanya membuatnya jadi kepikiran Lucena terus. Orang-orang selalu bertanya tantang pernikahannya, membuat Galen jadi sedih.


Sedang asyiknya berjibaku dengan pekerjaannya, ruang kerja Galen di ketuk dari luar. Muncul tiga orang kepercayaannya membawa troli makan. Alis Galen bertaut, tidak paham dengan maksud ketiga orang yang tersenyum mendekat ke arahnya.


" Kalian mau apa membawa itu semua? " mata Galen melotot karena melihat banyak makanan di troli.