IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Rekaman kejadian



Saling percaya, adalah modal utama dalam semua hubungan. Sebesar apapun cinta yang kita berikan pada pasangan, tapi jika tidak saling percaya, maka hubungan itu sendiri tidak akan bisa berjalan dengan lancar. Namun, meski saling percaya sekalipun, semua itu bisa hancur ketika kenyataan yang bicara.


Lucena, percaya bahwa di dalam hidup Galen, hanya ada dirinya saja. Hal ini bisa terbukti karena meski saat itu Lucena tidak lagi menjadi wanita yang sempurna saat bersama dengan Galen. Tapi Galen memilih tetap bersamanya. Lalu kemudian, kenyataan yang kini bicara, membuat semua rasa percaya Lucena luluh lantah seketika.


Dengan kedua matanya, Lucena menatap suaminya tengah memangku wanita lain. Meski berulang kali Galen mengatakan semuanya tidak seperti yang Lucena lihat. Kenyataannya tetap seperti itu, Galen memangku wanita lain di depan matanya.


Sakit hati, itu jelas sekali. Bahkan Lucena merasa hancur saat ini. Kepercayaan yang dia bangun teguh selama ini, dihancurkan hanya dalam satu detik saja. Haruskah Lucena percaya? Jika memang dia percaya, lalu apakah bisa menghapus kenyataan jika Galen telah memangku wanita lain.


Membawa semua sakit hatinya, Lucena berlari menuju ke arah pantry yang ada di lantai yang sama dengan ruangan Galen. Lalu apa yang dia lakukan di sana? Tidak mungkin dia ingin membuat kopi disaat seperti ini. Atau memasak?


Ah.. Memasak, Lucena melihat pisau yang biasanya digunakan oleh Bridella untuk mengupas buah-buahan. Tangan kanan Lucena mengambil pisau itu, kemudian menimbang, kira-kira apa yang akan dia lakukan dengan pisau di tangannya ini.


" Ya Tuhan... Lucena, apa yang kau lakukan? " Teriak Galen yang mengejutkan Lucena.


" Memangnya apa yang bisa aku lakukan? " Lucena balik bertanya dengan senyum miring mengejek Galen.


" Letakan benda itu.. Aku mohon pada mu, letakan dan kita bicara baik-baik.. Aku bisa menjelaskan semuanya pada mu.. " Galen berusaha membujuk Lucena. Memasang wajah memelas agar Lucena mau mengerti maksud Galen.


" Sudah aku katakan aku tidak butuh penjelasan apapun dari mu.. Minta salah satu dari mereka bertiga yang menjelaskan pada ku.. Kalau tidak, kau pasti tahu apa yang akan aku lakukan bukan.. " Lucena melotot ke arah Galen, sambil tangan kirinya menunjuk ke arah dua asisten Galen dan sekretarisnya.


" Baik.. Tapi letakan dulu pisau itu.. " Pinta Galen.


" Siapa saja, tolong jelaskan apa yang terjadi pada istri ku.. " Titah Galen.


Ketiga orang kepercayaan Galen saling pandang satu sama lain. Mereka takut, jika penjelasan yang mereka berikan justru memperkeruh suasana saat ini. Memang tidak ada hubungan diantara Galen dan juga wanita bernama Tamara ini. Hanya saja, ada sesuatu yang sekiranya mungkin bisa membuat Lucena semakin salah paham dengan semua ini.


" Cepat kalian katakan pada istri ku!! " Sentak Galen yang sudah tidak lagi bisa berpikir jernih saat ini.


" Baik tuan.. " Ketiga orang ini serempak menjawab lantaran terkejut dibentak Galen.


" Nyonya.. Bisa kita bicara baik-baik? " Bridella yang angkat suara. Tujuannya, sesama wanita bisa lebih bicara dari hati ke hati daripada jika dua temannya kantornya ini yang bicara.


" Begini nyonya.. Saya bisa pastikan jika diantara tuan dan nona itu tidak ada hubungan special.. Hanya saja, tuan tidak pernah marah atau melarang jika wanita itu dekat-dekat dengannya. Seperti memeluk, atau cipika cipiki, tuan sama sekali tidak membatasi hal itu.. " Tutur Bridella sesuai dengan kenyataan.


