
Ngomong-ngomong untuk memulai pembicaraan ini, aku cukup bingung untuk mengatakan atau bertanya sesuatu. Sebenarnya sudah banyak pertanyaan yang ada di kepalaku untuk para gadis dan kehidupan mereka yang mereka jalani sebulan ini.
"Sebelum aku mengatakan hal sesuatu..." perkataanku langsung terhenti.
Yang benar saja perkataanku terganggu oleh suara yang berasal dari luar kamar. Itu seperti suara cakaran terhadap pintu itu, dan berkali-kali mengetuknya.
"Ah, sepertinya itu Dusk." kata Amarilis.
"Dusk?" tanyaku.
Siapa dia?
Kemudian Amarilis membuka pintu, lalu tiba-tiba seekor binatang berbulu langsung menerjangku. Aku sedikit terkejut, tapi aku menangkapnya tanpa membuatnya menjilat wajahku.
"Bukankah ini...?"
Binatang yang sedang kupegang adalah anak serigala yang berbulu lebat yang berwarna putih kehitaman.
"Ya, Tuan Yuuki. Dia adalah Dusk— anak serigala yang pernah kita selamatkan waktu itu." Kata Astia.
Begitu, namanya Dusk. Aku hampir melupakan anak serigala ini karena aku terlalu memikirkan tentang penaklukan itu. Sepertinya, setelah anak serigala ini disembuhkan di kastil kerajaan, Astia beserta gadis lainnya menjemputnya ketika Astia sedang bertukar informasi dengan Raja Azaka ketika sebelum penaklukan.
Lalu, pada akhirnya para gadis yang merawat Dusk dan memberikannya nama. Mungkin selama akhir belakangan ini, Dusk lebih suka bermain dengan para gadis. Itu bagus untuk mereka daripada aku yang tidak bisa merawat binatang peliharaan.
Tunggu, menyebut serigala itu binatang peliharaan bukannya aneh?
"Sepertinya Dusk sangat menyukaimu, master!" kata Lilac yang semangat.
Ya meskipun pada dasarnya aku telah menyelamatkan anak serigala ini sehingga serigala ini menganggapku adalah penyelamatnya, tapi serigala adalah hewan yang pemalu. Jadi Dusk secara alami tidak langsung 'menyayangiku'
Oke, aku akan singkirkan penjelasan logis itu, padahal aku hanya tidak terbiasa dalam menanggapi reaksi dari binatang.
"Ya, meskipun begitu..."
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Natasha datang dan menggendong Dusk dari tanganku.
"Aku mengerti... master hanya tidak terbiasa dengan situasi ini." Kata Natasha sambil mengelus tubuh Dusk.
Huh~ aku terselamatkan.
"Terimakasih, Natasha..." setelah itu aku akan melanjutkan perkataanku, "Sebelumnya aku ingin memulai... bagaimana kondisi kerajaan setelah penaklukan itu berakhir?"
Aku juga sudah melihat kondisi di ibukota ketika aku membeli bahan mentah, tapi aku tidak melihat perubahan yang signifikan di sana.
"Tidak ada perubahan yang siginifikan, master..." kata Lilia, lalu dia melanjutkan, "Tapi, setelah peristiwa itu yang memakan banyak korban yang di antaranya petualang kelas atas, akibatnya banyak keributan yang terjadi di antara para petualang."
Oke itu menjelaskan banyak hal.
"Sepertinya dasar masalahnya berada pada keseimbangan mereka. Setelah orang-orang yang mengatur mereka atau yang menjadi inspirasi mereka telah gugur, mereka semua telah kehilangan kepercayaan pada petualang kelas atas." Tambah Lilia.
"Benar master..." sekarang Natasha, "Ketika orang yang berada di atas mereka telah hilang, petualang yang bermasalah akan lebih sering membuat keributan. Itu karena orang yang memberikan ketakutan mereka dari atas sudah tidak memberikan pengaruhnya untuk petualang yang lebih rendah kelasnya."
