
Pada hari pertama mereka latihan, di sebuah hutan tidak jauh dari Mansion Tomoe—
"Apa kita bisa mengalahkannya?"
"Tentu saja. Kita tidak ada pilihan lain."
Lilac menunjukkan kekhawatirannya, membuat gadis berambut hitam, Annastasia berdiri tegap, berbicara dengan suara indahnya seperti biasa. Meskipun merasakan ketegangan dan situasi yang cukup sulit, kecantikan gadis itu tidak pernah pudar.
Kemudian, suara datang dari gadis lain.
"Sekitar lima ratus meter lebih dari tempat master. Kita masih mempunyai waktu sebelum master menyerang ... apa diantara kita ada yang mempunyai rencana?"
Sebagai pemimpin, Lilia ingin memastikan kepada gadis lainnya kalau mereka pernah terbesit cara yang cukup ampuh untuk mengalahkan Yuuki. Tapi mereka semua hanya menggelengkan kepala.
Kemudian Natasha hadir dalam pembicaraan.
"Bagaimana kita merencanakan posisi kita lebih dulu? Kita akan berpencar dan setiap gadis mengambil masing-masing peran yang dikuasainya."
"Boleh juga. Baiklah, aku akan berada di garis depan!" Kata Elma dengan nada kasar sambil meninju tangannya.
"Aku juga, aku cukup ahli dalam pertarungan jarak dekat." Annastasia juga mengambil keputusan itu.
"Aku akan membantu Anna dan Elma dari jauh. Setidaknya itu keahlianku."
"Aku juga akan membantu Lilac."
Amarilis dan Lilac mengonfirmasi ketika mereka memegang busur panah masing-masing. Ras Elf memang cukup akrab dengan pertarungan jarak jauh, jadi Natasha dapat menerimanya.
"Lilia, bagaimana denganmu?"
Natasha bertanya kepada Lilia ketika dia sedang berpikir sesuatu, mengumpulkan informasi dari regunya dan musuhnya adalah sesuatu yang dipikirkan oleh pemimpin para gadis.
"Emm, aku akan bersamamu melindungi punggung Elma dan Anna. Ketika Elma dan Anna dalam posisi bertahan, kami akan melancarkan serangan balasan."
"Eeh, kenapa aku juga?" Natasha terkejut karena tidak menyangka Lilia mengambil keputusan itu.
Awalnya Natasha ingin mengambil rencana dan posisi lain, tapi ketika Lilia memutuskannya dan dia rasa itu tidak ada pilihan lain, dan akhirnya dia berada dalam suatu pertanyaan.
"Karena aku pemimpinmu."
"Ah~ Itu tidak adil."
Semuanya sudah mengambil posisinya masing-masing, tapi hanya Marrona yang belum mengambil keputusannya. Karena itu Lilia menanyakannya.
"Marrona, bagaimana denganmu?"
Marrona yang masih gugup dengan situasinya, menjelaskan isi rencanannya.
"Emm, sebenarnya tempo hari, aku hampir berhasil menyerang master dari belakang. Tapi sepertinya master menggunakan kemampuannya. Jadi aku membuat kesalahan."
Ketika menyadarinya, Lilac memberikan rasa bersalah.
"Ah maafkan aku Marrona, waktu itu aku tidak sengaja menendang wajahmu."
"Tidak, itu tidak benar. Itu murni kesalahanku."
"Pantas saja aku tidak menyadarimu ketika kau menyerang Yuuki dari belakang."
Setelah mendengar percakapan yang terjadi, Lilia memberikan sebuah keputusannya.
"Kalau begitu sudah diputuskan! Marrona akan menyerang dari titik buta. Itu keahlianmu bukan?"
"Ya." Marrona menerimanya dengan malu-malu.
"Kalau begitu semuanya sudah siap." Lilia tersenyum karena semua peran sudah diisi dengan baik.
"Kalau begitu bagaimana rencanannya?"
Natasha datang dengan sebuah pertanyaan, Lilia hanya membeku di tempat.
"Kenapa tanya aku?"
"Kenapa katamu? Karena kau yang harus memikirkannya."
"Bukannya kau lebih cerdas daripada aku? Aku yang menunggu rencanamu." Lilia bertanya kepada Natasha, tapi mereka hanya saling menatap kosong.
"Eh."
"Eeh?"
"Kukira kau sudah memikirkannya daritadi?! Lalu kenapa kau memasang wajah seserius itu tadi?!! Kenapa kau bertanya... karena kau pemimpinnya!!"
