
Jauh dari pemukiman kota Florend, setengah jam sebelum matahari terbit, udara segar dan angin dingin yang menusuk kulit. Di belakang Mansion Tomoe, 7 gadis terlihat mengelilingi dua orang yang kemudian membuat jarak untuk dua orang itu. Mereka itu adalah aku dan Astia.
Memakai pedang kayu masing-masing dari kami dan membuat kuda-kuda. Saat ini aku sedang berduel dengan Astia, tidak... lebih tepatnya Astia yang menantangku dan aku menyetujuinya.
"Apa kamu siap Tuan Yuuki?" Kata Astia dengan semangat.
Para gadis sedang melihat kami dari kejauhan. Aku bilang pada mereka sebelumnya kalau mereka bisa melihat ini dan ambil pelajarannya ketika aku sedang betarung dengan Astia. Aku harap mereka belajar dari kekalahan berturut-turut yang memalukan.
"Ya."
Pedang kayuku hampir besentuhan dengan punya Astia ketika kami melakukan kuda-kuda. Dia terlihat siap dan bersemangat daripada yang aku duga. Apa dia ingin pamer dihadapan para gadis atau dia ingin pamer kekuatan yang telah dia kembangkan?
"Baiklah kalau begitu...Hyaah!!"
"...!"
Tiba-tiba Astia mengagetkanku dengan serangan mendadak. Dia menebas pedangnya secara vertikal, aku menahannya dengat tepat.
Uhh hampir saja tadi.
Astia tersenyum padaku. Mungkin dia sudah menduganya kalau aku akan menggagalkan serangannya. Astia masih tetap menekanku dengan pedang kayunya, tapi karena dia tahu masih ada perbedaan yang cukup jauh dalam kekuatan fisik dia melepaskannya kemudian mundur beberapa langkah.
Tidak lama Astia menyerang kembali, sekarang dia menggabungkan dengan serangan vertikal dan horizontal dan aku masih mudah mengatasinya. Sepertinya Astia masih mencoba mengujiku dari tadi, setidaknya aku ingin dalam posisi bertahan dulu.
"Bagaimana dengan ini...!" Astia menguatkan pegangannya dan tersenyum.
Astia menutup jarak dariku, mengambil tebasan horizontal dan vertikal secara bertubi-tubi. Terus menerus menyerangku membabi buta tapi masih belum ada yang menyentuhku.
Aku ingin membalas serangannya, tapi aku ingin melihat apa yang ingin Astia lakukan.
Astia kembali menekan tebasannya denga kekuatan fisiknya, kemudian dia mundur beberapa langkah dan melesat ke arahku dengan tusukan pedangnya. Tiba-tiba sebelum mencapai daerah seranganku Astia berhenti secara mendadak, kemudian dia langsung melesat lebih cepat dari sebelumnya, menebas dengan ujung pedangnya, mengerahkan tubuhnya condong ke depan untuk menggunakan seluruh kekuatan fisiknya.
Aku sedikit menggunakan percepatan pikiranku. Ini lebih baik dihindari daripada serangannya tidak bisa kutangkis.
Dengan sedikit menghindar, Astia melewatiku tanpa menyentuhku. Nah sekarang Astia akan kehilangan keseimbangan dan jatuh setelah menggunakan beban dari tubuhnya untuk menyerangku.
Aku berputar untuk mengikuti tubuh Astia, tapi...
"Apa?" Mataku melebar karena terkejut ketika aku tidak melihat Astia gagal tapi berbalik kembali untuk menyerangku.
Tiga tebasan dalam satu waktu yang dibuat Astia kepadaku. Aku bereaksi penuh menggunakan seluruh indraku untuk menghindarinya. Itu terlalu cepat untuk kemampuan seseorang dalam berpedang.
Aku menggunakan kemampuan pasif dari Thunder Execute untuk menangkis ketiga tebasan itu, tidak ada waktu untuk menghindarinya.
Aku terpaksa menangkis semuanya dan pegangan pedangku bergetar dan membuatku nyeri, hasilnya pedangku terlempar ke sebuah pohon dan menancapnya.
"Uwoohh!!" Para gadis bereaksi kagum tanpa ampun ketika melihat duel kami.
Tapi Astia tidak memberiku ruang sebelum aku membuat pernyataan kalah.
Satu sampai sepuluh tebasan masih dilancarkan oleh Astia, aku menghindari itu berturut-turut tanpa membiarkannya menyentuhku.
Aku memang meremehkannya tadi, dan itulah akibatnya.
Nah sekarang aku akan memikirkan untuk menjauhkan pedangnya dari tangannya. Sekarang aku mulai menyerang menggunakan bela diriku.
Astia memberikan beberapa tebasan horizontal, aku membuat jarak untuk itu. Kemudian ketika ada celah aku membuat tendangan untuk mencapai dirinya sebelum pedangnya mencapaiku.
Kedua diantara kami tidak ada serangan yang saling menyentuh. Astia tetap memiliki reflek yang tinggi ketika mengatasi tendanganku. Astia juga masih kesulitan untuk pedangnya menyentuhku sedangkan aku sudah serius untuk tebasan cepatnya. Dan serangan kami menjadi lingkaran yang tidak ada habisnya.
Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke depan dan Astia mendaratkan tebasan vertikal yang cepat menuju ke kepalaku. Tapi sayangnya itu tipuanku.
Aku sedikit tertawa kecil dan menghindarinya dengan gerakan minimal. Ujung pedangnya menyentuh ke tanah dan aku menendang pedangnya sebelum dia mengangkatnya. Aku tahu pedang akan terasa mempunyai beban yang berat ketika dia ingin melawan gravitasi.
Pedang kayu Astia terlempar dan hampir mengenai Elma, lalu menancap ke sebuah pohon.
Astia tertawa kecil dan tersenyum.
"Bagaimana Tuan Yuuki? Apa seranganku dan pertahananku masih ditolerir untuk diremehkan olehmu?"
Astia berbicara dengan semangat, menantangku dengan penuh energi. Tidak ada keraguan dari Astia ketika membuat kuda-kudanya dan mengangkat tangannya.
"Itu tidak benar. Dari kemampuan mengejutkanmu tadi, aku tidak perlu menahan diriku lagi... Kecuali orang-orang yang menderita kekalahan berturut-turut."
Aku tidak bermaksud mengeluarkan kata-kata itu, tapi sepertinya aku mendengar Annastasia mendecakkan lidah dari belakang.
"Kupikir setelah kamu kehilangan pedangmu, kamu akan menyerah karena ini bukan hal yang bagus untuk kamu lawan. Tapi dugaanku salah."
"Heh! Aku berbeda sekarang Tuan Yuuki. Setelah aku mengalahkan kelompok parasit sialan di restoran itu aku lebih percaya diri sekarang."
Begitu ya, ternyata fakta dari kelompok petualang di restoran Kota Engrayn yang telah dikalahkan Astia membuat kepercayaan dirinya meningkat. Yah itu tidak buruk sih.
"Ah begitu ya. Cara bicaramu juga menjadi lebih lepas ya..."
"Ah maafkan aku Tuan Yuuki. Setelah mengingat kejadian itu, hatiku menjadi panas."
"Baiklah kalau begitu..."
Tepat saat obrolan kami terhenti, dengan cepat aku memasuki ruang serang. Astia sedikit terkejut saat dia berpikir kalau aku menirunya. Setelah Astia dengan cukup memberhentikan seranganku, kemudian pertukaran serangan kami dimulai.
Pukulan dan tendangan kami saling bertukar. Tendangan horizontal dan vertikal seluruhnya kukerahkan. Meskipun begitu, sejauh ini aku masih unggul dalam kekuatan dan pengalaman. Astia berusaha mengatasi seranganku meskipun dia banyak memar ketika menepis seranganku.
Untuk mengambil waktu untuk bernapas, Astia membuat jarak dan kemudian menyerangku kembali. Begitu seterusnya sampai matahari terbit.
Tepat di balik hutan, matahari perlahan menyinari kami semua, kabut juga perlahan meninggalkan hutan.
Aku masih berdiri tegak setelah mendapatkan semua serangan Astia dan mengatasi semua itu, sedangkan Astia mendapatkan banyak luka memar di tangannya dan napasnya terengah-engah, berusaha untuk berdiri.
Aku sudah menahan seranganku agar tidak memberikan kerusakan lebih, tapi Astia terus memancingku dan mengatakan "Kamu tidak perlu menahan diri Tuan Yuuki! Aku tidak akan kalah hanya karena seranganmu itu."
Astia terus mengulangi perkataannya sejak duel tangan kosong kami berlangsung, tapi aku tahu kalau dia sangat kesulitan dan kesakitan sampai sekarang.
"Baiklah Astia, kita sudahi duel ini sampai sini aja. Kita bisa melakukannya lain kali."
"Aku masih bisa Tuan Yuuki! Sedikit lagi aku akan membuatmu membuka celah. Jadi aku..."
Napasnya sudah tidak beraturan, sepertinya aku harus menghentikannya sekarang.
"Tidak Astia. Aku tahu kamu bisa mengalahkanku, tapi memaksakan tubuhmu yang sudah tidak bisa dilakukan oleh tubuhmu— tidak akan membuat kemampuanmu mengalami kemajuan."
Setelah kalimatku berakhir, Astia menutup matanya saat dia mulai berpikir. Sepertinya dia mulai menenangkan pikirannya.
"Maaf Tuan Yuuki, sekali lagi aku menunjukkan sisi burukku." Kata Astia sambil membungkuk.
"Tidak, itu tidak apa-apa Astia. Tapi lain kali jangan terlalu meminta maaf kalau kamu tidak salah, itu akan menurunkan rasa kepercayaan dirimu."
"Uhhh..."
"Astia?"
"Ah ya Tuan Yuuki, ma- baik Tuan Yuuki, aku akan mengingat itu."
"Baiklah, kalau begitu ayo kembali..."
Apa yang dipikirkan Astia tadi ya... kenapa sejenak dia diam? Mungkin aku terlalu mengguruinya jadi dia seperti itu... Mungkin...
Kemudian aku dan para gadis kembali ke Mansion tua yang bernama Tomoe ini. Aku pergi ke dapur untuk membuat teh, karena Astia sedang terluka aku yang membuatnya sendiri. Setelah itu, perjalananku yang terlempar ke dunia lain dimulai...