
Mereka kembali berjalan melewati ruangan Guild dan mencapai pintu keluar.
"Tidak terasa matahari sudah di atas kepala." Kata Lilia dengan tenang.
"Kenapa kau lihat ke atas? Lihatlah ke depanmu tuh, wanita itu sedang menuju ke sini!" Elma memeras bahu Lilia.
"Iya iya, sakit tahu."
"Tenang saja." Annastasia masih mencoba untuk tenang.
Ellena menyadari kehadiran mereka bertiga, kemudian mendatangi mereka dengan wajah kecewa.
"Kenapa kalian lama sekali? Kupikir kalian membohongiku dan kabur."
Elma melambaikan tangannya, "Yah, begitulah. Ada beberapa hal yang harus kami lakukan."
"Bersikap seperti biasa!" Bisik Lilia.
"Nah, sekarang apa yang kau inginkan?" Annastasia menaruh kedua tangannya di pinggulnya.
Ellena menunjukkan ekspresi tidak percaya yang aneh. "Apa yang... Apa kau ini lupa apa yang telah kukatakan tadi?"
"Aku tidak mengingatnya. Banyak hal penting harus kami ingat, tapi untuk mengingat permintaan mu itu... yah itu sedikit mengganggu."
"Tapi sebenarnya kalian itu mengingatnya kan... Apa jangan-jangan kalian hanya..."
Ekspresi Ellena membuat alasan itu sendiri menjadi lebih terlihat, mereka bertiga hanya bersiul sambil menatap langit dan ke sekelilingnya.
"Wah, penampilan genteng itu bagus ya!"
"Wah benar! Apalagi lantai kayu itu yang berjamur dan sudah berlumut, ikonik sekali!"
"Lilia, Anna, bukan itu loh yang terbaik... Coba lihat! Matahari itu bulat sekali! Kukira segitiga..."
Mata mereka melebar, melihat ke atas dengan senyum tipis, tanpa menghiraukan Ellena.
"Kalian ini! Mencoba mengalihkan perhatian dan tidak menjawab perkataanku." Kemudian Ellena tersenyum jahat, "Inilah yang membuatku lebih semangat untuk menemuimaster kalian!"
Setelah perkataannya, senyum palsu mereka bertiga berubah drastis menjadi jengkel ketika mereka mendahului Ellena.
"Cuih! Gak bisa diajak bercanda."
"Memang."
Annastasia dan Elma menjadi sepakat dalam hal ini.
"Ayo pergi."
Setelah rencana aneh mereka gagal, mereka bertiga kembali bersikap normal dan kembali berjalan meninggalkan Ellena.
"Hey! Mau kemana kalian?" Ellena berteriak.
"Blablabla~ berisik!" Cemooh Annastasia, "Kalau permintaanmu ingin dituruti tinggal ikut saja!"
"Rencana absurd kita tadi gagal, sekarang gimana?" Bisik Lilia.
"Mana kutahu, biarin sajalah. Capek menguras otakku hanya untuk wanita pemaksa itu."
Setelah itu Ellena mengejar mereka bertiga dengan ekspresi yang aneh.
"Baru kali ini aku tidak dipedulikan oleh seseorang, orang itu juga."
"Tiga orang yang tidak peduli denganmu." Potong Elma.
Mereka berempat menyusuri jalanan kota yang ramai, dengan paras dan penampilan mereka yang cantik, membuat mereka menjadi sorotan orang-orang dan petualang yang ada di sekitar mereka. Tapi mereka tidak terlalu menghiraukan hal itu.
"Ngomong-ngomong kalian mau kemana?" Tanya Ellena.
Lilia menjawab ketika sedang menghitung uang yang ia punya, "Yah, karena pekerjaan kami membuat kami lelah, makanya kami ingin membeli sesuatu yang bisa dimakan."
"Gak usah jawab dia, Lilia."
"Ih emang kenapa sih, aku kan cuma tanya."
"Jangan terlalu keras padanya, Anna..." Perkataan Lilia membuat Ellena sedikit senang, tapi kemudian langsung hancur, "Meskipun dia pengganggu tapi dia tetaplah pelanggan kita."
"Apa kau pikir dia adalah pelanggan pertama kita? Lah kan usaha bisnis kita belum dimulai bahkan belum dibuat..."
"Meskipun master bilang begitu, nanti saat di rumah kita bisa menyuguhkannya satu. Anggap saja itu sebuah promosi kecil."
"Tidak percaya aku pemimpin kita sampai memikirkannya sampai sini, iya kan Elma?"
"Yah, bagus kalau begitu." Katanya acuh tak acuh.
"Jangan begitu, aku hanya mengatakan apa yang terlintas di kepalaku kok."
Menanggapi perkataan Annastasia, Lilia menunjukannya dengan malu malu, padahal dalam hatinya dia merasakan kebanggaan yang luar biasa yang tidak Lilia katakan pada mereka berdua.
Karena percakapan aneh mereka bertiga, Ellena tertarik dengan itu.
"Apa sih yang dari tadi kalian bicarakan?"
"Bukan urusanmu."
"Ih padahal aku tanya dengan baik-baik."
Karena Ellena merasa sudah tidak dipedulikan, dia sudah tidak tertarik dengan percakapan mereka bertiga tadi. Ellena hanya mengikuti mereka dari belakang sambil menikmati perjalanan.
Kemudian Lilia berbalik menghadap Ellena sambil berjalan mundur.
"Namamu Ellena bukan? Perkenalkan namaku Lilia." Menyuguhkan tangannya ke depan sambil berjalan mundur. Setelah jabat tangannya dibalas, Lilia melanjutkan, "Ngomong-ngomong tadi kau juga bilang 'orang itu', apa itu artinya kau pernah dicampakkan?"
Ekspresi Ellena menjadi cemberut. "Enak saja kau bilang, orang sepertiku tidak mungkin mendapatkan perlakuan seperti itu."
"Cih! Sikapmu malah mirip dengan orang yang di sebelahku ini."
"Kau mengejekku?" Anna langsung bereaksi ketika tanpa sadar dia disinggung.
"Kenapa kau malah kepancing? Tanpa sadar kau menyetujui perkataanku tahu!"
"Hah! Mana mungkin wanita ini sebanding olehku." Kecantikan dan keindahan Annastasia membuat kesombongannya juga tinggi.
"Aku akan sabar dengan itu." Kata Ellena ketika dia menghela napas.
Setelah itu, Lilia membenarkan posisi berjalannya dan melihat-melihat ke jalan untuk mengetahui jajanan enak apa yang bisa dimakan.
"Anna, lihat itu! Sepertinya jajanan itu enak." Kata Lilia sambil menunjuk ke sebuah pedagang yang menjual aneka daging bakar.
Annastasia hanya menghela napas. "Huh~ baiklah, hari ini kita akan makan itu. Lilia hari ini kau saja yang traktir, aku tidak membawa uang."
"Okkee!" Setuju dengan satu jempol Lilia, lalu dia berbalik menghadap Ellena. "Ellena, apa kau mau juga?"
"Yakin nih?"
"Tenang saja, hari ini adalah momen merayakan aku menggunakan uang gajiku, jadi aku akan mentraktirmu."
"Huh~ baiklah. Kupikir kau orang yang baru saja mendapatkan uang sebanyak itu dalam hidupmu."
"Memang."
"Hey Lilia, kenapa kau menawari wanita ini?" Tanya Elma.
"Bukannya alasannya sudah kukatakan tadi? Memangnya kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa."
Elma berpikir kalau Lilia ingin mentraktir semua orang, itu berarti kemauannya adalah haknya dan uang yang dia gunakan bebas ia gunakan untuk apa aja. Jadi Elma tidak ingin mengeluhkan hal sepele.
"Lilia, biar aku saja yang menawar." Annastasia mencoba untuk melakukan sesuatu.
"Eh, apa membeli makanan harus menawar harga juga?"
"Sudahlah, tenang saja. Tonton dan pelajari."
Annastasia mengambil uang dari tangan Lilia untuk membeli daging tusuk, kemudian dia maju ke pedagang itu dengan merubah gaya jalannya. Itu membuat mereka yang menunggu Annastasia bertanya-tanya.
"Kenapa cara jalannya menjadi aneh? Aku yakin dia ingin melakukan hal yang aneh juga." Elma yang pertama menyadarinya.
"Yah, dia memang amatir, tapi penampilannya menutupi semua kekurangannya." Lilia membalasnya dengan sedikit komentar.
"Begitulah wanita."
Yang diduga Elma dan Lilia menjadi kenyataan, ketika Annastasia ingin membeli makanan itu, dia menggunakan aktingnya yang membuat penjualnya tergoda sehingga dia menurunkan harganya. Perkataan Lilia terbesit di kepala Annastasia tentang menggunakan cara apa saja, itulah yang membuat dia melakukan hal ini. Meskipun dia amatir tapi beruntungnya dia berhasil.
