
Sebuah pasukan dengan jumlah sepuluh ribu orang telah tewas menjadi ke sebuah kebinasaan dan ketiadaan mutlak. Penyebab utamanya adalah energi hitam pekat yang telah dikeluarkan Hydra itu dalam jangka serangan ‘bencana’.
Kalau serangan itu kembali terjadi lagi, tamatlah sudah riwayat kami semua.
“Tidak...”
Salah satu yang putus asa melihat tragedi itu adalah Astia. Tangannya mengarah ke arah pasukan kerajaan itu dengan pasrah— menatap mereka dengan berlutut dan berharap peristiwa itu tidak pernah terjadi. Yang membuatnya kecewa adalah penghalang transparannya telah ditembus dengan mudahnya...
Aku tahu rasa sakit yang Astia rasakan, tapi...
“Astia...” aku menghampirinya dan berusaha menenangkannya, “Astia aku tahu kamu...”
“Tuan Yuuki... mereka semua... Yang Mulia Azaka sudah...” mata Astia terdapat keputusasaan, ketakutan, dan rasa bersalah yang besar.
Dia tidak berharap itu terjadi, tapi kenyataan pahit telah merenggut apa yang ingin Astia lindungi. Keselematan pasukan kerajaan telah... aku tidak bisa melihat persentase bertahan hidup mereka setelah melihat serangan menakutkan itu.
Monster-monster yang menyerbu mereka juga telah binasa karena terkena serangan masif itu juga.
Berita yang lebih buruknya adalah... hanya tersisa kami, dengan tiga belas orang tersisa. Hydra itu telah membunuh setidaknya lebih dari sepuluh ribu manusia, dan di antaranya dihisap jiwa dan kehidupannya dengan ‘pelenyapan’ miliknya. Tapi kami dipaksa untuk menghadapi bencana besar ini hanya dengan keterbatasan orang dan kualitas tempur.
“Astia dengarkan aku...” kataku.
“Tapi Tuan Yuuki, mereka...” Astia masih tidak bisa tenang dan terus panik.
“Tenanglah Astia, aku tahu kamu ketakutan dan merasa bersalah. Tapi dengarkan aku... biarkanlah semua yang telah terjadi. Aku tahu kamu tidak bisa menerima itu, tapi cobalah lihat yang ada di sekitarmu...” kataku.
Kemudian Astia melihat ke arah yang lain, melihat petualang yang ada di sini dan juga melihat para gadis. Mereka semua menggigit bibir mereka dan juga merasa putus asa setelah melihat tragedi itu. Namun, mereka semua tahu kalau jalan satu-satunya bukan menyerah, dan mereka semua tahu tentang kemampuan Astia.
Jadi kalau Astia sudah runtuh maka perjuangan Astia yang diharapkan oleh orang lain juga akan runtuh. Pada akhirnya mereka tidak memiliki harapan sama sekali.
Kemudian aku melanjutkan perkataanku, “Aku tekankan padamu sekali lagi, Astia. Tidak ada hierarki di antara kita, dan saat ini kau lah yang mengambil komando atas pergerakan kami semua, khususnya untuk Tomoe Garden.”
Pada akhirnya aku yang telah mempunyai dosa besar. Aku membebankan Astia dengan melemparkan banyak tugas kepadanya, dan memberikan beban mental yang tidak bisa dia bawa sendiri.
Kalau aku mempunyai kekuatan yang sangat besar dan mempunyai kemampuan layaknya seorang pahlawan, aku tidak akan membiarkan semuanya menjadi korban penaklukan ini. Tapi aku tahu itu adalah pemikiran yang sangat naif.
“Kita semua mempunyai perasaan yang sama sepertimu, Astia. Tidak ada perasaan negatif selain rasa kesal karena tidak bisa membantu orang lain. Bahkan dengan kelebihanmu, kamu bisa melindungi kami semua.” tambahku.
Kemudian orang lain datang, itu adalah Ellena.
“Yuuki benar Astia, kalau kau tidak ada maka kami semua sudah mati ketika serangan pertama dilancarkan.” Kata Ellena sambil menyilangkan tangannya.
“Master benar, Astia.” kata Lilia kepada Astia sambil tersenyum, “Kami bisa bertahan hingga sejauh ini berkat dirimu.”
Aku tidak tahu keajaiban apa yang dimilikinya, tapi Rose yang telah sekarat waktu lalu, maju ke depan dan memberi dukungannya kepada Astia.
