
"Berarti bisa disimpulkan kalau tujuan Yuuki ke sana untuk mengetahui medan Pegunungan Yatze?" Azaka memastikan sambil menutup matanya
"Benar." Astia yang mengonfirmasinya.
"Huh, itu keputusan yang paling baik untuk saat ini. Pada dasarnya setelah para monster tingkat tinggi yang berkeliaran di sana, membuat daerah geografis di sana menjadi berubah. Jadi peta yang sudah dibuat tidak akan berguna."
"Sayangnya itu juga benar."
"Sebelumnya aku sudah berpikir untuk membuat pasukan untuk menelusuri daerah itu, tapi karena yang kudengar di sana cuacanya sering berubah tanpa penjelasan dan tempatnya sangat berbahaya, aku tidak mau kehilangan pasukanku secara sia-sia." Kata Azaka
Kemudian mereka berempat menatap Azaka dengan kosong.
"Sebelumnya maafkan atas kelancanganku Yang Mulia..." Lilac terlihat marah, "Kau bilang kau tidak mau kehilangan pasukanmu secara sia-sia? Tapi sekarang master adalah pasukanmu juga! Dia ke tempat berbahaya hanya untuk membuat negaramu aman! Tapi kenapa kau mengatakan hal itu dengan mudah...?"
"Tenanglah Lilac, aku tahu kamu kesal, tapi kalau kamu tidak menjaga batasmu, kamu akan mendapatkan masalah." Di sampingnya Marrona mencoba menenangkan Lilac sambil memegang tangannya.
Gadis lainnya yang ada ruangan itu juga merasakan hal yang sama seperti Lilac, tapi yang ada di hadapan mereka adalah raja yang dihormati di negeri ini. Mereka bisa mendapatkan masalah jika lancang terhadap raja, tapi yang membuat ucapan keras dan frontal seperti itu hanya Lilac yang bisa.
"Maaf Marrona, aku kesal kalau master mendapatkan perlakuan yang tidak adil."
"Maafkan temanku Lilac Yang Mulia, biasanya dia bersikap ramah, tapi siapapun dari kami akan merasakan hal yang sama kalau Tuan Yuuki diperlakukan seperti itu."
Ini pertama kalinya Azaka mendapatkan keluhan seperti ini, tapi dia senang karenanya.
"Aku tahu ini salahku. Aku memang memberikan dia kebebasan meskipun dia adalah bawahanku, tapi aku tidak menyangka dia memutuskan rencana itu. Ini memang diluar jangkauanku, tapi ini memang kesalahanku. Sebagai gantinya, setelah ini aku akan mengirim kesatria terbaikku untuk ke sana."
"Terima kasih Yang Mulia, tapi itu tidak perlu."
Sekali lagi, perkataan Astia membuat Azaka terkejut.
"Kenapa? Bukankah itu yang kalian keluhkan padaku?"
"Itu adalah hal lain, tapi ini semua termasuk rencana Tuan Yuuki. Sebenarnya tadi malam Tuan Yuuki juga bilang padaku kalau Yang Mulia berkemungkinan besar akan mengirim pasukan atau ajudan terpercayanya untuk membantunya, dan sekarang itu terjadi. Jadi Yang Mulia tidak perlu repot-repot membantu kami, sekarang waktunya adalah tugas kami semua."
"Huh~ baiklah kalau itu yang kalian mau... Aku tidak bisa memaksa kalian. Sekarang apa ada yang ingin tanyakan atau ada keluhan lagi?"
Kemudian Astia sudah mempesiapkan pertanyaan utamanya.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya, apakah ada informasi penting yang ingin Yang Mulia sampaikan pada kami?"
"Ada, tentang persiapan penaklukan monster kelas bencana itu."
"Apa itu?"
"Aku sudah mempersiapkan semua pasukan dan rencana penaklukannya, Yuuki juga terus mengeluh karena tidak ingin berada di garis depan. Karena itu kalian semua sebagai pasukan khusus yang baru, akan kutempatkan di penjagaan pasokan perbekalan dan menjaga pasukan medis tetap aman."
"Seperti yang dikatakan Tuan Yuuki." Gumam Astia.
"Pasukan kerajaan akan menyerang monster itu setengah hari setelah penyerangan oleh para petualang."
Inilah yang menjadi topik yang Lilac, Amarilis dan Maroona menjadi bingung.
"Maaf Yang Mulia, kenapa kita tidak melakukan penyerangan bersama para petualang, bukankah menyatukan kekuatan akan membuat kita lebih mudah menghadapi musuh?" Lilac yang pertama menyinggung pertanyaan itu.
"Ada beberapa hal yang membuat kita tidak bisa berhadapan dengan monster itu secara langsung. Mungkin Yuuki akan memberikan kita informasi, tapi itu adalah bagian luarnya saja. Informasi tentang monster itu hanyalah kertas kosong."
"Sayangnya waktu itu hanya pahlawan yang berhasil menyegelnya, itulah yang Tuan Yuuki katakan padaku." Astia mengatakan itu dengan pasrah..
"Dan kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu." Tambah Azaka.
"Oh iya, Aku ingin menyampaikan sesuatu dari Tuan Yuuki..." Setelah dia mengingat sesuatu, Astia menanyakan pada Azaka, "Bukankah di perpustakaan kerajaan ada informasi tentang sejarah yang berkaitan dengan itu?"
"Memang ada, tapi itu hanya sejarah tentang peperangan kerajaan di masa lalu. Pertarungan antara Hydra dengan pahlawan tidak dibahas dengan detail. Aku juga mencari-cari buku yang membahas itu tapi tidak ada."
"Begitu ya..."
