
Huh~ bagaimana, apa aku harus mengakhiri diskusi ini? Ngomong-ngomong aku tidak mempunyai pembahasan lain...
"Huh~ Ngomong-ngomong bagaimana kondisi Ellena itu? Aku harap dia tidak terlalu mengkhawatirkan kondisiku"
Pada akhirnya aku menanyakan tentang kondisi Ellena pasca penaklukan itu, dia memiliki peran besar dalam menyembuhkan banyak orang termasuk diriku. Lagipula dia juga tidak tahu aku sudah bangun.
Namun, dalam beberapa saat mereka senyap.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku lupa, ternyata master belum mengetahui itu..." itulah perkataan dari Lilia.
Kemudian Astia maju selangkah dan memberitahukan semuanya.
"Tuan Yuuki, sebenarnya sejak penaklukan itu berakhir... Ellena menghilang."
"Apa?" aku terkejut.
Sungguh ini sangat mengejutkan.
"Maaf, Tuan Yuuki. Sebenarnya kami juga masih dalam pencarian, dan Gorou juga sudah keluar kota untuk mencari Ellena."
"Apa Ellena diculik?" tanyaku.
Sungguh aku tidak tahu kenapa ini terjadi. Padahal Ellena memiliki kelebihan untuk melawan manusia yang mengancamnya, tapi kalau itu disebut penculikan maka tidak mungkin. Ellena terlalu kuat untuk bisa diculik kalau kekuatannya seperti itu.
"Sampai sekarang kami masih belum mengetahui itu. Aku kesulitan untuk menelusuri pencarian karena kekurangan informasi." Tambah Astia.
Sepertinya aku yang harus mengambil alih dalam masalah ini. Kemudian aku berdiri dan mengatakan arahanku kepada para gadis.
"Baiklah! Ini adalah misi darurat, aku yang akan mengambil alih. Mulai besok kalian akan kutugaskan untuk mencari informasi tentang Ellena. Ini mungkin akan melelahkan bagi kalian, tapi aku meminta pada kalian untuk memprioritaskan masalah ini."
""Dimengerti master!""
Kemudian aku duduk kembali, dan kembali mengatakan, "Aku akan membagi kalian ke dalam beberapa kelompok."
Ketika mereka masih berbaris sejajar dan masih mendengarkanku dengan serius, untuk mencari keberadaan Ellena maka dibutuhkan informasi untuk menemukannya. Jadi dibutuhkan regu untuk mencari informasi dengan cepat, aku akan memobilisasi mereka untuk mencari informasi dengan sebaik mungkin.
"Pertama aku akan menugaskan Lilia, Annastasia, dan Elma pada satu kelompok untuk mencari informasi di restoran ini."
Karena banyaknya pelanggan dan petualang yang datang, kemungkina mereka bertiga dapat menemukan informasi terkait dan dapat mengetahui kondisi tentag kerajaan ini lebih jauh. Lagipula ini adalah batas maksimal untuk mereka agar mereka tetap bekerja.
Lalu, "Yang kedua adalah regu dari Natasha, Amarilis, dan Lilac. Aku akan perintahkan kalian untuk menelusuri sekitar Pegunungan Yatze, kalian akan menyelidiki tempat dimana Ellena terakhir terlihat."
"Siap! Master!"
"Lalu yang ketikga adalah Astia dan Marrona. Aku akan serahkan tugas kalian dan memfokuskan mencari informasi di luar tempat ini."
Dengan begitu, aku bisa memperbesar kemungkinan hingga dari tiga arah.
"Si-siap master!" kata Marrona.
Astia yang di sampingku mengangguk atas jawabannya.
Setelah banyak hal yang baru dan masalah baru datang. Aku hanya menghela napas sekarang— sebelum kami akan mendapatkan masalah yang akan datang esok hari.
"Baiklah, sekarang kalian boleh bubar." Kataku.
Setelah mendapatkan arahan serta perintahku, satu persatu dari mereka keluar dari kamarku dan menuju ke kamar mereka masing-masing.
Huh~ kenapa ketika aku baru bangun, aku malah mendapatkan tekanan yang seperti ini?
Astia adalah orang yang paling terakhir keluar dari kamarku, tapi sebelum itu dia... tersenyum manis kepadaku.
Sepertinya Astia tahu kondisiku saat ini, dan akhirnya senyuman itu sedikit menenangkan pikiranku. Dia tahu aku khawatir tentang Ellena, tapi dia tidak membiarkanku mendapatkan stres berlebih.
"Kenapa aku malah mengingat kata-katanya itu...?" gumamku.
