
Keputusan sudah diambil, dan sekarang Lucena tinggal berharap bahwa semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun. Entah dia sendiri tidak tahu kenapa, permintaan rektor dan pemilik kampus tempatnya mengajar, membuat perasaan Lucena tidak nyaman. Seperti, takut akan terjadi sesuatu padahal hal semacam itu tidak akan terjadi. Bukankah tugas Lucena hanya membimbing ketiga mahasiswa ini, untuk bisa maksimal dalam mengerjakan tugas-tugas.
Lucena berdiri di depan pintu ruang rektor. Belum ada keberanian untuk masuk, masuk tetap berdiri di sana mungkin sudah sekitar lima menit. Lucena mencoba menenangkan gejolak di dadanya yang entah karena apa. Yang jelas, Lucena harus tenang mengharap rektor dan menyampaikan keputusannya.
Ceklek..
Pintu terbuka, bahkan sebelum Lucena mengetuk nya. Dari dalam ruangan itu muncul Mr Totti yang entah akan pergi kemana.
" Miss Lucena? Apa yang membawa Anda kemari? Oh... Mari masuk dulu saja.. " Ajak Mr Totti.
" Begini Mr.. Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Ini, mengenai permintaan dari pemilik kampus pada saya.. " Ucap Lucena tidak ingin basa basi.
" Apa Anda sudah membuat keputusan? Saya harap, keputusan Anda memang tepat, Miss Lucena. " Mr. Totti terlihat antusias.
" Saya menerima permintaan ini, saya akan membimbing ketiga mahasiswa ini akan tetapi saya harap pembelajaran di lakukan di kampus. Bisa di ruangan saya atau di kelas.. Alasannya, karena saya sudah menikah.. Saya tidak nyaman berada di tempat pria lain.. Maaf.. " Ucap Lucena.
" Tentu.. Tentu saja.. Apapun yang Anda inginkan, asalkan Anda mau menerima permintaan dari pemilik kampus.. Baiklah, silahkan kembali mengajar, saya akan menghubungi anda lagi nanti.. " Ucap Mr Totti terlihat sangat senang.
Lucena pun undur diri. Lega rasanya sudah menyampaikan apa keinginannya. Bukankah dengan begini, baik dia maupun ketiga mahasiswa itu bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Lucena merasa aman dan ketiga mahasiswanya bisa mendapat bimbingan. Alasan Lucena berbuat seperti ini karena tidak ingin kembali mengkhianati apa yang sudah Galen percayakan padanya.
Lucena pun bersiap meninggalkan kampus karena dia tidak memiliki jadwal mengajar hari ini. Niat hati dirinya ingin pergi untuk belanja kebutuhan, namun sosok yang dia kenal betul justru berdiri di dekat gerbang kampus. Lucena tentu saja tersenyum melihat kedua orang ini. Rupanya, perjalanan mereka di Rio de Janeiro sudah selesai dan mereka pulang membawa oleh-oleh yang luar biasa untuk daddy Joaquin dan mommy Noura.
" Hei.. Tidakkah kalian berdua ini curang? Lama tidak kembali lalu sekarang sudah berbadan dua.. " Ledek Lucena pada sepupunya sekaligus saudara iparnya sekarang.
" Hahahahaha. Kan tidak mungkin kami pulang dengan tangan kosong.. Jadilah kami beri saja daddy dan mommy cucu lagi.. Memangnya Gege saja yang bisa bikin anak banyak, kita juga bisa.. Ya kan. Sweety.. " Ucap Gaffi mencari pembelaan dari sang istri.
" Apa yang membawa kalian kemari? " Tanya Lucena. Saat ini, mereka tengah berada di mobil Lucena dengan Gaffi yang menyetir mobilnya.
" Aku ngidam ingin makan sesuatu yang khas dari kota ini.. " Jawab Kate. Matanya menatap ke jendela, tidak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan.
" Hanya alasan saja, atau memang benar karena ngidam? " Pancing Lucena.
" Ehm.... Yah ada juga niat lain sih.." Kate nyengir kuda.
Lucena tahu, kedua orang ini pastinya sudah mendengar apa yang terjadi padanya dan Galen. Untuk bertanya mereka pasti malu dan merasa tidak enak lantaran sama-sama tahu bahwa saat ini, baik Lucena maupun Galen masih belum membaik suasana hatinya.
