I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 6.2



Para gadis berdiri, kemudian menjaga jarak dari Yuuki untuk memulai pertarungan. Mereka menganggap hal ini adalah syarat yang harus diterima, maka dari itulah mereka harus mengalahkan Yuuki, atau setidaknya membuat Yuuki kewalahan.


Para gadis telah membuat keputusan untuk menyerang, tapi mereka hanya berdiam dalam posisi kuda-kuda mereka.


Hanya Yuuki berjalan santai menghampiri mereka. Padahal tujuh melawan satu, tapi kenapa mereka masih belum bergerak?


Masalah utamanya adalah saat ini para gadis sedang bergetar ketika mereka memegang senjatanya masing-masing. Melawan pria yang tidak memegang apapun, hanya tangan kosong seharusnya menjadi mudah, tapi para gadis kalah dalam segi mental.


Akhirnya setelah memaksakan tubuhnya bergerak, para gadis berpencar, melesat ke arah Yuuki.


Serangan lebih dulu dilancarkan oleh Natasha, pedangnya menebas ke arah Yuuki berkali-kali, tapi tidak ada yang mengenainya. Di saat yang sama, serangan kedua muncul dari belakang Yuuki secara tiba-tiba. Lilia melakukan gerakan tusukan dengan kedua belatinya.


Kenapa, kenapa tidak ada yang kena? Ungkap Frustasi Lilia.


Padahal selama ini ketika berburu di hutan, dia sering mengenai mangsanya dengan mudah, tapi saat ini, dia seperti dipermainkan.


Diserang bertubi-tubi seperti itu, Yuuki memberi jarak diantara mereka, dia ingin menjaga jarak tapi langsung ditutup dengan kedua serangan Amarilis dan Elma.


Amarilis memberi tendangan kuat ke arah pelipis Yuuki dan Elma memberi tendangan ke bagian kakinya. Seharusnya itu berhasil, mereka menyerangnya dari segala sisi, jadi tidak ada ruang untuk Yuuki menghindar.


Seharusnya begitu, tapi dengan segera Yuuki menangkap kaki mereka.


"Celaka!"


Yuuki memegangnya dengan kuat, melemparkannya ke arah Natasha yang sudah melesat untuk menyerang.


Lilia menghindari itu, jadi dia mengisi kesempatannya, dia melemparkan belatinya dengan kuat.


Ini kesempatannya ketika Yuuki sedang menatap arah lain, dia sedang lengah!


Ting!


"Apa?"


Dalam momen itu suara logam berdentang, ketika Lilia melihat kalau belatinya tergeletak di lantai, dia melihat kalau Yuuki memegang sebuah belati yang dia angkat ke atas.


Aku pikir dia tidak memegang senjata?!


Tiba-tiba kaki Lilia menjadi sangat lemas, lututnya menyentuh ubin, pandangannya jatuh ke bawah. Lalu dia bergumam dengan pelan...


"Bagaimana caranya aku mengalahkannya?"


Dia hanya berlutut melihat pertarungan Annastasia dengan Yuuki, pertarungan antar bela diri yang tidak seimbang sama sekali.


"Padahal kami bertujuh..."


Kalau dia terus seperti itu, mereka semua akan dikalahkan, dan keinginannya tadi hanya akan menjadi mimpi belaka.


Tapi dia tidak boleh seperti itu, dia berusaha bangkit, membenarkan posturnya.


"Kalau bekerja sama tidak bekerja, maka hanya cara itu..."


Lilia sudah menyiapkan rencana, meskipun itu sedikit melanggar aturan.


Annastasia tertendang sejauh 5 meter oleh Yuuki, sepertinya dia terkilir di bagian tangannya.


Setelah melihat Annastasia mengalami kekalahan, dua gadis tidak ingin membiarkan Yuuki mendapatkan nafas panjang sedikitpun. Mereka adalah Lilac dan Marrona.