“Yah, kemampuanmu patut dihargai ketika bertahan dari Hydra itu. Jadi aku akan membantumu kali ini, meskipun identitas kalian masih dipertanyakan.”
Dengan begitu kesimpulannya adalah...
“Itulah yang mereka katakan, Astia.” kataku, kemudian aku melanjutkan, “Mereka semua berharap dengan adanya dirimu. Saat ini kamu memiliki banyak kompetensi dalam pertarungan dan analitikal pada musuh. Jadi aku pribadi berharap pada dirimu juga, Astia.”
“Tuan Yuuki...” Astia menatapku dengan air mata berlinang di matanya.
Aku kembali melakukan dosa yang sama. Aku sekali lagi melempar sebuah beban mental kepada Astia, lalu aku memberikan motivasi palsu kepadanya. Motivasi itu memiliki tujuan untuk memberikan persentase kemenangan atas kembalinya semangat dari Astia, tapi di sisi lain, itu adalah titik penghancur bagi Astia sendiri.
Meskipun mereka semua tidak menyadari tindakanku sebenarnya. Aku telah merekayasa simpati mereka terhadap Astia untuk membuat Astia bangkit, dan dalam perspektif lain itu adalah kejahatan. Jadi, yang paling pantas disalahkan atas segalanya adalah diriku sendiri.
“Kalau begitu mari kita selesaikan semua ini dan menikmati teh bersama!” Elma berteriak sambil memukul tangannya.
“Yah, itu yang biasa kita lakukan, kan?” Annastasia juga menambahkan hal itu.
Kemudian mereka semua menatap ke depan dan melepaskan senjata mereka— bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Kami semua berada di ujung tanduk, tapi karena mereka akan melakukan hal ini untuk terakhir kalinya, mereka semua berusaha mengeluarkan potensi terbaiknya.
Begitu pula denganku...
Namun, di saat itulah Astia memegang tanganku di saat dia bangun.
“Tuan Yuuki... bisakah kamu berjanji padaku satu hal?”
Mata Astia masih basah karena air matanya, tapi dia menatap padaku dengan memohon.
“Ya, apa itu...?” sebagai penebusan dosaku, setidaknya aku akan menepati janji yang akan diberikan oleh Astia.
“Tuan Yuuki... Bisakah kamu berjanji akan selalu bersamaku?”
Aku tidak mempunyai alasan lain untuk menolaknya, karena itu, “Ya, aku janji. Aku akan selalu bersamamu.”
“Kalau begitu, mari kita memulai bersama-sama dari awal!”
Karena teriakan Astia, Hydra itu kembali bereaksi.
“Ternyata kau akan mulai serius ya pahlawan! Aku sudah menunggumu sejak lama.”
Meskipun Astia menolak bahwa dirinya tidak ingin disebut pahlawan, tapi sejak awal tanpa disadari oleh siapapun, bagiku Astia adalah pahlawan yang sebenarnya. Dengan ketulusan dan kemurnian hatinya, Astia berusaha menyelamatkan manusia dari ‘bencana’ dan tanpa motif apapun.
“Karena itulah!!”
Setelah Astia berteriak dan mengangkat tangannya, sebuah medan energi yang tak kasat mata— meluas hingga ke seluruh sudut dari tempat ini.
Bahkan medan energi yang tidak terlihat oleh mata dapat dirasakan oleh siapapun.
“Bukankah ini?” semuanya kebingungan dengan sesuatu yang disekitarnya telah berubah, tapi tidak ada yang mengetahui apa itu.
“Pahlawan! Kau...?! Kau telah menghentikan pengaruhku terhadap dunia ini?”
“Maaf saja, sekarang kau tidak bisa lagi menggunakan seluruh energi yang ada di dunia ini. Karena itu! Regenerasimu telah kuhentikan!”
Apa? Apa itu artinya Hydra itu menggunakan energi yang terkandung dalam kehidupan di dunia ini? Itu artinya konsepnya seperti Varvatos yang menggunakan energinya berasal dari konsep unsur kehidupan yang ada di hutan.
Dengan kemampuan penghentian yang seperti itu dari Astia, bukankah Astia benar-benar di luar jangkauan kami semua?
“Kau! Pahlawan sialan!!”
Hydra itu meraung, memberikan dominasinya dan mengumpulkan energi yang dapat menyerang ke segela arah. Itu adalah serangan yang sangat sulit dihindari.
“Semuanya menghindar!” Teriak Astia.
Astia juga saat ini menghunuskan pedangnya, lalu pedangnya dialiri oleh elemen airnya. Dengan penggabungan seperti itu, pedang Astia dapat memotong batu besar seperti kertas.
