
Apakah ini adalah pengalaman yang terburuk yang kualami? Kalau aku harus menjawab, maka aku harus mengatakan ‘ya’ sebagai jawabannya.
Bagian dadaku hingga ke perut telah dibanjiri darah karena tebasan akar itu, leherku juga berdarah karena sayatannya. Bahkan aku tidak bisa menghindari hempasan yang membuat pendarahan di kepalaku.
Jadi aku hanya bisa tersungkur lemah tanpa bisa menggerakan satu jari pun.
Huh~ kupikir ini adalah hukumanku atas perbuatan dosaku kepada Astia. Bahkan dengan rasa sakit yang luar biasa ini, aku masih mendapatkan kejernihan dan ketenangan otakku. Jadi apakah aku benar-benar menyesali perbuatanku itu?
“Master...?”
Mereka semua menatapku kebingungan, terlambat menyadari atau bahkan tidak menyangka kondisiku akan seperti ini sekarang.
“Tuan Yuuki!! Tidak!!”
Mata Astia melebar, terkejut dengan kondisiku seperti ini. Kemudian mereka semua menghampiriku satu persatu. Yang pertama kali datang kepadaku dan mengkhawatirkanku hingga kepanikan memenuhi dirinya adalah Astia.
“Tuan Yuuki, tidak! Ini tidak mungkin... Aku mohon padamu Tuan Yuuki... tolong jangan tinggalkan aku sendirian...”
Kemudian Ellena datang dan langsung menyembuhkanku dengan sekuat tenaga. Tapi tetap saja, darah terus keluar dari mulutku.
"Tidak! Yuuki..."
Namun aku masih mendapatkan ketenanganku di saat Astia menangis seperti itu. Gadis lainnya juga datang kepadaku dan menunjukkan ekspresi sedih mereka.
“Master... ini bohong kan...? Ini bukan waktunya pelatihan bersama master. Karena itu, jangan membuat tipuan seperti ini master...” Lilia mengangkat tanganku dengan tangannya yang hangat.
Ini bukanlah tipuanku untuk para gadis seperti tipuanku tempo hari, tapi ini adalah kenyataan. Aku benar-benar sekarat dan fakta bahwa darah yang keluar ini bukanlah sebuah trik
“Aku akan senang kalau aku berhasil menipu kalian kalau seperti itu situasinya.” Kataku.
“Aku harap seperti itu...” Lilia terus menangis di atas tanganku.
“Tapi Lilia... ini bukanlah akhirku.”
“Eh?”
Ini benar. Aku tidak bisa berhenti dan mati tanpa meninggalkan kesan apapun. Setidaknya aku ingin perbuatan terakhirku akan berguna untuk keberlangsungan hidup mereka semua. Ini juga bisa dibilang penebusan dosa?
Namun, untuk menjalankan hal yang seberat hal itu, aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk dipulihkan oleh penyembuhan Ellena.
“Benar, Lilia. Setidaknya aku akan menepati janjiku pada kalian.” Yaitu, tidak membiarkan mereka kehilangan nyawanya.
Namun untuk menjalankan hal itu aku harus meminta sesuatu kepada Astia. Ini permintaan yang berat tapi mungkin ini adalah hasil analisisku hingga saat ini.
“Sebelum itu aku ingin meminta sesuatu padamu, Astia.”
“Eh? Baiklah... aku pasti menepati apapun permintaan itu Tuan Yuuki. Jadi jangan tinggalkan aku...”
Aku sedikit tersenyum atas pernyataan Astia, jadi...
“Aku ingin kamu mengambil tombak panjang milik ‘pahlawan’ yang ada di sana Astia. Lalu, kamu yang memakai tombak itu, Astia.”
Seluruh ekspresi bingung mendapati seluruh orang, tapi aku mempunyai alasannya. Sebelum itu, Astia kembali mengatakan kalimatnya.
“Tuan Yuuki, tombak itu bukanlah milikku. Aku bahkan tidak bisa menggunakan senjata itu.”
“Aku tahu itu...”
“Jadi...!”
Sekarang aku akan memberikan penjelasnnya.
“Aku tahu itu bukanlah senjata milikmu, tapi milik petualang pahlawan di masa lalu yang telah menyegel monster itu. Tapi bukankah hal yang aneh kalau dirimu selalu disamakan persis sebagai pahlawan oleh monster itu.”
