
“Inilah yang disebut skakmat! Master!”
Gadis lain mengatakan itu dengan semangat. Di saat itu juga perangkap tali tambang yang dibuat sedemikian rupa terbang di atasku. Sepertinya Elma yang melemparkannya dari atap.
Di sisi lain Lilac dan Amarilis telah siap untuk melepaskan anak panahnya. Mereka sudah bersiap mengantisipasi pergerakanku selanjutnya.
Aku menganalisis apa yang terjadi selanjutnya. Aku melihat Lilia dan Natasha bersiap-siap untuk menyerangku jika serangan mereka yang satu ini gagal, dan itu juga termasuk aku akan kehabisan gerakan.
Aku juga akan mengantisipasi datangnya Annastasia dan Marrona yang berasal dari kamarku. Ini adalah serangan beruntun yang tidak akan membuatku membuat gerakan sedikitpun.
Aku melihat semua itu dengan sekali lihat.
Aku masih melayang di udara ketika aku melompat dari lantai dua kamarku ketika aku melihat semua pergerakan para gadis. Karena itulah, hanya ada satu jalan untuk menghindari dari kekalahanku.
Aku berbalik menghadap langit, merentangkan tanganku dan berniat menerima semua serangan mereka.
Di saat itu juga perangkap yang dilempar Elma menjerat seluruh tubuhku di saat aku jatuh bebas. Lalu disusul dengan anak panah dari Lilac dan Amarilis yang membuat energi sihir, yang dapat membuat lubang besar di tanah.
Akhirnya semua itu mengenaiku.
****
Ledakan asap dan debu terjadi ketika perangkap yang dilempar oleh Elma dan serangan jarak jauh Lilac dan Amarilis terjadi.
Ledakan itu menyebar sampai menutupi penglihatan para gadis.
Apakah serangan kami berhasil?
Salah satu dari gadis menggumamkan hal itu.
Di detik berikutnya tubuh seorang pria remaja jatuh menyentuh tanah dan terseret sampai membentur ke salah satu pohon, bersamaan munculnya Annastasia dan Marrona dari kamar lantai dua.
Natasha menebas pedangnya ke udara, lalu asap dan debu itu menghilang dengan sempurna karena kemampuannya. Dia dan Lilia bersiap untuk melancarkan serangannya kalau masternya masih bertahan dari serangan barusan.
Mereka semua mendekat ke arah Yuuki untuk melihat situasinya.
“Master?”
Mereka semua melihat Yuuki terbaring tidak berdaya, darah keluar dari mulut dan hidungnya. Menerima serangan kuat dari Lilac dan Amarilis yang cukup kuat untuk menghilangkan tubuh manusia seluruhnya, tapi tampaknya Yuuki membuat pertahanan dengan itu. Namun sepertinya gagal.
“Master!!” Para gadis mengeluarkan kekhawatirannya tanpa sadar, lalu pergi ke tempat Yuuki jatuh.
“Bagaimana ini? Master tidak sadar.”
Amarilis mengangkat kepala Yuuki dan menaruh di pangkuannya. Dia merasa bersalah karena serangannya yang berlebihan.
“Ini salahku. Seharusnya aku tidak membuat serangan langsung ke tubuh master.” Lilac kecewa dan melihat kedua tangannya seolah dia merasa terpukul karena tangannya telah membuat masternya terluka.
Lilac mungkin benar. Yuuki tidak pernah mengatasi serangan Lilac dan Amarilis secara langsung. Dari awal sampai akhir pasti Yuuki selalu menghindari serangan itu karena dari awal serangan itu pasti sangat berbahaya.
Karena Lilac dan Amarilis terlambat menyadari itu, inilah akibatnya.
“Aku harap kalian tenang...” itu adalah Natasha, dia mengatakan dengan pelan, “Serangan kita kali ini memang berhasil tapi ini cukup berlebihan. Kita juga melupakan kalau master hanya manusia biasa. Jadi, sebelum semuanya terlambat, ayo kita bawa ke ruangan master dan menyembuhkannya di sana.”
Lalu, Natasha memegang tangan Lilac dan Amarilis untuk menenangkan mereka berdua...
“Aku harap hal ini tidak membuat kalian sedih dan menurunkan semangat bertarung kalian.”
Mereka berdua hanya mengangguk pelan atas perkataan Natasha.
“Ini juga berlaku pada kalian semua. Jangan menyalahkan diri masing-masing karena rencana ini. Meskipun ini ide dari Anna, tapi kita juga menyetujui rencana ini.” tambah Natasha.
Di saat para gadis ingin membawa Yuuki ke kamarnya, Lilia menyadari sesuatu yang cukup mengganjal pikirannya.
“Tunggu sebentar...”
“Jangan bilang kau ingin mencari-cari kesempatan di saat master pingsan?” saut Elma.
“Bukan begitu...!”
Mungkin perasaan di hatinya tidak sengaja dijawab oleh Elma, tapi Lilia menemukan hal lain yang aneh.
