
Tamara memasuki ruangan Galen dan langsung menghampiri suami Lucena dan memeluknya. Galen langsung menghempaskan begitu saja, tangan dari Tamara yang memeluknya. Kemudian berpindah tempat duduk ke sofa.
Tamara langsung mengikuti langkah Galen dan mengambil tempat duduk di samping Galen, bahkan tanpa ada jarak sedikit pun. Galen bergeser menjauh, dan Tamara tetap terus mendekat hingga akhirnya Galen duduk di seberang sofa tempat duduk Tamara.
Terlihat keduanya berbincang serius beberapa saat dan Galen kemudian berjalan ke meja kerjanya mengambil sesuatu. Tidak terlihat jelas apa yang dia ambil, karena setelahnya Galen kembali duduk di sofa yang tadi. Dan kedua orang ini kembali berbincang.
Tidak ada hal yang lain selain keduanya yang terus berbincang dengan posisi yang tetap sama. Sepertinya, mereka membicarakan bisnis dan itu cukup alot, terbukti perbincangan mereka tak kunjung selesai setelah hampir satu jam lamanya. Dan selama itu pula, Lucena melihat rekaman CCTV tanpa mempercepat nya. Dia tidak ingin kehilangan momen penting, jika dia mempercepat jalannya rekaman CCTV itu.
Hingga di menit 01.14, ada pergerakan dari Tamara. Wanita ini berjalan menuju ke kursi Galen saat suami Lucena ini tengah sibuk membaca berkas dengan fokus. Tamara kemudian menjatuhkan dirinya ke pangkuan Galen, seperti apa yang Lucena lihat tadi. Dan kemudian langsung mencium Galen begitu saja secara mendadak.
Hanya sepersekian detik, Galen langsung mendorong Tamara. Tapi yang terjadi selanjutnya sangat aneh menurutnya. Galen, justru menghampiri Tamara dan memeluk wanita itu. Tak lama, Galen membawa Tamara duduk di sofa, dan dia mengambil duduk di sebelah Tamara. Keduanya kembali berbincang, tapi Galen tetap duduk di samping Tamara.
" Sudah cukup.. Terima kasih Ketos.. " Ucap Lucena masih sangat tenang.
Di belakang Lucena, Tamara sudah tersenyum sangat puas saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, tangan Lucena terkepal kuat saat melihat video dimana dia mencium Galen. Tamara yakin, kesimpulan yang dibuat Lucena pasti menguntungkan mereka. Karena tanpa adanya suara dalam rekaman itu, posisi Tamara disini lebih menguntungkan daripada posisi Galen.
" Luce.. Aku bisa mengatakan apa yang terjadi saat itu.. Dengarkan ucapan ku agar kau tidak salah paham.. Sungguh, jangan hanya menyimpulkan dari videonya saja.. Karena tidak seperti itu kejadian yang sesungguhnya.. " Galen meraih tangan Lucena karena istrinya ini beranjak menjauh.
" Tolong kemari kan berkas kerjasama JN GROUP dengan perusahaan milik nona ini!! " Lucena meminta pada Bridella, dengan tetap tersenyum sangat manis. Akan tetapi, senyum manis itu seperti sebuah bom waktu di mata Galen.
" Baik nyonya muda.. " Bridella lekas berlari ke meja kerjanya. Posisi mereka masih berada di pantry sejak tadi, dan belum berpindah tempat.
Lucena mengabaikan begitu saja ucapan demi ucapan yang coba Galen katakan padanya. Lucena juga tidak menyingkirkan tangan Galen yang menggenggam tangannya erat. Lucena juga mengabaikan senyum penuh kemenangan wanita bernama Tamara ini.
Kali ini, Lucena akan menunjukan siapa dirinya dan apa statusnya. Benar dia adalah istri dari Galen de Niels, tapi dia juga salah satu anggota keluarga de Niels. Jadi, di tempat dimana disebut sebagai perusahaan keluarga de Niels, Lucena masih memiliki kekuasaan penuh untuk menentang keputusan dari CEO JN GROUP.
" Ini nyonya muda.. " Bridella memberikan beberapa lembar berkas kerjasama antara JN GROUP dan perusahaan milik keluarga Tamara.
" Terima kasih Bridella.. Dan catat apa yang akan saya katakan setelah ini.. " Alis Bridella berkerut, begitu juga dengan Galen dan kedua asistennya. Mereka semua penasaran apa yang akan dilakukan oleh Lucena.
SRREEEEEKKKKK
SRRREEEEKKKKKK
SREEEEEEKKK
" Saya Lucena de Niels, sebagai salah satu pemegang saham di JN GROUP. Dengan ini melarang adanya kerja sama antara JN GROUP dengan perusahaan milik saudari Tamara. Hal ini berlaku untuk sekarang dan seterusnya.. " Ujar Lucena ketika tangannya menyobek berkas kerjasama yang ada di tangannya.
" Luce.. Kau.. " Galen terkejut dengan tindakan yang diambil oleh Lucena, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
" Penalti akan saya bayar dengan uang pribadi saya.. Dengarkan, uang pribadi saya yang artinya bukan uang nafkah dari Galen yang adalah suami saya. Tapi benar-benar uang pribadi saya.. Bridella bisa bantu saya mengurus hal ini.. "
" Ba-baik nyonya.. " Bridella tergagap karena pertunjukan epic yang dipersembahkan oleh Lucena di depan semua penghuni lantai ruang kerja CEO.
Setelah puas melakukan yang memang seharusnya di lakukan sejak tadi. Lucena langsung mengambil langkah meninggalkan tempat yang membuat dadanya sesak dan sakit ini. Cekalan tangan Galen sudah terlepas sejak Lucena menerima berkas perjanjian kerjasama yang Bridella berikan tadi.
Galen pun yang masih shock dengan tindakan Lucena, sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Galen tetap diam, dengan mata yang mengerjab terus, lantaran tidak percaya dan menolak apa yang dia lihat barusan.
Bukan masalah nominal yang harus dia bayarkan pada perusahaan Tamara, tapi ini mega proyek yang dia perjuangkan dari awal tahun ini. Apakah semua ini sebanding dengan usahanya. Menurutnya istrinya ini terlalu berlebihan dalam mengambil tindakan.
Begitu tersadar dari rasa terkejutnya, Galen lekas menyusul Lucena yang sudah hampir sampai ke lift. Galen langsung menarik begitu saja tangan Lucena dan membawanya masuk ke lift. Bukan turun ke bawah, tapi Galen justru mengajak Lucena pergi ke rooftop di gedung JN GROUP. Mereka harus bicara, secepatnya karena tidak ingin masalah semakin keruh.
" Puas.. Puas sekarang kau sudah merusak semua kerja keras ku demi mega proyek ini? " Sentak Galen begitu mereka tiba di rooftop.
Lucena tersenyum miring mendengar luapan hati suaminya ini. Bukan memikirkan perasaannya, tapi Galen justru lebih peduli dengan mega proyek ini. Hanya seginikah, arti Lucena di dalam kehidupan Galen.
" Belum.. Bahkan aku sangat ingin mencakar wajah wanita itu dan membasuh mulut mu karena telah lancang mencium bibir wanita lain.. Dengar kau, Galen, aku beli puas.. " Teriak Lucena di depan wajah Galen.
" Jangan sok suci Luce.. Bahkan pria lain pernah menikmati mu sebelum aku.. Baru sebatas ini kau sudah berlalu seperti ini dan tidak memikirkan kerja keras ku demi perusahaan.. " Rahang Lucena terjatuh mendengar ucapan Galen barusan.
Ternyata, selama ini apa yang Galen katakan bisa menerima dirinya yang tidak lagi sempurna, ternyata hanyalah sebuah ucapan yang keluar dari mulut tanpa mewakili perasaannya. Benar, mana ada pria yang bisa menerima miliknya disentuh dan dinikmati oleh pria lain. Bodohnya Lucena menganggap Galen berbeda dari pria lain.
" Bagus.. Jadi seperti ini diri mu yang sesungguhnya.. Mengatakan bisa menerima. Diri ku nyatanya hanya bullshit belaka.. Terima kasih, aku sudah tahu sebelum aku terlalu dalam mempercayakan semuanya pada mu.. " Air mata Lucena sudah berlinang padahal sejak tadi, dia sekuat tenaga menahan agar tidak sampai menangis di depan Galen dan Tamara.
" Baik.. Jika seperti itu, jika memang kerja keras mu lebih penting daripada perasaan ku. Maka aku akan melepaskan semuanya.. Silahkan berjuang dengan kolega mu, maka aku yang akan mengalah.. " Lucena mendorong tubuh Galen dan berlari pergi dari rooftop.
Sepeninggal Lucena, Galen terduduk di lantai rooftop. Memikirkan ucapannya yang sangat keterlaluan tadi. Bagaimana bisa dia mengatakan semua itu pada Lucena? Lalu benarkah ucapan Lucena tadi, jika dirinya yang sebenarnya adalah yang mengatakan hal buruk pada wanita yang dia cintai.
Apa yang harus Galen lakukan sekarang? Dia berada di jalan dua arah. Mengejar istrinya dan meminta maaf, atau kembali ke ruangannya dan berbicara dengan Tamara demi mega proyek milik JN GROUP yang dia perjuangkan dari awal tahun ini.
Menjadi suami yang baik dan mencintai istrinya, atau menjadi pengusaha sukses seperti apa yang dia mimpikan selama ini.