"Maka dari itu, pasukan kerajaan akan memantau dari jauh perkembangan penyerangan para petualang. Setelah semua informasi yang dibutuhkan sudah terkumpul, barulah pasukan kerajaan menjalankan tugasnya."
Lilac dan lainnya akhirnya mengerti tentang itu. Lilac sedikit menyayangkan hal itu.
Kemudian Astia sedikit menghibur Lilac.
"Tenanglah Lilac, ini memang keputusan yang terbaik, Tuan Yuuki juga berpikiran hal yang sama."
"Baiklah kalau itu keputusan master. Tapi aku akan menanyakan satu hal... Kalau sesuatu yang buruk terjadi dan kita di ujung tanduk, apa yang pihak kerajaan lakukan?"
"Aku berterima kasih atas pertanyaanmu... Ini tentang kemungkinan terburuk dan para petualang dan pihak kerajaan akan kalah... Tenang saja pihak kita tidak akan kalah. Tapi kalau kemungkinan itu terjadi, sebelum itu semua, aku akan menginstruksikan pada bawahanku untuk mengungsikan seluruh warga, tapi...."
"Tapi?"
"Itulah akhir dari peradaban manusia."
Kenyataan yang terlintas di depan mata dan kemungkinan dari segala kemungkinan terburuk. Mungkin hanya orang yang paling mengerti tentang kekuatan monster itu adalah orang yang paling merasakan kematian, dan mereka tidak ada yang tahu akan ancaman dari monster kelas bencana.
"Berarti monster yang mempunyai kelas sampai tingkat bencana bukan isapan jempol semata." Tambah Amarilis.
"Benar juga ya, ini pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan ketegangan seberat ini ahaha." Lilac hanya bisa tertawa lepas.
"Um, selama kalian semua di sisiku, aku akan selalu merasakan ketenangan." Dengan gugup, Marrona memegang tangan Lilac dengan hangat.
Mereka melupakan semua ketegangan yang akan mereka hadapi hanya dengan sebuah ikatan yang sudah mereka buat dan tidak merasakan kekhawatiran selama mereka bersama. Inilah yang tidak dimengerti oleh Azaka sebagai seorang raja.
Azaka bertanya-tanya kenapa mereka masih tetap tenang dan tersenyum ketika bahaya nyata yang menunggu mereka besok? Seharusnya orang normal akan ketakutan dan melarikan diri sehingga tidak ingin bahaya ini terlintas di kepala mereka... Apakah ini juga termasuk pengaruh yang diberikan oleh Yuuki atau hal lain?
"Aku terkejut setelah melihat ekspresi kalian. Selama hidupku aku tidak pernah melihat orang dengan ekspresi seceria ini ketika mereka akan menghadapi kematian di dekat mereka... Apa anggota lainnya juga seperti ini?"
"Kami semua memang biasanya seperti ini Yang Mulia." Kata Astia
Sambil tersenyum Lilac menambahkan, "Aku tidak mengerti apa yang Yang Mulia katakan... Tapi dalam situasi apapun kami memang seharusnya tetap berpikir jernih dan selalu tersenyum, bersedih dan panik tidak akan membuat jalan keluar. Kami memang beruntung ada orang seperti master yang menerima kami semua ketika kami tidak mempunyai apa-apa dan dibuang dari desa kelahiran kami."
"Hanya master yang menerima semua kekurangan kami, dan memberikan pekerjaan serta tempat tinggal. Hanya master yang menganggap kami ada. Karena itulah membalas budi dengan nyawa pun tidak akan cukup untuk membayar apa yang telah master berikan pada kami." Amarilis juga membantu Lilac.
"Kalau Tuan Yuuki tidak menyelamatkanku, aku hanya akan dibuang di pinggir jalan dan dilupakan oleh orang-orang sampai membusuk."
"Karena itulah master adalah satu-satunya malaikat penolong kami." Dengan mata yang basah, Marrona juga berkata demikian.
Akhirnya Azaka mengerti, dia bergumam satu hal yang tidak bisa didengar oleh para gadis ketika mereka mengobrol sederhana seperti biasa.
"Huh~ ini bukan hubungan atasan dan bawahan lagi, ataupun sesama rekan kerja. Mereka lebih seperti—"
"Yang Mulia?"
Astia bertanya karena Azaka berkali-kali menghela napas.
Ini memang keanehan bagi Azaka sebagai raja. Bahkan dia tidak menemukan hubungan ini di dalam kepemimpinannya sebagai raja. Bahkan ajudan terpercaya yang paling dekat dari dirinya pun tidak memiliki hubungan seperti itu. Memang aneh, tapi keanehan itu hanya berada di dalam mansion tua yang telah ditinggalkan bertahun-tahun.
"Tidak, tidak ada apa-apa... Baiklah mari kita bahas lebih dalam tentang rencana kita, tapi sebelum itu aku akan memberikan dukungan penuh pada pasukan kalian di masa depan. Semuanya karena semangat kalian!"
"Benarkah?! Itu akan membuat Tuan Yuuki senang, bukan?!"
"Ya!" Gadis lainnya bersemangat menyetujuinya.
Entah kenapa, Azaka yang biasanya sombong dan percaya diri seperti biasa, saat ini dia merasa senang di dalam lubuk hatinya ketika melihat para gadis senang. Kemudian dia mengungkapkan kesimpulan di dalam benaknya.
Baru kali ini aku melihat hubungan keluarga dalam pasukan mereka, tidak— mereka adalah keluarga sesungguhnya.
Setelah mengetahui ini, Azaka lebih yakin kemenangan akan lebih mudah untuk diraih.
"Baiklah, mari kita mulai."
"""Dimengerti Yang Mulia!!""" Serentak para gadis.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya!