
Ini adalah untuk pertama kalinya kami semua bekerja sama di dalam barisan yang sama. Terakhir kali kami menempatkan strategi kami pada sebuah serangan kepada musuh, yaitu saat penaklukan monster kelas bencana di masa lalu, tapi aku memisah semua dalam beberapa regu.
Namun kali ini berbeda. Kami berlari bersama menuju ke tempat yang sangat besar di dalam penglihatanku, seperti sebuah pabrik raksasa dengan besar hampir menyamai sebuah gunung kecil.
Ketika kami telah berada di depan gerbang besar pintu masuk, di sana tidak ada penjaga satupun yang masih berjaga. Semuanya terkapar tidak berdaya di tanah, sepertinya ini adalah ulah dari Laven dan regunya. Lalu kami memasuki bangunan besar ini ke dalamnya, dan menemukan banyak jalan yang tidak diketahui arahnya.
Namun karena ada banyak penjaga yang terkapar di lantai ruangan, kami mengikutia arah dari petunjuk itu, mungkin itu adalah petunjuk yang diisyaratkan oleh Laven. Oleh karena itu sudah banyak belokan dan turunan yang sudah kami lalui, hingga beberapa menit kemudian kami mendapati sebuah ruangan yang membuatku tertarik.
“Apa itu?” tanya Lilia.
“Ayo mendekat...”
Kami semua mendekati sebuah hal yang tidak biasa yang kami lihat saat ini. Itu adalah tabung-tabung kaca besar yang berisi air di dalamnya. Ketika aku melihat isi di dalamnya... ini mengerikan.
Sebuah manusia yang tidak utuh berada di dalamnya, banyak di antara manusia-manusia yang berada di dalam tabung kaca tersebut memiliki kecacatan dalam anggota tubuh. Bahkan ada yang tidak memiliki kepala sama sekali, namun masih bergerak-gerak.
“Ini sangat menjijikan...” kata Natasha.
“Bukankah mereka ini awalnya adalah homonculus?” tanya Amarilis.
“Homonculus?”
Karena aku mendengar sebuah kata baru yang terdengar di telingaku, jadi aku penasaran dengan itu. Mungkin aku pernah mendengarnya di suatu tempat.
“Ya, master. Sederhananya mereka ini adalah manusia buatan yang dibentuk dari unsur alkimia, tapi... sepertinya yang kita lihat sekarang adalah produk gagal.”
“Homonculus sendiri memang memiliki tubuh fisik yang lemah dan kecacatan di dalam tubuhnya sendiri, tapi ketika aku melihat fase yang seperti ini... sepertinya orang-orang yang ada di sini berusaha mencoba memasukkan sesuatu ke tubuh homonculus-homonculus ini.” tambah Lilac.
“Aku baru tahu itu.”
Meskipun ‘homonculus’ itu adalah manusia yang cacat secara fisik, tapi mereka memiliki kesadaran sendiri, atau bahkan mempunyai perasaan? Kalau begitu adanya, bukankah dia memiliki naluri seperti makhluk hidup? Kalau seperti itu, maka mereka adalah makhluk hidup yang memiliki kesadaran yang disalahgunakan oleh orang-orang jahat yang ada di sini.
“Tentu saja master baru mengetahui ini, bahkan orang-orang yang berpengetahuan atau orang-orang yang ada di luar sana pun jarang mengetahui tentang makhluk ini. Ini karena eksperimen ini sangat terlarang, banyak kejahatan dan kerugian di dalamnya yang membuatnya seperti itu.” Jawab Amarilis.
Tentu saja itu terlarang. Eksperimen yang memiliki persentase besar untuk kecacatan di dalam makhluk hidup pasti akan banyak orang yang kontra dalam hal itu, apalagi itu berkaitan dengan ‘manusia’.
“Master! Aku dapat dokumen ini.” Lilia mengangkat sebuah berkas yang berisi kertas-kertas, lalu dia tunjukkan kepadaku.
“Kerja bagus... kalau begitu semuanya ikuti yang telah Lilia lakukan.”
“Dimegerti, master!”
Ketika gadis lainnya berusaha mencari informasi tentang organisasi ini di dalam ruangan ini, aku memikirkan sebuah sesuatu yang cukup janggal.
“Ini aneh. Setelah banyak penjaga yang telah dilumpuhkan, kenapa masih belum ada satu pun ilmuwan atau orang yang bekerja di sini?”
Seharusnya meskipun kalau mereka sudah melarikan diri dari tempat ini ataupun sudah mengetahui keberadaan kami lalu membuat jebakan kepada kami, tapi kenapa hingga saat ini mereka belum muncul juga?
“Master...” Natasha memanggilku dari belakang, dia bersama Marrona di sebelahnya, “Aku mendengar ada beberapa orang yang menuju ke arah sini.”
“Kalau begitu, bersiaplah.” Jawabku.
Karena mereka berdua memiliki pendengaran yang sangat tajam, dan nada bicaranya terlihat serius, aku pikir beberapa orang yang dimaksud oleh Natasha— cukup berbahaya.
Setelah membereskan barang, kami keluar dari ruangan itu dan pergi ke tempat yang lebih terbuka dan lebih luas. Suara tersebut berasal dari lorong yang cukup minim dengan pencahayaan, sehingga aku tidak bisa melihat satu pun orang yang berada di baliknya.
Suara langkah kaki terus terdengar, dan mencapai ke telingaku— sepertinya lebih dari satu orang.
Lalu sambungan dari Laven masuk ke dalam sambungan protofonku.
[Ryuuji, posisiku saat ini sedang dalam bahaya... ada dua orang sepasang pria dan wanita yang memakai pakaian tempur. Mereka berdua terlihat sangat berbahaya dan menghalangi jalanku untuk membebaskan tawanan. Bagaimana posisimu saat ini? Ganti.]