Setelah beberapa menit, Annastasia kembali ke tempat Lilia, Elma dan Ellena berada, dan memamerkannya.
Itulah perkataan Annastasia ketika membagikan makanannya kepada mereka bertiga, dan Ellena yang pertama memprotes hal itu.
"Mendapatkan harga murah dengan menggunakan kelebihanmu itu, licik sekali."
"Aha! Karena itulah kelebihan itu harus dipakai untuk mendapakan sesuatu menjadi lebih mudah. Apa kau tidak berani melakukannya?"
"Cih!"
"Ayo Anna, kenapa harus ribut di tengah jalan? Ayo pergi ke alun-alun."
Setelah beberapa saat berjalan, mereka sampai di alun-alun dan duduk di bangku yang tersedia di tempat itu. Dalam menyantap dagingnya, mereka menikmati keramaian dan angin sepoi-sepoi, di bawah pohon yang rindang tidak membuat cahaya matahari yang terik menusuk kulit mereka.
"Geseran dong." Kata Ellena ketika dia tidak kebagian tempat duduk.
"Ih ngapain? Udah sempit begini kau bilang minta geseran? Pulang saja sana!" Dengan nada yang kasar, Elma melambaikan tangannya untuk membuat Ellena menjauh.
"Kalian ini pada dasarnya tidak suka padaku ya!"
"Memang." Elma menegasi.
Ellena menyerah untuk berbicara karena mereka bertiga benar-benar tidak ingin Ellena menemui master mereka, dia hanya memakan dagingnya dengan ekspresi cemberut sambil melihat ke arah air mancur.
"Lilia, setelah ini mau kemana?" Tanya Annastasia.
Lilia menyentuh bibirnya dengan jarinya, "Um, karena kupikir kita sudah tidak ada tugas lagi, mungkin kita sudah bebas untuk ngapa-ngapain."
"Hmm, begitu ya... Sepertinya kita harus memikirkan sesuatu untuk dilakukan sambil menunggu master pulang."
"Apakah begitu?" Potong Elma, "Bagaimana dengan waktu kita sisihkan untuk membuat laporan?"
"Eh iya, benar juga katamu Elma. Kalau gitu kita pulang nih?"
"Hmm..." Annastasia menghela napas. "Tentu dong. Lagipula tempat yang paling nyaman buatku adalah rumah kita."
Perkataan Annastasia membuat Lilia dan Elma tersenyum tipis, menegaskan kalau perkataannya adalah benar adanya, tidak ada tempat yang paling menyenangkan selain Mansion Tomoe bagi mereka.
"Nah ayo!"
Ellena yang masih diam saja dengan cemberut dari tadi karena merasa dimusuhi, sekarang dia mencoba bersemangat karena tujuannya saat ini akan terpenuhi.
Mereka kepanasan ketika keluar dari wilayah Kota Florend menuju ke sebuah hutan yang lebat, ketika mereka semua sampai ke rumah besar yang cukup tua, Ellena cukup terkejut.
"Aku sudah lama tinggal di kerajaan ini, tapi aku tidak pernah tahu ada rumah sebesar ini di tempat yang terpencil ini."
"Nah bener kan Elma, dia pasti bereaksi seperti itu." Lilia tersenyum karena di saat perjalanan dia bertaruh kecil kepada Elma.
"Hah! Aku lupa kalau dia itu manusia, jadi kau menang deh."
"Yuhu!" Lilia mengangkat tangannya ketika dia membuka kenop pintunya.
"Ada apa Lilia?"
Annastasia bertanya karena ekspresi Lilia sedikit berubah.
"Pintunya masih terkunci, jadi itu artinya kelompok Astia masih belum pulang." Kemudian dia membuka pintunya dan mereka masuk.
"Benarkah? Kupikir mereka sudah pulang sebelum kita."
"Harusnya begitu... Yah biarin lah, mungkin mereka melakukan hal yang sama dengan kita." Katanya ketika mereka kemudian duduk di sofa dengan menyilangkan kaki.
Mereka bertiga duduk dan menyender karena lelah, tugas yang cukup melelahkan membuat mereka seperti itu. Ellena menatap mereka dengan kekosongan ketika berdiri di dekat mereka.
"Apa karena kalian masih kesal padaku, jadi aku tidak dibolehkan duduk?" Tanya lembut Ellena.
"Kenapa, duduklah. Kami tidak sekejam itu kok kepada tamu." Kata Lilia ketika dia bersiap-siap melakukan sesuatu. Karena itulah kemudian Ellena duduk berjauhan dengan mereka.