Natasha berteriak, wajahnya menegang. Lilia hanya menerima itu dengan takut, menutupi wajahnya, tidak ada yang menyangkanya kalau Lilia belum membuat rencana sama sekali.
"Maaf, tolong maafkan aku! Aku terlalu panik. Saat aku berpikir, aku tidak menemukan rencana apapun. Aku hanya menemukan kebuntuan. Melawan master yang sekuat itu, tidak ada celah!"
"Kau pikir aku juga menemukan ide? Tentu tidak!"
"Kan sudah kubilang, aku minta maaf."
Gadis berambut hitam, Annastasia memegang kedua bahu mereka, untuk meredakan tekanan yang mereka alami.
"Sudah, ini bukan saatnya kita menyalahkan satu sama lain. Kita sudah kehabisan waktu, master kemungkinan besar sedang dalam perjalanan ke sini."
Kemudian Annastasia melihat gadis-gadis lainnya, membuat rencana yang menurutnya akan berhasil, atau setidaknya membuat Yuuki kesusahan.
"Kita akan menyerang master dari segala arah, kan? Kalau begitu tidak ada pilihan lain selain serangan agresif. Kita harus terus menyerangnya tanpa membuat dia menarik napas sedikitpun."
"Kau sedikit kejam ya."
Kemudian Annastasia kembali berbicara, menunjukan gerakan elegan saat mengangkat jarinya.
"Seperti yang telah kurencanakan. Menurutku, aku pikir ini adalah kesempatan kita. Setelah kekalahan kita kemarin, aku yakin master sedang meremehkan kita. Ayo kita ajari betapa kuatnya ikatan para gadis kepada master!" Annastasia mengangkat tinju. "Mari kita kalahkan dia dalam tiga puluh detik maksimal!"
Para gadis sama-sama termotivasi, mengangkat tinju mereka dengan semangat.
Bersama dengan kata-katanya, tim penyerang, Elma dan Annastasia, tim pendukung, Lilia dan Natasha, tim jarak jauh, Amarilis dan Lilac, dan yang terakhir Marrona, Assassin, menyebar ke posisi masing-masing. Saling menjaga jarak, memerhatikan satu sama lain – mengejar target.
—Operasi, dimulai!
Para gadis mulai berlari menuju ke daerah musuh. Dengan pendengaran tajam Natasha dan penciuman tajam Marrona, kemudian kelima indra yang peka dari gadis elf ketika di hutan, mereka berkomunikasi dengan tangan mereka.
Marrona menunjukkan sinyal ditangannya, ditujukkan kepada para gadis. 'Aku pergi.' Itulah kodenya.
Para gadis hanya mengangguk. Marrona menjalankan perannya dengan baik, menghilang ke dalam hutan seolah dia berada di sana hanya sebuah kebohongan.
"Dalam dua ratus meter, kita akan berhadapan, master terus mendekat!" Natasha mengumumkan.
Karena pendengaran tajam Natasha, dia dapat mengetahui itu. Sekitar dalam 15 detik mereka akan berhadapan. Natasha terus menjaga pendengarannya tetap waspada, terus mengawasi pergerakan Yuuki. Gerakan cepat Yuuki, mengenai rumput, semak, dan kerikil dapat dikenali oleh Natasha. Ini mudah saat mereka mengetahui pergerakan Yuuki, itu sebabnya Amarilis dan Lilac kemudian mulai menjaga jarak dari tim penyerang.
"Seratus meter!"
Natasha terus mengumumkan sambil berlari, momen ini tim jarak jauh mulai berhenti dan mengambil posisi menyerang. Tim penyerang dan tim pendukung terus berlari, mengejar target. Tapi, itu terjadi ketika Natasha terus mengawasi hutan sekitar.
"Berhenti!"
"Kenapa Natasha? masih ada 50 meter sebelum master menyerang." Ujar Elma.
Di saat itulah Natasha merasa merinding.
"Pergerakan master menghilang."
"Hah?"
"Seharusnya kita dapat melihat master dari posisi ini dan seharusnya pendengaranku akan semakin jelas. Tapi semua itu tiba-tiba menghilang."
"Tetap waspada!" Setelah mendengar pernyataan Natasha, Lilia langsung mengambil alih dan menyiapkan kedua belatinya.
Para gadis memasang posisi waspada. Kemudian Elma dan Annastasia memutari tim pendukung, menjadi pelindungnya dari serangan luar.
Dalam sekejap, dengan merobek udara, dua buah belati melesat ke arah tim pernyerang. Tapi itu meleset.