Meskipun begitu, dua orang yang persis ciri-cirnya yang dikatakan oleh Laven— keluar dalam bidang penglihatanku. Sepatu bot dan sepatu hak tinggi yang menyentuh lantai hingga terdengar ke seluruh lorong. Setelah sepatu itu terus membunyikan suara, sebuah suara seperti sedang menyeret sesuatu keluar secara tiba-tiba.
“Laven, orang yang kau sebutkan tadi... mereka berdua sekarang ada di depanku sekarang, ganti.”
Sepertinya dalam kasus Laven, dia menemukan orang yang sama sepertiku. Aku melihat dua orang, pria besar dan wanita muda yang cukup dewasa dalam memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Selain menampilkan pakaiannya yang di banyak sisi menampilkan kulit putihnya, selain itu, wanita itu membawa pedang yang sepanjang tinggi tubuhnya. Di sisi lain, pria besar itu menyeret sebuah rantai, lalu di ujung rantai itu ada sebuah bola besi yang berjarum-jarum besar.
“Seberapa besar kami menghindar, tetap saja masalah akan terus datang.” gumamku.
“Tentu saja kita harus menghadapinya, bukan?” kata Astia.
Sepertinya Astia mendengar gumamanku, ya karena dia di sebelahku.
Kecuali diriku, para gadis mengeluarkan senjata andalan mereka ketika melihat sebuah ancaman yang berada di depan mereka. Lalu, pria besar itu mengayun rantainya, dan membuat dindingnya hancur hanya karena ayunan yang tidak mempunyai niat seperti itu.
Kemampuan yang tidak masuk akal...
“Hey! Bocah-bocah, sepertinya kalian terlalu nekat untuk pergi ke tempat ini, ya?” kata wanita itu yang menyilangkan tangannya dengan angkuh.
Tentu saja kami memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan apapun.
“Darimana asal kalian?” tanya wanita itu.
Kami tetap diam dalam menanggapi pertanyaan itu.
Kemudian dia menghunuskan pedang panjangnya dengan perlahan, “Oh kalian tidak ingin menjawab ya? Lagipula aku sudah tahu tentang asal kalian dan tujuan kalian. Bukankah kalian ingin mencari rekan kalian yang menghilang?”
Sebuah kata kunci sudah terungkapkan. Itu adalah sebuah kalimat eksplisit yang membuat Ellena atau Rose telah ditangkap oleh mereka. Motif mereka melakukan itu juga mungkin sudah terungkap dalam asumsiku.
“Meskipun kalian tahu tentang tujuan kami ke sini, itu tidak akan berpengaruh besar dalam rencana kalian, bukan?” kataku.
“Tentu saja, rencana kami sudah berjalan sejak lama.”
Ternyata begitu.
“Baiklah, aku tahu maksud dari rencana kalian. Bukankah kalian sangat kerepotan ketika mencari ‘Tombak Pahlawan’ yang dari dulu kalian sangat inginkan?” tanyaku.
Seketika mereka berdua menggertakkan giginya, dan menguatkan genggamannya pada senjatanya. Provokasi pertamaku berhasil.
“Meskipun rencana kalian sudah berjalan sejak lama, rencana kalian tidak pernah menemukan kesempurnaan dalam eksperimen kalian bukan? Yah meskipun begitu, aku sangat menyayangkan kalian tidak menemukan ‘Tombak Pahlawan’ yang berada di gua Pegunungan Yatze.”
Setelah kalimatku yang kedua, ekspresi mereka berdua menjadi semakin memanas dan terlihat sangat marah.
“Padahal kalian telah bersyukur ketika ‘Tombak Pahlawan’ itu telah terlepas segelnya dari monster itu, tapi kalian kehilangan kesempatan itu dan malah dicuri oleh orang lain.” Tambahku.
Ketika aku mengatakan kalimat terarkhir itu, sebuah pedang panjang sudah berada di jarak serangku. Itu sangat cepat dan dilandasi oleh kemarahan yang besar. Sepertinya itu adalah rasa frustasi mereka.
Namun aku tidak menghindar.
Sebuah dentang pedang terdengar, serangan dari wanita itu ditahan oleh pergerakan Natasha yang instan— melindungiku dan menahan kekuatan serangnya.
Tangan Natasha bergetar hebat ketika menahan beban pedang yang dilancarkan oleh wanita itu, sepertinya Natasha untuk saat ini sangat kesulitan.
Lalu sebuah panah bersinar terlesat di atas kepala Natasha, sebuah ledakan terjadi di depan Natasha, dan memunculkan sebuah penghalang Astia. Tembakan anak panah itu ditujuan oleh wanita tersebut, namun dia mundur ke belakang dan mengatur napasnya.
“Pengecut sekali kau ini sebagai laki-laki, bisa-bisanya kau berlindung di balik tubuh seorang gadis.” Cemooh wanita itu.
Aku tidak peduli dengan pernyataannya. Alasanku tidak mengangkis serangannya secara langsung, itu karena aku tidak mempunyai senjata yang cocok untuk menghalau serangannya.
Ketika mereka berdua sedang menghitung jumlah kami, tapi itu sudah terlambat. Sebuah momen pengalih perhatian dari ledakan tadi, membuat Marrona dan Elma sudah di belakang mereka.
Keunggulan kami berada di kuantitas. Itu yang akan membuat mereka kerepotan.
Kalau begitu, mari kita memulai pertarungan ini dengan serius. Ketika membuat sebuah pengalih perhatian untuk kedua kalinya, beberapa di antara kami melewati mereka dan pergi menuju ruangan lain. Untuk beberapa gadis yang ada di sini bersamaku, akan melawan mereka berdua hingga tetes darah penghabisan.
つづく