Perkataan mereka berdua telah dibuktikan pada kasus serangan fisik pada Violentina dan diriku tadi. Randrezz adalah petualang yang bermasalah, dia pintar dalam memanfaatkan orang dan memanipulasi petualang lainnya, sehingga dalam suatu kasus ada korban darinya yang bunuh diri.
"Bagitu... ternyata benar."
"Namun bukan itu berita buruk yang sebenarnya."
Astia datang ketika dia masih membereskan tumpukann buku yang berserakan.
"Sebenarnya, dalam waktu sebulan ini, pihak kerajaan terus ditekan oleh kerajaan lain karena kerajaan kita telah diduga menyalahgunakan petualang untuk kepentingan kerajaan. Ini mengakibatkan kerajaan lain yang membenci Kerajaan Fioresd akan berpotensi menyebarkan propaganda di seluruh sisi."
Aku mengerti yang telah dikatakan oleh Astia. Pada dasarnya orang yang telah menyarankan kepada pihak kerajaan tentang mengeksploitasi petualang demi penaklukan itu adalah aku. Namun itu tidak menyalahi peraturan dunia yang telah dibuat, itu juga dikonfirmasi oleh Raja Azaka sendiri.
Tapi bagaimana bisa kerajaan sedang terancam oleh luar karena kerajaan sendiri tidak salah?
Kemungkinan besar yang menyebabkan potensi ancaman itu adalah musuh-musuh dari Kerajaan Fioresd. Karena kebencian mereka kemungkinan akan membuat sebuah keterpurukan di Kerajaan Fioresd sendiri... dan itu sudah mulai terjangkit.
"Ini laporannya master..." Natasha memberikan sebuah kertas yang menggambarkan sebuah statistik tentang tingkat kriminalitas yang terjadi pada bulan kemarin dan bulan ini.
Aku menerimanya dan melihat data tersebut.
Aku dapat melihat bahwa tingkat kriminalitas pada bulan lalu— sebelum penaklukan itu adalah sangat rendah. Namun untuk bulan ini, pertumbuhan kriminalitas terus melonjak secara drastis. Data ini terus tercatat setiap hari.
"Darimana kalian mendapatkan data ini?" tanyaku.
Aku tidak menyangka mereka semua berinisiatif untuk melakukan itu semua.
"Begitu..."
Meskipun itu tidak terlalu akurat, tapi atas dari pengalaman mereka yang berada di tempat kejadian, itu masih relevan.
"Mungkin, Tuan Yuuki tidak dapat melihat kasus kriminalitas ini secara langsung. Itu karena biasanya mereka melakukannya pada malam hari dan di tempat-tempat yang terpencil."
Atas pernyataan dari Astia, ini kemungkinan besar akan terus bertambah besar masalahnya, dan terus mengancam pihak kerajaan. Akar permasalahannya berada pada dua pihak, yaitu dari pihak petualang itu sendiri dan pihak luar yang melakukan propaganda.
Kalau itu semua terjadi begitu cepat, maka akan menimbulkan rasa takut untuk warga yang tidak bersalah.
Meskipun kami ingin mengatasi dan membuat solusi, tapi itu sangat sulit dan mempunyai kepentingan politik di dalamnya. Aku sendiri tidak mau berurusan dengan hal itu.
"Apa yang telah terjadi selama sebulan ini...?" kataku.
"Maaf master, kami tidak bisa melakukan apa-apa." kata Natasha yang juga pasrah.
"Tidak perlu meminta maaf. Ini memang di luar kendali kita. Yang harus kita lakukan adalah mengantisipasi keributan atau ancaman yang ditimbulkan oleh masalah itu."
"Dimengerti, master!" serentak mereka menjawab.
Setelah topik yang sangat berat itu, aku mengganti topiknya kepada pembahasan utamanya.
"Setelah kita semua bekerja dan membuat sesi pelatihan rutin kita terpangkas, sepertinya hanya tersisa sesi pelatihan malam untuk kita. Bagaimana menurut kalian?" tanyaku.
