
Mood Galen benar-benar buruk hari ini. Bahkan ketika Galen pulang kerja dan berada di mansion utama saat ini, dia masih saja dalam suasana hati yang buruk. Tanpa menyapa siapapun, dia berlalu pergi ke ruang kerja daddy nya dan berdiam diri di sana, entah sampai jam berapa, sedangkan di luar Lucena sudah panik karena Galen belum juga pulang.
Lucena bahkan sampai pergi menunggu di teras depan, karena dari jadwal Galen biasanya pulang, ini sudah lambat satu jam. Ponsel Galen juga tidak aktif, membuat Lucena didera rasa panik. Saat tadi dia menghubungi Ketos, sudah dikatakan oleh asisten Galen itu jika suami Lucena sudah pulang. Tapi, seharusnya Galen sudah datang satu jam yang lalu.
Pikiran Lucena sungguh tidak tenang, dia takut jika suaminya tertimpa musibah di jalan. Lucena yang saking kalutnya sampai mengecek berita dan media sosial jika saja memang ada kecelakaan dan Galen terlambat pulang karena terjebak macet atau bisa aja dia yang mengalami kecelakaan.
" Kamu dimana Len? " Batin Lucena yang terus menscroll media sosialnya siapa tahu ada berita.
" Nyonya muda.. Kenapa di teras sendirian? Hari sudah hampir gelap.. " Salah satu pengawal yang bekerja di mansion utama de Niels menyapa Lucena.
" Saya menunggu Galen pulang.. Seharusnya, dari sejam lalu suami saya pulang.. " Ujar Lucena menjawab pertanyaan pengawal ini.
" Menunggu tuan muda? Tapi.. Tuan muda sudah pulang sejak tadi.. Mobilnya saja sudah terparkir rapi di garasi.. Bahkan saya yang memarkirkannya.. " Mulut Lucena terbuka lebar, menganga karena terkejut.
" Tapi di dalam tidak ada.. Apa dia keluar lagi? " Lucena tidak percaya Galen sudah pulang. Di kamar mereka, di kamar si kembar, dan di beberapa ruangan yang biasanya menjadi tempat Galen bersantai juga tidak ada.
" Tidak ada yang keluar, nyonya muda.. Tuan, tidak pernah keluar tanpa mobil pribadinya.. Anda seperti tidak tahu bagaimana sifat tuan muda.. " Pengawal ini menganggap ucapan Lucena sebagai candaan. Mungkin saja, tuannya sengaja melakukan hal ini untuk memberi kejutan.
" Saya cek ke dalam lagi ya.. Tolong kabari saya jika melihat Galen keluar.. " Penjaga tadi mengangguk kemudian menggeleng. Tuan muda nya itu memang pandai sekali menyenangkan istrinya, begitu pikirnya.
Lucena menggeledah semua ruangan di mansion utama, tapi belum juga menemukan keberadaan Galen. Satu ruangan yang belum Lucena datangi, tapi rasanya tidak yakin Galen berada di sana. Memikirkan ucapan penjaga tadi yang mengatakan Galen memang sudah pulang, akhirnya Lucena pun memutuskan masuk ke ruangan yang terakhir belum dia masuki untuk mencari Galen.
Tek..
Lampu ruangan menyala, dan Lucena melompat kaget melihat Galen duduk di kursi kerja daddy Joaquin dengan kedua tangan menyatu di depan dahinya. Galen menunduk sehingga dia tidak terganggu dengan kedatangan Lucena. Dia tahu itu Lucena karena dari aroma parfum yang dipakai istrinya itu. Tapi Galen enggan untuk menyapa atau berucap sepatah katapun karena masih kesal dengan Lucena.
" Len.. Kamu ngapain disini pakai gelap-gelapan segala? Kata penjaga di depan, kamu pulang dari tadi ya.. Aku cari kamu kemana-mana, nggak ketemu. Aku takut kamu sampai ada masalah di jalan tadi.. " Ucap Lucena mendekat ke arah Galen.
" Len.. " Panggil Lucena karena Galen tidak menanggapinya sama sekali.
" Galen.. Kamu kenapa? " Tanya Lucena sekali lagi. Keduanya tangannya dia gunakan untuk mengguncang tubuh Galen.
" Kenapa.. Kenapa kau berbuat begitu? " Tanya Galen lirih. Tapi Lucena bisa mendengar itu karena dia berada tepat di samping Galen.
