I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 15.2




(Illustration for Astia)


Malam itu, sebelum Yuuki membubarkan diskusinya tentang penaklukan monster kelas bencana, para gadis termasuk Astia berkumpul di ruangan Yuuki. Lalu mereka diberi satu arahan atau khususnya Yuuki memberikan sebuah pernyataan kepada Astia.


“Astia, besok aku ingin kamu mengambil alih komando seluruh pergerakan kita.”


Dengan pernyataan seperti itu, Astia hanya bisa heran sekaligus terkejut. Gadis lainnya juga mempertanyakan hal itu.


“Eh? Kenapa tiba-tiba? Bukankah Tuan Yuuki yang selalu memegang komando atau dalam persepsi lain bukankah Lilia yang memimpin jalannya rencana para gadis?”


“Aku tahu itu. Namun kali ini kondisinya berbeda. Kamu dan yang lainnya akan berada di titik timur, yang artinya itu adalah titik utama yang dapat menjangkau semua titik dalam bersamaan. Dalam artian lain maka kamu yang paling cepat mengetahui kondisi permasalahan utama yang menjadi ancaman di Pegunungan Yatze.”


Sesuai yang seharusnya direncanakan oleh para petualang, jika seluruh petualang telah menyelesaikan dan mengamankan titik mereka masing-masing maka titik kumpul mereka adalah berada di titik timur. Itu artinya gerbang masuk untuk melawan monster kelas bencana adalah di sana.


Kemudian Yuuki menambahkan, “Lalu, misalnya ada seseorang di antara kalian bertanya ‘kenapa Astia dan aku tidak berganti posisi penyerangan saja? Dengan begitu akulah yang akan mengambil komando tersebut’ begitu. Penjelasannya sangat sederhana, yaitu Astia jauh lebih kuat daripada diriku. Secara data begitu.”


Astia menggelengkan kepalanya dengan malu, “Eh, tidak, aku tidak begitu.”


“Mungkin kamu tidak menyadarinya. Kalau kamu melawan musuh yang bukan manusia dalam artian ‘jahat’, maka kamu tidak pernah menahan diri. Aku tahu seberapa besar potensi kemampuanmu, jadi dengan kecerdasan dan kelebihanmu akan membuat komandonya menjadi lebih baik. Itu telah dibuktikan saat kamu dan gadis lainnya melawan monster yang bernama Varvatos, sedangkan aku tidak bisa apa-apa melawannya. Apa aku salah?” kata Yuuki.


Yuuki menatap Astia lalu menatap gadis lainnya. Di saat Astia masih meragukan hal itu, di sisi lain gadis yang telah bertarung di sisi Astia yang di antaranya adalah Natasha, Lilac, Amarilis, dan Marrona, menangguk karena kenyataan itu.


Lalu gadis berambut biru langit, Amarilis maju dan memberikan pendapatnya.


“Master benar. Di saat situasi apapun dan dalam pertarungan apapun, Astia sangat bisa diandalkan.”


“Fufu- Benar sekali! Meskipun aku tidak akan berada di posisi timur, tapi dengan adanya Astia maka semuanya akan berjalan sukses!” kata Lilac yang bersemangat.


“Ka-kalian bercanda kan, mengandalkan aku?” Di saat satu persatu menyetujui hal itu, Astia menjadi gugup dan kikuk.


Lalu, Marrona masuk ke dalam pembicaraan, “Nona A-astia sangat bisa diandalkan, jadi aku akan menerima hal itu.” Katanya dengan gugup.


Keraguan dan kekikukan Astia menjadi bertambah, pandangannya terus ke arah yang berbeda-beda dan mengonfirmasi setiap ekspresi setiap orang yang ada di ruangan itu. Untuk memperjelasnya dia harus menanyakan ini kepada gadis lain.


“Na-natasha, apa kau tidak masalah dengan ini?” tanya Astia.


Natasha hanya mengangguk tenang, “Aku sangat menyetujui perkataan master, pernyataannya sudah dibuktikan di saat kita mengalahkan monster yang bernama ‘Varvatos’ dengan komandomu.”


“Eh? La-lalu bagaimana dengan dirimu, Anna?”


Astia hanya ingin menemukan sebuah seseorang yang memiliki kontra terhadap pernyataan Yuuki.


“Tidak, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Kalau tidak ada kesalahan dari perkataan master, buat apa aku menolaknya?”


“Ti-tidak ada? Kalau begitu bagaimana dengan dirimu, Elma? Kalau aku bertukar posisi dan berada di titik timur laut, aku pasti akan menumpas seluruh halangan dalam beberapa menit! Bukankah itu meringankanmu?”


Elma acuh tak acuh dan memainkan rambutnya dengan jarinya ketika dia ditanya oleh Astia. Namun dia menjawab kejanggalan dari perkataan Astia.


“Huh! Bukankah dengan perkataanmu barusan yang akan semakin membuatmu cocok di titik timur. Kalau kau mengklaim seperti itu, itu artinya kau sudah yakin pada dirimu kalau kau bisa diandalkan.”


“Eh...............”


Astia hanya membuat tatapan kosong. Dia tidak percaya kebodohannya keluar dan menentang keinginannya sendiri. Astia sebenarnya tidak ingin dia dipilih mengambil alih komando, tapi secara tidak langsung dia telah menyetujui itu dalam pernyataannya kepada Elma.


Karena itu gadis lain hanya bisa tertawa kecil diam-diam.


“Fu- terima sajalah Astia, kalau masih ragu dengan kualitas dirimu, aku yakin itu hanya perasaanmu saja.” Dari samping, Amarilis menepuk bahu Astia untuk menenangkannya.


Namun Astia tidak menyerah.


“Ka-kalau begitu, bagaimana dengan tanggapan Lilia? Seharusnya dia yang menjadi pemimpin para gadis dirugikan di sini bukan?” tanya Astia.


Kemudian mereka semua melirik ke arah Lilia. Namun Lilia seolah tidak mendengarkan percakapan itu, dan hanya bermain dengan anak serigala yang telah diselamatkan oleh Astia dan Yuuki. Keduanya terlihat menikmati ketika semua orang mengarahkan tatapannya kepada Lilia.


Pemandangan yang cukup unik ketika seorang gadis Elf bermain kecil-kecilan dengan seekor anak serigala, tapi ketika Lilia ditatap, dia seolah merasa tidak bersalah.


“Eh, ada apa?”


Dengan wajah sepolos itu— setelah mengetahui situasinya, Lilia melepaskannya dan terlihat tegang.


“Iya! Baiklah!” katanya yang tegang, lalu, “Umm... aku tidak masalah dengan itu...? Sepertinya melepaskan tanggung jawab dan memberikannya kepada orang yang lebih kompeten, itu jauh lebih baik.” Kata Lilia dengan wajah polosnya.


“Eh................”


Lagi dan lagi, tatapan kosong muncul di wajah Astia. Dia tidak percaya dengan harapan terakhirnya yaitu Lilia, telah hilang begitu saja. Di sisi lain, para gadis mengangguk atas perkataan Lilia.


Baiklah, tidak ada pilihan lain...


Jalan terakhir yang bisa Astia jalani hanya menerimanya, dan setelah banyak yang menyetujui Yuuki, Astia tidak dapat menolak itu tanpa alasannya yang jelas. Ditambah dengan kesalahannya omongannya sendiri membuat dirinya kesal.


“Huh~ baiklah. Aku menerima itu.” Astia hanya bisa menghela napas dan menyetujui rencananya.


“Bagus, kalau begitu semuanya sesuai rencana.” Kata Yuuki.


“““Yooo!!”””


Lalu, Yuuki menambahkan suatu hal yang harus disampaikan.


“Aku tekankan ini pada kalian... Tidak ada Hierarki di antara kita.”


Itulah yang telah disampaikan oleh Yuuki pada malam itu. Pada saat ini Astia telah berada di titik timur penyerangan untuk ‘memata-matai’ pergerakan dari pasukan petualang yang berada di timur.


Astia mendapatkan posisi itu bersama gadis lainnya yaitu Lilia, Amarilis, Annastasia, dan Marrona. Namun pergerakan mereka terpisah, yang terdiri atas Lilia, Amarilis, Annastasia dan Marrona berada di garis depan untuk mengawasi pasukan garis depan petualang.


Sedangkan Astia masih berada di perkemahan petualang di titik timur.


Untuk Koordinasinya, Lilia yang bertugas mengirimkan informasi pergerakan garis depan untuk Astia melalui alat komunikasi seperti sebuah tindik yang dipasang di telinga mereka.


“Untuk saat ini, tidak perlu bantu mereka. Prediksiku mereka akan mundur karena kesulitan menghadapi musuh.” Kata Astia kepada gadis lain di garis depan melalui alat komunikasi itu.


Di saat Astia menyamar dengan peralatan dan pakaiannya yang seperti petualang normal lainnya, Astia terus berkeliling dan memperhatikan setiap tindakan para petualang yang menjadi pasukan pembalas di titik timur tersebut.”


“Kalau ada musuh yang memiliki karakteristik seperti monster yang bernama ‘Varvatos’ itu atau tiba-tiba hutan itu bereaksi menjadi hidup, kalian dipersilahkan untuk membantu mereka secukupnya, lalu pergi dari tempat itu. Aku yakin mereka dapat menyadari bahayanya dan mundur untuk sementara.” Tambah Astia.


“Baiklah!” jawab Lilia dengan serius.


“Kalau begitu, untuk sementara sambungannya akan kututup. Aku akan menjalankan tugasku yang ada di sini. Akan kuserahkan komandonya di garis depan untukmu, Lilia.” Kata Astia.


“Baik!”


Setelah sambungan komunikasinya terputus. Astia pergi ketika pertarungan di garis depan telah berlangsung.


Ketika Astia menunggu panggilan dari Lilia dan gadis lain yang berada di garis depan, Astia berjalan-jalan santai melihat ke seluruh perkemahan dan melihat petualang-petualang lain yang menjadi pasukan pembalas.


Hanya tampilan luarnya yang terlihat meyakinkan dan mencolok dari para petualang itu. Mungkin mereka petualang kelas atas, tapi kualitas tarung mereka masih dipertanyakan oleh Astia.


Lalu Astia pergi ke perbatasan perkemahan tersebut dan melihat sebuah Barrier yang sangat besar menyelimuti perkemahan tersebut, dan itu hampir transparan.


“Um? Apa ini penjagaan untuk perkemahan mereka? Sepertinya terlihat meyakinkan.” Kata Astia.


Dia mencoba menyentuh Barrier itu dari dalam, tapi dia tidak merasakan efek apapun. Seolah jarinya menembus ruang kosong, Astia bergumam sesuatu.


“Apa penghalang ini dibuat untuk mendeteksi musuh atau menghalau serangan dari luar? Atau bahkan keduanya?”


Astia tidak menyadari keberadaan Barrier itu. Mungkin dia telah berada di dalam area Barrier itu sebelum Barrier itu dibuat. Mungkin itu yang membuatnya tidak dikategorikan sebagai ancaman meskipun tujuan Astia adalah untuk memata-matai.


“Mungkin penghalang ini memiliki efek yang begitu luas, tapi sepertinya kemampuanku jauh lebih kuat dan efisien dari ini... Yah itu tidak bisa dibandingkan sih.”


Namun, di saat Astia masih memfokuskan pandangannya pada Barrier itu, seseorang datang.


“Kau yang di sana, apa yang kau lakukan?” Itu adalah suara wanita, “Oh, kau penasaran dengan penghalang itu? Kau bisa menyebutnya ‘Force Field’.”


Itulah kalimatnya, namun Astia mengetahui suara siapa itu.


“Force Field ya...” gumam Astia.


“Ngomong-ngomong, kau berasal dari kelompok petualang mana? Aku tidak melihatmu bersama siapapun. Apa jangan-jangan kau petualang solo?” katanya.


Astia sudah meyakini satu hal, bahwa seseorang yang di belakangnya saat ini adalah seseorang yang sangat dikenali oleh Astia.


Aku tidak menyangka harus bertemu dengan Ellena...


Astia tidak menyangka bahwa Ellena berada di titik timur, itu artinya Gorou juga berada di titik itu. Namun, rencana tetap tidak berubah.


Dengan begitu Astia membuka suara, di saat dia sudah siap memakai topengnya.


“Begitu ya... bisa dibilang aku adalah petualang solo.”


Astia juga perlahan membalikkan badannya.


“K-kau?!”


Mungkin Ellena terkejut melihat identitas dari seseorang yang dipanggilnya. Namun dia melihat gadis itu memakai topeng di matanya.


“Fufu— tapi aku tidak memiliki urusan denganmu disini...”


Astia menaikkan sudut bibirnya kepada Ellena. Mungkin itu bukan ekspresi sebenarnya, tapi itu cukup membingunkan orang lain terhadap identitas asli Astia.


Setelah kalimat itu, Astia langsung menyamarkan keberadaannya ke titik seolah itu adalah ilusi, dan dengan cepat dia pergi dari tempat itu.


“Astia? K-kau itu Astia bukan?!”


Ketika Ellena kebingungan, Astia tidak memedulikan panggilan itu. Kemudian Astia juga melihat seseorang bertubuh besar yang menghampiri Ellena, mungkin itu adalah Gorou. Namun, Astia tidak memiliki alasan untuk berurusan dengan mereka saat ini.


Di saat itu juga, panggilan dari Lilia datang dari garis depan.


つづく


Terima kasih telah membaca cerita ini. Kalau ada typo bertebaran mohon dikoreksi ya...