Lilac pergi dan memberikan tendangan tercepatnya, dia gagal, tapi tendangan lain dia luncurkan, dia kembali gagal. Kakinya menyentuh lantai, tapi dia tidak membiarkan kakinya berlama-lama di lantai, Lilac terus melesatkan kakinya dengan cepat. Meskipun terus dihindari oleh Yuuki, dia tidak menyerah sampai ada kesempatan.


Dibalut oleh udara yang lembut, tubuh Yuuki tiba-tiba merinding. Dia melakukan beberapa percepatan indranya ketika dia menoleh ke belakang. Dia langsung tanggap dengan kehadiran Marrona di titik buta, kemudian menghindar dan membiarkan Lilac menendang Marrona ketika dia tidak seimbang.


"Maafkan aku Marrona, a-aku tidak sengaja..."


Marrona tanpa sengaja tertendang di bagian kepala. Lilac terjatuh karena merasa bersalah.


Semua gadis telah kalah dalam hitungan menit. Para gadis tidak kembali melancarkan serangannya lagi, karena ada beberapa yang terluka dan ada beberapa yang berpikir kalau mereka tidak akan menang meskipun bekerja sama.


Tapi ada satu yang tetap berdiri dengan memegang sebilah belati.


"Kami yang menang Tuan Yuuki! Aku sudah menyandera Astia. Ketika belatiku menyentuh lehernya, aku yang menang. Sekarang apa yang akan kau lakukan?"


Ini adalah perjudian. Sekarang sebilah belati tepat di depan leher Astia, Lilia melakukan hal ini. Jika Yuuki tidak sampai dan mencegah belatinya mencapai leher Astia, maka Yuuki yang kalah.


"Maafkan aku Astia, hanya ini satu-satunya untuk aku menang." Kata Lilia dengan pelan


Tapi tidak ada reaksi apapun dari Yuuki.


"....!!"


Dimana*?*


Secara mengejutkan belati yang Lilia pegang untuk menyandera Astia menghilang. Tangannya ditarik, badannya diputar keatas lalu dijatuhkan ke bawah.


"Eh?"


Lilia sama sekali tidak menyadari kalau tubuhnya sedang dikunci. Tangan kanannya tidak bisa digerakkan beserta tubuhnya.


Itu kerena Astia yang melakukan semuanya.


Padahal sedikit lagi Tuan Yuuki akan terpancing, pikir Lilia.


Yuuki berjalan seperti biasa, kembali ke kursi kerjanya, Astia juga melepaskan Lilia dari pengunciannya.


Para gadis hanya bisa melihat Yuuki kembali dan tidak tahan dengan ketidakberdayaan mereka sendiri.


"Membosankan... Lebih baik kalian enyah saja."


"Uh?"


Ekspresi kosong keluar dari para gadis, setelah Yuuki mengeluarkan perkataan menyakitkan itu.


"Tuan Yuuki, bolehkah aku berbicara?" Kata Annastasia sambil memagang tangannya yang terkilir.


"Alasanmu tidak dibutuhkan..." Kemudian dia menatap ke arah lain,  "Kau yang di sana, mungkin kau sudah melakukan yang terbaik dengan menyandera Astia, tapi... Ketika kau ingin menyandera seseorang seharusnya kau harus memastikan kalau orang itu harus lebih lemah darimu... Kalian juga pasti menyadari kalau kerja sama kalian sangat buruk."


Lilia hanya menerima ini dengan pasrah.


"Aku akan memastikan kedepannya kalau itu tidak akan terulang kembali! Jadi—"


"Harus kuakui kalian memang telah melakukan yang terbaik, meskipun kalian baru saja saling mengenal. Ada satu hal yang tidak kusangka, jadi aku menggunakan sedikit kemampuanku, tapi itu tidaklah cukup!"


Tapi Lilia tidak ingin menyerah untuk terus meyakinkan Yuuki.


"Tuan Yuuki. Kami sudah sepakat mendedikasikan hidup kami hanya untuk tuan Yuuki, kami akan melakukan apapun. Jadi kami mohon terimalah kami."


