IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Pindah



Mansion pribadi milik Galen, berada di daerah yang dekat dengan mansion utama. Hanya terpaut dia blok dari tempat dimana mansion utama berada. Meski awalnya mommy Noura tidak mengizinkan Galen dan Lucena pindah dengan alasan kesepian, pada akhirnya setelah dibujuk oleh Galen, mommy Noura memberikan izin asalkan setiap akhir pekan Galen dan Lucena akan menginap di mansion utama atau sebaliknya, mommy Noura dan daddy Joaquin yang menginap di mansion mereka.


Daripada tidak bisa keluar dari mansion utama, Galen pun mengiyakan permintaan sang mommy. Yang terpenting, tidak setiap hari mereka bertemu dan kondisi kehamilan Lucena tidak akan sampai tercium mommy dan daddy nya. Galen tidak ingin memperkeruh keadaan dengan terungkapnya kehamilan Lucena yang bukan berasal dari benihnya itu. Setidaknya sampai Galen mendapatkan petunjuk tentang hal yang menimpa Lucena atau hal yang Lucena tutupi.


Dan hari ini adalah hari pertama Galen dan Lucena melewati pagi mereka bersama di mansion milik Galen. Lucena dibantu dengan bibi Pamela memasak di dapur. Sedangkan Galen bersiap di kamarnya dengan Lucena, dan saat melihat ada pakaian yang disiapkan Lucena, hati Galen menghangat. Meski dia memperlakukan istrinya dengan acuh, sang istri sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap melakoni tugasnya sebagai seorang istri.


" Maaf Luce.. Hanya saja aku belum bisa menerima keadaan mu... keadaan kita.. " gumam Galen ketika dia melihat wajahnya di cermin.


" Boleh aku Pakaikan dasinya?" tanya Lucena yang entah sejak kapan berada di belakang Galen. Tentunya hal ini membuat Galen terkejut dan takut jika Lucena mendengar gumaman nya tadi.


" Boleh.. " Galen pun memutar badannya menghadap ke Lucena.


Lucena sedikit kewalahan membuatkan dasi untuk sang suami karena tingginya dan Galen yang memang terpaut sangat jauh. Galen memiliki tinggai 198 cm sedangkan Lucena hanya 157 cm. Lucena hanya sebatas dada Galen saja, karena itulah dia kesulitan membuatkan dasi untuk suaminya ini


" Hihihihi.. Dasar pohon touge.. " ledek Galen terkekeh geli melihat wajah sang istri yang sudah menekuk kesal.


" Ish.. Iya.. iya.. yang paling tinggi.. " Lucena mencebik.


Cup..


Galen mengecup sebentar bibir Lucena yang terlihat pucat. Merasa bersalah karena Galen ikut ambil andil dalam masalah kesehatan Lucena yang menjadi buruk. Galen mengambil bangku kecil lalu diletakkan di depannya dan meminta Lucena untuk naik ke bangku kecil itu agar mudah memasangkan dasi untuk dirinya.


" Sekarang sudah tidak kesulitan lagi kan.. " Galen menggoda Lucena dengan menaik turunkan alisnya.


" Pulang jam berapa? Bisakah kau pulang awal, karena aku takut.. " pinta Lucena memperlihatkan wajah memelas pada Galen.


" Aku usahakan.. " Lucena mengangguk.


Lucena dan Galen turun ke lantai satu langsung menuju meja makan untuk sarapan bersama. Sarapan bersama mereka untuk pertama kalinya setelah keduanya menikah. Sebelumnya, Galen akan langsung pergi bekerja tanpa memakan sarapan nya. Jangankan memakan sarapannya, melihatnya saja Galen tidak pernah.


Setelah selesai sarapan, Lucena mengantarkan Galen menuju ke pintu utama mansion mereka. Lucena mencium punggung tangan Galen, sedangkan Galen mencium kening sang istri.


" Istirahatlah.. Kalau perlu sesuatu minta saja pada bibi Pamela.. Dan jangan terlambat minum obat mu.. " ucap Galen sebelum pergi.


" Hm.. Berhati-hatilah, dan jangan mengebut.. " Lucena melambaikan tangannya.


Lamborgini dengan warna hitam metalik itu meninggalkan halaman mansion milik Galen. Membawa pengendaranya membelah jalanan kota Milan menuju ke gedung JN GROUP.