Lilia segera melihat jalur lesatan belati itu, tapi dia tidak melihat ada siapapun di sana.
"Itu hanya pengalih!"
"Apa?"
Lilac berteriak, memberitahu para gadis. Tapi dia langsung disambut oleh pukulan ke atas oleh Yuuki.
Hampir saja... Lilac yang berada di atas pohon tidak ada pilihan lain selain menjatuhkan diri ke bawah. Tidak hanya itu, ketika dia masih di udara, Lilac meluncurkan anak panah kejut yang dapat membuat menghempaskan apapun di daerah sasarannya.
Tapi sebagai gantinya, ketika dia mendarat di tanah dia akan mengalami luka yang cukup parah. Itu artinya dia telah membuat kesalahan.
Angin berputar membentuk sebuah bola yang menyebabkan bagian atas pohon itu membentuk lubang besar lalu hancur tidak tersisa.
Apa dengan ini mengenainya? Pikir Lilac dengan pasrah.
Tapi tidak ada tanda-tanda apapun. Sebelum dia mendarat di tanah dan terluka, ada seseorang yang menahan tubuhnya dan mengangkat kakinya. Lilac tidak pernahmenyangkanya. Menggendongnya selayaknya putri kerajaan.
"Master?!"
Kemudian, ekspresi Yuuki menghangat ketika dia ingin membalas rekasi Lilac.
"Kau ceroboh ya? Aku tidak menyangka kau melakukan sejauh ini untuk mengalahkanku."
Anehnya, perkataan Yuuki bukanlah sebuah kritikan tapi hanyalah sebuah pujian kecil.
"Sudah kubilang kan master, aku tidak layak mendapatkan pujianmu."
"Kerja kerasmu layak mendapatkan itu. Aku hampir saja tidak dapat menghindarinya."
Ketika Lilac mendapatkan pernyataan Yuuki, Lilac membalasnya dengan senyuman hangat.
"Itulah yang kusukai darimu, master...Baiklah. Aku kalah." Lilac menutup matanya dan mengangkat kedua tangannya. Dengan itu Lilac sudah mengakui kekalahannya, dia menyerah.
Di balik pohon yang menutupi penglihatan para gadis lainnya, Yuuki menurunkan Lilac dari gendongannya. Kemudian Lilac mundur dari pelatihan dan menjauh dari tempat itu.
Para gadis tidak melihat apa yang terjadi sebenarnya dan percakapannya, tapi mereka sudah tahu kalau Lilac sudah kalah dan meninggalkan pelatihan.
Kemudian Yuuki kembali menggunakan kecepatannya untuk menyerang para gadis...
Beberapa detik kemudian, Amarilis yang melihat kalau rekannya mengalami kekalahan, sebagai tim jarak jauh, dia merasa bersalah telah membiarkannya kalah. Dia merasa posisinya saat ini tidak aman, dia langsung berkumpul kembali ke para gadis lainnya.
Para gadis juga sama bersalahnya, mereka semua tidak cepat tanggap ketika ledakan kejut itu terjadi, dan akhirnya mereka semua terlambat. Tapi tidak secepat itu para gadis menyerah, mereka telah mengetahui posisi Yuuki.
"Ayo kejar."
Annastasia mengatakan itu. Dari awal rencana mereka adalah melakukan serangan agresif, tapi ada kesalahan di awal jadinya rencananya agak berantakan. Karena itu mereka memulainya dari awal.
"Jangan ada yang berpencar, master pasti memancing kita seperti itu, dengan itu master bisa mengalahkan kita satu persatu."
Ketika Natasha menanyakan itu, dia juga memikirkan kondisi Marrona. Tidak ada yang tahu Marrona dimana, tapi dia pasti sedang merencanakan sesuatu.
"Ya, aku yakin Marrona sedang mencari situasi yang bagus untuk menyerang master, tapi aku tidak yakin master dapat dikalahkan dalam pertarungan satu lawan satu."
Para gadis terus mengejar Yuuki yang terlihat merencanakan sesuatu. Ketika mereka sampai di tempat yang lebih terbuka, Yuuki berada di sana.
Apa master menuju tempat ini agar tidak diserang oleh Marrona? Apa kemampuan Marrona itu kelemahannya?
Tersisa lima gadis di tempat itu dan keberadaan Marrona tidak diketahui.