" Jangan pura-pura tidak paham maksud ku.. Kenapa kau tidak mengatakan apapun pada ku? Kenapa Luce? " Galen mengangkat wajahnya dan menatap istrinya tajam.
Dalam hati sebenarnya Galen sama sekali tidak tega memperlakukan Lucena seperti ini. Melihat mata istrinya berkaca-kaca karena ucapannya, hati Galen sudah terasa seperti teriris pisau. Tapi, tidak ada cara lain untuk membuat Lucena mengatakan yang sebenarnya jika tidak berbuat seperti ini.
Galen tahu betul alasan Lucena menyimpan semua ini sendiri. Akan tetapi, bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak merahasiakan apapun setelah badai besar dalam rumah tangga mereka ketika di awal pernikahan mereka. Lalu sekarang, dengan alasan kesehatan Galen, haruskah Lucena menanggung semua rasa sakit itu sendiri.
" Len.. Kamu itu kenapa sih? Pulang langsung mengurung diri di sini, dan sekarang kamu tanya pertanyaan yang aku aja nggak paham maksud kamu itu apa.. " Protes Lucena yang mulai hilang kesabaran.
" Kau menyembunyikan sesuatu dari ku kan? Sampai kapan kau akan menyembunyikan hal ini? Dua bulan, Luce.. Dua bulan kau diam saja tanpa mengatakan apa yang kau lakukan diluar sana dan kenapa kau melakukan semua itu? " Sentak Galen yang sudah membuang jauh kesabarannya.
" Kau.. Jadi, kau.. Kau sudah tahu... Len? " Lucena tergagap karena terkejut.
" Ya.. Dua bulan baru aku mengetahui semuanya.. Kenapa kau melakukan semua ini tanpa mengatakan apapun padaku? Jangan bicara karena kesehatan ku jadi kau menyembunyikan semuanya.. Kau keterlaluan Lucena.. " Galen berteriak sangat kencang.
Dadanya sudah kembang kempis, ada sedikit rasa nyeri yang dia rasakan tapi dia tahan karena tidak sampai membuatnya harus pingsan. Rasa sakit kecil seperti ini tidak seberapa dibandingkan rasa sakit ketika menyadari dirinya gagal menjadi suami yang bisa diandalkan oleh istrinya.
Galen kembali duduk setelah tadi berdiri dan memaki istrinya sendiri karena telah merahasiakan sesuatu yang seharusnya mereka berdua diskusikan bersama. Apa kata orang, yang melihat Lucena selama ini pergi sendiri ke rumah sakit untuk bertemu psikiater tanpanya. Apa kata orang, bukannya ke rumah sakit milik keluarganya, malahan pergi ke rumah sakit negeri.
Galen kecewa, sangat kecewa karena tidak dilibatkan dalam urusan kesehatan mental istrinya sendiri. Galen kecewa, karena Lucena lebih percaya orang lain dibanding dirinya. Galen kecewa, karena tidak ada di samping Lucena saat istrinya ini menjalani pengobatan.
Jika Galen kecewa, maka Lucena saat ini justru sudah menangis karena bentakan Galen yang begitu menyayat hatinya. Galen tidak salah, begitu juga dirinya yang tidak salah. Galen punya alasan marah padanya dan Lucena sendiri memiliki alasan tersendiri merahasiakan semua ini dari Galen.
Kurang komunikasi dan rasa yang tidak ingin merepotkan pasangan, membuat hubungan keduanya kembali menegang setelah selama ini baik-baik saja. Bahkan mereka masih baik-baik saja kemarin. Keduanya masih bersenda gurau dan berbincang setiap kegiatan yang mereka lalui ketika tidak sedang bersama.
Jika ditanya, apakah Lucena menyesal menyembunyikan kondisi mentalnya dari sang suami. Jawabannya dengan yakin adalah tidak. Lucena memiliki banyak pertimbangan salah satunya adalah kesehatan Galen. Alasan lainnya adalah Lucena tidak ingin Galen membuat perhitungan pada ketiga pemuda yang menyebabkan mental Lucena rusak seperti ini.
Masalah itu, dulu terjadi sebelum mereka menikah dan sewajarnya Lucena menyelesaikan semuanya sendiri. Lucena tidak ingin, Galen semakin membenci ketiga pemuda itu dan tidak ingin Galen mengingat kenyataan menyedihkan bahwa telah menikahi wanita yang tidak lagi sempurna.
" Sorry, Len.. Aku merasa bahwa diri ku adalah wanita yang tidak sempurna yang nekat bersama mu.. "