
"Baiklah, sekarang giliran informasi yang telah aku dan Natasha dapatkan." Kataku yang berdiri lalu berjalan ke arah jendela, "Tapi sebelum itu..."
Kemudian aku membuka jendela dengan tanganku dan melihat ke arah hutan.
Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku atau memang ada yang memperhatikan kami, tapi aku dari tadi terus merasakan kalau ada yang terus-menerus memperhatikan kami dari balik pepohonan sejak pembicaraan ini dimulai. Aku sudah menduga hal itu, tapi karena kehadirannya tidak mengancam jadi aku biarkan saja.
"Ada apa master?" Karena melihat tindakanku menjadi aneh, Natasha yang pertama kali menannyakannya.
"Sepertinya dari tadi ada yang menguping pembicaraan kita." Tidak ada salahnya memberitahu kepada para gadis.
"A-apa, bukankah itu gawat?"
Aku kembali duduk di kursiku dan menjawab kegelisahan Natasha, "Tidak juga. Aku hanya berpikir dia adalah orang yang memiliki tujuan yang sama seperti Ellena."
"Mungkin benar..." Kata Liila ketika dia melanjutkan perkataannya, "Sepertinya setelah Elma membuat sebuah keributan saat pertemuan para petualang itu berlangsung, petualang lainnya juga memberi perhatian kepada Elma. Jadi tidak heran kalau ada yang membututi kita seperti cewek ini hingga saat ini."
Perkataan terakhir Lilia ketika dia melihat ke arah seorang perempuan yang sedang duduk sambil menyilangkan tangannya dengan ekspresi kecewa.
"Sudah kubilang berkali-kali, aku punya nama tahu!" Dia adalah Ellena yang sedang menyesali kesalahannya karena kesalahpahaman terhadap kelompok ini.
"Elma membuat keributan? Apa itu?" Karena Lilia menyebutkan hal itu, aku jadi penasaran.
"E-eh, itu... Aku... Elma..." Lilia menjadi panik, aku rasa dia tidak percaya diri karena dia merasa ini adalah kegagalannya sebagai pemimpin regunya. Padahal aku tidak terlalu memikirkannya.
Kemudian tanpa diduga gadis lainnya, Elma maju ke samping Lilia dan memegang tangannya untuk menenangkan Lilia.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf master, karena telah cukup merusak jalannya rencana itudan menjadikan kita kelompok yang patut diwaspadai oleh petualang lain. Pada akhrinya ini adalah murni kesalahanku, dan ini bukan kesalahan Lilia karena tidak menunjukkan aku cara yang benar."
Aku hanya bisa terheran ketika cara bicara Elma seketika berubah saat berbicara denganku. Aku benar-benar tidak tahu penyebabnya, tapi padahal kalau cara bicaranya tidak berubah sama seperti ketika dia berbicara kepada gadis lain, aku malah merasa dia tidak mencoba menjajauh dariku, dan itu bagus. Namun, dalam momen ini, aku merasa Elma hanya ingin menunjukkan rasa hormatnya kepada diriku.
Aku mengerti perasaan itu sampai batas tertentu.
"Baiklah, itu tidak perlu dipikirkan. Selama kau mengerti, aku tidak akan mempermasalahkannya lebih jauh. Aku juga tidak membenci sifat dan perilakumu seperti biasa. Malahan di saat kau menjadi dirimu sendiri dan tidak terpengaruh orang-orang, aku menyukai orang yang seperti itu."
"Eh? Itu..."
Aku mengabaikan reaksi gadis lainnya dan ekspresi rumit Elma yang tidak pernah ia tunjukkan selama ini. Jadi aku beralih ke catatan yang sudah kubuat dan menganalisanya dalam beberapa saat. Aku juga memikirkan hal lain sambil melakukan pekerjaanku.
Huh~ aku hanya bisa keheranan. Padahal orang yang paling banyak mempunyai wajah palsu adalah diriku sendiri, bahkan aku hampir lupa sosok diriku yang asli itu bagaimana. Jadi aku hanya bisa menggigit lidahku sendiri.
"Baiklah, mari kita kembali ke topik." Kataku ketika para gadis membuat keributan kecil.
Aku akan menjelaskan beberapa hal yang telah aku dan Natasha dapatkan ketika perjalanan tadi.
"Pertama, kalian tidak usah berharap dengan keamanan di titik utara dan timur laut arah pegunungan Yatze. Monster tingkat tinggi dan Wyvern berada di sana. Penilaianku juga ternyata sama dengan laporan yang diberikan oleh Regu Lilia."
Ketika Astia dan para gadis mendengarkanku, aku melanjutkan penjelasanku.
"Perjalananku dengan Natasha menuju titik selatan adalah keputusan yang terbaik untuk dilakukan. Dari tempat itulah kami menyadari kalau struktur permukaan dan kondisi Pegunungan Yatze telah berubah, itu artinya di titik lain juga berkemungkinan besar dapat berubah."