Para gadis berhenti, pergi ke posisinya masing-masing. Yuuki menghunuskan pedang panjangnya, terlihat ringan dan menakutkan. Sementara itu, Yuuki menurunkan pinggangnya, mengetahui pertarungan akan berlangsung dia masuk ke posisi kuda-kuda. Sekitar dua puluh meter jarak antara para gadis dan Yuuki. Mulai dari awal...
Tiga puluh detik... itulah yang digumamkan Lilia.
Hening sesaat.
Serangan panah Amarilis menandakan peluit pertarungan, kemudian meledak di area sasarannya. Debu asap menghalangi pandangan, empat gadis lainnya mulai menyerang Yuuki, berharap serangan Amarilis dapat berpengaruh. Tapi tidak begitu.
Asap itu ditebas empat bagian, angin kejut dengan cepat menghilangkan asapnya, keluar Yuuki menggunakan pedangnya. Empat gadis menyebar, menyerang Yuuki dari segala sisi. Lilia melesatkan dua kali belatinya ke arah Yuuki.
Namun Yuuki mengindari yang satunya dan belati lainnya ditangkis oleh pedangnya. Mengetahui itu Lilia mengambil dua belati dari sakunya, menyerang Yuuki, mengambil beberapa tebasan dan tendangan tapi tetap saja tidak ada yang mengenainya.
Kembali Yuuki memberi balasan, memberikan sebuah tebasan, berkali-kali, kiri dan kanan. Lilia berusaha menahannya karena perbadaan kekuatan yang jauh. Karena itu Lilia berusaha melompat ke belakang, membuat jarak. Tapi Yuuki langsung membuat pergerakan cepat, menendang kaki Lilia yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Yuuki mendekat tapi langsung dihadang oleh beberapa anak panah dari amarilis, dia mundur beberapa langkah. Tidak ada satu detik, Yuuki langsung disambut oleh pedang dari Natasha. Annastasia ke sisi satunya, pergi menendang kedua kaki Yuuki.
Kombinasi cepat ini seharusnya dapat membuat keseimbangan Yuuki goyah, tidak hanya itu...
Tepat ketika mereka memikirkan itu. Yuuki menghilang, Natasha menebas angin dan Annastasia hampir membuat kesalahan yang sama seperti yang Lilac lakukan.
Mereka sudah memiliki komposisi kerja sama yang cukup bagus, tapi dengan kecepatan Yuuki yang sulit dilihat oleh mata membuat para gadis sangat kesulitan. Lilia hanya menyaksikan pemandangan ini, tercengang karena kecepatan Yuuki ketika dia diserang dari dua sisi.
"Apa kalian pikir aku meremehkan kalian?"
Setelah suara itu, pedang terbang ke arah Lilia, melesat dengan kecepatan tinggi.
"Sial!" Lilia berteriak, menunjukkan keterkejutannya. Hanya beberapa inci sebelum mengenai matanya, tapi pedang itu diberhentikan oleh dinding air yang transparan.
Kemampuan Astia menghentikan itu, Lilia meneteskan keringat dari lehernya. Satu orang lagi telah tereliminasi, dan itu adalah pemimpin para gadis.
"Huh, aku pikir aku akan mati." Lilia mengatakan itu dengan lega dan frustasi karena kekalahannya. Dalam hatinya Lilia berterima kasih pada Astia.
Sudah lebih dari tiga puluh detik dari yang direncanakan para gadis, Yuuki mungkin serius dalam pelatihan ini, tapi bagi Natasha, Yuuki terlihat bermain-main. Tidak ada kesulitan apapun.
Sebelum dia menyadarinya, Natasha diserang dari belakang dengan kecepatan tinggi oleh Yuuki. Tapi Elma langsung menghadangnya, memblokir tendangan dengan kedua tangannya. Elma terlihat kesakitan, tapi dia tersenyum.
"Aku sudah mengamati kecepatan dan pergerakan master, jadi jangan acuhkan aku!" Kata Elma dengan nada kasarnya.
Dengan tatapan merah yang dingin, Yuuki langsung menarik kakinya, tapi kakinya dipegang erat oleh Elma sambil tersenyum. Momen itu dimanfaatkan oleh Annastasia, dari belakang dia langsung melayangkan kaki indahnya.
"Eh?"
Tapi itu tidak cukup. Yuuki memutar badannya, seperti rolling di udara. Kaki yang ditahan Elma menjadi terangkat lalu menerbangkan Elma dengan ekspresi tidak percaya. Masuk ke semak-semak dan menghilang dari pandangan Yuuki.
Natasha menyerang dari titik buta setelah Elma terlempar ke udara.
