
“Kalian semua!” aku membuat suara yang semangat kepada para gadis, “Kalau begitu... mari kita mulai...”
““YOO!!” teriak para gadis dengan semangat.
Awal untukku dengan pagi yang berat. Kami membuka restoran di saat cahaya matahari belum terpandang oleh mata. Sebelum itu, atas arahan Astia, kami mempersiapkan semuanya, dari mulai pengelolaan tempat duduk, kebersihan restoran dan persiapan bahan mentah. Semuanya sudah harus dipersiapkan sebelum para pelanggan datang.
Karena secara teknis Astia yang memimpin dalam perencanaan dan pengelolaan restoran ini, maka aku yang harus patuh dan melakukan semua yang harus dilakukan atas arahan dari Astia.
Namun, bukan itu masalahnya.
Meskipun hari ini adalah untuk pertama kalinya aku bekerja, tapi kami semua harus mengatasi keluhan dan amukan pelanggan yang tidak masuk akal. Itu karena mereka berasal dari beberapa tempat yang bahkan aku tidak mengetahui asalnya, dengan kata lain aku tidak mengenal mereka. Kondisi akhir-akhir ini juga menjadi faktor utama yang menyebabkan itu terjadi.
Mengatasi semua kebiasaan yang terjadi di restoran sudah menjadi makanan sehari-hari para gadis. Karena itulah mengatasi mereka semua adalah hal tersulit yang pernah kami hadapi.
Lagipula kami hanya bersembilan termasuk aku, dan restoran ini jauh dari kata ‘strategis’, bertempat di pinggir hutan yang cukup jauh dari pemukiman penduduk. Namun karena satu hal yang dilakukan Astia, tempat ini sering dikunjungi pelanggan, khususnya para petualang.
Meskipun setiap hari para gadis mengatakan bahwa mereka kesulitan karena terbatasnya anggota, tapi catatan pentingnya adalah— kami tidak akan menerima pelamar pekerjaan.
Beberapa saat setelah restoran dibuka, para pelanggan membeludak memenuhi tempat duduk dan pesanan. Meskipun kondisi di wilayah Kerajaan Fioresd dalam kasus kriminalitas meningkat, tapi banyak orang yang tidak peduli tentang hal itu. Inilah yang dialami orang-orang yang ada di sini sekarang— mereka hanya bisa makan, minum dan tertawa, memikirkan ego masing-masing tanpa mempedulikan tentang kondisi dunia luar.
Mengabaikan pemikiran hal itu, mari kita kembali saat ini...
Aku sedang mempersiapkan hidangan untuk para pelanggan dengan dibantu oleh Lilac— atau bisa dibilang aku yang membantunya, itu karena secara teknis aku masih baru di sini meskipun aku bisa memasak. Tanganku juga tidak pernah berhenti bergerak karena pesanan terus berdatangan.
Di saat yang sama suara langkah kaki datang ke dapur. Seorang gadis cantik yang sedang memakai seragam pelayannya dan membawa buku menu.
“Tuan Yuuki, ada amukan lagi dari pelanggan.”
Astia datang dengan keluhan dari pelanggan yang tidak masuk akal. Biasanya dalam kasus ini, pelanggan itu tidak mau membayar karena hanya alasan emosinya sendiri yang berasal dari luar lalu diributkan di dalam restoran ini. Seharusnya itu bukan urusan kami.
“Panggil Annastasia dan Elma, aku yakin mereka dapat mengatasi itu. Sekarang aku tidak bisa pergi.”
“Ya, baiklah.” Astia tersenyum lalu pergi.
Padahal aku tidak pernah mengharapkan adanya keributan ini, tapi para gadis sudah sebulan mengalami hal yang serupa... jadi aku tidak boleh mengeluh.
“Lilac...” aku memanggilnya ketika dia sedang memasak.
“Ya, master?”
“Aku mengira kau adalah koki utamanya, lalu siapa asistenmu?”
Aku bertanya karena aku tidak berperan sebagai asisten koki. Jadi ketika kami membuat hidangan, hidangan yang kami masak benar-benar berbeda.
“Sebenarnya tidak ada, master.”
“Tidak ada? Itu artinya kau tidak mengganti Shiftmu kepada gadis yang lain?” aku terkejut, karena itu aku menanyakannya kembali.
“Bisa dibilang begitu, tapi kadang-kadang aku meminta bantuan mereka kalau aku sedang kesulitan. Makanya aku biasanya meminta bantuan Anna, karena dia yang sering datang ke dapur.” Jawab Lilac.
Ternyata begitu. Itulah sebabnya kemarin dia salah memanggilku dengan Annastasia, ternyata kejadian itu terus berulang sehingga Lilac mengira orang yang akan ke dapur pasti Annastasia.
Aku sedikit simpati kepadanya karena dia terus bekerja tanpa henti karena tidak ada yang membantunya. Namun, karena adanya diriku di sini, maka itu akan meringankan beban Lilac untuk ke depannya.