Ini memang berat, mereka semua akan terpaksa untuk bekerja hingga menjelang malam, dan akhirnya mengorbankan pelatihan sesi pagi dan siang, lalu menyisakan pelatihan sesi malam. Namun ketika semua itu terlaksanakan, maka kami semua akan mendapatkan kelelahan yang tidak biasa.
"Yah, ini juga sulit kalau dipikirkan..." kata Amarilis, "Di sisi lain aku ingin mencoba mengalahkan master, tapi karena keterbatasan tenaga karena pekerjaan akan membuat pelatihan rutinnya tidak efektif."
"Pada malam hari kami juga akan menggunakan waktu yang tersisa untuk mengawasi kondisi ibukota." tambah Annastasia.
Sepertinya itu adalah dasar dari keputusan Astia yang membuat mereka melakukan itu. Itulah yang terbaik untuk kondisi yang sudah seperti ini.
Baiklah, sepertinya aku harus mengubah kebiasaan yang biasa kami jalani.
"Tuan Yuuki, semua yang dilakukan para gadis pada dasarnya adalah keputusanku. Aku yang bertanggung jawab untuk itu, jadi kalau kamu keberatan, kamu tidak perlu sungkan untuk memarahiku." kata Astia yang menatapku dengan tajam.
Aku juga sudah mengetahui itu. Semua rencana yang telah dilakukan, pada dasarnya adalah inisiatif dari Astia. Namun kenapa Astia mengira aku akan marah? Memangnya aku pernah marah ketika situasi yang seperti itu?
"Hanya karena kamu mengganti semua aktivitas yang biasa kita lakukan atas dasar keputusanku— bukan berati kamu salah. Seharusnya memang kita harus mengubah rencana lama kita untuk menyesuaikan kondisi kita."
Karena pernyataanku, Astia tersenyum. Lalu aku akan kembali kepada pertanyaanku di awal.
"Dengan begitu, apa kalian punya saran untuk masalah ini?" tanyaku.
Aku menunggu mereka ketika mereka berpkir. Dalam beberapa saat, ada gadis yang mengangkat tangannya.
"Umm, sebenarnya aku punya satu saran." Itu adalah Marrona yang sedikit malu.
"Apa itu, Marrona?"
Kemudian Marrona menjelaskannya dengan serdikit terbata-bata, "Um, aku— Um aku berpikit kalau pelatihan yang biasa kita lakukan, akan dilakukan pada akhir pekan saja. Um, karena itu hari libur, aku berpikir kita bisa melakukannya pada hari itu... begitu..."
Pendapat Marrona patut diapresiasi atas keberaniannya. Dia memang sangat jarang berbicara ketika di depan orang-orang, makanya untuk kali ini dia benar-benar bekerja keras.
Setelah itu, para gadislah yang memberikan apresiasi itu kepadanya.
"Wah! Marrona kau melakukannya dengan baik!" kagum Lilac.
"Lilac benar! Kau benar-benar hebat!" Amarilis pun juga mengikutinya.
Di saat mereka berdua memuji Marrona, gadis lainnya mengangguk dan tersenyum. Sepertinya mereka menyetujui pendapat Marrona.
"Master, kalau begitu kita ambil pendapat dari Marrona. Kupikir itu memang jalan yang terbaik." Natasha pun juga menyetujui itu.
Hari kerja kami yaitu lima hari dan tersisa dua hari untuk libur. Jadi kami akan memanfaatkan hari libur itu untuk melakukan pelatihan yang biasanya. Jadi kemampuan mereka dalam bertempur tidak akan tergerus. Ini adalah keputusan yang bagus kalau diambil.
"Baiklah, sepertinya kita semua sudah sepakat. Kita akan mengambil hari sabtu dan minggu untuk melakukan pelatihan yang biasanya. Kalian juga harus selalu siap kalau Raja Azaka memberikan misi kepada kita."
"""Siap!!""" serentak mereka semua.
つづく