Setelah lepas dari genggaman Elma, Yuuki mengulurkan tali yang sudah dicurinya dari Lilac. Yuuki menghindari tebasan Natasha, memblokir pedangnya, lalu terlempar dari tangan Natasha.
Tangan Natasha dan kaki Annastasia bersentuhan, Yuuki mengulurkan talinya dan membuat Annastasia tersangkut dan jatuh. Begitu pula Natasha yang sama nasibnya.
"Ehh?!!" Natasha menjerit, ketika tangannya terlilit di kaki Annastasia, terjatuh bersama dan dalam posisi yang memalukan.
Di saat yang sama, Marrona keluar dari bayangan hutan. Dengan kecepatan terbaiknya, dia mengarahkan tangannya pada leher Yuuki.
"Aku sudah berpikir kalau kau akan keluar di detik-detik terakhir."
Serangannya gagal. Tangannya dihentikan oleh Yuuki, tapi hampir mengenainya. Beberapa centimeter lagi kukunya akan mengenai arteri karotis Yuuki. Tidak ada tanda-tanda dari kemampuan Astia, dan itu artinya serangan pembunuh Marrona gagal.
Mata Marrona membuka lebar, seolah dia tahu caranya mengalahkan Yuuki, tapi dia sudah menemukan kesalahannya sendiri.
—Itu seperti, master tidak terkalahkan.
Kemudian, serangan frontal yang mendadak dari Amarilis. Yuuki langsung memegang badan Marrona, menariknya ke dekatnya.
"AH!" Marrona mengerang samar, wajahnya menjadi gugup. di saat itu dinding transparan dari kemampuan Astia muncul.
Yuuki telah membuat Marrona menjadi tameng dari serangan Amarilis dan membuat Marrona mengalami kekalahannya sendiri.
Bagaimana bisa-bisanya dia melakukan itu? Pikir Amarilis.
Padahal di saat Yuuki lengah karena berhadapan dengan serangan cepat Marrona, dia sudah menyiapkan anak panah tercepat yang ia miliki. Tapi dia tidak menyangka kalau masternya akan membuat Marrona sebagai tameng. Dia berpikir bahwa mana ada bawahannya akan dijadikan tameng oleh masternya sendiri. Karena itu dia tidak pernah menyangkanya dan malah menyerang rekannya sendiri.
Tersisa empat orang. Tapi Annastasia dan Natasha tidak bisa menggerakkan salah satu bagian tubuhnya karena terlilit tali, Yuuki bisa menyerangya kapan saja dengan mudah. Elma juga tidak menunjukkan tanda-tanda keluar dari semak-semak. Dan Marrona sudah kalah.
Itu berarti anggota yang tersisa adalah tinggal Amarilis seorang.
"Amarilis, lari!" Annastasia berteriak, sambil berusaha melepaskan lilitan dari talinya
"Bagaimana bisa?"
"Kau harus memikirkan cara mengalahkan master. Aku tidak tahu dia, mungkin Elma sedang kabur dan memikirkan beberapa cara."
"Hah? Memangnya kau pikir Elma adalah orang yang seperti itu."
Seperti yang dipikirkan Amarilis, Elma adalah gadis yang lebih memakai kekuatannya daripada otaknya. Jadi, kabur dan memikirkan cara adalah hal yang tidak masuk akal.
Yuuki yang mendengar itu juga berpikiran hal yang sama.
Amarilis hanya menghela napas.
"Huh... Baiklah aku menyerah. Tidak mungkin kemampuanku saat ini dapat mengalahkan master. Satu lawan satu itu bukan keahlian ku." Katanya sambil menjatuhkan busurnya dan mengangkat tangannya.
"Aku juga."
"Eh?"
Tampaknya Annastasia sudah lepas dari lilitannya, tapi dia dikejutkan oleh pernyataan Amarilis, Natasha juga menyerah ketika dia masih tersungkur di tanah.
"Pilihan yang bagus. Kemampuan jarak jauhmu memang tidak cocok ketika melawan musuh yang terampil dalam jarak dekat, karena itu menyerah adalah pilihan yang tepat." Kata Yuuki ketika menutup matanya.
Natasha juga menyetujui Amarilis. Tidak ada yang bisa ia lakukan dengan anggota yang tersisa untuk melawan Yuuki. Jika dia memaksakan pertarungan hanya akan memakan waktu dan sudah diketahui siapa pemenangnya, Natasha hanya pasrah tiduran di tanah, menyerah dengan posisi konyol.
