
Awalnya tempat ini adalah tempat pembantaian yang telah dilakukan oleh iblis di masa lalu.
Saat itu aku dan Astia terlibat oleh peristiwa tersebut. Meskipun aku mempunyai tujuan untuk mencari seseorang di balik peristiwa itu, namun aku akan menunda hal itu untuk misiku yang sekarang. Lagipula aku masih belum kuat untuk menghadapi ‘mereka’ kembali.
Selain itu—
Sebuah arena yang dapat menampung ribuan orang hanya untuk menonton pertarungan antar petualang atau petarung untuk mendapatkan hadiah. Namun, itu hanyalah masa lalu. Sekarang semua itu sudah tidak terjadi lagi setelah kejadian pembantaian itu yang hampir menewaskan puluhan ribu manusia termasuk penduduk Kekaisaran Engrayn ini.
Aku hanya melihatnya sekilas dan menjadi teringat momen menyedihkan hal itu. Bahkan aku bisa dapat melihat jejak seranganku yang sangat jauh hingga aku tidak bisa memandangnya, tapi yah sudahlah, itu hanya masa lalu.
Aku berjalan sendiri di kota yang ramai ini tanpa ditemani satu gadispun dari Tomoe Garden, itu karena aku yang telah memutuskan untuk mereka agar bekerja secara terpisah. Ketika mereka sedang menjalankan tugas dan tujuannya masing-masing, untuk itu aku juga sedang melakukan hal yang menjadi pekerjaanku.
Setelah berjalan sekitar puluhan menit, aku sampai di sebuah tempat yang seperti jalur rahasia yang sudah ditinggalkan selama puluhan hingga ratusan tahun oleh kekaisaran ini. Mereka sudah melupakan hal yang kupikir itu penting, karena jalur ini akan membawa seseorang ke tempat aman ketika ada kerusuhan terjadi, dan mencapai ke luar kota.
Untuk itu aku memasukinya. Jalannya seperti labirin yang menyulitkan dan gelap, tapi aku sudah pernah sekali melewati jalur ini jadi setidaknya aku masih mengingat arahnya.
Beberapa saat, aku menemukan secercah cahaya, kupikir itu adalah jalan keluarnya. Jadi aku menuju ke sana hingga keluar dan menemukan tempat yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. Ini adalah hutan sisi timur Ibukota Kekaisaran Engrayn.
Sesuau dugaanku, masih tidak ada yang berubah dari hutan ini. Hutannya masih lebat dan menyejukkan walau siang hari.
Setelah berjalan beberapa saat hingga aku hampir sampai pada tujuanku dalam beberapa puluh meter lagi, aku langsung dihadang peluru senapan dengan arah tembakan yang tidak kuketahui.
Kupikir itu adalah tembakan peringatan. Pelurunya menembus tanah tepat di depan pijakanku.
“Huh~ aku sudah tahu serangan siapa ini...” gumamku.
Dengan dunia yang jauh sebelum abad pertengahan, ada senjata yang melampaui teknologi pada peradaban itu. Artinya sebuah senjata modern berada di dunia yang tidak mengenal arti ‘modern’/
Selain itu...
Tiba-tiba bayangan besar datang dari arah atasku. Aku mengambil gerakan minimal seefektif mungkin untuk menghindari serangan.
Boom!!
Huh~ hampir saja. Serangan dari 'orang itu' menghancurkan tanah yang kupijak tadi.
Serangan ini belum berakhir. Orang lainnya berada di titik butaku dengan niat membunuh yang terpapar jelas, ingin mengakhiri diriku dari belakang. Aku kembali menghindari dari tebasannya dan bergerak menjauh dari mereka. Daripada tidak bisa kutangkis, jadi lebih baik menghindar untuk kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Sekarang sudah tiga orang yang menyerangku dengan beruntun. Nah sekarang apalagi? Aku tidak ingin membuat masalah yang sia-sia.
