IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Libur kerja



Galen menjambak rambutnya kuat saat kini dia kembali melihat istrinya pingsan karena kram perut sama seperti yang terjadi saat di perusahaannya saat itu. Dokter baru saja pergi dan mengatakan perut Lucena kosong sejak pagi, dia juga dalam kondisi stress dan tertekan. Dokter mengatakan jika terus seperti ini, Lucena bisa saja keguguran. Apakah Galen tega?


Bagaimana kalau dia tega, toh itu bukan hasil dari benihnya. Biarkan saja janin itu gugur, dengan begitu semua beban yang ditanggung Galen lenyap bersama gugurnya janin dalam perut Lucena. Tapi, apakah harus dia menjadi orang jahat pada sesuatu yang bahkan mungkin juga tidak menginginkan dirinya hadir di dalam perut Lucena.


" Huft.. Bisa gila aku, jika lama-lama seperti ini.. " gumam Galen.


Dia masih mengawasi istrinya yang terbaring belum sadarkah diri di ranjang mereka. Galen, sebenarnya tidak ingin menyakiti satu-satunya wanita yang dia tatap dengan cara pandang yang berbeda dengan yang lain. Tapi, kekecewaan hatinya ini, tidak tahu pada siapa harus di lampiaskan sehingga hanya Lucena yang terus dia tekan.


Menurut Galen, tidak mungkin Lucena tidak tahu bahwa ada pria lain yang menjamah tubuhnya. Konyol jika Lucena tidak tahu akan hal itu. Lalu sekarang ketika Galen bertanya tentang siapa pria yang pernah bersamanya, jawabannya selalu tidak ada. Lalu bagaimana bisa ada janin dalam perutnya. Galen benar-benar buntu karena tidak ada petunjuk apapun saat ini.


" Eeuggg... " lenguhan Lucena membuyarkan lamunan Galen.


" Kau sadar? Apa yang sakit? Ingin sesuatu? " tanya Galen yang tidak terlihat panik, hanya sekedar formalitas saja jika dilihat dari sudut pandang Lucena.


" Tidak usah sok peduli pada ku, Len.. Aku mati pun juga tidak akan meminta mu untuk bersedih karena ku.. " ujar Lucena lirih.


" Kau..!!!! " mata Galen melotot mendengar ucapan dari mulut sang istri.


" Apa aku salah? " Lucena tersenyum miring, kemudian melengos membelakangi Galen dan kembali memejamkan mata. Tidak tidur, hanya menangis namun tak ingin Galen melihat air matanya.


Tidak ingin kembali bertengkar dengan sang istri, Galen memilih keluar kamar menuju ke kamar tamu di lantai satu. Dia mengantuk, dan tidak mungkin dia tidur satu ranjang dengan Lucena disaat keadaan mereka berdua sedang sama-sama marah seperti ini. Karenanya, kamar tamu menjadi pilihan terbaik untuk Galen tidur jika dibandingkan sofa bed.


Pagi hari telah tiba, sinar matahari menyorot masuk ke kamar tamu yang memang jendelanya menghadap ke arah timur. Galen menggeliat beberapa kali, sebelum akhirnya bangun dan lekas menuju ke kamarnya di lantai dua. Semoga saja, ketika nanti bertemu dengan Lucena, dia tidak perlu kembali bertengkar.


Alis Galen mengernyit ketika tidak mendapati sang istri di ranjang, tapi ranjang masih berantakan. Biasanya jika Lucena bangun pasti akan membereskan ranjang dulu, setelahnya baru turun. Galen yang hendak mengemas ranjang, dikejutkan dengan suara orang berisik di kamar mandi.


" Hoek... Hoek... Hoek... "


" Ya Tuhan.. Luce, apa yang kau lakukan disini? " tanya Galen terkejut mendapati istrinya duduk di depan kloset sambil muntah.


" Kepala ku pusing Galen, perut ku juga mual... Hoek.. Hoek... " jawab Lucena nya sangat lirih karena mungkin sudah lemas tak bertenaga.


Galen yang paham akan kondisi Lucena yang sebenarnya bergegas menggendong Lucena kembali ke ranjang. Menyelimuti tubuh istrinya yang terlihat lemas itu, dan langsung pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat agar mual Lucena berkurang.