Setelah beberapa saat, aku menutup mataku ketika aku masih terduduk di kursi meja kerjaku. Sepertinya aku memang masih membutuhkan istirahat...
Lalu, dengan begitu aku tertidur...
****
"Tidak!!"
Aku langsung terbangun, itu adalah teriakan yang keras, berada di dekat kamarku... Itu adalah teriakan dari Astia.
Aku langsung bangun dan menuju ke kamarnya. Aku membuka pintu kamar Astia, kamarnya gelap karena lampu telah dimatikan, dan di saat itu juga aku melihat Astia mengigau dan terlihat menangis.
"Tidak! Tuan Yuuki... aku mohon..."
Aku langsung menghampirinya dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apa mimpi buruk tentang kematian orang tuanya kembali? Aku pikir begitu, tapi kenapa tiba-tiba sekali sejak lama?
"Astia!" gadis lainnya sepertinya terbangun ketika mendengar teriakan Astia yang cukup keras.
"Ada apa ini, Natasha?"
Aku bertanya pada Natasha ketika aku memengangi tangan Astia. Waktu dulu, ketika Astia masih mempunyai penyakit dan mimpi buruk yang berulang-ulang, aku meredakan masalah itu dengan memegangi tangannya. Dengan itu Astia bisa tenang.
"Sebenarnya ini sudah terbiasa terjadi master. Lebih tepatnya setelah kejadian penaklukan itu..."
"Apa?"
Jawaban Natasha terlalu mengejutkan untukku. Padahal seharusnya tentang mimpi buruk Astia tentang orang tuanya sudah lama menghilang, tapi kenapa itu terjadi kembali setelah peristiwa penaklukan itu?
Aku terus berada di dekatnya dan mengelus kepalanya. Aku menatapnya dan menganalisis apa yang terjadi. Pada dasarnya ini hampir sama seperti mimpi buruknya saat dulu, tapi ada yang berbeda darinya— yaitu dia memanggil namaku.
Apa sekarang dia menjadi trauma karena kematianku?
"Maafkan aku master karena tidak memberitahumu. Sebenarnya ini terjadi hampir setiap hari, karena itu kami semua berusaha keras untuk menenangkannya." Tambah Natasha.
Bahkan ini lebih buruk daripada kejadian yang dulu pernah kurasakan dari Astia. Aku sangat bersyukur mereka semua mau menemani Astia yang memiliki gangguan tidur seperti itu, padahal mereka semua jadi terganggu waktu tidurnya.
"Jadi apa penyebabnya?" tanyaku.
Ketika aku bertanya pada Natasha, aku mempersilahkan gadis lainnya untuk menenangkan Astia. Meskipun Astia tidak ingin melepaskan tanganku, tapi segera digantikan oleh Annastasia, sepertinya tangan Annastasia sudah terbiasa untuk menangani Astia yang seperti ini. Sementara itu, aku menjaga jarak dan mengawasinya.
"Aku tidak tahu. Mungkin salah satu penyebabnya adalah tekanan hebat yang dirasakannya saat penaklukan monster itu. Tekanan lainnya juga disebabkan kematian master, tapi..."
Itu adalah beberapa faktor utama...
"Tapi?"
"Sepertinya sejak Astia membawa senjata itu pulang, Astia sering merasakan sakit kepala. Aku pikir itu yang menyebabkannya merasakan mimpi buruk." kata Natasha.
Aku melihat senjata yang disenderkan di dekat lemari buku. Itu adalah tombak yang sama seperti yang digunakan oleh pahlawan masa lalu. Namun senjata itu sekarang berada pada Astia. Sepertinya Astia memang memiliki kecocokan atau memiliki hubungan antara pahlawan itu dan tombaknya.
"Aku juga pernah berpikir kalau tombak itu adalah senjata yang terkutuk, makanya aku pernah mencoba untuk membuangnya tanpa sepengetahuan Astia, tapi senjata itu tidak bisa kuangkat dan menolakku seolah ada setruman yang menyambarku... senjata itulah yang pernah membuatku pingsan. Jadi aku memutuskan untuk tidak menyentuhnya lagi." Tambah Natasha.
Dengan penjelasan yang seperti itu, aku malah lebih yakin kalau tombak itu memiliki kecocokan dengan Astia. Aku tidak tahu darimana aku menjelaskannya, tapi aku hanya merasa begitu.
Kemudian aku mendekat ke arah tombak panjang itu. Aku tidak melihat keanehan di tombaknya— hanya sebuah tombak panjang yang ramping dan kokoh, berwarna merah kegelapan. Tombak ini berdiri di samping lemari buku dan bersender ke arahnya.
