I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 9.2




(Special illustration for Lilia, Leader of Tomoe's Girls)


*******


"Norak banget..." Tapi bukan Elderich yang berbicara... Suara yang berasal dibalik kerumunan itu membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang.


Gadis cantik dengan rambut putih, memakai seragam hitam yang tidak umum tapi rapih, bersender di ujung ruangan dengan sifat khasnya yang kasar dan berbicara seperti laki-laki. Dia membuat suara itu tanpa halangan sedikitpun, memotong pembicaraan dengan sempurna, seolah-olah itulah kata-kata yang akan dikeluarkan oleh Elderich.


"Hah? Siapa kau?"


Gadis itu mengangkat tangannya dengan santai sembari berbicara. "Apaan, aku hanya gadis kecil biasa yang salah masuk ruangan dan kemudian mendengar celotehanmu yang kekanak-kanakan."


"Apa?!"


Frank melepaskan genggamannya pada Elderich, kemudian dia melewati para petualang dan menghampiri gadis itu.


Frank berhenti tepat di depan gadis itu. Ukuran Frank terlalu besar dan tinggi daripada gadis itu, dia harus melihat ke bawah dengan mata yang melotot. Tapi gadis itu hanya santai, tidak melakukan pergerakan apapun dan tetap bersender, meskipun keberadaan yang berat persis di depannya.


"Apa kau yang mengatakan norak kepadaku?"Tanya Frank.


"Cih! Apa sekarang kupingmu yang membengkak karena otot sehingga tidak bisa mendengarku dengan jelas?"


Setelah perkataan gadis itu yang merendahkan Frank, membuatnya lebih geram. Dia mencoba melakukan hal yang sama seperti kepada Elderich, yaitu menarik paksa kerah seragam gadis itu.


"Kau!"


Tapi sebelum itu terjadi, gadis itu langsung menepis tangan besar Frank dengan cepat. Dia menatap Frank dengan tajam.


"Kalau kau menyentuh baju ini dengan tangan kotormu, akan kubunuh kau!"


"Fuh! Gadis sepertimu ingin membunuhku? Jangan membuatku tertawa! Tunggu, kau itu ras elf ya? Pantas saja omonganmu itu banyak yang ngelantur... Baiklah kumaafkan kau, tapi karena telah menghina armorku, akan sedikit kurusak wajah cantikmu agar tidak ada yang akan tertarik padamu."


Frank mengangkat tinjunya sedangkan gadis itu masih terlihat tenang dan santai meskipun di belakangnya adalah dinding, yang artinya dia terpojok.


Sebelum itu Frank mengumumkan. "Kalian semua lihatlah! Inilah akibatnya jika siapapun menghinaku."


Setelah kalimatnya berakhir, tinju melayang ke arah wajah gadis itu. Tapi Frank terkejut, tinjunya menabrak dinding kosong dan meretakkannya.


Di saat yang sama, Frank mengalami benturan keras di samping bagian kanan pahanya yang membuatnya kesakitan dan berlutut. Frank tidak bisa kembali berdiri, masih mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya dan berlutut.


"Aha! Benar kata master! Dengan memberikan sedikit tendangan di area itu, membuat siapapun dengan mudah tumbang!" Kata gadis itu dengan semangat.


"Kau!"


"Berterimakasihlah karena kau menjadi kelinci percobaan pertamaku! Lagian siapa suruh kau membuat pernyataan ingin meninju tepat di wajahku! Ya karena itu aku bisa dengan mudah menghindarinya. Bo-doh!"


Di belakang kejadian itu banyak petualang yang tertawa kecil termasuk beberapa pemimpin petualang di meja itu.


"Apa hanya ini saja kemampuan dari petualang terkuat di negeri ini? Cih! Dasar penggila armor norak!"


Frank masih mencoba ingin berdiri tapi sulit, "Kau! Seberapa banyak kau ingin mempermalukan diriku ini? Akan kubunuh kau!"


Nada serius Frank keluar dari mulutnya, itu membuat gadis itu menjadi waspada. Tapi seorang wanita dengan pakaian yang terlihat mirip dengan pakaian china datang.


"Hentikan kalian!"


Meskipun para pemimpin petualang yang duduk di depan meja menjadikan momen ini hiburan untuk mereka, tapi ada satu-satunya orang yang berani menghentikan perkelahian itu.


"Oho, lihatlah siapa yang datang ini? Bukankah ini adalah orang yang gagal membentuk sebuah kelompok petualang? Ya, kan, Ellena?"