Itu adalah faktanya. Jauh sebelum aku terlempar ke dunia ini, tempat itu dulunya hanya memiliki monster kelas rendah dengan kondisi alam yang tidak memiliki ancaman berbahaya. Perbedaan yang signifikan terdapat jurang yang tidak alami, dan juga kondisi alam yang tidak disebabkan oleh alam. Itu saja sudah membuat perbedaan itu menjadi aneh.
"Kami memutari ke belakang pegunungan untuk mendapatkan jalur teraman, tapi kami menemukan sesuatu yang cukup aneh. Seperti sebuah gua yang memiliki aura kekacauan, kabut tebal yang mencurigakan, dan kami sempat berhadapan dengan iblis."
"Binatang iblis?" Lilia terheran karena bingung dengan perkataanku, "Bukankah makhluk itu hanya berada di tempat yang berbahaya?"
Yah, kebingungannya sama persis seperti yang dialami oleh Natasha.
"Mungkin dengan perubahan kondisi di sekitar Pegunungan Yatze, yang membuat binatang iblis itu membuat habitat di sana. Dengan kondisi berbahaya tersebut, itu sudah termasuk kriteria binatang iblis itu ada di sana."
"Oh begitu, aku hampir melupakannya. Kalau binatang iblis itu ada di sana, apa artinya monster-monster lemah di sana akan menjadi lebih kuat?" Tanya Lilia.
Namun Natasha yang menjawabnya, "Itu mungkin bisa terjadi, sama halnya seperti kita. Kalau di lingkungan tempat monster lemah itu menjadi semakin keras, dengan tanpa sadar monster lemah itu akan menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya, meskipun itu akan membutuhkan waktu."
Aku hanya bisa mengangguk tenang setelah perkataan Natasha.
"Apa itu proses dari tujuan bertahan hidup?" Tanya Lilia kepada Natasha.
"Benar sekali. Mereka akan menjadi kuat hanya untuk bertahan hidup, sama halnya seperti kita."
Dengan pemahaman dari Natasha yang cukup hebat, dia membimbing rekan-rekannya ke sasaran yang tepat. Itulah yang membuat kadang-kadang aku kesulitan melawan kecerdasannya saa aku berlatih dengan para gadis.
"Hal yang kutemukan berikutnya adalah tumbuhan beracun yang berkemungkinan aroma dari tumbuhan itu akan membuatmu berhalusinasi, menyentuhnya saja juga akan membuat kelumpuhan pada dirimu. Dalam kasus terberat itu akan membuat merusak pikiranmu sehingga kau tidak akan sadar, sama seperti yang telah dialami Natasha."
"Natasha?"
Mereka semua menatap Natasha setelah perkataanku. Mungkin salah satu mereka bertanya-tanya dalam diri mereka. Kenapa hanya Natasha yang terkena hal itu sedangkan aku tidak?
Aku juga bahkan tidak mengerti hal itu.
"Itu bukan hal yang terburuk. Bahkan kami dipaksa berhadapan dengan seorang dalang yang membuat banyak petualang menghilang di hutan itu."
"Bahkan dengan kekuatan penuhku dan master tidak mempunyai efek apapun padanya, sebelum semuanya berakhir karena kedatangan regu Astia." Tambah Natasha sambil menjatuhkan pandangannya karena frustasi.
Regu Lilia yang terdiri dari dia sendiri, Annastasia dan Elma sedikit terkejut dengan hal itu. Mungkin mereka kebingungan karena aku tidak memberitahu mereka tentang regu Astia menyusul ke tempatku.
Kalau salah satu dari mereka menanyakan hal itu karena aku tidak memberi informasi itu kepada mereka, aku akan menjelaskannya. Ya benar, karena itu aku mengangguk dengan tenang.
Hah?
"Master yang telah mengalahkan kami bertujuh dengan mudah, bisa kalah?"
Aku tidak tahu apakah Annastasia sedang mengejekku atau tidak, tapi dia yakin menilai kemampuuanku setinggi itu?
Bahkan aku tidak berpikir dia akan heran karena hal itu. Huh, aku pikir dia akan heran karena secara tidak langsung aku telah meninggalkannya.
Jadi aku tidak ada pilihan lain selain menjawab kebingungannya.
"Annastasia, aku tidak ingin membuatmu berpikir kalau aku bisa melakukan hal apapun bahkan bisa mengalahkan monster tingkat tinggi. Tapi, alasan aku bisa bertarung dan mengalahkan kalian semua karena aku jauh lebih unggul dalam segala aspek. Jadi kalau mau membandingkan aku dengan petualang dalam segi kualitas dan pengalaman mereka melawan monster, jelas mereka lebih baik."
Itu adalah kebenarannya. Bahkan petualang kelas rendah pun dapat mengalahkan monster kelas menengah sekalipun dengan koordinasi yang mereka jalani selama bertahun-tahun. itu semua karena pengalaman mereka.