Kami semua menghindar ke segala Arah. Aku bersama Astia untuk kali ini, menyerang ke arah Hydra itu dengan kecepatan terbaik yang kami miliki.
Aku tidak bisa melihatnya, tapi Rose telah berada di depan tubuh Hydra itu. Dia melesatkan ribuan tebasan dengan kemarahan yang luar biasa.
“Terima dan matilah!”
Seluruh tubuhnya terkoyak dan robek disertai tubuhnya menjadi abu secara perlahan. Namun, Hydra itu masih bisa beregenerasi.
Astia yang berlari di sampingku, menjelaskan, “Monster itu sudah tidak memiliki ketidakterbatasannya dalam energi. Jadi dia hanya bisa menggunakan energi miliknya sendiri untuk memulihkan diri.”
Ternyata begitu. Sebelum Astia melesatkan medan energi ke segala arah, Hydra itu memiliki energi yang tidak terbatas karena bergantung dengan energi dunia ini.
“Ugh!”
Kemudian...
Boom!!
Ledakan besar tercipta atas sebuah guntur yang sangat besar dan masif dari atas bagian Hydra itu. Itu bukan serangan milik Elma, melainkan serangan Fay yang telah memusnahkan banyaknya Wyvern.
Dengan begitu...
“SONICALLY AIR!!”
Sebuah amukan angin yang berasal dari atas Hydra, ketika Hydra itu telah tersungkur karena serangan Fay. Serangan Natasha membuat dirinya terus terdorong ke atas dan mencapai langit-langit gua ini. Namun Natasha terus mendorong pedangnya hingga efek ‘Sonically Air’ itu menyusut.
Serangan dari arah lain terus melesat dengan sangat cepat. Sebuah serangan berbentuk cahaya— berasal dari Amarilis dan Lilac, terus menghantam bagian kepala Hydra itu hingga memiliki lubang besar di setiap kepalanya.
“Manusia sialan!!”
Hydra itu terus meraung, memberikan efek dominasinya dan disertai gelombang kejut ke berbagai arah. Di saat itulah seluruh kepalanya itu membuat energi yang terkonsentrasi.
“Baiklah... sekarang giliranku!”
Tiba-tiba Amarilis telah berada di udara, dengan bantuan Astia, dan sangat dekat dengan Hydra itu.
“Dengan busur dan demi anak panah yang suci... aku dedikasikan kekuatanku pada hati, pikiran dan jiwaku ini!”
Setelah sebuah kalimat dari Amarilis, kemudian dia berteriak...
“Lihatlah pengabdianku ini! PHOEBUS CATASTROPHE!”
Satu anak panah yang diluncurkan... Lalu sebuah cahaya meledak dan menghalangi penglihatan. Setelah semuanya sadar, jutaan anak panah tersalurkan dengan cahaya yang terang— melesat ke seluruh tubuh Hydra itu.
Jutaan ledakan disertai ledakan cahaya menyebar ke seluruh area Hydra itu berpijak, kemudian disertai hempasan udara ke segala arah. Amarilis terhempas dan tertolong kemampuan Astia yang selalu membantu mereka dari jatuh bebas.
Energi terkonsentrasi yang akan dilepaskan Hydra itu telah gagal, seluruh tubuhnya terkoyak oleh ledakan dari serangan Amarilis yang di luar akal sehat.
Aku melihat Amarilis berlutut setelah mendarat dengan sempurna. Sepertinya kemampuan serangannya tadi menghabiskan hampir seluruh Mananya.
“Hahaha! Kau pikir bisa mengalahkanku dengan itu?”
Tanpa mempedulikan dominasinya, seseorang berteriak karena melihat sesuatu, “Di sana! Jantungnya telah terlihat!” Lilia melihat itu ketika dia masih terhempas ke udara.
Kemudian aku mengarahkan tatapanku atas arahan dari Lilia. Sebuah jantung yang amat besar di jauh sana dan berada di lapisan terdalam Hydra itu. Namun aku hanya bisa melihat itu sekitar kurang dari satu detik sebelum regenerasi tubuhnya menutup itu semua.
Namun, aku sudah mengetahui posisinya.
“Rose!” teriakku.
“Aku tahu!”
Rose langsung melesat ke arah Hydra itu, tapi langsung terhempas sebelum ada satu detik. Aku tidak tahu apa itu, tapi Rose langsung tersungkur di tanah, kemudian dia bangkit kembali.
