
Begitu anak-anak yang membawa bucket bunga untuk Lucena pergi, dia langsung melihat sekeliling apakah ada orang dewasa yang terlihat, namun jalanan depan rumahnya begitu kosong. Rumah tetangganya juga terlihat sepi. Membuat Lucena penasaran siapa gerangan yang memberikan bunga ini untuknya. Bunga mawar, adalah bunga yang paling dia sukai.
Lucena melihat ke dalam bucket bunga, siapa tahu ada nama pengirimnya, tapi seakan semesta memang tidak menginginkan dirinya tahu, di bucket bunga itu juga tidak ada nama pengirimnya. Ingin membuang bunga ini ke tong sampah, tapi entah kenapa hatinya melarang. Lucena merasa dirinya mengkhianati Galen, karena mendapatkan bunga dari penggemar rahasianya.
Lucena akhirnya membawa masuk bunga mawar yang ada di tangannya dan mengajak kedua buah hatinya untuk masuk. Takut jika ada orang yang mengintainya, karena Lucena tidak menciptakan kesempatan orang jahat untuk melakukan kejahatan pada keluarga. Tidak ada laki-laki di dalam rumahnya, jadi sebisa mungkin Lucena tidak memancing terjadinya kejahatan.
" Dari siapa nyonya? " Tanya suster Clara.
" Nggak tahu, Sus.. Tidak ada nama pengirimnya.. Saya kok jadi takut ya.. " Jawab Lucena.
" Kenapa takut nyonya? Dikasih bunga ya mestinya kan senang.. Kalau dikasih bom, itu baru takut.. " Ujar suster Aida membuat Lucena terkekeh pelan
Benar juga, hanya sebuah bunga kenapa dirinya sampai takut.
" Saya ke dapur dulu ya, Sus.. Kalian bawa saja si kembar ke atas.. Nanti kalau masakan sudah siap, saya panggil turun.. " Ujar Lucena mengalihkan pembicaraan.
" Perlu dibantu, nyonya? " Tanya suster Aida ingin memberikan bantuan pada nyonya nya.
" Nggak usah, Sus.. Saya sendiri bisa, suster bantu saja suster Clara jaga si kembar. Sudah mulai aktif soalnya.. " Suster Aida pun mengangguk kemudian pamit menyusul suster Clara.
Lucena pun menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Dirinya memasang apron di tubuhnya sebelum memulai pertempuran di dapur. Rencananya, Lucena akan membuat beef teriyaki dan untuk kedua buah hatinya, dia akan membuat tim ayam sayur.
Jika lucena tengah asyik memasak di seberang rumah sana, maka berbeda dengan Galen yang tengah menyidang pria bernama Marcus yang ternyata adalah mata-mata daddy Joaquin yang disusupkan di timnya. Rasanya ingin sekali Galen menghajar marcus tapi kali ini dia memiliki cara lain untuk menghukum anak buahnya yang satu ini.
" Bagus.. Saya suka kamu loyal dengan pemimpin kamu, tapi sayangnya disini saya yang jadi ketua GN, bukan daddy Joaquin lagi.. Dan hebatnya kami bersekongkol dengan daddy untuk mengelabuhi saya.. " Hardik Galen, membuat Marcus nyalinya langsung menciut.
" Maafkan saya tuan muda.. Saya tidak ada pilihan lain karena daddy anda mengancam akan membuang saya ke Afrika.. Saya memiliki istri yang sebentar lagi melahirkan, jadi saya tidak bisa berbuat apa-apa.." Ucap Marcus membela dirinya.
" Tapi tuan muda.. Saya tidak sepenuhnya memihak daddy anda karena saya masih menyisipkan beberapa petunjuk di dalam laporan saya. Petunjuk yang bisa membawa anda menemukan keberadaan nyonya.. Saya yakin, orang sejenius anda pasti bisa membaca petunjuk yang saya sisipkan di laporan saya.. " Marcus menunduk. Dirinya begitu menghormati tuan muda di depannya ini karena sangat baik pada keluarganya. Marcus sebenarnya dilema ingin berada di pihak mana.
" Ya.. Saya melihat itu karenanya saya berada disini saat ini.. " Galen menatap tajam anak buahnya ini.