"Diam kau! Lihatlah posisimu sekarang berada!"


"Ahaha! Baiklah, aku juga tidak ingin berurusan denganmu." Frank perlahan mencoba berdiri.


"Seharusnya kau malu karena membuat keributan ini. Yang menghambat pertemuan ini adalah kau dan kalau semua rencana menjadi berantakan, orang yang patut disalahkan adalah kau!"


"Ya, baiklah. Sekarang aku akan kembali ke tempatku." Tapi terkejutnya, Frank tidak mengatakan keluhan atau apapun. Dia hanya menuruti omongan Ellena karena dimarahi olehnya. Itu yang membuat para petualang heran


Kemudian Ellena mengarahkan pandangannya ke arah gadis itu. "Hey gadis yang di sana. Untuk kedepannya, sebaiknya kau tidak perlu memancing kemarahan seperti orang yang tadi. Itu akan membuat masalah datang kepadamu."


"Yah, sebenarnya tadi aku hanya iseng. Aku juga tahu hal itu akan terjadi."


Sementara mereka berbicara, diskusi pertemuan itu kembali dimulai.


"Baiklah kalau mengerti..." Kemudian Ellena mengingat satu hal dan mendekati gadis itu, "Tadi kau menyebut sesuatu tentang mastermu, kan? Kalau begitu, aku ingin menemuinya."


"Hah? Buat apa?"


"Tentu saja aku akan memarahi mastermu! Seorang pemimpin yang benar seharusnya mengajari anak buahnya sopan santun ketika ada pertemuan, dan menjaga perilaku kasarmu."


"Ih! Ribet banget." Gadis itu mengeluh acuh tak acuh.


"Ini juga termasuk balas budimu karena aku menyelamatkanmu dari orang itu."


"Cih! Padahal aku tidak butuh."


Setelah berpikir beberapa saat, gadis itu membunyikan jarinya dan memberikan sebuah kode. Kemudian dua gadis lainnya datang menemuinya.


"Ada apa Elma? Kau memberikan kode yang aneh." Kata gadis berambut panjang.


"Yah, aku juga berpikir begitu. Kupikir kau sedang stroke ringan." Gadis berambut perak datang dan membuat candaan ringan.


"Seharusnya aku yang bertanya! Kenapa kalian tidak datang saat aku mendapatkan masalah?" Kata Elma yang penasaran.


"Um..." Gadis berambut panjang menekan jarinya ke bibir merahnya, "Kupikir kau bisa mengatasi keributan itu dengan mudah. Lagian siapa suruh mulut embermu tiba-tiba kumat saat pertemuan itu sedang di tengah diskusi. Ya kan Lilia?"


"Benar kata Anna... Aku sedang mencatat hal-hal penting di kepalaku, tapi karena keributan itu, hampir membuat buyar informasi yang telah kudapatkan."


Elma mengepal tangannya dengan kesal, "Ke-kenapa aku yang disalahkan di sini?"


"Introspeksi dirimu sendiri sekali lagi." Saran mencemooh dari Annastasia. Lilia juga mengangguk beberapa kali.


Di tengah pembicaraan ketiga gadis itu, ada satu orang yang melihat mereka dengan kebingungan, yaitu Ellena.


"Kalian...?"


Kemudian Elma menyadari hal itu, "Oh iya, ngomong-ngomong aku butuh kalian untuk memikirkan masalah ini. Tiba-tiba wanita ini memintaku untuk dirinya menemui master. Tentu saja itu tidak boleh kan, tiba-tiba orang asing menemui master. Iya kan?"


"Hey! Kau dengar namaku kan tadi? Namaku Ellena."


"Aku tidak peduli!"


Kemudian gadis lainnya, Lilia dan Annastasia memberikan pendapatnya yang tidak disangka oleh Elma.


"Um? Bukannya tidak masalah? Biarkan saja, palingan dia cuman penggemar master."


"Lagipula master juga tidak akan menggigit wanita ini."


Elma bingung dan keheranan, "Eh? Kalian bercanda kan, mengatakan hal itu?"


"Begini ya, Elma..." Lilia berbicara dengan santai. "Kalau memikirkan yang terburuk sekalipun, master juga tidak akan kalah dengan wanita seperti ini."


"Jaga mulutmu ya nona." Ellena mengatakan itu dengan senyum terpaksa, tapi Lilia tidak terlalu peduli.


"Lagipula yang harus master khawatirkan adalah kita semua, karena yang akan mengalahkan master adalah kita!"