Kemudian Raja Azaka juga datang, dan memberikan pernyataannya.
“Itu benar, Astia. Kesempatan itu patut dicoba... Kami yang ada di sini meyakini kalau kau bukanlah pahlawan. Namun, aku akan mengkonfirmasi bahwa energi sihirmu sama persis seperti tombak itu.”
“Yang Mulia...?”
Setiap kemungkinan pasti ada. Meskipun persentase bahwa Astia adalah pahlawan sebenarnya itu sangat kecil, tapi aku tidak akan menutup kemungkinan kalau tombak yang menyegel Hydra itu dapat digunakan oleh Astia.
“Astia, aku seratus persen percaya padamu. Seperti yang aku tekankan— aku tidak peduli kamu orang yang seperti apa. Kau tetaplah Astia yang kukenal.”
“Tuan Yuuki...”
Setelah beberapa detik, Astia memutuskan...
“Baiklah, aku akan mencobanya!” cahaya dari mata Astia kembali.
“Bagus kalau begitu.”
Kemudian Astia berdiri, dan melakukan itu semua. Ketika Astia ingin mencoba segala kemungkinan yang ada, aku akan mengistirahatkan tubuhku dan menenangkan tubuhku sambil memikirkan rencana yang selanjutnya...
****
Astia berdiri dan berusaha memantapkan semangatnya dalam menetapkan niatnya. Dia mengencangkan sepatunya dan menyarungkan pedangnya. Saat ini Astia akan mencoba sesuatu yang baru— yang belum pernah dia coba selama hidupnya.
“Baiklah, Astia. Kau hanya perlu fokus pada energi yang kau rasakan itu pada tombak itu.” Kata Raja Azaka, “Kau pasti akan menyadari bahwa energi yang berada di tombak ini sama persis dengan energi milikmu.”
Sekarang Raja Azaka mengarahkan Astia untuk mendapatkan tombak itu tanpa mengambilnya langsung.
“Karena kau memiliki kesamaan dengan tombak itu, aku yakin kau dapat memanggil tombak itu.” Tambah Raja Azaka.
“Baiklah...”
Astia memokuskan pikirannya pada sebuah tombak panjang yang berada di jauh belakang sana— ketika dia mengarahkan tangannya ke depan.
Sebuah listrik hitam bercabang tercipta, gesekan energi membuat energi hitam muncul yang berada di sekitar tangannya.
Kemudian, Astia memegangnya— sebuah getaran listrik dapat dia rasakan seperti sengatan.
“Ini...?” Astia dapat merasakannya, sebuah tombak panjang itu berada pada genggamannya, dan sangat ringat ketika ia pegang.
Bzzt!!
“Astia!” gadis lainnya panik dengan kondisi Astia yang berubah tiba-tiba.
Astia langsung berlutut, kesakitan sambil memegang kepalanya.
“Kuh! Apa ini?”
Rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya. Dia tidak mengetahui apa maksudnya itu, tapi sebuah informasi yang tidak dia ketahui, telah memaksa masuk ke dalam otaknya.
Informasi yang tidak pernah dia terbayangkan, rasa sakit yang berlebihan hingga mempengaruhi mental Astia. Hingga saat itu— hanya beberapa detik, Astia mengeluarkan air matanya.
Dia menangis. Sebabnya adalah karena informasi yang telah dia terima ketika Astia memegang tombak itu.
“Ada apa Astia?” karena kondisinya, Lilia maju dan mengkhawatirkan Astia.
“Ti-tidak, aku tidak apa-apa...” meskipun Astia menerima rasa sakit yang luar biasa di kepalanya, tapi dia mencoba berdiri dan melanjutkan, “Ternyata begitu... semua ini adalah kejadian yang berulang... tombak yang menyegel monster itu, semuanya ada alasannya.”
“Apa maksudmu, Astia?
Kemudian Astia menatap Lilia ketika air mata terus mengalir dari matanya, “Maafkan aku Lilia, saat ini aku belum bisa memberitahumu.”
Meskipun Astia memberitahunya, maka akan membuat kebingungan yang besar pada Lilia
“Astia, kau...?”