" Ck.. Ingin sekali saya menghajar mu, Marcus.. Tapi mengingat istrimu sedang mengandung, saya jadi tidak tega.. Jadi, sebagai gantinya, kamu harus mengikuti rencana saya.. Kamu bisa? " Tawar Galen.
" Bisa tuan.. Saya bisa melakukan apapun asal jangan buang saya ke Afrika atau negara-negara lain.. Saya ingin ada di samping istri saya ketika dia melahirkan.. " Marcus memelas. Pria dengan badan penuh tatto ini terlihat seperti kucing yang tidak ingin dipisahkan dari ikannya.
" Hehehehe... Lihat saja sayang.. Aku pastikan kau pulang tanpa paksaan dari siapa pun.. " Galen menyeringai dalam hati.
Ketos membawa Marcus keluar dari ruangan Galen untuk mengatakan rencana yang sudah dia dan tuan mereka rancang sedemikian rupa untuk menarik nyonya mereka kembali ke negara asalnya. Marcus cukup terkejut dengan ide yang menurutnya gila ini. Karena resikonya sedikit besar jika benar-benar dilakukan.
" Apa tak apa? Bagaimana jika nyonya tahu? Tuan muda pasti kena getahnya.." Ketos mengutarakan keraguannya.
" Tenang saja.. Tuan muda dan aku sudah memperhitungkan semuanya.. Lakukan saja sesuai bagian mu dan kita akan memperoleh kesuksesan dalam melanjutkan rencana ini.. " Ketos menepuk pelan pundak Marcus.
" Oke.. Aku akan lakukan bagian ku.. " Ketos pun tersenyum setelahnya pergi meninggalkan marcus yang sepertinya masih menyimpan sedikit keraguan di hatinya mengenai rencana ini.
**************
Beberapa hari telah berlalu, dan hari ini adalah hari kelima setelah Galen membiarkan rencananya dengan Ketos dan Marcus. Galen hari ini akan kembali ke Milan, Italia dan pesawat nya akan terbang pada jam sepuluh pagi. Sehingga pagi harinya setelah dia bangun tidur, Galen menyempatkan diri untuk makan terlebih dahulu.
Disela Galen mengunyah makanannya, dia tidak berhenti mengulas senyum. Rencananya akan segera di jalankan dan pastinya Lucena akan segera kembali. Keluarga mereka akan bertemu dan bersama lagi. Kali ini, Galen tidak akan melakukan kesalahan sampai Lucena berniat pergi dari hidupnya.
" Ketos.. Apa yang aku perintahkan pada mu tentang pekerjaan Lucena sudah kau lakukan? " Tanya Galen.
" Sudah tuan.. Hari ini keputusan itu akan keluar.. " Jawab Ketos langsung.
" Good.. Apa semua persiapan di Milan sudah selesai? " Galen bertanya tentang rencana yang akan membuat sang istri kembali padanya.
" Sudah tuan.. Semuanya sudah 100% , hanya tinggal menunggu Anda kembali.." Galen tersenyum senang.
" Cepat selesaikan sarapan mu dan kita lekas kembali ke Milan!! " Titah Galen yang segera Ketos laksanakan.
Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi, maka dirinya akan bisa bersama dengan sang istri dan kedua buah hati mereka. Galen sungguh tidak sabar menantikan hari dimana dia kembali bersama keluarga kecilnya lagi seperti dulu. Galen rela kehilangan apa yang dia miliki asalkan keluarga kecilnya kembali utuh dan bersama.
Besok, semuanya akan kembali seperti sedia kala besok. Penantian Galen selama sebulan yang sudah terasa selama satu tahun itu sebentar lagi akan menunjukan hasilnya. Galen berjanji, bahwa dirinya akan berbuat apa saja asalkan istrinya tidak pergi. Galen akan meminta maaf dengan tulus pada sang istri dan meminta sang istri kembali tinggal bersamanya.
" Tunggu sebentar King, Queen.. Ayah akan membawa bunda kalian kembali dan keluarga kecil kita akan kembali seperti sedia kala.. Ayah berjanji, tidak akan melakukan hal yang membuat bunda kalian pergi lagi. " Batin Galen yakin.