Kalau tombak ini benar-benar berat dan menyetrum, maka lemari buku ini pasti akan jatuh dan terbakar. Kalai begitu aku yang akan mencobanya sendiri.
"Master, jangan! Senjata itu bisa membuatmu pingsan." Natasha sepertinya ingin melarangku, tapi aku akan mencoba nekat.
Aku langsung mengambilnya tanpa perlu kusentuh terlebih dahulu.
"Master...?" semuanya terkejut ketika melihatku.
Aku telah memegang tombak ini, dan berhasil mengangkatnya tanpa setruman sama sekali. Ini sangat ringan dan pas untuk genggamanku.
"Bagaimana bisa master?" Natasha juga terkejut melihatku.
Aku pun juga terkejut, tapi aku segera menaruhnya kembali.
"Aku tidak tahu, tapi tombak ini lebih ringan daripada pedang lamaku."
"Sepertinya kita harus menanyakan ini lebih lanjut kepada Astia."
Itu benar. Aku mempunyai banyak pertanyaan untuk Astia, tapi aku akan menahan pertanyaan itu hingga Astia benar-benar pulih dari trauma kematianku.
Mungkin memang benar aku telah hidup kembali, tapi rasa sakit dari Astia tentang kematianku adalah kenyataan. Karena itu aku tidak bisa menyalahkan Astia atas kondisi ini.
"Tuan Yuuki... jangan tinggalkan aku..."
"...."
Astia masih terus menangis dalam tidurnya, sambil memanggil namaku dengan sedih.
Kalau aku benar-benar mati dan meninggalkannya, aku hanya meninggalkan trauma yang sangat buruk untuknya. Aku tidak sanggup melihat itu kalau itu benar-benar terjadi.
"Saat itu..." kata Natasha, kemudian dia melanjutkan, "Ketika kami meratapi kepergianmu, hanya Astia yang hampir kehilangan kewarasannya hingga mencoba menikam jantungnya sendiri. Aku sadar saat itu juga, kalau Astia sangat menyayanginmu lebih dari apapun termasuk dirinya sendiri."
Aku tidak bisa berkata-kata atas pernyataan Natasha. Aku juga tidak tahu menanggapi pernyataan ini dengan apa...
Inilah kenapa Astia sangat marah ketika ada orang lain yang menyerangku atau menghinaku. Detik ini aku menyadari bahwa, Astia benar-benar tertekan meskipun sudah terlepas dari penaklukan monster itu dan peristiwa yang meliputinya.
"Aku mungkin akan merasakan hal yang sama seperti Astia— Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan kalau kami kehilanganmu untuk selamanya, master."
Aku merasakan kalau aku adalah simbol dari semangat hidup mereka. Aku tidak tahu darimana pemikiran itu berasal tapi— mungkin aku hanya bisa berharap kalau aku bisa memenuhi rasa keinginan hidup mereka. Namun, lagi dan lagi aku tidak bisa menjanjikan hal itu karena pada dasarnya aku adalah manusia biasa yang bisa mati kapanpun.
Oleh karena itu, "Terimakasih, aku sangat senang kalau kalian berharap itu padaku." Gumamku.
Kemudian aku mulai beranjak dari kamar Astia.
"Master?" Natasha memanggilku.
"Maaf, sepertinya aku masih terlalu kelelahan. Jadi aku akan menyerahkan Astia pada kalian."
Aku langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari mereka. Sebenarnya aku pergi karena aku butuh ketenangan untuk berpikir. Bisa dibilang aku benar-benar kelelahan, itu karena aku tidak tahu menanggapi kondisi Astia dengan apa, ini terlalu rumit untukku.
Bukan berarti aku membiarkan Astia, tapi setelah aku mendengar pernyataan Natasha, aku benar-benar termenung sesuatu.
Kalau aku mendapatkan sesuatu yang buruk hingga aku menemui ajalku kembali, itu artinya Astia akan mengikutiku dengan cara membunuh dirinya sendiri. Itulah yang dibuktikan dari pernyataan Natasha atas tindakan Astia setelah melihat kematianku di depan matanya.
Aku sangat tertekan kali ini dan mengalami stres yang berat. Kehidupan mereka semua bergantung pada kehidupanku, dan itulah yang membuatku terpaksa untuk menjadi lebih kuat agar tidak menimbulkan kematian untuk rekan-rekanku.
"Huh~" Aku melepaskan stresku dengan menghela napas, dan semuanya mengalir begitu saja.
Jadi aku akan berfokus pada hari esok dan memulai semuanya kembali dari awal.
つづく
Kalau ada typo mohon dikoreksi ya, terima kasih!
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit!