
Hari ini di JN GROUP kembali diadakan rapat tahunan yang dihadiri oleh semua CEO anak perusahaan milik JN GROUP. Mulai yang di Eropa sampai yang ada di luar benua Eropa, semua CEO mereka datang untuk membahas perkembangan semua perusahaan anak JN GROUP.
Daddy Joaquin dan ketiga saudara kembar Galen semua datang untuk mengikuti rapat tahunan ini. Galen duduk bersama dengan sang daddy di kursi paling depan, kemudian di belakang mereka berdua, duduk semua CEO yang lain. Sekarang ini Galen dan semuanya sedang mendengarkan paparan perkembangan dari perusahaan anak JN GROUP yang ada di China.
Duduk Galen sejak awal rapat ini berlangsung sangat gelisah. Hal itu tidak lepas dari pandangan mata daddy Joaquin. Apalagi, putra sulungnya ini memang tidak pernah terlihat seperti ini. Merasa penasaran, akhirnya daddy Joaquin pun bertanya pada Galen.
" Ada masalah? " tanya daddy Joaquin.
" Maksud daddy apa? " Galen terlihat bingung.
" Sejak tadi duduk mu gelisah, apa ada masalah? Apa kau bertengkar lagi dengan Lucena? " tanya daddy Joaquin.
" Entah dad, tidak tahu kenapa perasaan ku sejak tadi tidak tenang.. Maaf, aku jadi tidak konsen dengan pemaparan mereka semua.. " wajah Galen menyiratkan penyesalan.
" Kau... Menyembunyikan sesuatu dari daddy dan mommy kan? Karena itu sikap mu akhir-akhir ini jadi tidak seperti biasanya.. Dan tebakan daddy, ini pasti ada hubungannya dengan Lucena.. " Galen menelan ludahnya kasar. Haruskah dia jujur?
" Ya dad.. Memang ini berhubungan dengan istri ku, akan tetapi, aku belum bisa mengatakannya sekarang. Ada beberapa hal yang musti aku pastikan terlebih dahulu, baru setelahnya aku akan memberitahu daddy.. " tutur Galen.
" Saran daddy.. Jangan terlalu keras pada diri mu sendiri.. Semuanya harus dipikirkan dengan kepala dingin.. Kau paham? " Galen pun mengangguk.
Akhir-akhir ini memang Galen sedang mengalami banyak sekali masalah. Salah satu anak perusahaan JN GROUP terancam kolaps karena ada yang bermain curang di sana. Padahal perusahaan ini baru saja JN GROUP akuisisi. Belum lagi masalah rumah tangga nya dengan Lucena yang belum menemukan titik terang, dari semua pertanyaan yang bersarang di otak Galen.
Ketos, asisten Galen yang selama ini mencari tahu tentang apa yang dikerjakan oleh Lucena selama pernikahan mereka belum terjadi, masih belum menemukan satu saja kecacatan dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh Lucena. Tidak ada tanda-tanda Lucena dekat dengan pria manapun, sesuai dengan ucapan Lucena ketika Galen bertanya. Lalu, dari mana Lucena bisa hamil? Benih siapa itu? Semuanya membuat otak Galen yang kapasitasnya besar itupun rasanya mau pecah
" Aku harap semua kekhawatiran ku tidak akan terjadi.. Semoga, tidak akan ada hal yang menyakiti kami, jika saja kenyataan terungkap.. "
******************
Telinga Lucena terus berdengung selama perjalan kembali dari rumah sakit ke mansion. Di telinganya terus terdengar kata-kata ' Anak siapa ini', ' bagaimana bisa aku hamil sebelum menikah dengan Galen '. Terus dan terus seperti itu, bahkan ada kata-kata yang lebih parah lagi terdengar di telinga Lucena. ' Rupanya kau pelacur. Pantas Galen tidak mau menyentuh mu'.
Lucena tersentak kaget ketika kata-kata menyakitkan itu terdengar di telinganya. Ingatannya jatuh di hari yang mana setelah malam pertama, Galen langsung berubah menjadi dingin. Setiap kata-kata yang terlontar dari mulut Galen setiap kali mereka bertengkar, kini dimengerti oleh Lucena alasan di balik itu semua.
" ***Apa kau pernah dekat dengan pria lain, sebelum kita menikah? "
" Mau kemana kau malam-malam begini keluar? Apa kau ingin bertemu dengan pria lain di luar sana.?
" Tunggu hingga aku mendapatkan jawaban dan kepastian dari semua pertanyaan ku.. Maka saat itu, kita bisa kembali seperti sedia kala***.. "
" Dia.. Tahu semuanya... " tenggorokan Lucena tercekat kala menyadari semuanya.
Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya tumpah juga. Sopir Lucena, sesekali melirik nyonya mudanya dari spion depan. Merasa ada gelagat yang aneh, sejak nyonya nya keluar dari rumah sakit tadi. Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi?
Lucena terus menangis, bahkan bukannya berhenti atau mereda, tangisannya semakin kuat. Sikap Galen yang berubah setelah pernikahan, membuat Lucena merasa sangat bersalah. Dia yang membanggakan dirinya sebagai istri dari pewaris kerajaan bisnis JN GROUP. Namun, dia tak lebihnya dari perempuan tidak sempurna yang menginginkan untuk bisa bersama dengan Galen.
" Maaf nyonya.. Kita sudah sampai.. " ucap sopir Lucena.
Tidak mengucapkan sepatah kata pun, Lucena langsung turun dan masuk ke dalam mansion. Dahi sopir Lucena sampai berkerut, nyonya mudanya selama ini tidak pernah seperti ini. Sepertinya beban dan masalah yang sedang dimiliki oleh Nyonya mudanya, sangatlah besar.
" Huft.. Semoga nyonya tidak apa-apa.. " gumam sopir pribadi Lucena.
Di dalam mansion, bibi Pamela menyambut Lucena ketika melihat nyonya mudanya masuk ke dalam mansion. Tapi, keinginan untuk sekedar menyapa, bibi Pamela urungkan saat melihat wajah nyonya mudanya memancarkan kesedihan. Air mata masih sesekali mengalir membasahi pipi, mata sembab, wajah pucat, tubuh bergetar, seolah baru saja mendengar berita yang sangat buruk.
" Aku ingin istirahat bi.. Tolong jangan diganggu.. " ucap Lucena sebelum menaiki tangga ke lantai dua.
" Baik... nyonya muda.. " sahut bibi Pamela lirih.
Di dalam kamarnya, Lucena langsung masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan shower, dan langsung berjongkok di bawah shower tanpa melepas pakaiannya. Lucena beberapa kali memukul perutnya, merasa kotor karena memiliki janin yang bukan milik suaminya.
" Kenapa jadi begini? Anak siapa ini? Kenapa aku tidak mengingatnya.. Aaaaarrrgggghhhhh... " Lucena meraung, memaki, meluapkan kekecewaan pada dirinya sendiri.
" Kau kotor Luce.. Kau hanya wanita kotor.. Kau kotor Lucena.. " kedua tangannya bergerak menggosok seluruh kulit yang berada di luar pakaian. Kulit Lucena sampai merah karena terlalu kasar dia menggosok kulitnya yang seputih susu itu.
" Hhhuuuuuuaaaaaaa.... Kau kotor Lucena.. Kau wanita murahan, kau... wanita murahan... Aaaarrrrgggghhhggg..... " teriak Lucena.
Satu jam berlaku sejak kepulangan Lucena yang terlibat tidak baik-baik saja. Galen tiba-tiba saja pulang dan langsung berlari menuju ke lantai dua. Berusaha membuka namun tidak bisa karena Lucena mengunci pintunya dari dalam.
DOORRRR... DOORRRR... DOORRRR.
" Luce.. Buka pintunya... Luce.. " teriak Galen.
" Tuan.. " bibi Pamela mendekat.
" Istri ku di dalam kan bi? " bibi Pamela mengangguk.
" Nyonya sudah pulang sejak satu jam yang lalu, dan beliau berpesan untuk tidak mengganggunya.. Tapi tuan muda, tadi nyonya muda pulang dalam keadaan menangis. " lapor bibi Pamela.
Perasaan Galen terus tidak enak begitu dia mendapatkan telepon dari dokter Milan. Galen pun lekas pulang, kini mengetahui sangat istri mengurung diri di kamar. Otak Galen terasa ngeblank karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Galen terlalu shock dengan kabar ini.
" Tuan.. Ini kunci cadangannya.. " bibi Pamela berinisiatif mengambil kunci cadangan di gudang.
Galen lekas masuk ke dalam begitu kunci pintu terbuka. Matanya mengedar melihat sekitar, hingga akhirnya dia mendengar suara gemericik dari arah kamar mandi. Begitu Galen membukanya, matanya langsung terbelalak. Sedetik kemudian, Galen langsung berlari mendekat Lucena.
" Lucena... Lucena... LUCENA AA AAAAA... "