
Merenung lagi dan lagi, setiap peristiwa yang dilalui bersama dengannya. Memikirkan, sebenarnya apa maunya, bagaimana dia ingin menjalani hidup ini kedepannya. Memikirkan baik dan tidaknya, benar dan salahnya, semua sikap yang pernah dia tunjukan di depan seseorang yang sangat dia cintai.
Ya, sedalam itu Galen mencintai Lucena. Sangat dalam, semua itu bisa dibuktikan jika Galen bahkan tidak pernah dekat dengan wanita lain selain Lucena. Untuk Angela, bagi Galen, hubungannya dengan Angela lebih condong ke arah persaudaraan. Galen menganggap Angela seperti adiknya sendiri.
Pernikahan yang terjadi hanya karena niatnya menolong Angela, tanpa cinta sama sekali, bisa dibilang begitu. Tinggal satu atap dengan status suami istri yang sah secara agama dan hukum, nyatanya tidak membuat Galen melupakan cintanya pada Lucena.
Tidak peduli sudah berapa banyak botol alkohol yang tergeletak berantakan di ruang kerjanya di Heaven Ares. Tidak peduli seberapa banyak minuman beralkohol yang Galen konsumsi, nyatanya tidak sama sekali mampu membuatnya melupakan permasalahannya.
Kepergian Lucena membawa kedua buah hati mereka, membuat Galen merasa sangat kehilangan dan hampa. Hidupnya terasa hambar, seperti sayur kurang garam. Terasa mendung, seperti langit yang terus menurunkan hujan. Hati Galen sangat kosong, tanpa kehadiran wanita yang berstatuskan istrinya itu.
Banyak tempat yang sudah dia jelajahi untuk menemukan istrinya, namun hingga kini sudah lebih dari satu minggu, keberadaan Lucena dan kedua anaknya masih belum diketahui. Galen, mulai merasa putus asa dengan semua yang terjadi saat ini. Sampai kapan, rumah tangga nya akan terus dihantam badai seperti ini.
" Tuan muda.. " Ketos yang masuk ke ruang kerja Galen di club miliknya, terkejut sekali dengan kondisi tuannya yang terlihat sangat menyedihkan.
" Eeuuggghh.. Berapa banyak minuman ini anda minum, baunya menyengat sekali.. " Protes Ketos yang merasa tidak nyaman dengan baik alkohol di ruangan ini.
Ketos menggelengkan kepalanya menatap prihatin tuan mudanya. Sejak dipecat dari jabatan sebagai CEO JN GROUP dan juga ditinggal pergi nyonya muda, membuat tuan mudanya hampir setiap hari terus minum minuman beralkohol seperti ini. Ketos khawatir jika penyakit tuannya kambuh dan mengancam nyawa tuannya.
Ketos, ikut Galen pergi dari JN GROUP karena pada dasarnya sejak awal, Ketos adalah asisten Galen yang menangani masalah di luar JN GROUP. Semua pekerjaan Galen di luar JN GROUP, Ketos lah yang mengurus semua itu. Jadi, ketika Galen pergi dari JN GROUP, Ketos pun melakukan hal yang sama.
" Tuan muda.. Tuan muda.. " Ketos mencoba untuk membangunkan tuannya. Hari sudah siang, dan Galen ada janji temu dengan seseorang penting yang mendapatkan tugas darinya.
" Apa kau sudah menemukan keberadaan istri ku? " Tanya Galen begitu matanya terbuka dan melihat Ketos di sana.
" Maaf tuan.. Belum ada kabar keberadaan nyonya muda sampai detik ini.. Tapi, menurut orang suruhan tuan yang akan bertemu dengan anda siang ini, saya rasa dia memiliki sedikit petunjuk. " Ketos menjawab pertanyaan Galen.
" Aku mandi dulu.. " Galen berlalu begitu saja dari hadapan Ketos, yang hanya bisa memandang wajah tuannya, iba.
Ketos tahu, bahwa semua usaha yang dilakukan tuan mudanya untuk menemukan sang istri tidak akan bisa semudah itu. Campur tangan dari tuan besar de Niels dan juga tangan kanannya, tuan Daniel, pasti akan membuat semuanya tidak akan bisa semudah biasanya.
Akses Galen di JN SD yang dipimpin oleh Rouge pun dicabut oleh daddy Joaquin. Tidak akan ada yang membantu Galen dan itu merupakan hukuman untuk putranya karena telah bermain api.
Tak ada bedanya dalam memperlakukan putra dan putrinya, daddy Joaquin selalu berlaku adil. Ketika putra ketiganya, Gaffi telah berbuat hal keji pada sang istri, daddy Joaquin juga mencabut semua fasilitas yang dia berikan termasuk mencopot Gaffi dari posisi presdir di JN CS Hospital.