Lucena tidak tahu harus berbuat apa setelah Galen berangkat kerja. Biasanya jika di mansion utama, dia akan mengobrol dengan ibu mertuanya dan merawat bunga di halaman belakang bersama. Ngomong-ngomong tentang merawat bunga, bukankah akan sangat bagus jika di samping mansion dibuat rumah kaca yang tidak terlalu besar, tapi nanti nya akan terdapat banyak jenis bunga di dalamnya.


" Aku akan izin Galen nanti, untuk membuat rumah kaca.. Tunggu dia pulang dulu.. " ucap Lucena yang mendapatkan ide cemerlang.


Ketika Lucena hendak beranjak ke kamarnya, Tiba-tiba dia menginginkan untuk makan salad buah yang diberi madu dan susu. Keinginannya ini begitu kuat seolah haris ada salad buah di depannya sekarang dan dia akan memakan nya. Merasa malas membuat sendiri, Lucena meminta bantuan bibi Pamela yang dulunya adalah kepala pelayan di mansion Gaffi, yang pindah ke mansion ini karena mansion Gaffi sudah kosong.


" Bik.. Bisa aku minta tolong bibi membuatkan salad buah dengan madu dan susu untuk ku? " tanya Lucena karena takut mengganggu pekerjaan kepala pelayannya.


" Tentu nyonya muda.. Anda ingin buah apa saja? Di lemari pendingin ada apel, pir, kiwi, anggur merah dan hijau, kemudian juga ada melon.. " bibi Pamela menawarkan buah yang diinginkan oleh Lucena.


" Masukan sana semuanya bibi.. Tapi apakah ada jeruk nipis? Jika ada tolong bibi peraskan di atas salad buahnya ya.. " pinta Lucena yang sedikit terdengar aneh di telinga Bibi Pamela.


" Baik nyonya muda.. Nyonya ingin menunggu di kamar atau dimana? "


" Aku tunggu di ruang keluarga saja ya bi, di sana ada sofa bed. Aku pengen sekali berbaring saat ini. " bibi Pamela mengangguk.


Merasa nyaman dengan tempat dia berbaring dan udara yang sejuk berasal dari pendingin ruangan, Lucena terlelap saat menunggu salad buah pesanannya dibuatkan oleh bibi Pamela. Tidur nyenyak Lucena tidak disertai dengan mimpi yang indah. Alis Lucena berkerut, muncul keringat dingin dan tidurnya secara tiba-tiba menjadi gelisah. Entah apa yang dimimpikan nya yang jelas wajah Lucena mencerminkan jika dia sedang ketakutan sekarang.


" Nyonya... nyonya muda.. Bangun.. Nyonya muda.. " bibi Pamela terus mengguncang tubuh Lucena untuk membangunkannya.


" HAH.. HAH.. HAH.. HAH... Aku dimana? " begitu Lucena bangun, dia menjadi linglung.


" Anda di mansion tuan muda pertama, nyonya muda.. Apa Anda bermimpi buruk? " tanya bibi Pamela yang mengambil duduk di bawah Lucena, kemudian meletakan salad buah di meja yang ada di dekatnya.


Melihat salad buah yang baru saja diletakan oleh bibi Pamela, Lucena pun jadi mengingat apa yang terjadi sebelum dia akhirnya ketiduran. Lucena sendiri tidak ingat dia mimpi apa, yang jelas mimpi itu sangat menakutkan. Dia berada di tempat yang gelap bersama beberapa orang yang tidak jelas wajahnya. Setelah itu, Lucena tidak mengingat. Tapi tubuhnya sangat gemetar karena hal itu.


" Aku nggak tahu bi.. Aku tadi mimpi apa aku nggak ingat.. Tapi mimpi itu sangat menakutkan bi, sangat menakutkan sekali.. " Lucena langsung menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di dalam lututnya.


" Nyonya.. Jangan takut itu semua hanya mimpi.. Jangan takut nyonya muda, ada saya disini bersama anda.. " bibi Pamela mengucap punggung Lucena yang bergetar.


Jujur saja bibi Pamela tidak paham apa mimpi dari nyonya mudanya. Hanya saja tadi dia mendengar nyonya nya berteriak meminta tolong dan mengucapkan kata ' jangan mendekat ' secara terus menerus. Mungkinkah nyonya mudanya pernah mengalami hal buruk dengan hal yang berhubungan dengan tidak kejahatan. Bibi Pamela merasa harus memberi tahu tuan mudanya.