I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 6.1




"Astia?"


"Tidak kusangka... ah ya maaf. Hmm sebenarnya orang yang memutuskan kalian diterima atau tidak itu bukan aku. Aku juga tidak menyangka kalian datang secepat ini. Jadi maaf aku tidak bisa membantu."


Astia hanya bisa melempar pandangannya ke bawah. Astia berpikir mungkin kalau untuk perempuan kemungkinan tidak diterima, itu karena beberapa alasan seperti trauma masa lalu Tuan Yuuki karena disebabkan oleh perempuan, dan juga merasa risih karena rekannya Ellena adalah perempuan.


Itu semua kemungkinan karena perempuan.


Jadi hal yang wajar Astia berpikir seperti itu. Astia juga merasa kasihan kalau itu terjadi mereka nanti tidak diterima lalu pulang dengan tangan kosong.


"Tentang itu tidak perlu khawatir Astia!"


Tapi mereka terlihat tidak khawatir.


"Apa?"


"Itu karena kehadiranmu di sini!"


"Bukankah sudah kubilang, aku tidak tahu bagaimana bisa membantu."


"Itu tidak benar, kau bisa memberitahu kami tentang apa yang disukai Tuan Yuuki!"


"Ah begitu ya. Mungkin itu juga bisa..."


Mungkin juga tidak, itu karena Astia berpikir tentang hal yang disukai Yuuki masih abu-abu. Jika Yuuki melakukan perekrutan anggota maka Astia tidak tahu sama sekali tentang kriterianya, itu karena mereka belum pernah melakukan hal ini sama sekali.


Tapi yang bisa dilakukan Astia sekarang adalah memberitahukan apa yang diketahuinya. Astia juga berhati-hati tentang perkataannya agar tidak menimbulkan kelemahan Yuuki terungkap, tapi memangnya Astia juga tahu hal itu?


"Kemungkinan besar, Tuan Yuuki akan kembali saat siang nanti, jadi aku harap kalian menunggu dan mempersiapkan diri."


Setelah itu, Astia kembali ke dapur untuk mempersiapkan hidangan kecil yang telah dibuatnya.


Mereka berakhir dengan makan hidangan yang dibuat Astia. Mereka bersulang dengan makanan sederhana dan jus jeruk, kemudian melakukan pembicaraan iseng dan sederhana.


Gadis-gadis itu menjadi akrab hanya dengan waktu yang singkat. Mereka memang ahlinya dalam menghangatkan suasana. Gadis-gadis itu mulai berbicara dengan kehidupan masing-masing mereka dengan cerita asal mereka. Ketika pembicaraan mulai memanas, gadis lain menunjukan simpatinya dan mengatakan bahwa kehidupan itu memang sulit, maka dari itu dia menyarankan untuk tertawa untuk melupakannya.


Mungkin karena semua orang tidak diterima di tempat asalnya dan berakhir melarikan diri, Lilia berpikir ketika dia mendengarkan.


Ada orang-orang di tengah-tengah mereka, tidak ingin mengakui nilai buruk mereka, tapi mereka semua sama-sama mengalami kesulitan dan masalah yang sama. Mereka tidak diterima oleh orang di sekitar mereka, meskipun tempat asal mereka berbeda-beda. Pada akhirnya mereka sudah tidak lagi mempunyai tempat kembali yang dinamakan 'rumah'.


Semua gadis ini hampir memiliki usia yang sama, tapi ketika mereka menghadapi kesulitan hidup yang begitu keras di usia yang masih muda, mereka hanya bisa tertawa lepas di aula itu. Tidak terkecuali Astia, nasibnya hampir sama dengan mereka.


"Hmm... Yah kita harus melakukan yang terbaik untuk bisa diterima, tapi kalau kita semua diterima, aku penasaran apakah kita akan langsung tinggal di sini... Aku sudah muak bermalam di hutan tiap malam. Mmm ini enak!"


Amarilis mengatakan itu sambil mengisi mulutnya dengan kue, menyatakan itu bahwa keputusan mereka sudah bulat. Meski begitu, Natasha belum sepenuhnya puas, dia mengarahkan pandangannya ke bawah.


"Memang benar itu adalah hal yang harus dilakukan, tapi kalau master menerima kita karena kasihan, maka kepercayaan master kepada kita di masa depan tidak akan sempurna."


Lilia berusaha memberikan tindak lanjut.


"Tapi, mendapatkan kepercayaan tidak semudah itu, kita harus mendapatkannya secara bertahap, meskipun itu membutuhkan waktu yang lama."