Setelah waktu terus berjalan hingga tengah hari. Pergantian Shift telah berganti.
“Baiklah, master... saatnya aku pergi.” kata Lilac yang ingin bersiap-siap pergi.
Sepertinya rencana yang telah ditelah kuberikan akan dikerjakan oleh Lilac sebentar lagi, bersama yang lainnya. Itu artinya aku akan mengerjakan semua tugas di dapur sendirian, atau kalau aku mengalami kesulitan, aku akan meminta bantuan dari gadis lainnya yang ada di sini.
“Ya, semoga lancar.”
“Dimengerti, master!”
Setelah Lilac mengatakan itu dengan semangat lalu pergi, aku kembali memasak hingga waktu restoran tutup.
Restoran ini pada awalnya hanya sebuah mansion tua yang sudah ditinggal berpuluh-puluh tahun, kemudian kami menempati mansion ini dan membuat restoran. Mengurusi segala aspek dari mansion ini tidaklah mudah karena luasnya tempat ini, sehingga kami harus melayani pelanggan hanya dengan keterbatasan anggota kami.
Namun, sebagai gantinya kami memberikan batasan waktu tutup yang lebih cepat daripada restoran lain, dan waktu libur di akhir pekan. Aku mengapresiasi keputusan Astia karena dia membuat keputusan tentang itu, sehingga para gadis mendapatkan napas tambahan untuk beristirahat.
“Huh~”
Setelah pekerjaan yang melelahkan selesai, aku duduk di kamarku. Di dalam kesendirian, aku hanya bisa menghela napas berat dan melihat-lihat dekorasi yang cukup antik.
Kamarku berada di lantai dua. Di lantai satu, tepatnya di aula, yang kami gunakan sebagai restoran. Ruangan gadis lainnya juga berada di dekat kamarku. Yah, karena keluasan mansion ini, makanya gadis-gadis lainnya dapat mendapatkan kamar pribadi mereka dengan senang hati.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan diikuti oleh suara gadis.
“Master, kami sudah menyelesaikan laporan hari ini. Apa kami boleh masuk sekarang?”
Suara gadis itu menunjukkan bahwa dia tidak sendirian.
“Masuklah.”
Kemudian pintu dibuka oleh gadis dan dua gadis lainnya yang mengikutinya. Mereka masih menggunakan seragam pelayannya.
“Ini master.” Gadis berambut perak memberikan sebuah dokumen kertas kepadaku— dia adalah Lilia.
Sambil aku melihat dokumen yang diberikan oleh Lilia, aku sesekali melihat ke arah dua gadis lainnya yang arah pandangannya ke mana-mana. Mereka adalah gadis yang kusuruh untuk menangani masalah tadi, yaitu Annastasia dan Elma.
“Cih! Kenapa aku selalu disandingkan dengan cewek murahan ini?” kata Elma dengan kasar.
Sudah terbiasa untukku dalam menanggapi sifat dan cara bicara Elma yang seperti laki-laki. Dia memang terlihat kasar, tapi dia hanya gadis yang tidak ahli dalam menunjukkan kelembutannya.
“Kenapa kau harus kesal?” Annastasia menguraikan rambut hitam panjangnya, “Lagipula Astia sudah meminta kita untuk mengurusi orang-orang itu. Bukankah itu adalah pekerjaan yang cukup cocok untuk kita?”
Di sisi lain, Lilia hanya mencoba menghindar dari pertengkaran kedua gadis tersebut, dan hanya bersiul seolah dia tidak ada di tengah antara keributan itu.
Tapi entah kenapa saat aku memandangi Lilia, dia tiba-tiba mengubah perilakunya.
“Sudah, sudah... Kalau kalian ingin bertengkar, mari kita perang bantal saja bersama gadis-gadis lainnya. Anna, kau ingin memberi pukulan tepat di wajah Elma, bukan? Lalu, Elma... kau juga ingin menarik rambut Anna dan menyeretnya di lantai, bukan? Aku tahu kalian ingin melakukan hal itu dengan semangat, tapi saat ini bukanlah untuk itu. Mari kita urus itu nanti.”
Begitulah tindakan Lilia untuk melerai pertengkaran di antara mereka berdua. Padahal barusan dia tidak ingin mengganggu mereka.
“Huh~” aku hanya menghela napas menanggapi itu.
“Yah, aku akan mengabaikan perasaanku pada Anna untuk saat ini...” kemudian Elma melanjutkan tentang pembahasannya, “Saat aku dan Anna melayani pelanggan tadi, aku tidak menemukan informasi apapun tentang hilangnya Ellena.”
Sejatinya, Ellena adalah rekan seperjuangan kami saat peperangan melawan monster kelas bencana, tapi setelah perang itu selesai, aku tidak mendapatkan kabar apapun tentangnya. Dia memang selamat dari perang itu seharusnya, tapi setelah aku mengetahui itu kemarin dari Astia, Ellena telah menghilang. Oleh karena kami berjuang mencarinya dari belakang layar.
