
Hari demi hari telah berlalu, dan tak terasi besok Lucena dan Galen harus terbang kembali ke Milan. Perjalanan bulan madu ini begitu membekas dan berkesan bagi keduanya, maka besok mereka bisa kembali ke tempat asal mereka dengan membawa banyak sekali kenangan.
Hari ini kegiatan Galen dan Lucena hanya untuk mengemas semua barang-barang mereka. Jika kemarin waktu mereka berangkat ke Maldives mereka hanya membawa satu koper, untuk masing-masing. Kini, mereka sudah mengemas lebih dari empat koper dan semua itu berisi oleh-oleh untuk keluarga besar dan juga barang belanjaan Galen dan Lucena sendiri.
Sejak mereka bangun tadi pagi hingga hari sudah beranjak menuju ke langit yang mulai meredup karena sore telah tiba. Baik Galen maupun Lucena hanya berkutat dengan semua barang-barang mereka saja. Sesi mengemas semua barang ini hanya berhenti ketika makan siang datang dan saat mereka mengangkat telepon dari keluarga mereka yang menanyakan kepulangan mereka.
" Capek.. " Keluh Lucena setelah berhasil mengemas semua oleh-oleh yang dia beli untuk keluarganya.
" Capek? Sudah tahu kita cuma berdua, tapi kamu beli barang banyak banget kek nggak akan ke sini lagi.. Luce, keluarga kita itu lebih dari mampu untuk pergi ke sini sendiri.. Nggak usah dibelikan oleh-oleh yang berlebihan.. " Omel Galen.
Entah karena siapa dan entah siapa yang mengajari istrinya ini untuk jadi gemas sekali shopping. Di antara semua saudara Galen, sejak dulu hanya Lucena yang paling anti shopping karena biasanya semua keperluannya akan mama dan papanya sediakan jadi dia tidak perlu repot-repot untuk shopping ria.
Tapi kali ini, setiap hari Lucena akan meminta diajak keluar untuk jalan-jalan dan selalu membawa pulang barang belanjaan. Total koper yang akan dibawa pulang mereka dari Maldives ke Milan berjumlah enam buah. Dua untuk pakaian mereka dan empat untuk oleh-oleh. Galen dibuat pusing berkali-kali karena ulah sang istri.
" Tahu.. Kalau keluarga kita mampu untuk pergi kemari.. Tapi kan waktunya yang nggak ada, Galen.. " Protes Lucena.
" Kamu tahu, untuk ke sini satu bulan.. Ghadi dan Gafar musti gantiin kamu.. Kalau salah satu dari mereka kemari juga pasti akan digantikan saudara yang lain dong.. Mana bisa mereka kemari dalam waktu dekat.. " Lanjutnya.
" Aku pun yakin jika setelah pulang dari sini, kamu akan sangat sibuk sekali.. Lihat saja, aku berani bertaruh untuk hal ini.. " Bibir Lucena mengerucut. Terlihat sangar menggemaskan dimata Galen dan rasanya ingin sekali mencicipi bibit seksi milik Lucena itu.
Cup..
" Galen.. Aku belum mandi.. " Lucena merengek karena suaminya ini lagi dan lagi berhasil mengambil kecupan dibibirnya. Padahal dia itu belum mandi sedari pagi.
" Nggak apa kali.. Sekarang kita mandi sama-sama aja ya.. " Alis Galen keduanya naik turun menggoda Lucena.
" No.. " Lucena menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, " Mandi dengan mu tidak akan selesai dalam waktu lima sampai sepuluh menit.. Aku nggak mau Galen.. I'm tired.. "
" Aaarrrggghhh.. " Lucena berteriak lantaran kaget suaminya ini langsung saja mengangkat tubuhnya dan dibawa masuk ke kamar mandi.
" Ini yang terakhir kita lakukan disini, Luce.. Please.. "
Dan akhirnya, malam panas mereka, ralat sore panas mereka berlanjut hingga di pagi hati keesokan harinya. Selama di Maldives, Galen sama sekali tidak pernah telat barang sekali saja menikmati malam panas dengan sang istri. Rasanya, Galen ingin menebus semua malam yang mereka lewati tanpa adanya hal yang istimewa lantaran banyaknya masalah yang mereka alami sejak awal pernikahan mereka.
Keesokan harinya, Lucena sama sekali tidak bisa bangun dari tidur karena ulah Galen yang terus menerus meminta jatahnya hingga pukul tiga Lucena akhirnya terlelap karena lelah dan kantuk. Galen hanya bisa menertawakan sang istri yang mengomel tidak jelas sebelum akhirnya memejamkan mata karena mengantuk.
Pagi ini, Lucena melancarkan jurus ngambek pada suaminya karena kesal dengan kejadian semalam. Galen justru sama sekali tidak terpengaruh saat Lucena mencebikan bibirnya kesal begitu. Galen justru sibuk dengan semua barang bawaan mereka karena pukul satu nanti mereka akan check out dan pesawat mereka akan terbang jam tiga waktu Maldives ke Milan.
" Galen.. Ihhhh... Itu mulu yang diurus.. " Protes Lucena.
" Siapa yang belanja nggak tahu aturan sampai kita kelebihan bawaan seperti ini? " Galen sudah berkacak pinggang di samping ranjang yang mana Lucena masih asyik golek golek di ranjang padahal Lucena sama sekali tidak mengenakan pakaiannya. Tentu saja, Lucena menutup tubuhnya dengan selimut. Bagian intinya masih sakit akibat ulah sang suami semalam, dan dia akan libur selama satu minggu, tidak.. Mungkin selama satu bulan.
" Cepat mandi Luce.. Kita check out jam satu.. " Ujar Galen meninggalkan sang istri dan kembali sibuk dengan barang bawaan mereka pulang nanti.
" Tiga puluh menit lagi, Len.. Lagian ini masih jam sepuluh.. " Lucena kembali hendak menutup semua tubuhnya dengan selimut sebelum akhirnya Galen mengeluarkan ultimatum padanya.
" Mandi sekarang setelahnya kita sarapan bersama sebelum check out.. Atau.. Kau ingin mengulangi malam panas kita semalam?? " Alis Galen naik turun senang karena berhasil menggoda sang istri.
" Nggak ada ulang mengulang.. Sampai sebulan..." Teriak Lucena dari arah kamar mandi.
" Hahahahahaha... Dia lucu sekali.. " Galen geleng-geleng kepala gemas dengan sang istri.
Drama di waktu sebelum Galen dan Lucena check out sudah berakhir. Kini mereka sudah ada di pesawat yang membawa mereka untuk kembali ke negara tempat mereka berasal. Masih ada waktu tiga jam sebelum pesawat landing, dan itu dimanfaatkan Galen dan Lucena untuk memejamkan mata mereka.
Malam yang panas di akhir mereka bulan madu di Maldives, membuat mereka tidak bisa beristirahat dengan baik. Dan saat ini, bisa dilihat jika Lucena dan Galen tertidur dengan lelap dengan senyum yang tersungging di bibir keduanya.
BEAUTYFULL HONEY MOON IN MALDIVES..