Astia memang tidak dapat menyangkanya, mendapatkan informasi seperti itu akan membuat kenyataan menjadi rasa sakit. Astia sekilas melihat itu, tapi hatinya sudah tidak tahan dengan tekanannya.
Tidak ada yang tahu informasi apa yang didapakan Astia, tapi saat ini perasaan Astia telah hancur.
Karena itu, saat ini Astia sangat marah kepada Hydra itu. Monster itu telah membuat Yuuki mendapatkan kondisi seperti itu.
“Kau...!”
“Hahahaha! Ternyata benar sesuai dugaanku! Pria ‘rusak’ itu adalah ‘otak’ bagi kalian. Hanya diriku melenyapkan satu manusia itu, akan membuat kalian kacau!”
Kemarahan Astia tidak terbendung. Dengan perubahan yang dramatis, seluruh pakaian Astia telah berubah menjadi pakaian yang sangat berbeda dan warna yang juga berbeda.
“Astia... rambutmu...?”
Seperti yang dikatakan Lilia. Rambut Astia berubah menjadi panjang secara dramatis. Rambutnya bahkan melebihi kepanjangan dari rambut Annastasia.
Seluruh orang yang ada di tempat itu terkejut ketika melihat perubahan Astia yang terelalu drastis. Rambutnya memanjang dan pakaian tentaranya berubah menjadi pakaian yang terlihat seperti gaun— berwarna ungu gelap.
“Akhirnya kau menunjukkan identitasmu sebenarnya, pahlawan!”
Atas perkataan Hydra itu, membuat orang lain tambah terkejut. Tidak ada yang menyangka kalau Astia adalah ‘pahlawan’ yang berada dalam sejarah, dan dirumorkan banyak orang tentang kebenarannya.
Sekarang mereka semua menatap gadis cantik yang dianggap ‘pahlawan’ oleh monster itu.
“Maaf, aku tidak pernah mengklaim diriku sebagai pahlawan... Aku juga bukanlah pahlawan itu...” setelah dia melakukan kuda-kudanya dengan tombaknya, Astia melesat dan berteriak, “Aku adalah Astia!!”
Kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata siapapun, pergerakan Astia menjadi terlalu cepat hingga tidak bisa direaksi oleh Hydra itu. Pola serangannya juga berubah daripada ketika dia menggunakan pedang.
Sekarang Astia terlihat seperti Astia yang berbeda.
Jutaan serangan dilesatkan, Astia melempar tombaknya hingga ke sekian juta kali, sehingga tubuh Hydra itu terkoyak hingga habis.
“Mengesankan pahlawan! Kekuatanmu tidak pernah berubah!”
Meskipun Monster itu terus diserang oleh Astia, tapi dia tetap tertawa ketika tubuhnya terkoyak. Namun Hydra itu mengubah tempo kecepatannya ke level Astia berada.
Kecepatan Astia saat ini melebihi kecepatan Rose yang tercepat, bahkan Rose yang memiliki keunggulan itu tidak bisa melihat pergerakan Astia. Waktu seolah menjadi beku akibat serangan bertubi-tubi dari mereka.
Jutaan energi hitam pekat yang lebih kuat dilesatkan ke arah Astia, tapi Astia melemparkan tombaknya ke arahnya hingga membelah energi itu seperti anak panah yang menembus kertas.
Tombak itu menembus pertahanan dan serangannya hingga menembus tubuh dan jantung Hydra itu.
“Kau pikir dengan menembus jantungku akan membuatku mati?”
“Tentu saja tidak, bukan?”
Tatapan dari Hydra itu salah, dia tidak dapat melihat keberadaan Astia dari arah manapun.
“Namun aku akan mengubah takdirmu dan menyegelmu kembali.” tambah Astia
Astia berada jauh di atas Hydra itu, dia tidak akan bisa menghindar dari serangan berikutnya dari Astia.
“Apa?”
Sebuah aura ungu menyelimuti Astia, lalu akar-akar tajam melesat dengan kecepatan tinggi.
“Terlalu lambat!”
Astia menghindari semuanya, auranya membakar kecepatan serang Hydra itu secara pasif. Terjun bebas dan lesatan Astia membuat cahaya dan aura ungu menyelimuti Astia seperti anak panah yang dilesatkan.