"Tenang saja, aku tidak ingin mencari masalah. Aku hanya ingin bertemu dengan pemimpin kalian. Laven kurasa namanya?"
Mereka berdua terdiam atas perkataanku. Mungkin terlalu frontal untuk aku mengatakannya, tapi itu sudah cukup.
"Apa maumu?" tanya orang yang memukul tanah tersebut.
Tanpa memberikan ekspresi apapun aku menjawabnya, "Aku ingin bertemu dengan Laven."
Sepertinya saat aku menyebut nama itu, mereka berdua langsung mengeluarkan nafsu membunuh yang sangat kuat. Yah itu juga dalam tahap yang masuk akal.
"Hentikan Roger!" tapi langsung dihentikan oleh seorang gadis berambut pirang sebahu.
Gadis itu hadir secara tiba-tiba tanpa bisa dilihat oleh mata, seolah dia bisa menghilang kapan saja seperti bernapas. Dia adalah gadis yang kumaksud, Laven.
Kemudian Laven menatapku, "Apa maumu Ryuuji?"
Aku tidak masalah saat dia memanggil nama belakangku sih, tapi aku sedikit tidak terbiasa. Selain itu Laven menatapku dengan tatapan serius.
"Tidak ada yang spesial. Mumpung aku sedang berada di kota ini, jadi aku ingin menyapamu."
Tapi langsung dibantah mentah-mentah oleh Laven, "Cih! Cukup basa-basi membosankan itu! Aku tahu kau bukan orang yang membuat lelucon seperti itu."
Sepertinya Laven mengerti tentang sifatku ini. Bagaimana aku bilangnya ya? Padahal aku ingin membuat salam hangat padanya setelah kami tidak bertemu beberapa bulan.
"Padahal kau tidak perlu sekesal itu saat bertemu denganku. Lupakan yang terjadi di masa lalu, sekarang aku membutuhkan bantuanmu."
"Setelah menunjukkan wajahmu di sini dan keberadaanmu di sini, apa aku akan mematuhi permintaanmu? Bodoh, seharusnya kau yang saat ini masuk ke sarang ular dan meminta untuk mati."
Yah kalau dia menolak, mau bagaimana lagi...
"Ya sudah kalau kau menolak permintaanku. Aku tidak akan memintamu lebih jauh." kataku ketika berbalik, berniat meninggalkan mereka.
"Tunggu!" Aku membalikkan wajahku ketika wajah Laven memerah, "Aku masih berhutang nyawa padamu, jadi aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum aku membalasnya."
"Boss, kau yakin?" Bahkan anggota kelompoknya sendiri ragu dengan pilihan Laven.
"Tidak ada plihan lain. Hutang nyawa itu selalu terlintas di kepalaku setiap hari. Aku ingin menyelesaikannya hari ini juga." Begitulah kata Laven yang masih tidak jujur dengan perasaannya.
Yah, tidak ada yang ingin memberikan sebuah kesalahan kepada gadis yang imut.
Setelah itu, mereka mengantarku ke markas mereka yang kuno dan usang, tapi sepertinya mereka merawatnya dengan baik. Setelah aku duduk di sebuah sofa, Laven membawakan secangkir teh untuk menjamuku, dan mereka bertiga duduk di sofa sambil menatapku.
"Lalu, apa maumu? Apa yang harus kubantu dari permintaanmu?"
Laven bertanya, dia terlihat tidak tertarik dengan keberadaanku di sini karena ini membuatnya kesal, tapi dia terikat oleh 'hutang nyawa' itu yang membuatnya melakukan apa yang kumau.
Jadi aku tidak ingin membuat basa-basi yang membosankan lagi.
"Kau pasti tahu kan, tentang kejadian penaklukan monster kelas bencana di Kerajaan Fioresd?"
"Ya, begitulah. Itu termasuk salah satu insiden yang menyedihkan."