Sedangkan aku? Aku harus menemukan informasi tentang musuh terlebih dahulu, sehingga mengalahkan mereka harus membutuhkan waktu yang lebih banyak.
"Jangan bilang begitu Anna..." Amarilis masuk ke dalam pembicaraan, "Wajar saja kalau master kesulitan. Itu karena master tidak mempunyai tujuan melatih kita untuk bertarung melawan monster. Tujuan master berbeda dengan itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi untuk saat ini masih tetap begitu. Lagipula monster yang telah dilawan master dan Natasha juga diluar pemahaman manusia kok!"
Huh~ untung saja Amarilis menambahkan hal itu.
"Huh~ Kupikir kita sudah tidak ada kesempatan untuk mengalahkan master." Kata Annastasia sambil menghela napas, "Kalau begitu, artinya kalian sudah menemukan kelemahan master di saat master kalah, bukan?"
Atas pertanyaan Annastasia, para gadis membalasnya dengan senyuman. Mereka tersenyum karena mereka berpikir dapat mengalahkanku karena alasan itu.
Yah, mau bagaimana lagi...
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberikan kalian semua hal dan informasi yang telah aku dan Natasha dapatkan. Aku juga akan memberikan rencanaku untuk esok hari." kataku kepada para gadis.
Setelah hal itu aku memberikan semua hal yang telah kuanalisis, dari segala aspek yang akan menjadi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Semoga rencanaku ini tidak mempunyai sesuatu yang 'bolong', yang dapat merusak sedikit saja rencanaku, untuk berhasil menaikkan persenan kesempatan menang melawan monster kelas bencana.
Para gadis juga berperan penting dalam mengatasi kekurangan dalam rencanaku, dan itu sangat dibutuhkan.
Aku juga menulis itu dalam kertas perkamen yang kugulung dan kuikat. Salinan itu yang akan kukirimkan kepada Raja Azaka.
Dan akhirnya diskusi ini berakhir.
"Marrona, berikan gulungan ini kepada Raja Azaka...." kataku.
"E-eh? Ba-baik."
Sebelum aku memberikan perkamen ini pada Marrona, aku menekankan pada suatu hal.
"Ingat, hanya Raja Azaka yang boleh menerima hal ini."
"Ba-baik!"
Sudah dari kebiasaan dan sifat dari Marrona yang membuat dia menjadi kikuk. Jadi aku bisa menerimanya.
"Oh iya, kau juga akan ditemani oleh Astia." Tambahku.
"Aku?" Astia menunjukkan kebingungannya dan menunjuk dirinya sendiri.
Yah padahal Astia tidak perlu bertanya kenapa aku memilihnya, seharusnya dia mengerti. Apa dia masih marah kepadaku ya karena aku tidak menerima genggaman tangannya saat tadi?
"Ya, ini untuk berjaga-jaga saja. Aku juga tidak mungkin membiarkan Marrona sendiri di malam hari."
"Oh itu alasanmu."
Sepertinya Astia sedang menerka jawaban lain barusan.
"Jadi kalian boleh bubar dari ruangan ini... Dan karena sudah malam, aku akan mengizinkan Ellena untuk menginap sehari saja di rumah ini."
Setelah perkataanku, gadis lain memberikan keluhannya.
"Eh, bukannya wanita itu harus dihukum karena mencoba menyusup ke rumah orang?" Itu adalah Lilia.
"Tidak, aku tidak akan menghukum orang atas kebodohan mereka." Kataku sambil membuka buku, acuh tak acuh atas pertanyaan Llilia.
Sepertinya sejak awal diskusi ini dimulai, Ellena terus frustasi. Aku juga tidak bisa membayangkan seberapa malunya dia menghadapi kami, sehingga dia tidak bisa menatap wajahku.
"Kalau begitu, Lilia..." Aku memanggilnya, lalu Lilia meresponku dengan sebuah anggukan, "Antar Ellena ke kamarnya."
"Baik, master!"
Setelah itu semua orang meninggalkan kamarku, dan Lilia mengantar Ellena ke kamarnya dengan senyuman di saat Ellena pasrah dengan keadaan.
"Huh~ Akhirnya aku mendapatkan kembali ketenanganku." Gumamku setelah aku menghela napas dalam-dalam.
Aku mencoba mengistirahatkan tubuhku dan menutup mataku meskipun hanya beberapa menit sebelum Astia kembali dan memanggilku untuk makan malam. Saat ini Astia sedang menemani Marrona untuk menemui Raja Azaka. Jadi aku akan menantikan dia memanggilku kembali dengan suaranya yang membuat ketenangan.
Sejak aku pergi ke Kekaisaran Engrayn, aku belum pernah mempunyai waktu istirahat yang cukup dan itu cukup merusak tubuhku. Huh, setidaknya aku akan beristirahat sampai Astia memanggilku.
つづく