Namun, itu adalah sebuah pengalihan. Aku dan Astia telah berada di arah yang berbeda. Di area yang berbeda dengan satu tujuan yang sama, yaitu menghancurkan jantung itu.
Astia memotong salah satu kepala yang menghalanginya seperti sebuah kertas. Lalu aku berada di area kiri dari Hydra tersebut. Aku membakar pedangku dengan nyala api yang terkonsentrasi. Kemudian aku menebas seluruh akar-akar yang menghalangi jalan kami.
Dan di saat itulah...
“INFERNO BEAM!!”
Energi merah menyebar ke segala arah, aku telah merubah polanya hingga dapat menuju jantung pertahanan melalui seluruh sudut yang ada.
Dan persis di bawah Hydra itu, seseorang telah melakukan hal yang sama seperti yang telah dia lakukan pada Varvatos. Natasha menarik kuda-kudanya dan tangannya ke belakang. Lalu...
“SONICALLY AIR!!”
“Mari menari dan lantunkan suara kematian~”
Serangan frontal garis lurus dilakukan oleh Rose. Itu terlalu cepat sehingga aku tidak bisa sedikitpun bereaksi tentang kecepatannya. Seluruh materi dan unsur telah lenyap ketika berada di area serangan Rose. Dia menembus tubuh tebal Hydra itu hingga keseluruhan. Ditambah serangan masif dari Natasha.
Dengan keseluruhan serangan kombo mereka dari depan dan bawah, secara sepenuhnya Hydra itu menjadi abu.
“K-kau...!”
Namun, seolah waktu telah kembali waktu asalnya, Hydra itu kembali membentuk tubuhnya dengan dramatis. Itu terlalu tidak masuk akal.
“Kau pikir aku akan kalah dengan semudah itu, pahlawan?!”
“Tidak mungkin, bahkan dengan kekuatan yang seperti itu...”
Bahkan dengan kekuatan sihir Ellena dan kekuatan Gorou yang dapat menguasai permukaan tanah, masih tidak dapat membunuh monster itu.
“Sepertinya semuanya semakin berisik. Kalau begitu, mari kita berduel di waktu yang telah dihentikan. Lenyaplah—!”
Di saat itulah, aku sudah tidak bisa memikirkan apa yang sedang terjadi. Seluruh dunia menjadi hitam putih, beku. Kami semua tidak bisa menggerakkan salah satu anggota bagian seluruhnya, tapi kesadaranku dapat mengenali dan mengartikan itu semua.
Seluruh dunia telah beku karena waktu telah dihentikan.
Bahkan kecepatan Rose yang super cepatpun tidak bisa mengendalikan atau terlepas dari pengaruh ini.
Namun ada seseorang yang bisa bergerak.
“Seperti yang kuduga... kau adalah seorang pahlawan itu!” atas dari perkataan Hydra itu, orang yang dia tuju adalah Astia.
“Ugh!” aku terbatuk berkali-kali karena cedera di tulang rusukku dan disertai penghentian waktu ini.
“Tuan Yuuki!” Astia menghampiriku dan membantuku berdiri.
Setelah itu, Hydra itu memberikan dominasinya yang lebih kuat daripada yang kami rasakan selama ini. Itu yang menyebabkan semakin kuat tekanannya terhadap diriku.
“Apa ini, Tuan Yuuki? Kenapa semuanya berhenti bergerak?” tanya Astia.
“Aku juga tidak tahu Astia, tapi...”
Tapi, sebelum itu...
Sebuah lingkaran sihir raksasa tercipta— Energi dengan hitam pekat melesat dan menghantam ke seluruh bagian tubuh Hydra itu.
“Yang Mulia?!” yang pertama kali menyadarinya adalah Astia.
Aku juga melihatnya, Raja Azaka terlihat baik-baik saja tanpa luka sedikitpun pada dirinya.
“Tenang saja, Astia. Aku tidak terpengaruh penghentian waktu kadal itu.” Kata Azaka.
“Tapi, Bagaimana bisa Yang Mulia...?”
Mungkin pertanyaan Astia sama seperti apa yang dipikirkan di benakku. Di sisi lain, Raja Azaka terus melesatkan energi hitam itu dengan lingkaran sihirnya, tanpa mengalami penjedaan.
“Aku tahu kau mempunyai banyak pertanyaan Astia, tapi kita harus menghentikan penghentian waktu ini.”
Sebelum semuanya terungkap, Raja Azaka terus melesatkan energi hitamnya.
つづく