"Omong kosong macam apa itu, mimpi saja sana lah!"


Kemudian Annastasia, "Jadi, sebenarnya apa yang kau inginkan? Siapa tadi namanya... oh iya Ellena?"


"Dalam hal?"


"Tertarik untuk memberikan pelajaran kepada pemimpin kalian karena tidak mengajarkan sopan santun kepada kalian!"


"Apa maksudmu?" Tanya Lilia


"Begini ya, kalian tahu kan gadis yang bernama Elma itu membuat keributan karena mulutnya yang asal ngomong itu?"


"Yah memang begitu sifatnya." Balas Annastasia.


"Nah karena itu aku ingin memberikan keluhan kepada pemimpin kalian untuk memberikan nilai sopan santun untuk gadis ini."


"Oh begitu... Bukankah itu bagus Lilia?"


"Mmm, untuk kelancaran tugas berikutnya, itu juga diperlukan."


"Setelah ini semua, aku akan memukul kepala kalian!" Jengkel Elma.


"Itu artinya kalian setuju, kan? Kalau begitu baiklah... setelah pertemuan ini selesai akan kutunggu di depan Guild. Aku akan kembali ke tempatku sekarang... Oh iya, nanti jangan kabur loh ya." Setelah itu Ellena pergi meninggalkan ketiga gadis itu dan pergi ke tempat lain.


"Bagaimana sekarang, apa kita harus merencanakan untuk kabur dari wanita itu?" Perkataan Lilia membuat Elma kaget.


"Eh, apaan itu? Bukankah kau tadi menyetujui permintaan wanita itu? Kau juga Anna."


Annastasia membalasnya, "Hah, masa kau tidak mengerti kalau aku dan Lilia sedang melakukan akting? Mana mungkin aku membiarkannya menemui master tanpa motif yang jelas... Apa-apaan itu, dia ingin menceramahi master? Bego banget."


"Buat apa? Aku sendiri juga bisa mengeluhkan itu pada master. Kenapa harus orang asing."


"Maaf ya Elma, sepertinya kau harus lebih banyak belajar lagi..." Lilia memberikan senyuman sambil menepuk pundak Elma.


"Cih! Kenapa harus aku?!" Kesal Elma.


Beberapa saat kemudian Lilia kembali membuat keputusan kecil, "Nah sekarang kita harus kembali ke posisi kita masing-masing. Setelah itu, pastikan kalian berdua menggali informasi dari setiap orang. Apapun itu informasinya, kita harus mendapatkannya meskipun sedikit. Tentu saja gunakan akting terbaik kalian untuk mendapatkannya."


"Ya aku mengerti."


"Ya, tidak masalah." Tambah Elma.


Sebelum berpisah Lilia mengatakan hal terakhir, "Jangan pernah meremehkan misi ini dan tetap waspada, itulah kata master. Baiklah... bubar!"


Mereka bertiga kembali ke posisi masing-masing, kembali mendengarkan diskusi pertemuan itu dan mencatat informasinya di kepala mereka.


Meskipun begitu Lilia tetap pada sifat biasanya, dia mengatakan pada hatinya, "Wuih! Keren banget diriku tadi, sepertinya gelar pemimpin yang diberikan oleh master benar-benar kugunakan dengan baik!"


Setelah merasakan kesenangan di hatinya, Lilia kembali serius dalam menerima informasi yang diberikan di rapat pertemuan itu. Dua gadis lainnya juga melakukan hal yang sama.


Setelah beberapa hambatan, pro dan kontra yang diperdebatkan dalam pertemuan itu, akhirnya petemuan itu mencapai titik akhir dan mendapatkan rencana yang menurut mereka akan berhasil. Kemudian mereka mengakhiri pertemuan itu.


Meskipun pertemuan telah berakhir, Lilia, Elma dan Annastasia, melanjutkan tugas mereka selanjutnya. Setiap gadis menggali informasi ke setiap orang yang berhubungan atau mengikuti misi penaklukan itu.


Mereka melakukannya dengan cara mereka masing-masing. Untuk mendapatkan informasi dengan lancar, mereka membuat gimmick yang imut dan menawan pada wajah mereka, kemudian membuat suara sehalus dan seimut mungkin. Meskipun itu pertama kalinya untuk mereka dan ada hambatan khususnya pada Elma, tapi mereka bertiga akhirnya lolos dari semua itu. Dan pada akhirnya selesai pada tugas mereka.