" Coba kau pikirkan lagi Luce, usia kandungan mu sebelum kau keguguran adalah enam bulan kan.. Hitung saja mundur dan ingat-ingat di hari itu kau bertemu dengan siapa.. " Ucap Kate.
" Kau benar juga ya.. Tapi masalahnya selama tiga bulan sebelum aku menikah, aku sering melakukan bimbingan pada beberapa mahasiswa dan mahasiswi. Kira-kira hanya seperti itu, tidak ada yang istimewa.. " Ucap Lucena yang sudah merasa frustasi.
" Tidak mungkin jika itu mahasiswa mu ya.. Pasalnya kau saja tidak ingat kejadian itu kapan dan dimana.. Kenapa rasanya janggal sekali? " Ucap Kate sama-sama buntu.
Mendengar ucapan Kate, entah bisa dipercaya atau tidak , tapi Lucena merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika praduga bahwa semua ini ulah mahasiswanya. Tapi sekali lagi, jelas itu hanya perasaan Lucena saja. Bukti tidak ada, dia pun tidak mengingatnya, lalu bagaimana bisa dia menuduh jika ini semua ulah mahasiswanya.
" Sudah membahas masalah ini.. Mari kita makan dahulu." rupanya mobil yang dikendarai oleh Gaffi sudah sampai di tempat tujuan.Sungguh menguji kesabarannya ketika dia justru difungsikan sebagai supir oleh kedua wanita yang duduk di bagian belakang.
" Baiklah.. Kita lupakan sejenak masalah ini, dan kita nikmati makan siang kita ini." seru Kate yang terlihat sangat bahagia sekali bisa menuruti ngidamnya.
Selama makan siang, pikiran Lucena terbang kemana-mana. Kecurigaan pada mahasiswanya jelas ada karena setelah mendengar dari sudut pandang Kate, semua itu terasa masuk akal. Hanya saja, mahasiswa yang menjadi murid di kelas bimbingannya ini tidak hanya satu dua orang saja. Mungkin ada jika sekitar sepuluh kelompok yang mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga sampai empat mahasiswa.
" Perlukah aku mengatakan hal ini pada Galen. Tapi jujur, aku sangat malu jika harus bertemu atau sekedar mendengar suaranya. Rasanya, seperti telanjang di depan banyak orang." batin Lucena kembali dilema.
" Apa yang harus aku lakukan, yaTuhan.?" Lucena hanya bisa berserah pada sang Pencipta untuk setiap masalah yang dia hadapi.
Ketika Lucena asyik melamun tentang masalah yang menimpanya. Ponsel miliknya berbunyi dan ternyata itu dari rektor di kampus tempatnya mengajar. Mr. Totti mengirimkan pesan jika setelah makan siang nanti, Lucena harus kembali ke kampus karena hari ini merupakan hari pertama kelas bimbingan yang dia ajar.
" Gaffi, dan Kate.. Maaf, sepertinya aku tidak bisa menemani kalian sampai sore.. Alu harus kembali lagi ke kampus.." ucap Lucena dengan wajah penuh sesal.
" Hei.. Jangan merasa tidak enak pada kami.. Kau itu wanita karir, lain dengan kami yang masih satu bulan lagi menjadi pengangguran.." ucap Kate.
" Perlu aku antar?" tawar Gaffi.
" Aku naik taksi saja. Kalian bawa saja mobil ku.. Di mansion, aku masih ada mobil lain untuk kerja besok." ujar Lucena menolak tawaran Gaffi.
" Oke.. Jika kau nanti ingin kami jemput, tolong hubungi kami saja." Lucena mengangguk.
Lucena pun meninggalkan resto yang mana menjadi pilihan Gaffi untuk memenuhi keinginan Kate. Saat Lucena menunggu taksi yang sebentar lagi akan sampai. Lucena seperti de javu akan situasinya saat ini. Dia mendapatkan panggilan untuk mengajar bimbingan, tapi bukan di kampus.
" Apa aku pernah mengalami kejadian di mana aku keluar dari sebuah tempat asing saat mengajar bimbingan. Tapi di mana?" Lucena bertanya-tanya dalam hati. Sepertinya dia, menemukan sebuah petunjuk penting.