"Umm, master... sampai kapan kau menahanku?" Dengan wajah memerah, Marrona mengatakan itu ketika dia masih menjadi tameng Yuuki.
"Oh iya, maaf."
Setelah melepaskannya, tersisa Annastasia yang masih belum kalah. Yuuki menghampirinya yang masih duduk di tanah.
Annastasia panik. Dia berpikir dengan apa master mengalahkannya nanti. Skenario kekalahan rekan-rekannya yang menyakitkan berputar di kepalanya, dia bisa saja pingsan dalam keadaan ini.
"Tunggu sebent—!!" Annastasia hanya bisa menutup matanya dan meringkuk ketakutan.
Yuuki berlutut, mencoba lebih dekat ke Annastasia, mengarahkan tangannya ke kepalanya lalu menyentilnya.
"Aduh!" Begitulah reaksi Annastasia sambil memegang dahinya.
"Apa dengan begini aku bisa menganggapmu kalah?"
"Umm baiklah aku mengaku kalah..." Kata Annastasia yang masih memegang dahinya.
"Bagus. Baiklah, semuanya berkumpul. Annastasia bangunkan Natasha."
"Baik! Natasha ayo bangun."
Annastasia mencoba membangunkan Natasha yang lemas karena kalah. Para gadis lainnya bekumpul kecuali Elma, Lilia, dan Lilac. Astia turun dari salah satu pohon, para gadis terkejut karena keberadaanya tidak diketahui selama ini.
"Semuanya sudah berkumpul ya. Tentang ini beritahu kepada gadis-gadis yang sudah ada di Mansion Tomoe. Aku akan memberikan kesimpulan dari pelatihan ini."
"""Siap Master!"""
Para gadis menyerukan teriakan semangatnya, tapi sehabis itu mereka kembali melemas.
"Yah, hebat, pertarungan kalian masih membosankan!"
"Eh." Suara suram para gadis saling tumpang tindih.
"Kemampuan masing-masing dari kalian sudah cukup baik, tapi kerja samanya sangat buruk. Tapi itu hanya penilaianku saat ini. Tidak ada yang tahu kemajuan kalian di masa depan."
"Sesi selanjutnya kami akan berusaha lebih keras." Kata Annastasia dengan lembut.
"Semangat yang bagus. Kalau begitu serang aku lagi saat siang dan malam nanti."
Setelah itu Yuuki berjalan ke hutan, kembali ke Mansion Tomoe untuk beristirahat. Menyisakan para gadis dan Astia di tempat itu.
Menyadari ada yang tidak beres, Natasha mengumumkan hal itu.
"Oh iya ngomong-ngomong dimana Elma?"
"Benar juga..." Kata Annastasia sambil mengangkat jarinya ke pipinya. "Tadi bukannya dia terperosok ke semak-semak? Jangan bilang dia masuk ke lubang atau sesuatu."
"Ayo kita periksa."
Para gadis pergi ke tempat ketika Elma terakhir terlihat. Memeriksa di sekitar situ, lalu menemukan lubang yang terlihat habis ditutupi oleh kumpulan daun. Sepertinya itu adalah sesuatu seperti jebakan kuno.
Elma berada di sana, menggeliat mencoba melepaskan diri dari tanaman merambat yang mengikat tubuhnya.
"Bisa-bisanya kau jatuh ke tempat seperti ini."
"Hah? Kau mencoba meledekku ya? Cepat bantu aku melepaskan ini!" Nada kasar yang memerintah keluar dari mulut Elma, Annastasia hanya menertawakan hal itu.
"Fufufu. Kenapa aku harus menolongmu? Inilah balasanmu karena kesombonganmu."
"Apa kau bilang!"
Setelah itu seseorang menepuk tangannya beberapa kali untuk memancing pandangan mereka ke orang itu, tujuannya adalah untuk menenangkan suasana. Itu Astia.
"Baiklah semuanya, yang kalian butuhkan saat ini adalah kerja sama tim, bukan konflik pribadi. Ikatanmu dengan rekan-rekanmu, kau tahu? Jadi mari kita sedikit tenang."
"Kalau Nona Astia sudah mengatakan itu, aku tidak bisa menolaknya."
Setelah keadaan lebih tenang, dengan kemampuan Astia, dia memotong tanaman merambat yang mengikat Elma. Tangan, kaki dan tubuh Elma terlepas dari jeratan, kemudian dia melompat dari lubang.
"Huh~"
"Baiklah Ayo pulang."
つづく
Jangan lupa like, komen dan klik favoritnya ya!