Perkataan Yuuki membuat mental para gadis dengan mudahnya jatuh. Mereka hanya menatap kosong lantai yang dingin.


Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, mereka semua telah gagal. Kegagalan yang menyakitkan dan hina, bahkan mereka tidak bisa sedikitpun membuat Yuuki berkeringat.


Lilia hanya meremas kepalanya, kelemahannya membuat dia kesal. Entah dia berapa kali mencoba, maka hasilnya sama saja.


Kemudian, Yuuki menulis di secarik kertas, lalu memberikannya kepada Astia.


"Astia belilah bahan-bahan ini di kota. Sepertinya kita kekurangan bahan masakan untuk tujuh orang untuk makan malam."


"Tu-Tuan Yuuki... ini berarti...?"


Astia dan para gadis juga sama, berada dalam keterkejutan.


Yuuki kembali berdiri setelah menghabiskan minumannya.


"Tidak ada keluhan! Tidak ada penolakan! Kalian sudah berjanji untuk melakukan apapun untukku. Apapun yang akan kuperintahkan harus dikerjakan dengan cepat! Berbahagialah kalian, karena kamar kalian sudah tersedia kasur empuk yang sedang menunggu!"


"""Yay!!!"""


Para gadis bersorak dengan sangat gembira, mereka sudah melupakan rasa sakit yang tadi mereka rasakan.


"Ini... apa ini hasil dari kerja keras kita?"


"Umu Umu."


Yuuki mengangguk karena perkataan Lilia, Astia merayakan mereka dengan senyuman ramah.


"Kita semua menang!"


Para gadis saling berpelukan karena rasa senang, mereka telah mencapai tujuan mereka...


"Baiklah tenanglah... aku akan menjelaskan apa yang harus kukatakan... Lilia!"


"Ah ya?"


"Mulai sekarang kau adalah pemimpin para gadis."


"Eh? Apa aku boleh menanyakan alasannya?"


"Tentu saja. Aku bisa saja memilih Natasha atau Marrona sebagai pemimpin, tapi yang memenuhi dalam kriteria pemimpin kaulah yang cocok untuk tugas seperti itu. Bukankah sudah kubilang kalau aku akan mencari tahu tentang kalian melalui pertarungan?"


"Ah tidak kusangka. Terima kasih, aku akan mengemban posisi itu dengan segenap hati."


"Bagus."


"Master, apa aku boleh tahu alasan master membentuk kelompok ini?" Pertanyaan langsung dari Annastasia.


"Pertanyaan yang bagus Annastasia. Aku akan menjelaskannya dari awal... Karena ada beberapa alasan yang memaksaku, mulai saat ini aku berada dibawah perintah Raja Azaka. Bisa dibilang misi yang ditugaskan untukku akan menjadi misi yang berat, jadi aku membutuhkan kekuatan dari kalian. Itu adalah rencana utamanya."


Yuuki memutari meja lalu bersender lagi sambil menyilangkan tangannya.


"Karena kebijakanku yang kuberikan pada raja, kita akan berkerja di balik layar. Untuk menyempurnakan hal itu, identitas dan kebiasaan kalian sekarang hanya akan berlaku di rumah ini saja, atau ketika sedang tidak bekerja. Jadi untuk menutupi itu semua, kalian akan bekerja sebagai pelayan saat aku sudah memulai bisnisku nanti."


"Begitu ya."


Lilia akhirnya mengerti, meskipun itu terdengar simpel, tapi apa yang akan dikerjakan oleh para gadis akan menjadi sulit. Mereka tidak tahu bahaya apa yang menunggunya di masa depan, tapi mereka sudah memutuskan di dalam lubuk hati mereka.


"Yah kalian sangat beruntung. Saat ini kami belum mendapatkan pekerjaan apapun, jadi hari ini kalian bisa santai-santai."


"""Wohoo!!"""


Para gadis kembali bersorak ria.