“Itu benar, gadis lainnya pun juga mengatakan hal yang sama. Di saat mereka menyelidiki setiap pelanggan yang masuk ke dalam restoran ini, mereka tidak menemukan tentang informasi si terkait. Ini memang benar-benar masalah yang tidak terduga.” Annastasia menambahkannya dengan serius.
Ini memang masalah yang serius. Di dalam situasi yang tidak masuk akal ini, salah satu teman kita telah menghilang. Kecurigaan jelas kalau ini adalah penculikan atau penyerangan yang tidak kuprediksi sama sekali. Dalangnya tidak diketahui, bahkan penculikan atau bukan, ini masih menjadi misteri.
“Apa kelompok Natasha dan yang lainnya sudah pulang?” tanyaku
“Saat ini mereka bertiga masih menyelidiki tempat itu. Aku pikir mereka masih perjalanan pulang, tapi aku harap mereka menemukan sesuatu.” Jawab Annastasia.
Setelah mengkonfirmasi hal tersebut, Lilia datang dengan sebuah pertanyaan.
“Aku ingin memastikan sesuatu, bukankah master masih menjadi bawahan dari Raja Azaka? Lalu kenapa kita tidak membuat proposal kepadanya untuk mencari orang hilang?”
Pertanyaan Lilia cukup masuk akal dalam kondisi yang seperti ini, tapi semuanya tidak semudah itu.
“Itu tidak bisa. Peraturan dunia sudah menetapkan kalau petualang itu bersifat netral yang tidak memihak negara manapun, dan pihak kerajaan juga tidak mempunyai hak untuk membantu seorang petualang. Jadi kita tidak bisa berbuat banyak hal. Karena itu kita harus mempercayakan ini kepada diri kita sendiri.”
“Huh~ begitu ya. Sayang sekali.” Lilia menghela napas dengan kecewa.
Aku sedikit kepikiran sesuatu, karena itu aku sedikit menaikkan sudut bibirku dan menatap Lilia.
“Baiklah Lilia, sebagai pemimpin para gadis, menurutmu apa yang harus dilakukan untuk situasi yang seperti ini?” tanyaku.
“Eh— Ehhh?! Aku?” Lilia kaget dan panik.
Aku menutup mataku dan mengangguk.
Lilia menggaruk telinga elfnya, dan berkeringat— mulai menunjukkan kecemasan.
“A-ah itu ya. Begini... Um...”
Kebingungan meliputi dirinya, dia mencoba bekerja keras memikirkan sesuatu untuk membuatku menerima idenya sebagai pemimpin.
“Um, sebaiknya kita memperluas pencarian dan mengingat kembali kejanggalan apa yang sudah kita lewatkan, atau bahkan kita sudah melewatkan seseorang yang benar-benar berbahaya tapi tidak pernah kita perhatikan... Mungkin?” Lilia sudah mencoba yang terbaik di atas kepanikan yang dialamnya.
“Mungkin? Dan juga kita tidak sedang mencari korban pembunuhan.” Kataku.
“Ahahaha...” terdengar jelas suara tawa Lilia dipaksakan karena tidak memenuhi standar yang dia inginkan.
“Tapi, perkataanmu itu ada benarnya...” kataku ketika aku berpikir, “Kita memang sedang diliputi oleh ketidaktahuan, tapi rasa ketidaktahuan itulah yang membuat kita lebih berhati-hati terhadap sesuatu. Selama kita mengantisipasinya dan mencoba yang terbaik, tidak menutup kemungkinan kita akan mendapatkan sebuah harapan.”
Perkataanku mungkin terdengar seperti menggurui, tapi itu semua berdasarkan pada pengalamanku sebelumnya.
Lalu, Annastasia dan Elma bertepuk tangan sederhana.
“Inilah yang diharapkan dari pemimpin kita Lilia.”
“Aku tidak akan menyangkalnya, Lilia memang di luar ekspetasiku.”
“Eh?”
Pujian langsung dari mereka berdua membuat Lilia bingung sekaligus takjub karena tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Padahal aku pikir Lilia hanya mengatakan sesuatu yang baru saja terlintas di kepalanya.
“Yah, sebaiknya kau pertahankan kualitas dari ide-ide daruratmu itu, Lilia.” Kataku.
“Siap, master!”
Huh~ mungkin ada sedikit kemajuan ide untuk saat ini, tinggal menunggu—
Di saat yang sama, sebuah langkah kaki cepat terdengar menuju ruangan ini. Pintu kamarku terbuka cepat, dan seorang gadis muncul dari sana.
“Kami pulang!!”
Gadis berabut hijau berteriak dengan semangat dan diikuti oleh dua gadis lainnya dari belakang, tapi mereka berdua hanya menggeleng-geleng kepala atas sikap dari temannya itu.
Sementara itu, akhirnya diskusi ini akan menuju ke titik terangnya...
つづく