
Di dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah ruang kerja. Bernuansa gold dan hitam, memberi kesan jika pemilik ruangan ini sangatlah misterius. Dua orang tengah duduk berhadapan di ruang ini, sedang berbincang sesuatu yang sangat serius. Tidak ada senyum, tidak ada canda dan tawa yang sudah biasa terjadi diantara kedua pria ini.
Terlihat sedikit ada perdebatan di antara kedua pria yang sama-sama memiliki kekuasaan di dalam bidang pekerjaan mereka masing-masing. Meski satu diantara kedua orang ini adalah pemimpin tertinggi di perusahaan dimana kedua orang ini bekerja.
Keduanya membahas masalah yang terjadi akhir-akhir ini dan itu cukup menguras tenaga dan pikiran mereka. Bukan masalah pekerjaan, hanya masalah pribadi yang berimbas ke semua aspek kehidupan dari kedua pria ini. Kebetulan sekali, mereka adalah saudara sepupu meski bukan sepupu kandung, setidaknya mereka menyandang nama keluarga yang sama di belakang nama meraka.
Galen dan Rouge, pernah terlibat masalah internal karena masalah anggota keluarga mereka juga. Hanya saja, kini keduanya sudah kembali seperti sedia kala, kompak dan solid.
" Kau yakin? " Tanya Galen.
" Heh.. Kalau tidak yakin.. Tidak mungkin aku laporkan pada mu.. Kau itu Mr, Perfect yang selalu meminta semuanya sempurna.. " Sindir Rouge, tahu betul bagaimana sepupunya ini selalu bertindak dan bersikap.
" Ck.. " Galen berdecak kesal. Untung sedang sakit, kalau tidak, sudah dia ajak ke ring tinju, pria di depannya ini.
" Kau ingat kasus Alona kan? " Tanya Rouge. Dan Galen langsung mengangguk dengan cepat.
Masih segar diingatannya saat dulu Lucena mengalami masalah dan harus Galen yang memberi support untuk wanitanya itu. Disaat yang sama, keluarga utama terlibat permasalahan dengan Rouge dan istrinya karena masalah Geya dan kedua anaknya. Saat itu, Marisha menyebarkan rahasia yang keluarga de Niels jaga dengah mempertaruhkan nama baiknya. Galen sampai dipanggil ke kantor polisi karena masalah ini.
" Dua orang diantara pria ini, memiliki sedikit hubungan dengan Alona itu.. Gali sedikit lagi saja, maka kau akan tahu motif mereka dan juga siapa mereka. " Ujar Rouge.
" Kenapa bukan kau saja yang sekalian mencari tahu? Kenapa masih membuatku harus mencari tahu? " Galen geleng kepala karena kesal yang tidak bisa dilampiaskan.
" Kalau semuanya aku... Kau kebagian apa? Luce itu kan istri mu.. Ya.. Kau harus memberikan kontribusi lah.. " Jawab Rouge santai. Tidak peduli jika pria di depannya sudah mencengkeram dengan kuat sandaran lengan kursi rodanya saking kesalnya.
Tidak perlu melanjutkan pembicaraan mereka, toh hasil akhirnya harus Galen sendiri yang mencari tahu. Kalau diingat tentang masalah yang dulu pernah menimpa Rouge, Marisha dan Geya, rasanya Galen menyesal karena membantu menyelesaikan masalah itu, kalau tahu Rouge akan bersikap tengil padanya seperti saat ini.
Melihat Galen keluar dari ruangan kerja daddy Joaquin dengan wajah kesal, Lucena pun segera mendekat. Tahu jika pasti pembicaraan antara Galen dan Rouge ini pasti tentang masalah yang menimpanya. Karena itulah, Lucena menjadi sedikit khawatir saat Galen keluar dengan wajah kesal. Takut jika kesalnya Galen karena fakta tentang dirinya.
Galen masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua diikuti oleh Lucena yang berjalan di belakangnya. Lucena tidak memiliki keberanian untuk mendekat pada Galen karena sadar bahwa Galen kesal pasti karena masalah yang dia alami saat ini.
Terkadang, Lucena merasa sangat tidak berguna karena disaat masalah ini berasal dari dirinya, namun tidak ada satupun yang bisa dia lakukan untuk membantu mengungkap masalah yang penuh misteri ini. Selalu Galen dan Galen yang sejak dulu menyelesaikan setiap masalah dalam hidup Lucena. Membuat perempuan cantik ini harus terus bergantung pada Galen.