Lilia dalam suasana hati yang baik, pencapaiannya yang pertama telah berhasil, selanjutnya adalah adalah memikirkan cara untuk melayani Yuuki dengan sepenuh hati. Berhasil dalam pekerjaan tidaklah cukup untuknya, baginya berhubungan baik antara atasan dan bawahan adalah yang terbaik.


Ketika para gadis masih merayakan kesenangannya, Yuuki memotongnya sedikit.


"Oh ya, cara kalian memanggilku... emm aku sedikit tidak terbiasa dipanggil dengan 'tuan' ketika usia kalian hampir sama denganku. Sebaiknya tidak perlu formal kepadaku, memanggil namaku itu lebih baik."


"Baiklah master!" Annastasia hanya mendorong telinganya untuk tidak mendengar.


"Master, bukankah itu lebih baik kami memanggil seperti itu? Lagipula untuk membedakan antara atasan dan bawahan dibutuhkan penghormatan lebih untuk master." Gadis lain melompat masuk ke dalam pembicaraan.


"Eh, Bukankah menyebut hubungan atasan dan bawahan itu terlalu lancang, Lilac? Kau lupa tujuan kita datang kesini untuk apa? Karena itu kau harus menyebutnya dengan 'tuan dan pelayan' itulah yang benar."


—Kalian ini tidak waras ya? Pikiran Yuuki mulai melenceng karena gadis-gadis ini. Astia juga hanya tertawa geli di sampingnya.


"Kan sudah kubil— ah sudahlah! Itu terserah kalian."


Pemikiran perempuan memang yang paling membingungkan, pikir Yuuki, tapi ketika dia memikirkan misi tingkat bencana itu membuat kepalanya sakit, tidak ada waktu untuk main-main. Dia harus menjadi lebih kuat sebelum hari itu, tidak, setidaknya dia dapat bertahan hidup.


"Anuu, emm..." sambil memainkan jarinya dengan malu, Marrona bertanya ketika keadaan mulai mereda. "Maaf aku bertanya master, mungkin aku sedikit lancang, tapi Nona Astia dan master punya hubungan seperti apa?"


Para gadis mulai tenang, hening, mereka semua menatap Astia dan Yuuki dengan mengintrogasi. Para gadis seolah menganggap hal ini adalah hal yang patut didengarkan. Pertanyaan Marrona seolah menjadi pertanyaan terlangka.


Astia berharap sesuatu, mengintip ke arah Yuuki yang sedang menatap para gadis dengan serius, tapi itu adalah tatapan kosong seperti memikirkan sesuatu.


"Pasti kalian sedang merencanakan sesuatu, tapi tak apa. Astia hanya asistenku, itu berarti posisinya setara dengan Lilia sekarang."


Para gadis saling menatap, lega karena sesuatu. Mereka merencanakan sesuatu, tapi hanya para gadis yang mengetahui hal ini.


"Baiklah Astia, pertama obati luka mereka yang terluka, lalu jelaskan detailnya apa yang harus mereka lakukan."


"Dimengerti. Tapi Tuan Yuuki mau kemana?"


"Aku ingin ke kamar... Fufufu... memang, aku tidak terlalu terbiasa berkumpul dengan wanita."


"Ah begitu ya. Semoga kamu lebih nyaman di sana."


Astia melihat kepergian Yuuki dengan kesedihan, dia merasakan itu. Seperti yang Astia rasakan saat ini, Yuuki tidak nyaman dengan wanita. Umumnya seorang pria akan senang bila ada gadis-gadis cantik yang berada di dekatnya, tapi Yuuki tidak melihatnya, bukan karena dia membenci wanita, tapi karena masa lalunya... itu tidak dapat terbantahkan.


"Sampai kapan dia tidak ingin melihatku?" Gumam Astia dengan pelan.


Tapi dia segera menyadarinya, sekarang dia harus melakukan tugasnya. Astia menatap gadis dan berbicara seperti biasa.


"Oke kalian! apa kalian siap menerima tugas pertama kalian?"


"""Yoo!!"""


Para gadis melupakan rasa sakitnya dan bersemangat memulai hari baru mereka.