"Aku tanpa gula, Lilia."
"Aku seperti biasa."
Annastasia dan Elma mengatakan itu dengan malas dan lelah, Lilia merasa sedikit kesal.
"Cih! Karena aku yang selalu menyajikan teh untuk kalian, kalian jadi seenaknya menyuruhku terus-terusan!"
Annastasia menutup satu matanya dan menjulurkan lidahnya ketika Lilia sudah berdiri.
"Oh iya, Lilia. Jangan lupakan pesanan untuk tamu kita tercinta ini."
"Baiklah."
"Eh..." Annastasia sedikit tidak terbiasa, "Biasanya kau akan menolak dan selalu mengatakan kepercayaan dirimu itu."
"Berisik! aku hanya tidak ingin menyalahgunakan kepemimpinanku lalu menyuruhmu."
Setelah Lilia pergi ke dapur, Annastasia kembali ke posisi kelelahannya, lalu dia menghadap ke Ellena yang sedang menatap dirinya.
"Kenapa?"
"Apa kalian yang mengelola rumah sebesar ini?"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya heran saja."
"Yah, pada awalnya kami memang sedikit kesulitan untuk bersih-bersih dan mengatur jadwal, tapi sedikit demi sedikit kami sudah terbiasa."
"Begitu ya... Jadi sekarang, dimana mastermu?"
"Saat ini tidak ada, master sedang keluar menyelesaikan tugas... Nah karena itu, daripada menunggu hal yang tidak pasti, mending kau pulang saja."
Ellena sedikit tertawa, "Aha, kau pikir dengan hasutanmu itu aku akan menyerah? Terlalu cepat seratus tahun untukmu berharap!"
"Peduli amat, kalau kau ingin menunggu dalam kebosanan ya silahkan."
Setelah beberapa saat dan berpikir dalam keheningan, Elma berdiri dan mulai berjalan menjauh dari sofa.
"Elma, mau kemana?"
"Pergi ke meja master dan membuat laporan. Apalagi memangnya selain itu?"
"Lalu kau meninggalkanku sendirian dengan wanita ini?"
"Kenapa, kau takut?"
"Tidak sih, tapi risih aja gitu."
"Aha, aku mendengarnya lho." Ellena tersenyum jengkel tapi Annastasia tidak menghiraukannya.
"Nanti Lilia juga kembali dari dapur, tenang saja." Tanpa kalimat yang lebih panjang, Elma pergi mendekat ke meja kantor Yuuki, mengambil selembar kertas dan pena tinta. Dalam diam, Elma serius menulis laporannya.
"Huh~" setelah menarik napas panjang, Lilia, memberikan Elma teh dan kemudian Annastasia. Ellena juga diberi sebuah minuman yang dituang di cangkir dan sepotong kue krim.
"Apa cairan hitam ini?" Tanya karena penasaran.
"Minum saja. Itu hidangan spesial dari kami, dan ini kuenya."
"Namanya?"
"Kopi."
"Kau tidak berniat meracuniku dengan minuman aneh ini kan?" Ellena semakin curiga.
"Yah reaksimu itu termasuk wajar, aku pun pernah begitu. Tentu saja aku tidak menuangkan sebuah racun ke minuman tamuku. Jadi minum saja, aku jamin"
"Um, baiklah." Ellena sejenak melihati minuman yang bernama kopi itu, mengangkat cangkirnya, dan berhati-hati dalam meminumnya.
Reaksinya tidak terlalu berlebihan, hanya sedikit keterkejutan yang terlintas di mata Ellena.
"Bagaimana?"
"Y-yah, lumayan buatku, ini masih layak untuk diminum."
"Oh begitu, kupikir kau akan berkata lebih dari itu ketika kau sekarang terus-menerus menyeruput kopi itu." Yang dikatakan Lilia adalah kenyataan yang dilakukan Ellena sekarang
"Begitulah Lilia, memang wanita itu tidak pernah jujur dalam mengungkapkan perasaannya." Tiba-tiba Annastasia melompat masuk.
"Berisik!" Ellena berteriak dengan wajah memerah.
Candaan kecil mereka berlanjut hingga sore hari ketika matahari mulai terbenam. Di tengah-tengah itu, mereka bertiga bergiliran menyelesaikan tugasnya dalam membuat laporan untuk Yuuki. Tidak ada kesulitan yang berlebih dalam membuat laporannya.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!