“Kenapa pelindung air dari kemampuan Astia tidak—”
Sebelum Lilia menyelesaikan kalimatnya, kalimat lain muncul dari dekatnya...
“Mau sampai kapan aku harus melayani pertarungan yang membosankan ini...?”
Di saat itu juga, tanah yang para gadis pijak meledak hingga tanahnya berhamburkan ke mana-mana. Gelombang kejut membuat para gadis terlempar ke arah yang tidak beraturan.
Karena itu, tanpa sadar memunculkan pelindung air yang menyelimuti seluruh tubuh para gadis.
Itu artinya...
Yuuki berdiri setelah membersihkan debu di celananya, lalu mengusap darah di mulut dan hidungnya menggunakan sapu tangan.
Setelah melakukan hal itu, Yuuki mendekat ke hadapan para gadis. Dia menatapnya dengan dingin seolah merendahkan kemampuan para gadis yang telah berusaha untuk mengalahkannya.
“Kenapa bisa...?” Lilia mengatakan itu di saat berusaha bangkit dan terbatuk.
“Sepertinya kalian terlalu dini untuk menaruh rasa kasihan pada musuh kalian.”
Perkataan Yuuki menjelaskan banyak hal terhadap para gadis. Hanya karena kalimat itu dapat membuat satu kesimpulan penyebab dari kekalahan para gadis.
Kemudian Yuuki melanjutkan, “Aku rasa anak kecil saja bisa menyadari kalau kemampuan Astia belum bereaksi pada serangan kalian. Itu artinya aku belum benar-benar dikalahkan.”
“Betapa bodohnya aku...”
Mereka semua hampir sempurna dalam menjalankan rencana itu, tapi karena ada sedikit sesuatu yang dilewatkan, mengakibatkan kegagalan total penyerangan malam hari ini.
Trik godaan dari Annastasia, serangan pembunuh dari Marrona, dan perangkap serta serangan beruntun yang telah dilakukan oleh gadis-gadis lain, dikalahkan hanya karena mereka tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku tidak mengerti... Seharusnya rencana itu adalah serangan yang sempurna... tapi kenapa master masih bertahan? Dan kenapa tiba-tiba tanahnya meledak?” tanya Annastasia, seorang yang mengemukakan rencana ini.
Kemungkinan besar pertanyaan Annastasia adalah pertanyaan seluruh gadis yang telah dikalahkan di tempat itu.
“Baiklah, karena kalian semua sudah kalah dengan cara yang memalukan, aku akan menjelaskan trikku pada kalian... Aku tidak akan membahas apa yang telah dilakukan oleh Annastasia. Aku juga tidak tahu apakah itu adalah spontanitas atau bukan...” kata Yuuki ketika dia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk bola, “Pertama, ini...”
“Itu...?”
Yang pertama kali menyadarinya adalah Natasha.
“Aku rasa yang pertama kali menyadarinya adalah orang yang paling merasa bersalah di sini... Ya benar, ini yang kunamakan bom asap. Benda ini kugunakan di saat serangan Lilac dan Amarilis mengenaiku, tapi efek serangannya tidak. Aku menggabungkan kemampuan pertahananku dan bom asap ini, yang kemudian seolah-olah aku terkena serangan dari kalian berdua, dan asapnya mengkaburkan pandangan kalian terhadap kemampuan pertahanan Astia.”
“Tapi master— tetap mengeluarkan darah setelah serangan itu.”
Lilac yang mengatakan itu, dia berharap itu adalah trik lain yang digunakan Yuuki sehingga dia dapat mengeluarkan sesuatu yang seolah-olah itu adalah darah.
Kemudian Yuuki menjawab tenang keresahan Lilac, “Kau tahu, jatuh bebas dari ketinggian akan tetap membuatmu terluka. Itu juga berlaku pada diriku. Namun, aku tidak menyangka kelau darah juga keluar dari hidungku, sepertinya aku memang benar-benar lelah saat ini.”
Ternyata jawabannya adalah sifat dan hal yang bisa didapatkan oleh manusia, yaitu terluka. Kemudian Yuuki mengeluarkan benda lain dari saku lainnya. Itu juga berbentuk sebuah bola, tapi berukuran lebih kecil.
“Ini adalah penyebab kedua dari kekalahan kalian...” kemudian Yuuki melanjutkan, “Isi dari benda ini berbentuk seperti bubuk halus yang dinamakan bubuk mesiu. Kalian tidak akan menyadari kalau aku sudah menyebar bubuk ini sebelum kalian menyadari aku yang pingsan. Hanya dengan percikan api sedikit saja— ini akan membuat ledakan yang luar biasa.”
“Itu sebabnya tidak ada yang bisa di antara kami dalam membedakan antara debu dan bubuk itu.” tambah Lilia.
Perkataan Yuuki dan Lilia yang membuat menambah pengetahuan baru untuk gadis lainnya. Mereka tersadar dengan benda semacam itu ada di dunia ini. Itu artinya benda yang sekecil itu dapat membuat kerusakan yang besar.
Lalu Yuuki memasukkan kembali kedua benda itu ke dalam sakunya. Di saat itu juga Yuuki menatap para gadis.
