
Badai telah berlalu, menyisakan puing-puing kenangan tentang masa lalu yang mungkin sedikit pahit untuk dikenang. Tapi hidup masih berjalan, dan sebaiknya memang harus tetap menjalani hidup meski berat untuk melangkah ke depannya.
Lucena dan Galen, baru saja melewati badai terdahsyat sepanjang perjalanan hidup mereka. Meski sisa-sisa kenangan yang buruk itu masih membekas. Keduanya kini lebih mantap lagi menapakan kaki mereka, untuk maju menyongsong masa depan mereka.
Sebagai langkah awal bagi Lucena dan Galen untuk menjalani hidup yang indah. Keduanya kini memutuskan untuk memenuhi hutang mereka diawal pernikahan yang belum sempat mereka bayar. Apalagi kalau bukan bulan madu. Mereka sudah terlambat lebih dari setengah tahun untuk melakukan bulan madu. Dan kini saat yang tepat bagi mereka untuk pergi berbulan madu.
Menghapus kenangan pahit dan menyisakan kenangan yang indah. Membangun sebuah hubungan yang lebih erat dan langgeng. Serta membuat kenangan indah bersama untuk dapat dikenang di hari tua mereka nanti. Galen dan Lucena memilih memulai semuanya dengan awal yang baik, yaitu berbulan madu.
" Ingat.. Di sana nanti yang utama harus tetap menjaga kesehatan.. Kalian mengerti? " Mommy Noura berpesan ketika mengantarkan Galen dan Lucena di bandara.
" Iya, mom.. Jangan khawatirkan kami.. Di sana, kami akan menikmati hidup kami dan membuat banyak kenangan bersama.. Mommy fokus saja dengan kesehatan daddy.. " Ucap Galen menenangkan sang mommy.
" Tentu.. Hati-hati di sana, dan tetap kabari mommy ya.. " Lucena dan Galen mengangguk serempak.
Tujuan bulan madu mereka kali ini adalah Pulau Maladewa atau lebih dikenal dengan sebutan MALDIVES. Tempat ini terkenal dengan kumpulan atol yang ada di Samudra Hindia. Atol sendiri adalah sebuah pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna. Dan di pulau Maladewa atau Republik Maladewa ini ada 26 atol yang terbagi menjadi 20 atol administratif dan 1 kota.
Tempat yang dikenal sebagai surga dunia ini, menjadi pilihan Galen dan Lucena untuk menghabiskan waktu mereka selama satu bulan ke depan. Mereka akan berbulan madu selama tiga puluh hari penuh dan itu semua adalah hadiah dari daddy Joaquin dan papa Daniel. Dengan senang hati tentunya Galen dan Lucena menerima hadiah yang istimewa ini.
Dari Milan sampai ke Maldives dengan penerbangan langsung membutuhkan waktu sekitar sembilan jam tiga puluh menit. Galen dan Lucena pergi menggunakan pesawat bisnis class alih-alih dengan pesawat pribadi keluarga de Niels dengan alasan ingin menikmati setiap momen perjalanan mereka berbulan madu.
" Permisi tuan.. Adakah request menu dari anda untuk kami hidangkan di pertengahan penerbangan nanti? " Tanya seorang pramugari yang menyerahkan buku menu pada Galen dan Lucena.
" Ah.. Terima kasih.. " Galen menerima buku menu dari pramugari itu.
Dalam diamnya, Lucena menyaksikan interaksi suaminya dan pramugari dari maskapai terbaik di Italia ini. Alis Lucena berkerut ketika melihat jika pramugari itu memandang suaminya dengan tatapan terpesona. Jelas saja hal ini membuat Lucena sedikit cemburu. Catat, sedikit cemburu. Dan untuk memperlihatkan kepemilikannya pada pria tampan yang menjadi suaminya ini, Lucena sengaja bersikap manja pada sang suami.
" Len.. Aku ingin ke kamar mandi.. Maukah kau menemani ku sayang? " Suara Lucena mendayu terdengar oleh telinga Galen. Tentu saja Galen terheran-heran melihat istrinya yang tidak pernah bertingkah seperti ini.
" Tunggu.. Apa kau ada request khusus untuk menu makan kita nanti? " Sebelum mengantar ke kamar mandi, Galen lebih dulu bertanya.
" Tidak ada.. Aku ikut saja dengan mu, sayang.. " Alis Galen berkerut, lipatan kecil muncul di dahinya. Istrinya saat ini terlihat sangat lain..
" Ayo cepat antar aku ke kamar mandi.. " Rengekan Lucena menyadarkan pramugari yang sejak tadi hanya diam saja terpesona dengan Galen padahal tangan Galen sudah menyerahkan buku menu dan belum disambut oleh si pramugari itu sejak tadi.
" Oke.. "
Lucena segera berdiri dan berjalan di belakang Galen. Begitu dua langkah dari kursinya, Lucena berbalik kemudian menatap pramugari yang masih menatap ke arah dirinya dan suami. Dengan kesal Lucena menatap tajam si pramugari, kemudian memberikan peringatan berupa isyarat jika Lucena mengawasi pramugari itu.
" Ck.. Susahnya punya suami duda ganteng.. Uler keket di mana-mana.." Gumam Lucena kesal.
" Kenapa sayang? " Galen mendengar sayup-sayup sang istri mengomel.
" Tak apa.. " Nada bicara Lucena kembali seperti sedia kala. Galen benar-benar dibuat bingung dengan tingkah sang istri yang menurutnya sangat merepotkan.
Drama di pesawat tadi sudah selesai, karena pesawat yang ditumpangi Lucena dan Galen baru saja mendarat di bandara udara Internasional Velana di pula Male. Begitu turun dari pesawat, terlihat sekali wajah Lucena sangat kecut. Tolong ingatkan dia, agar nantinya tidak akan pernah kembali mencoba menaiki pesawat biasa karena sangat tidak baik untuk emosinya.
Dari bandar Udara Internasional Velana, Galen dan Lucena pergi ke tempat dimana mereka berdua akan menginap selama satu bulan di tempat yang disebut surga dunia itu, Maldives.
" Waaooowww.. Len, look.. Disini sangat indah sekali.. Kita seperti tinggal di tengah lautan.. " Seru Lucena ketika membuka jendela yang ada di kamar mereka.
" Hm.. Kau suka? " Lucena mengangguk.
" Kalau begitu, mari kita nikmati waktu satu bulan disini dengan hari yang senang dan damai.. "
" Tentu.. "
Lucena lekas membaringkan tubuhnya di ranjang besar di kamar yang akan dia tempat selama satu bulan ini. Ranjang yang sudah dihiasi dengan kelopak mawar merah yang bertabur di atas ranjang dengan seprei warna putih.
Dari tampar nya, Galen menatap senang karena sang istri sejak tadi tidak pernah berhenti tersenyum dan tertawa. Dalam hati Galen berjanji untuk mengganti banyaknya air mata yang pernah Lucena tumpahkan dengan kebahagiaan. Tidak akan pernah Galen biarkan untuk kedepannya, Lucena akan menangis entah dengan alasan apapun.
" Istirahatlah.. Nanti malam, kita akan makan malam romantis sambil ditemani langit malam dan deburan ombak.. " Lucena mengangguk kemudian terpejam.