" Makanya, dalam kondisi apapun ingat untuk makan.. Dokter mengatakan kalau perut mu kosong sejak pagi.. Lalu apa yang kau kerjakan selama pergi kemarin.. Apa susahnya makan? " omel Galen merasa gemas dengan sikap Lucena.


" Minum tehnya.. " Galen mengulurkan gelas berisi teh hangat begitu tubuh Lucena sudah kembali ke ranjang.


Kesal Galen bertambah ketika Lucena justru menggeleng saat teh hangat itu disodorkan padanya oleh Galen. , " Minum ini untuk meredakan mual mu.. Kau itu bisa tidak sih, menurut kalau sedang sakit.. " ucap Galen yang akhirnya memaksa Lucena untuk minum teh buatannya.


Setelah drama minum teh, akhirnya Lucena kembali tertidur. Galen memanfaatkan waktu Lucena tidur dengan segera membersihkan diri, lalu menuju dapur untuk membuatkan bubur Lucena. Galen terpaksa kembali tidak ke kantor karena tidak tega meninggalkan Lucena dalam kondisi seperti itu. Bukankah cintanya memang sangat besar untuk Lucena.


Bibi Pamela yang ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk tuan dan nyonya nya terkejut ketika melihat tuan mudanya sudah ada di dapur, tengah memasak. Lama sekali rasanya tidak melihat tuan mudanya di dapur. Padahal dulu sering sekali tuannya ini membuat masakan untuk dirinya ataupun saudaranya yang request.


Terbiasa mandiri sejak kecil, apalagi pernah tinggal di Indonesia selama lima tahun dan bekerja di sana, membuat Galen pandai melakukan banyak hal. Salah satunya adalah memasak, dan rasanya, jangan ditanya karena sekelas restoran bintang lima.


" Tuan muda masak apa? Perlu bibi bantu? " bibi Pamela menawarkan.


" Tidak perlu bi, ini sudah hampir selesai.. Aku masak bubur, Luce.. sakit.. " bibi Pamela langsung terkejut ketika mendengar nyonya mudanya sakit.


Semalam dia memang mendengar keributan di lantai satu, tapi sebagai seorang pembantu, bibi Pamela berani keluar kamar. Kalau sekarang nyonya nya sakit, mungkin ada hubungannya dengan kejadian semalam yang mana saat siang hari tuan mudanya sudah pulang, namun hingga malam tiba, nyonya mudanya belum kembali ke mansion.


" Tuan muda.. Boleh bibi mengatakan sesuatu? " bibi Pamela tiba-tiba berucap.


" Tentu bik, ada apa? " Galen memutuskan duduk di mini bar berhadapan dengan bibi Pamela yang sepertinya akan mengatakan sesuatu yang penting.


" Ehm.. Maaf tuan muda, bukan maksud saya ikut campur urusan anda dengan nyonya.. Hanya saja saya rasa ini perlu saya katakan pada anda.. " Galen mengangguk sambil tersenyum agar bibi Pamela tidak takut untuk bicara.


" Begini tuan.. Saya pernah mendapati nyonya mimpi buruk saat pertama kali pindah kemari.. Entah apa mimpinya karena saat saya tanya, nyonya menjawab dia lupa. Tapi dari teriakannya sepertinya nyonya mimpi buruk disakiti oleh orang.. Nyonya berteriak jangan mendekat, jangan sakiti aku, tolong, dan juga menyebut nama anda.. " Galen terkejut mendengar cerita bibi Pamela.


Apakah Ketos yang menyelidiki tentang Lucena melewatkan sesuatu yang penting. Atau mimpi Lucena itu hanyalah bunga tidur. Tapi kalau diingat-ingat, sepertinya Galen juga pernah memergoki Lucena mimpi buruk selama beberapa kali, selama mereka tinggal bersama. Bahkan saat malam pertama.


Mimpi adalah bunga tidur, tapi jika terlalu sering bermimpi hal yang sama secara berulang-ulang, bisa jadi mimpi itu adalah kisah nyata yang muncul dari alam bawah sadar orang itu.