Gadis-gadis lain mengarahkan pandangannya ke arah Lilia. Kemudian dia menatap lampu-lampu yang berjejer, dan menatap sekelilingnya, lalu dia menatap jauh dan menemukan sebuah meja kantor.


"Memikirkannya seperti ini. Kita bisa tinggal di rumah sebesar ini, Astia sudah bilang bukan kalau Tuan Yuuki sedang membutuhkan orang seperti kita untuk membantu pekerjaannya di masa depan, lalu kita akan mendapatkan uang banyak. Dengan itu kita bisa mendapatkan makanan tiga kali sehari dengan para gadis yang lain, mandi, kemudian makan lagi, pergi ke kota, bermain dengan yang lain, lalu bekerja, melakukan semua itu dengan tenang. Bukankah itu yang terbaik?"


"Kau sudah memikirkan sejauh itu ya?" Balas Annastasia.


"Memikirkan itu bukankah menyenangkan, dengan kehidupan yang menenangkan."


Tidak ada pendapat yang menyangkal. Mungkin mereka semua ingin merasakan hal yang sama tanpa mereka semua menyebutkannya.


"Dan hanya ada satu-satunya cara kita untuk terbebas dari semua itu dan mengabulkan keinginan ini kan?"


Gadis lain berbicara, dia adalah Lilac.


"Mendapat pengakuan dari Tuan Yuuki!"


Katanya, terdengar seperti sorakan pemimpin yang ingin memenuhi tujuan sejatinya.


Pada saat yang sama, ini menjadi sinyal di dalam diri mereka untuk menyalakan semangat yang telah mereka matikan sejak meninggalkan tempat asal mereka.


Lilia puas pada ikatan pertama dengan rekan-rekan barunya, dan ini membuatnya mendapatkan harapan besar pada kerja sama kelompok mereka di masa depan.


Setelah itu, pintu utama terbuka dengan dramatis. Ada seseorang yang masuk, remaja laki-laki berusia sekitar 17 tahun memakai pakaian yang unik masuk sambil membawa peralatan kebersihan dan membawa bahan-bahan masakan.


Momen ini membuat para gadis menatap remaja itu dengan tatapan hening sambil menelan ludah mereka. Detak jantung mereka berdegup kencang sehingga salah satu dari mereka bisa saling mendengar detak jantungnya.


Lalu para gadis itu mengatakan sesuatu di dalam hatinya masing masing. "Inilah waktunya."


"Astia bantu aku, taruh ini di pojokan sana, aku akan mengurusnya nanti. Aku ingin menaruh bahan-bahan ini di dapur dulu dan membuat kopi." Katanya.


"Baiklah Tuan Yuuki."


Ketika Astia menerima permintaan Yuuki, di saat itulah para gadis berbicara.


"Bukankah ini sangat mendebarkan?"


"Ya, kau benar. Baiklah kita juga harus pergi."


Para gadis berdiri, lalu menghampiri sebuah meja kantor yang juga ada Astia di sana yang sedang berdiri berhadapan dengan mereka. Para gadis berlutut sambil menunggu kedatangan Yuuki.


Setelah beberapa menit, orang yang mereka tunggu datang. Dia bersender di meja kantor sambil menyesap minumannya ketika dia menatap para gadis.


"Apa ini Astia?"


"Ya Tuan Yuuki. Mereka adalah pelamar yang ingin menjadi bawahan kita."


"Tuanku, perkenankanlah kami bekerja untuk anda. Kami akan menerima syarat dari anda dengan sepenuh hati."


"Tuan Yuuki, mereka datang dari berbagai dari berbagai belahan dunia dan mengakhiri perjalanan mereka demi—"


"Biarkan saja. Aku mengerti keadaannya. Kau bisa minggir Astia."


Kata Yuuki dengan tegas, setelah itu dia menaruh minumannya dari genggamannya kemeja kantor.


"Tuan Yuuki? Jangan-jangan..."


"Seperti dugaanmu, aku akan melakukannya di ruangan ini. Aku ini sibuk! Aku sedang memikirkan bagaimana caraku bertahan dari misi tingkat bencana itu. Aku tidak punya waktu berbasa-basi dan mengenal kalian..."


Perkataan Yuuki membuat mental para gadis melayu, tapi mereka mencoba bertahan.


"Karena itulah akan kucari tahu tentang kalian ... melalui pertarungan! Bersiaplah kalian ... wahai pengembara dari jauh."


Setelah itu, tanpa aba-aba, pertarungan mereka dimulai.


つづく