“Seharusnya sekarang kalian sudah mengetahui kenaifan dan kecerobohan kalian dalam mengeksekusi rencana kalian. Aku tekankan pada satu hal— Jangan bawa perasaan pribadi kalian ketika sedang melawan musuh kalian.”
Kalau para gadis tidak melakukan hal yang telah dikatakan, maka perasaan para gadis akan dimanfaatkan oleh musuh yang licik di masa depan.
Ini adalah salah satu pelajaran yang akan selalu di benak para gadis.
Kemudian Yuuki menatap Natasha yang merasa tertekan dalam suatu hal.
“Kalau kau mengingat peristiwa binatang iblis tadi siang, kemungkinan besar aku akan dikalahkan malam ini juga...”
Mata merahnya mengintimindasi di gelapnya malam ketika disinari oleh cahaya bulan. Sebuah kritikan yang menyerang langsung tepat ke arah Natasha. Natasha tidak bisa menghindar dari kritikan itu, dia harus menerima untuk kemajuan tim dan hanya Natasha yang mengetahui tentang hal itu.
Itu sebabnya hanya Natasha yang merasa kalau dia yang pantas disalahkan dalam hal ini. Sebuah bom peledak dan bom asap telah dipertunjukkan oleh Yuuki langsung di depan Natasha ketika mereka diserang oleh binatang iblis di Pegunungan Yatze tadi siang. Seperti seorang anak yang melupakan materi pelajaran untuk sebuah ujian— Kesalahan yang sama dilakukan oleh Natasha.
“Ba-baik, master.” jawab Natasha.
Namun di dalam hatinya, Natasha menghina dirinya sendiri karena kecerobohan receh seperti itu.
Ketika melihat jawaban Natasha, Yuuki melihatnya.
“Sama seperti yang kau katakan untuk gadis lain— Jangan salahkan dirimu. Semuanya pasti punya penyebabnya, aku sedikit mengetahui kondisimu saat ini. Aku tahu kau masih memiliki sedikit trauma ketika menjalani misi kita hari ini, itu yang menyebabkan kau kehilangan fokus pada malam ini. Aku bisa mengatakan kalau hari ini kondisi mental dan fisikmu sedang tidak baik.”
Setelah mendapatkan pengertian itu, perasaan Natasha menjadi lebih baik.
“Master...”
“Yah, kalau begitu, itu adalah kesimpulanku dari semua penyebab kalian kalah. Intinya pertarungan kalian membosankan.”
Setelah kalimat itu, Yuuki pergi kembali ke kamarnya melewati jendela, dan meninggalkan para gadis.
Di sela keheningan, sebuah tepuk tangan terdengar dari arah lain, itu adalah Astia yang sambil memberikan senyum cerahnya.
“Kalian memang hebat! Aku tidak menyangka kalian membuat Tuan Yuuki terpojok!”
“Huh~ sayangnya kami tidak begitu...” kata Lilia yang pasrah ketika menghela napas.
Kemudian gadis lain melompat masuk ke dalam pembicaraan, Itu adalah gadis berambut biru langit, Amarilis.
“Setelah mendapatkan fakta yang sangat menyakitkan itu tidak membuatku berpikir kalau itu dapat membuat master terpojok.”
“Hmm?” Astia cukup bingung dan heran, “Aku pikir Tuan Yuuki tidak ada pilihan lain selain melakukan hal itu kok. Dengan kata lain, itu adalah rencana terakhir yang dimiliki oleh Tuan Yuuki dalam melawan rencana kalian.”
“Aku harap begitu... namun di sisi lain master mengalahkan kami yang memiliki rencana yang dibilang sempurna, dapat dikalahkan dengan mudah dengan tipuan sederhana itu.”
Mereka semua menghela napas karena perkataan Amarilis.
"Baiklah, mari kita istirahat! Aku sudah menyiapkan sepotong kue dan teh hangat untuk kalian." tambah Astia.
"""Yuhuuu!!"""
Para gadis senang karena perhatian Astia yang tulus untuk mereka.
Di saat itulah pelatihan malam telah berakhir, dan besok adalah hari penentuan dari segalanya menemui awal atau berakhir dengan kematian. Mereka tanpa sadar ketakutan dalam menghadapi hari esok, tapi mereka terpaksa menerima kenyataan dari kerasnya hidup untuk bertahan diri menghadapi monster kelas bencana.
Gadis lain dan khususnya Natasha bertekad agar kesalahan itu tidak terulang kembali. Meskipun dia bukan pemimpin dari para gadis, tapi secara tidak langsung dia adalah pemikir yang sesungguhnya untuk suksesnya dalam misi apapun itu.
Karena tekanan hidup tidak dirasakan oleh dirinya sendiri. Seisi rumah dari Mansion Tomoe pasti merasakan tekanan itu. Jadi perasaan pribadinya dan egonya tidak boleh ia ikuti selama misi berlangsung.
つづく
Jangan lupa like, komen dan klik favorit ya untuk membuat Author semangat terus!!