IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Menyendiri



Sepanjang pesta berlangsung, Galen hanya duduk menemani Kate menjajal semua makanan yang tersedia di pesta ini. Galen dan Kate sama sekali tidak peduli dengan tatapan dari tamu lain yang melihat mereka dengan tatapan yang berarti cemoohan. Kate tengah hamil, meski bukan anak kembar, tapi Kate dalam kehamilan kali ini tidak seperti ibu hamil yang tidak nafsu makan dan terus mual. Terbukti, saat ini dia sudah hamil lima bulan, dan berat badannya sudah naik 30 kg.


Melihat Kate lahap makan, Galen jadi membayangkan, andai saja Lucena tidak keguguran kemarin. Bukankah dia akan sangat bahagia, bisa mendampingi wanita yang dia cintai di saat kehamilannya. Sama seperti ketika dia merawat Angela yang hamil, delapan tahun yang lalu. Hanya saja, jika bersama Angela, Galen merasa seperti merawat adiknya sendiri, jelas lain jika dia menemani Lucena.


Tapi mungkin semua ini sudah takdir. Lucena yang mana bila meneruskan kehamilannya. Galen yakin Lucena akan mengalami baby blues. Jika benar seperti itu terjadi, maka semuanya akan menjadi lebih sulit lagi, karena Lucena bisa saja menolak anak yang dia lahirkan dan berbuat hal yang tidak-tidak.


" Kak... Kok melamun? " Tegur Kate saat memanggil Galen, namun tidak disahuti oleh Galen.


" Eh.. Kenapa? Maaf, aku tiba-tiba saja memikirkan tentang Lucena.. " Galen tersenyum canggung.


" Kita pulang yuk.. Aku sudah puas makan, kak.. " Kate nyengir. Galen sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah istri Gaffi ini.


" Ayo.. Kita pamit sama yang punya pesta dulu.. " Kate mengangguk dan mengikuti Galen menuju ke meja dimana pemilik pesta berada.


Ketika Galen dan Kate sudah sampai di mansion utama, terlihat Gaffi berdiri di depan pintu sambil bersendekap dada. Matanya memicing tajam menatap Galen yang baru saja keluar dari mobil. Hendak memutari mobil karena Kate tertidur pulas di mobil setelah kenyang mencicipi hampir semua makanan di pesta tadi.


" Apa yang kau lakukan pada istri ku? Kenapa dia pingsan? " Tanya Gaffi panik, yang langsung berlari menghampiri Galen yang membuka pintu mobil di bagian Kate.


" Pingsan.. Apanya yang pingsan? Dia kekenyangan karena makan banyak di pesta.. Mobil saja belum meninggalkan lokasi pesta, dia sudah tertidur.. " Gaffi meringis mendengar ucapan Galen. Sepertinya, istrinya akan kembali baik berat badannya setelah pergi ke pesta malam ini.


Beruntung, meski Kate sudah naik 30 kg selama kehamilannya ini, Gaffi masih kuat untuk mengendong Kate sampai ke kamarnya yang sejak beberapa hari sebelum kepulangannya, sudah di pindahkan ke lantai satu. Tentu saja hal itu memudahkan Kate untuk tidak pergi naik turun tangga.


Galen menatap sedih pasangan yang baru saja meninggalkan dirinya sendiri di luar mansion. Hatinya perih, mengingat kini dia terpisah dengan sang istri. Belum lagi masalah yang menimpa istrinya belum terpecahkan. Galen selalu menyalahkan dirinya sendiri, takut, jika ini adalah akibat dari perbuatannya dulu, dan Lucena lah yang menanggung semuanya.


Galen pun kembali masuk ke dalam mobilnya, kemudian memacu mobilnya keluar dari wilayah mansion utama. Entah kemana dia akan pergi, yang jelas, Galen hanya ingin mencari udara segar, untuk membantunya menghilangkan sakit di kepalanya dan sakit yang teramat sakit, di hatinya.


Tanpa dia sadari, mobilnya sekarang sudah berada di jalanan yang dekat dengan bibit pantai. Galen keluar untuk merasakan sejuknya angin malam yang berhembus di pantai. Kakinya membawanya untuk datang ke pantai, dan Galen memilih untuk duduk sejenak di sana.


" Pantai ya? Kalau tidak salah.. Aku dan dia punya kenangan di pantai.. " Galen tersenyum.


Ingat, jika sekitar tahun sebelum dia berangkat ke Indonesia, Galen pernah diajak ke pantai oleh kedua orang tuanya. Kebetulan saat itu, semua anggota keluarga de Niels juga ikut. Termasuk juga dengan Lucena.


Sayangnya, hingga Galen menikah dengan Lucena, sepupunya itu, Roseline, masih terus membenci Lucena. Menurut adik dari Rouge itu, yang pantas menjadi pasangan Galen sebagai kepala keluarga de Niels, adalah harusnya wanita yang kuat, wanita yang tahan banting karena pastinya banyak masalah eksternal yang akan dihadapi istri dari seorang Galen.


" Kenapa kau memilih wanita manja itu sebagai istri mu? Aku akan Terima siapapun itu asal bukan anak manja yang selalu berlindung di bawah ketiak sang ayah.. " Ucap Lucena di malam sebelum pernikahan Galen dan Lucena.


" Sudahlah.. Dia adalah jodoh ku, bisa apa aku.. Lagipula aku menyukainya.. Ayolah Rose, kita berulang kali membahas masalah ini. Sudah lebih dari sepuluh tahun, dan kau masih saja tidak suka dengannya.. " Tegur Galen.


" Selamanya aku tidak akan suka padanya.. Dia sudah mengambil semua yang aku miliki, termasuk diri mu.. Karena kau aku baik padanya, lihat saja jika dia berani memberikan masalah pada mu.. Aku akan menggantikan mommy Noura membuat pelajaran untuknya.. " Ujar Roseline menggebu.


Galen tersentak, ingatan saat itu, kini membuatnya khawatir. Roseline ada di Amerika saat ini. Dia memilih untuk membantu Geya merawat anak-anaknya karena saat ini Geya tengah koma. Mommy Noura baru saja kembali tiga minggu sebelum pernikahan Galen karena putranya sulungnya akan menikah. Jadilah Roseline yang tidak suka dengan Lucena, memilih menggantikan mommy Noura.


" Aduh.. Bulan depan dia akan pulang.. Perang Dunia lagi pastinya.. " Tiba-tiba saja, kepala Galen jadi pusing.


" Sepertinya aku harus membuat Lucena tinggal lebih lama di sana.. Aku akan menelepon kak Claude.. " Gumam Galen.


Galen pun kembali ke mobilnya. Ingin meninggalkan tempat itu, entah kenapa dia enggan. Namun setidaknya dia harus mencair penginapan karena ini sudah sangat larut. Namun sepertinya kesialan tengah menghampiri nya. Karena terlalu sibuk mengurusi perasaannya, Galen sampai tidak mengecek jika bensin mobilnya habis.


" Nasib... Nasib.. Harus tidur di mobil.. " Galen tersenyum geli, merasa dirinya sangat konyol saat ini. Belum pagi baterai ponselnya juga tinggal 10% dan dia tidak membawa charge karena bukan mobil yang dia pakai sekarang yang biasa dia pakai berangkat kerja.


" Sepertinya Tuhan ingin aku berpetualang, untuk membuat diri ku sejenak melupakan masalah berat ku.. " Galen merenggangkan tubuhnya, kemudian berbaring di kursi kemudian yang sudah dia mundurkan dan sandaran nya dia turunkan.


Mata Galen tidak butuh waktu lama langsung terpejam. Lelah hati dan pikiran, belum lagi fisiknya yang dia paksakan untuk selalu lembur. Makan yang tidak teratur dan yang paling sering Galen lakukan yang merupakan salah satu ciri hidup tidak sehat adalah tidur tidak lebih dari tiga jam.


Kehidupannya berubah sejak masalah yang terjadi padanya setelah pernikahan. Ingin menyesal karena menikah, tapi dia tidak ingin menyesali cintanya pada Lucena. Alhasil, Galen hanya pasrah sambil berusaha semampunya untuk mendapatkan petunjuk permasalahannya dengan Lucena.


Rasanya baru saja memejamkan mata, tidur Galen terganggu karena ada suara ketukan di jendela kaca mobil miliknya. Masih mengantuk, namun saat melihat ada seorang pria yang berdiri di dekat mobilnya, Galen langsung melompat keluar. Bagaimana bisa dia sampai sesiang ini baru bangun tidur.


" Maaf tuan.. Anda, tidak seharusnya berada di sini.. " Ucap pria itu. Namun Galen, masih bengong melihat siapa yang ada di depannya saat ini.