" Len.. Kamu... Ehm.. Nggak... Apa? " Tanya Lucena sedikit gugup.
" Tentu.. Memang kenapa? " Galen sedikit heran dengan pertanyaan dari sang istri.
" Kamu kelihatan kesel banget pas tadi keluar dari ruangan kerja daddy.. Apa ada masalah? " Jujur saja Lucena takut jika firasatnya benar. Suaminya, kesal lantaran masalah yang menimpa mereka.
" Luce.. Boleh tanya sesuatu yang sifatnya agak sensitif? " Tanya Galen memberanikan diri membahas masalah Alona.
" Boleh.. Tapi, kalau aku jawabnya lama jangan marah ya.. Soalnya kalau masalah sensitif aku juga jadi sensitif." Galen mengangguk paham.
Galen mengambil nafas terlebih dahulu sebelum dia mengutarakan pertanyaannya pada sang istri. Masalah tentang wanita bernama Alona itu memang sangat sensitif untuk Lucena. Jelas pasti pertanyaannya ini akan mempengaruhi mood Lucena di hari ini.
Namun, karena tidak ingin masalah ini terus berlarut-larut, Galen pun akhirnya tetap harus membahas masalah ini dengan istrinya dengan tujuan permasalahan yang menimpa mereka akan segera berakhir.
" Apa boleh.. Jika kamu.. Emmmm... Menceritakan tentang... Tentang... " Galen masih mencoba merangkai kata yang tepat untuk bertanya tanpa mempengaruhi mood Lucena.
" Tentang apa? Kok tumben sekali kamu nggak langsung to the point kalau ngomong. " Alis Lucena berkerut karena heran dengan keanehan suaminya
" Itu.. Tentang salah satu mahasiswa mu.. Eh salah, mahasiswi lebih tepatnya.. "
" Alona? "
" Eh.. Kok tahu? " Galen memasang wajah terkejut.
" Nanti ya aku jelasin kenapa bisa nebak dengan benar.. Sekarang aku pengen denger kamu mau tanya soal apa, tentang sosok Alona? "
Galen pun mengutarakan keinginannya yang ingin tahu dengan jelas apa yang terjadi pada Alona sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di apartemen milik tunangannya. Galen mungkin bisa menebak jalan pikiran pelaku yang mencari masalah dengan dirinya dengan mengetahui cerita yang sebenarnya tentang Alona.
Pasalnya, sebelum Alona meninggal dunia, dia sempat menemui Lucena entah dengan maksud dan tujuan apa. Lucena juga tidak pernah membahas apa yang dia perbincangankan dengan Alona selama ini. Entah alasan Lucena bungkam karena trauma dan tidak ingin mengingat, atau karena ini masalah yang tidak layak didengar oleh orang lain..
" Tentang itu ya? " Lucena terlihat merubah raut wajahnya yang tadinya terlihat ceria, sekarang berubah menjadi sendu.
" Menurut Rouge sialan itu.. Jika aku mengetahui semua ini maka aku akan dengan mudah menebak identitas pelaku dan apa motif mereka. " Galen mencoba menjelaskan maksudnya.
Lucena pun mengangguk, sejenak dia terdiam karena memikirkan kata-kata yang tepat untuk menceritakan masalah ini pada suaminya. Lucena sebenarnya enggan mengatakan karena apa yang dia dengar dari Alona saat itu adalah sebuah rahasia yang tidak boleh sembarangan orang dengar.
Lucena berpikir, apakah tidak apa mengatakan, toh yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sebenarnya Lucena tidak paham alasan yang Alona jadikan dasar dia mengakhiri hidupnya. Padahal saat pertemuan terakhir mereka sebelum kelas Lucena, Alona terlihat sudah ceria seperti sebelum mengalami masalah ini. Tapi kemudian, tahu-tahu Lucena sudah mendengar kabar jika Alona ditemukan tidak bernyawa di apartemennya.
" Sebenarnya Alona mengatakan pada ku tentang masalahnya.. Dia... " Lucena menjeda ucapannya mencoba menguatkan diri untuk mengatakan yang sesungguhnya.