Yang dikatakan Laven benar. Kerugian yang sangat besar yang dialami oleh Kerajaan Fioresd dan penduduknya hingga saat ini. Sekitar 99 persen petualang berkualitas mati tidak tersisa saat melawan monster kelas bencana tersebut
Kemudian aku melanjutkan kalimatku, "Benar, aku juga salah satu orang yang bertahan hidup setelah kejadian itu."
Setelah aku mengungkapkan kalimatku, mata Laven kosong karena terkejut...
"E-eeh?! K-kau juga mengikuti penaklukan itu?"
Aku hanya bisa mengangguk tenang. Kejadian itu memang sangat diluar akal sehat manusia, mungkin para petualang juga tidak menyangka penaklukan itu diluar jangkauan dan kemampuan mereka. Hasilnya hanya kematian yang menjemput mereka.
"Karena itu aku membutuhkan bantuanmu. Akhir-akhir ini..."
Kemudian aku menjelaskan semuanya kepada Laven tentang pekerjaanku dan misi pencarianku terhadap Ellena. Ellena juga salah satu orang yang pernah menyelamatkan nyawa Laven, jadi dia semakin tidak ada pilihan lain selain membantuku.
"Ah begitu ya... ini lumayan menyulitkan yah. Orang yang bertahan hidup setelah kejadian itu menghilang. Mungkin ada seseorang di balik semua ini, dan kau juga telah melakukan penelusuran kalau salah satu petualang dari kerajaanmu menghilang di negeri ini."
Aku kembali mengangguk atas pernyataan Laven. Dugaanku memang ada sekelompok orang yang tidak ingin ada saksi hidup yang bertahan dari penaklukan monster kelas bencana tersebut. Makanya untuk saat ini hanya para petualang yang tersisa yang menghilang.
"Tunggu..." Sepertinya Laven menyadari sesuatu, "Kalau orang yang bertahan hidup itu menghilang, itu artinya dirimu juga akan menghilang? Mungkin seseorang atau sekelompok orang telah menargetkanmu?"
"Itu juga kemungkinan terburuk yang dapat kupikirkan. Diam di tempat atau melakukan pergerakan apapun, tetap sama bahayanya. Jadi aku memilih untuk mencari informasi dan keberadaan temanku yang menghilang. Kalau aku mati, aku tidak ingin mati di saat aku tidak berbuat apa-apa."
Karena itulah seluruh tindakanku berada di sebuah kesimpulan. Aku harus bekerja sama dengan orang yang lebih berpengalaman di lapangan, dan kelompok Laven adalah jawabannya. Mereka jauh lebih berpengalaman daripada Tomoe Garden, meskipun mereka hanya tiga orang.
"Karena itu Laven, aku membutuhkanmu dan pengalaman dari profesimu sebagai 'Pembunuh Bayaran' kelas kakap, bekerja sama dengan 'kami' dalam menumpas habis semua misteri di balik kekacauan ini semua."
"Kami?" Laven memiringkan kepalanya, mungkin dia masih belum tahu tentang kelompokku.
"Kau akan tahu itu nanti. Sekarang, apa kau menerima permintaanku ini?" Kataku saat aku menyuguhkan tanganku untuk membuat persetujuan.
Laven hanya tinggal menjabat tanganku dan rencana pertamaku akan berhasil. Laven melihat tanganku dan terlihat ragu, tapi akhirnya dia menjabat tanganku ketika dia mendecak lidahnya.
"Cih! Baiklah! Aku juga ingin tahu apa yang di balik kekacauan dunia ini. Mungkin bersamamu aku akan menemukan jawabanku."
"Baiklah, aku akan memastikanmu kalau kebingunganmu akan terjawab tanpa ada kebosanan sedikitpun."
Lalu, di saat itulah, aku dan kelompok Laven melanjutkan diskusi tentang rencana kami selanjutnya. Laven juga memberikan informasi yang tidak kuketahui...
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya! terimakasih!