“Tidak mungkin kau lebih kuat dari sebelumnya!!”
Ketika hujanan serangan yang diarahkan oleh Astia seorang, Astia menghindari semua itu dengan mudah. Lalu Astia merapalkan kalimatnya ketika sebuah aura ungu gelap yang merobek udara menyelimuti tombaknya...
“Inilah kemampuanku~ tidak ada di dunia ini yang tidak bisa kubunuh...”
Astia terus melesatkan arah serangannya dengan terjun bebas.
“Tombak ini adalah diriku, diriku adalah tombak ini! Tunjukanlah seluruh kemampuan yang ada! Pencapaianku! Pengabdianku!”
Di udara, Astia terus melesat dengan kecepatan tinggi disertai kuda-kudanya. Lalu Astia menarik tombaknya ke belakang dan segera melesatkannya.
“Gerakan spesial diaktifkan! GAE BOLG!!”
Sebuah tombak melesat, merobek udara serta ruang itu sendiri. Bergerak lurus dan membuat tornado di sekitarnya— menghentikan jalur penghentian waktu dari yang telah Hydra itu lakukan. Badai petir berwarna ungu gelap menyelimuti tombak itu sehingga itu adalah mimpi buruk yang telah dirasakan setiap orang.
Ledakan masif mendestruktif setiap lapisan tubuh Hydra itu— mengancurkan kemampuan penghentian waktu yang telah dilancarkan monster itu hingga ke tahap mendasar. Bahkan tidak ada waktu untuk Hydra itu menghindar dengan kemapuan teleportasinya.
Seluruh cahaya merah menyelimuti sudut gua itu hingga kecerahannya dapat menerangi seluruh gua. Ledakan semasif itu, tidak ada yang bisa hidup dan tidak ada yang bisa menghindarinya.
Astia mendarat dengan sempurna. Tangannya dia angkat, lalu tombak panjangnya datang dengan sendirinya, seperti alat otomatis yang disetel untuk majikannya.
“Astia! Kau berhasil?!” Lilia berteriak kesenangan ketika dia tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan dari Hydra itu.
Tapi Astia langsung sakit kepala sejenak, “Ugh!”
Namun itu hanya sementara. Tubuhnya kembali ke asal mulanya— rambutnya kembali memendek, pakaiannya kembali ke pakaian tentara ‘Tomoe Garden’ miliknya. Satu hal yang pasti adalah bahwa tombak itu tidak ikut menghilang bersama yang lainnya, itu masih sangat ringan ketika Astia bawa.
Padahal tombak itu pernah menghancurkan Barrier Raja Azaka seperti kaca.
“Astia...?”
“Tenanglah, Lilia. Aku masih Astia yang kau kenal.”
Meskipun Astia tadi merasakan sakit di kepalanya, tapi sekarang dia baik-baik saja.
Kemudian orang lain menghampirinya, “Aku tidak percaya kau adalah pahlawan yang melegenda itu...” itu adalah Rose.
Untuk sementara, Astia sengaja mengabaikan pernyataan dari Rose. Kemudian Astia berlari menghampiri Yuuki berada.
Tapi sebelum itu...
Boom!!
Ledakan terdengar dan keberadaan makhluk muncul dari sebuah tempat.
“HAHAHAHA! Kau salah pahlawan! Aku tidak akan mati hanya dengan serangan yang sama!”
Semua orang terkejut dan tidak percaya ketika secara dramatis tubuh Hydra itu terkonstruksi.
“Se-sekarang dia bisa mengubah takdirnya dan penyegelannya...?! Ugh!” setelah mengatakan itu, Astia langsung berlutut dan merasakan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.
“Astia!”
“Ugh! A-aku harus melawannya kembali...” kata Astia yang berusaha berdiri kembali.
“Tapi kau tidak bisa! Kondisimu sudah pada batasnya!”
Lilia benar. Seluruh energi yang dimiliki oleh Astia telah habis. Itu terlalu cepat daripada yang diperkirakan oleh Astia, ternyata dengan perubahan yang medadak— menguras tenaga Astia berkali-kali lipat.
Namun, mereka semua harus memikirkan cara sebelum Hydra itu membuat serangan balasan.
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya! Kalau ada typo mohon dikoreksi, terima kasih!