Di tengah-tengah Guild petualang yang menjadi lebih sepi daripada pagi tadi, Mereka berkumpul dan memojok di salah satu dinding Guild. Mereka hanya bisa menghela napas berkali-kali.


"Huh~ Capeknya... Ternyata membuat topeng kepribadian itu menyulitkan yah." Kata Lilia dengan wajah lesu.


"Yah begitulah... Huh~ memang itulah kewajiban dan tugas kita. Aku tidak habis pikir bagaimana cara Elma melewati semua itu."


"Hey Anna, kau jangan terlalu meremehkanku. Hanya segitu doang aku juga bisa."


Annastasia terlihat tidak ingin berbicara dengan Elma karena kelelahan, "Iya deh, apapun katamu."


"Kalian tahu, hal yang tersulit bagiku saat bertanya pada orang yang gemuk dan terlalu terobsesi padaku." Kata Lilia.


"Iya benar tuh, aku juga mengalami hal yang sama." Annastasia juga setuju dengan Lilia.


"Nah! Orang itu tiba-tiba menjadi agresif saat aku bertanya. Aku bertanya-tanya, apakah orang seperti itu tidak pernah melihat gadis cantik apa? Makanya aku tidak jadi bertanya dan memilih kabur."


"Sepetinya itu adalah pelajaran baru, kalau memilih terget itu harus pilih-pilih dari tampilan luarnya dulu." Tambah Elma.


"Iya."


"Mau siapapun itu, mau gemuk, kurus, ganteng, jelek, atau populer sekalipun, kalau tindakannya sudah seagresif itu mending kabur."


"Aku juga setuju." Ujar Elma dan Annastasia.


Setelah beberapa saat, kemudian Lilia membenarkan postur tubuhnya dan berdiri di depan mereka berdua.


"Sepertinya kita butuh istirahat, kalau begitu ayo kita cari jajanan atau makanan yang enak!"


"Sepertinya itu bagus untuk meredakan stres."


"Yah, sepertinya tidak apa-apa sedikit menghabiskan uang kita untuk saat ini."


Mereka bertiga berpendapat hal yang sama. Tugas pertama mereka memberikan tekanan batin yang cukup kuat untuk mental gadis mereka. Meskipun uang yang mereka bawa tidak banyak, tapi untuk mengisi kekosongan perut, itu juga diperlukan.


"Kalau begitu ayo."


Ketika mereka berjalan menuju pintu keluar guild, Lilia mengingat sesuatu.


"Oh iya, bagaimana kita menangani wanita itu?"


Saat itu juga mereka semua menghentikan langkahnya. Kemudian Elma menjadi sedikit kesal.


"Cih! Karena kalian tidak membantuku tadi, itulah akibatnya. Sekarang kita harus gimana coba?"


"Ahaha..." Lilia tertawa tidak bersalah, "Yah, karena tugas menyulitkan tadi membuatku lupa tentang hal itu... Jadi aku lupa memikirkan rencananya."


"Gimana sih?!" Elma kesal karenanya


"Maafkan aku." Lilia hanya bisa pasrah dan menjatuhkan pandangannya.


"Oke, oke, tenanglah kalian." Kata Annastasia, kemudian dia mengangkat tangannya dengan anggun, "Meributkan hal ini tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Kalian merasakannya kan, sampai sekarang kita sudah melalui kejadian tadi? Bukankah kita akan lebih mudah menangani wanita itu?"


"Yah, memang sih. Jadi apa rencanamu?" Tanya Elma.


"Gak ada."


"Cuih!"


Kemudian Annastasia melanjutkan...


"Namun bersikap seperti biasa yang akan mengantarkan kita menuju keberhasilan. Kalau kalian tidak terbiasa, maka aku yang akan memimpin dalam hal ini." Annastasia berjalan lebih cepat, dia melihat ke belakang, menatap Elma dan Lilia, melanjutkan perkataannya dengan percaya diri, "Lagipula master tidak akan tertarik dengan wanita itu. Master akan bertekuk lutut hanya kepadaku."


"Um?" Lilia, sang pemimpin regu sekalipun bingung dengan pernyataan Annastasia.


Di sisi lain, kepercayaan diri Annastasia lah yang membuat Elma jengkel, "Cewek ini! Benar-benar...!!"



(Atas: Annastasia) (Kiri: Elma) (Kanan: Lilia)


Melupakan kekesalan Elma, kesombongan Annastasia dan ketidakberdayaan Lilia, mereka kembali berjalan melewati ruangan guild dan mencapai pintu keluar.


つづく


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!