
" Mari Miss.. Kita makan terlebih dahulu sebelum acara bimbingan di mulai.. "
" Iya miss, ayo kita makan siang dulu.. Kamu lapar.. "
" Baiklah... Baiklah.. Tapi kalian harus berjanji setelah makan, kalian akan belajar dengan baik ya.. "
" Tentu saja miss.. Kami akan lulus dengan IPK yang bagus pokoknya.. "
Semuanya makan dengan lahap, total ada enam mahasiswa dan satu dosen. Mereka mengadakan bimbingan untuk ujian semester mereka sebelum skripsi. Dosen yang dimaksud disini adalah Lucena.
" Kok saya jadi ngantuk ya? " Gumam Lucena setelah menghabiskan semua makanannya.
" Ngantuk miss? Ya tidur aja nggak apa.. Kami akan nunggu miss Lucena sampai bangun.. " Ucap seorang mahasiswi.
" Kalian nggak apa saya tinggal tidur sebentar nggak apa ya.. Saya ngantuk sekali.. " Lucena sudah setengah sadar saat ini.
" Tidur saja miss, dan kami akan menjaga dan melindungi miss Lucena.. " Ucap seorang mahasiswa yang sudah tidak bisa jelas wajahnya jika Lucena yang menatapnya.
Namun ditengah kesabarannya yang sudah hampir menghilang, Lucena merasakan seseorang membuka pakaian miliknya. Lucena melihat mahasiswanya tertawa terbahak karena melihatnya yang sudah tidak sadarkan diri.
" Hoek.. Hoek.. Hoek... " Lucena memuntahkan semua makanannya.
Ketika makan siang bersama mama dan mommy nya, Lucena teringat akan kejadian itu yang mana Lucena sendiri tidak tahu apakah kejadian ini benar terjadi atau hanya halusinasinya. Akan tetapi ketika mengingat ini semua, perut Lucena terasa seperti diaduk-aduk dan berakhir memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
" Sayang, kamu nggak apa? " Mama Whitney terlihat sangat panik dan langsung menyusul Lucena di kamar mandi.
" Iya... Ma.. " Lucena membasuh mulutnya dari sisa-sisa muntahannya.
" Pasti ini kamu masuk angin Luce.. Kamu naik aja ke atas ya, istirahat nanti mommy antarkan teh hangat untuk kamu.. " Lucena mengangguk.
Dibantu mama Whitney, Lucena diantarkan ke lantai dua dimana kamarnya yang merupakan kamar Galen berada. Lucena membersihkan tubuhnya sejenak dan kemudian langsung berbaring di ranjang. Begitu keluar dari kamar mandi tadi, teh hangat sudah ada di nakas.
" Aku ingin istirahat dulu ya, ma, mom.. " Ucap Lucena.
" Hm.. Istirahat dulu saja.. Soal yang jaga Galen di rumah sakit, nanti biar mommy sama Ghadi aja.. Hari ini kamu istirahat di mansion aja. " Lucena mengangguk lemah.
Setelah mama dan mommy nya pergi Lucena langsung bangun dari baringnya. Memilih duduk bersandar di sandaran ranjangnya. Lucena kembali mengingat apa yang tadi sempat terlintas di pikirannya. Jujur saja, Lucena ketakutan sekarang ini. Berharap apa yang dia lihat tari bukanlah suatu kejadian nyata. Dia berharap itu semua hanyalah halusinasinya karena pikirannya sangat lelah selama beberapa hari ini.
Akan tetapi, tidak ada asap jika tidak ada api. Sama saja dengan hal yang terjadi saat ini. Bagaimana bisa Lucena memiliki ingatan seperti itu jika hal itu pernah terjadi atau pernah dia lihat. Namun, akal sehatnya menolak kejadian itu benar terjadi. Meski jika apa yang tadi dia ingat digabungkan dengan semua hal penyelidikan dan juga firasatnya, semuanya jadi terdengar lebih masuk akal.
Kehamilannya tanpa tahu siapa ayahnya, kondisi dirinya yang saat itu didiagnosa oleh dokter terlalu banyak mengkonsumsi obat tidur dalam dosis tinggi, kemudian kejadian yang terlintas dalam ingatannya tadi. Semua ini, jika digabungkan, akan menjawab semua pertanyaan yang selama ini Lucena dan keluarganya tanyakan.