" Mereka baru bertemu sekitar satu minggu ini. Menurut penuturan tuan muda, proyek kali ini dengan perusahaan milik nona Tamara adalah mega proyek JN GROUP tahun ini. Awalnya sempat ada masalah, jadi tuan muda meminta nona Tamara bertemu langsung dengannya.. " Bridella menambahkan.


Lucena menatap tajam suami dan wanita yang masih dengan sombongnya menatap dirinya dengan tatapan mencemooh. Lucena geram, apakah boleh jika dia saat ini juga melampiaskan emosinya. Rasanya tangan Lucena gatal ingin menghajar seseorang. Bolehkah jika dia memukul suaminya atau wanita ini?


Bridella kembali menambahkan beberapa poin untuk membuat nyonya mudanya ini paham betul situasi tuannya saat ini. Keraguan Bridella memperbolehkan Lucena masuk tadi, hanya karena yakin jika nyonya mudanya ini pasti salah paham dengan interaksi tuan mudanya dan kolega bisnis nya ini. Jadi, dengan sangat terpaksa, Bridella menghentikan Lucena di awal tadi.


Bukan maksud menyembunyikan sesuatu atau membiarkan tuan mudanya berbuat yang tidak-tidak dengan wanita lain, hanya saja Bridella saja pernah salah paham dengan kedekatan Galen dan Tamara, apalagi jika yang melihat adalah Lucena sendiri. Terbukti kan, apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Lucena marah dan salah paham pada hubungan dari Galen dan Tamara.


" Luce.. Please listen to me.. Apapun yang kau lihat tadi tidak seperti apa yang terjadi.. Satu detik, baru satu detik dia melakukan hal tadi dan ketika aku ingin menegurnya kau masuk.. Jika kau tidak percaya ucapan ku, bisa kau lihat CCTV di ruangan ku.. Please, percaya pada ku.." Galen mendekat dengan perlahan, agar Lucena tidak melakukan tindakan ekstrem seperti memanfaatkan pisau di tangannya dengan cara yang tidak benar.


" Ketos.. Perlihatkan CCTV di ruangan ku pada nyonya muda..!! " Galen memberi perintah dan langsung Ketos laksanakan.


" Percaya pada ku.. Semarah apapun aku pada mu, aku tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita.. That' s my promise.. Remember that.. " Bisik Galen di telinga Lucena.


Galen memeluk Lucena dengan sangat erat, hatinya sungguh hancur melihat istrinya memegang pisau seperti itu. Sampai saat ini pun, Lucena masih memegang pisau itu di tangan kanannya. Galen takut, kalau-kalau Lucena akan berbuat nekat. Tidak akan bisa dia bayangkan, kembali melihat Lucena berjuang melawan maut.


Lucena memang tidak mengelak saat Galen memeluk nya. Tapi dia juga tidak membalas pelukan Galen sama sekali. Memang dia percaya pada suaminya tapi tetap saja dia sakit hati melihat pemandangan yang mengotori matanya. Andai saja Galen tegas, tidak mungkin ada wanita yang berani berbuat seperti itu dengannya.


Tak lama, Ketos datang membawa laptop dan langsung meletakkannya di meja dekat Lucena dan Galen. Ketos, langsung memutar CCTV di ruangan Galen dimulai dari satu minggu yang lalu di jam-jam Tamara datang ke ruangan Galen.


Lucena menatap layar laptop milik Ketos tanpa sama sekali keluar satu kata dari mulutnya. Dia melihat rekaman CCTV itu dalam diam. Meski diam, bukan berarti Lucena menerima semua perlakukan Tamara pada Galen selama terlihat di rekaman CCTV itu. Lucena merasa, jika Tamara menginginkan hal lain, selain kerjasama bisnis yang dia lakukan bersama Galen.


Ada satu pemandangan yang begitu menyesakan hati Lucena. Tamara, sungguh dekat dengan Galen dan suaminya hanya diam saja tanpa memberi peringatan. Benarkah demi sebuah kerja sama, Galen tega melakukan hal yang Lucena benci saat ini.


Mata Lucena menatap tajam Galen, dia melihat suaminya bersikap tidak tenang sama sekali. Tidak seperti Galen yang biasanya. Apakah ada kejadian yang lebih parah dari yang Lucena lihat saat ini. Apakah Galen tidak ingin Lucena melihat hal itu sampai bersikap tidak tenang seperti ini. Jika iya apakah Lucena akan memaafkan Galen begitu saja?