Hal yang sama kini terjadi juga pada Galen. Semua akses dan fasilitas dari keluarga de Niels dicabut oleh daddy Joaquin. Bahkan Galen sudah tidak tinggal di mansion utama karena diusir oleh daddy Joaquin.
" Pergi.. Jangan pernah berani menginjakan kaki mu tempat ini sebelum kau berhasil membawa menantu dan kedua cucu ku kembali.. " Begitulah ucapan daddy Joaquin seminggu yang lalu.
" Suruh saja orang yang bekerja pada kita datang ke tempat ini.. Aku malas sekali untuk keluar.. " Ucap Galen memberikan perintah pada Ketos.
" Apa ada lagi yang Anda butuhkan tuan? " Tanya Ketos sebelum pergi meninggalkan Galen di kamar pribadinya di lantai atas Heaven Ares.
" Tidak ada.. Cepat kau temukan keberadaan istri ku, hal itu yang aku butuhkan.." Jawab Galen tersirat kesedihan yang dalam terpancar dari wajahnya.
" Oh ya tuan.. Hampir saja saya lupa.. Saya mendapatkan pemberitahuan dari Bridella, yang katanya nona Tamara ingin bertemu dengan anda untuk membicarakan masalah bisnis.. " Ketos menyampaikan pesan dari sekretaris Galen.
" Untuk apa? Aku bukan lagi CEO nya, suruh saja dia menemui Gafar.. " Ucap Galen acuh, tapi juga terkesan marah.
" Baik.. Tuan.." Ketos pun undur diri.
Galen sama sekali tidak peduli dengan apapun saat ini selain menemukan anak dan istrinya. Kini dia tersadar bahwa ucapannya pada Lucena saat di rooftop itu benar-benar sangat keterlaluan. Ibarat kata, Galen sudah membuat harga diri Lucena terlihat rendah dimata Tamara karena sama sekali tidak mengindahkan ucapan istrinya.
Galen sadar, dia bersalah karena dengan bodohnya dan sukarela masuk ke dalam jerat Tamara hingga membuatnya harus mengalami ini semua. Sekarang Tamara ingin menemuinya, maka jawaban Galen adalah tidak mau dan tidak peduli.
" Kemana diri mu saat ini, Luce? Aku merindukan mu dan anak-anak.. Sampai kapan kau menghukum ku seperti ini?" tanya Galen saat melihat wallpaper di layar ponselnya yang menampilkan foto keluarga kecilnya.
" Sesakit ini ya ditinggalkan.. Kenapa tersadar jika semua ini sangat menyakitkan justru disaat rasa sakit ini menjadi teman ku saat ini.. maafkan aku telah egois dan melukai mu sangat dalam.." air mata Galen menetes tanpa permisi.
Hatinya hancur, sangat hancur karena kehilangan cahaya dalam hidupnya. Cahaya yang selama ini selalu mengitarinya kini dengan teganya meninggalkan dirinya begitu saja bertemankan kegelapan. Kapan semua ini akan berakhir. Kapan dia kembali merangkul cahaya hidupnya lagi?
************
Jika Galen hidup dalam keputusasaan, lain dengan Lucena yang tetap menjalani semuanya dengan senyum di wajahnya. Semua ini demi kedua buah hatinya, jadi Lucena tidak boleh bersedih dan meratapi nasibnya yang harus terpisah jarak dan waktu dengan suaminya.
Lucena mulai memasukan lamaran sebagai dosen dibeberapa universitas di kota ini. Selain itu, Lucena juga berencana untuk membuat sebuah cafe kecil-kecilan di ruko yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Semua ini Lucena lakukan agar dia tidak selalu memikirkan Galen dan Galen saja.
Lucena rindu, tapi enggan bertemu dengan Galen karena hatinya masih teramat sakit atas tindakan Galen dan ucapannya.Entah kapan Lucena akan kembali dan menemui kembali suaminya, yang jelas saat ini, Lucena mencoba untuk menikmati hidup dan menghargai keputusan yang telah dia buat.
" Aku pasti bisa.. Dulu juga terbiasa menjalani hubungan jarak jauh.. Terkadang jarak dibutuhkan untuk mempererat sebuah hubungan." Lucena mencoba menyemangati dirinya sendiri.
" Semangat Luce.. Demi si kembar.." Lucena harus kuat, atau dirinya akan kalah dengan keadaan.
Lucena menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Baginya, Yang Maha mengetahui pasti telah menyiapkan rencana yang sangat indah untuknya dan juga Galen. Entah nantinya mereka masih dipersatukan oleh takdir atau tidak.