" Apa tadi? Benarkah jika semua itu adalah hal yang benar? " Gumam Lucena. Tubuhnya gemetar, keringat dingin banyak keluar di sekujur tubuhnya.
Entah sejak kapan, akhirnya Lucena pun tertidur dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja. Dalam tidurnya, dia resah, mimpi buruk ingatan yang tadi terus berulang-ulang Lucena alami. Dalam mimpinya, Lucena melihat dirinya disentuh oleh banyak sekali laki-laki. Dia berteriak minta tolong, namun tidak ada yang datang menolongnya.
" HENTIKANNNNN.... "
" HAH.. HAH.. HAH.. HAH.. " Lucena terduduk di ranjang setelah mimpi buruk.
Dia langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi, untuk mencuci mukanya. Tubuhnya masih gemetar, mimpi buruknya tadi terasa sangat nyata. Sepertinya, Lucena harus segera membicarakan hal ini dengan Lucifer. Hatinya merasa tidak enak sejak tadi. Seperti akan ada badai yang lebih besar lagi akan menghantam kehidupannya setelah ini.
**********
Di salah satu stasiun televisi swasta yang ada di kota Roma, kedatangan salah satu anak dari orang yang memiliki pengaruh besar di kota itu. Orang ini, memberikan sebuah flashdisk yang berisikan sesuatu yang begitu mendukung berita yang akhir-akhir sedang marak diperbincangkan oleh masyarakat.
" Bagaimana? Ini adalah berita lanjutan yang sangat cocok dengan berita sebelumnya. Belum ada klarifikasi darinya kan.. Jadi dengan begini tidak akan menjadi masalah jika kita mempublish nya. " Ucap orang ini terlihat sangat sombong sekali.
" Tapi tuan.. Lawan kita sangatlah sulit. Tidak bisa kita begitu saja melakukan ini semua. Sama saja jika begini kita hanya akan menyatakan perang pada mereka. " Ucap petinggi perusahaan yang menaungi stasiun televisi swasta di Roma ini.
" Ck.. Kalau berita ini begitu diminati oleh semua masyarakat, bukankah kau juga akan mendapat kan banyak keuntungan.. Sudah lah, lakukan saja.. Keluarga itu juga tidak akan bisa berbuat banyak.. "
" Tuan muda.. Beri saya waktu untuk berpikir sebelum saya mengikuti keinginan anda.. "
" Dan sayangnya aku sama sekali tidak ingin memberikan mu waktu.. Terserah apa keputusan mu, jika kau menolak, aku masih bisa memberikan harta karun ini pada stasiun televisi lain yang lebih memiliki nyali daripada diri mu.. "
Hendak pergi pria ini dari ruangan presdir perusahaan yang menjalankan stasiun televisi swasta ini, namun langsung dicegah oleh presdir ini. Keduanya terlihat perbincangan serius melanjutkan perbincangan tadi, dan berakhir mereka membuat keputusan yang menguntungkan bagi keduanya.
" Selama video ini real, mereka tidak akan bisa melakukan apa pun pada perusahaannya. Jadi tenanglah saja.. " Ucap pria ini penuh percaya diri.
" Anda jamin jika video ini adalah asli kan? "
" Tentu.. Bagaimana bisa aku seyakin ini untuk menyatakan perang pada mereka jika aku tidak memiliki sesuatu yang menguatkan ku.. "
" Baik tuan.. Besok akan kami tayangkan.. "
" Bagus.. Kalau begitu, semoga semua berjalan lancar.. Aku pamit dulu.. "
Pria ini tersenyum penuh kemenangan. Rencananya berhasil, tinggal besok eksekusi dari semua rencana yang dia sudah rencanakan sejak tiga tahun yang lalu. Dia yakin bahwa dia akan menang dari keluarga ini, karena dia memiliki kartu AS yang tidak bisa diremehkan.
" Mari kita bermain permainan yang sangat seru.. Apa yang dulu kami rasakan, perlu kalian rasakan agar kalian semua tahu rasanya.. Aku berani bertaruh, hasil akhirnya akan sama dengan apa yang terjadi tiga tahun yang lalu.. " Pria ini tersenyum menyeringai pergi meninggalkan stasiun televisi.
" Semoga saja hadiah dari ku, bisa memuaskan kalian.. Dan besok akan.. BOOOMMMMM... "