I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 14.2



Sebelum di dalam momentum itu...


Pagi hari yang masih gelap, ini adalah hari di mana kami menuju ke medan pertempuran. Sudah terbiasa aku terbangun sebelum gadis lainnya, tapi dalam momen ini aku sudah melihat Elma di aula. Duduk dengan secangkir teh hangat dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Rencananya hari aku dan Elma akan berpasangan, pergi ke titik timur penyerangan. Lalu gadis lainnya juga sudah kuberitahu rencananya tadi malam, dan berpasangan yang akan membuat koordinasi yang kupikir cukup matang.


Tapi sepertinya aku sudah tahu apa yang menjadi kegelisahan Elma saat ini.


Aku mendekat ke sofa itu, kemudian Elma menyadari keberadaanku dan menyapaku.


“Master? Bukankah ini masih terlalu pagi? Kenapa master sudah memakai seragam itu?”


Seperti kata Elma, aku sudah memakai seragam dan perlengkapan tempurku. Bahkan bisa dibilang aku seolah sudah sangat siap dalam menghadapi monster kelas bencana.


“Sebelum kita semua akan pergi menuju medan pertempuran, aku akan menemui seseorang.”


“Pagi-pagi sekali?”


“Ya.”


Mungkin nada bicaranya masih terdengar seperti laki-laki dan kasar, tapi sebenarnya itu adalah cara bicaranya. Mungkin ada sesuatu yang membuat dirinya mempunyai kepribadian seperti itu.


Karena sepertinya dugaanku tepat, maka hari ini aku akan membuat kegelisahan Elma hilang. Mungkin...


“Elma, apa kau ingin ikut denganku?” kataku yang mengajaknya, “Mungkin sembari berjalan-jalan di kota, aku akan memberikan sesuatu untukmu.”


Elma menyeruput tehnya dan terlihat mengacuhkanku.


“Tidak perlu master, master terlalu baik padaku. Mungkin di masa depan aku tidak bisa membalas kebaikanmu, jadi saat ini aku harus menolaknya.”


Elma berusaha menutupi ekspresinya ketika dia menyeruput teh, tapi aku bisa menyadarinya. Yah tidak ada salahnya juga kalau itu maunya.


“Baiklah kalau begitu...” kataku ketika aku berjalan menuju pintu keluar, lalu berhenti dan mengatakan satu hal, “Padahal aku bisa mengatasi kegelisahan yang sekarang dan yang selalu kau rasakan.”


Perubahan ekspresi terjadi, Elma membuka matanya dengan tiba-tiba.


“Eh?”


Mungkin dia heran dengan perkataanku.


“Aku tahu. Sebenarnya kau sangat memiliki keunggulan dalam bersenjata, bukan? Tapi kau selalu memaksakan dirimu pada pertarungan tangan kosong yang tidak terlalu kau kuasai, kan?”


Setelah perkataanku, Elma menaruh cangkirnya.


“Bagaimana master tahu?”


Perkiraanku benar. Sekarang Elma berdiri dari sofa dan menatapku. Karena itu aku mencoba mengajaknya sekali lagi.


“Kalau kau ingin tahu, ikutlah denganku. Kita juga akan menghirup napas segar sebelum pertempuran itu terjadi.”


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengganti pakaianku dulu.”


Setelah itu, Elma pergi ke kamarnya. Mungkin sedikit membutuhkan waktu untuk menunggu seorang gadis bersiap-siap.


Sembari aku menunggu Elma, aku duduk di sofa lalu melihat ke arah lain. Sepertinya Elma tidak benar-benar meminum tehnya, mungkin hanya sedikit.


Dengan begitu aku dapat mengetahui kalau semakin dekat dengan hari penaklukan monster maka Elma akan semakin gelisah. Mungkin itu penyebabnya kenapa di setiap latihan yang kami jalani setiap hari, dia tidak menunjukkan potensinya.


Ini yang dinamakan kecemasan. Elma cemas karena dia takut tidak bisa menggunakan seluruh kemampuannya lalu menjadi beban untuk gadis-gadis lain. Karena itu dia mengalami frustasi dengan jangka waktu yang cukup lama.


Namun, hari ini aku akan mengatasi segala emosi negatif yang sedang dirasakan Elma saat ini.


Kemudian aku mendengar langkah kaki, kemungkinan itu Elma yang sudah siap.


“Bagaimana, apa kau sudah si—”


Perkataanku terhenti. Aku melihat Elma yang diikuti oleh gadis-gadis lain kecuali Astia.


Mungkin mereka sedang menyalakan api keributan.


“Kau mau kemana Elma pagi-pagi sekali dengan pakaian selengkap itu?” Itu adalah Annastasia yang sedang memancing kemarahan Elma.


“Iya tuh! Bukannya kita harus berangkat sebentar lagi ke medan pertempuran?” dengan semangatnya seperti biasa, Lilac mengatakan itu.


Sepertinya Elma sudah berada pada batasnya, dia menutup matanya sambil menggertakkan giginya. Lalu dia berbalik ke pada gadis-gadis yang masih memakai pakaian rumahan itu.


“Cih! Sudah kubilang ini bukan urusan kalian!” Elma berteriak.


“Hmm? Apa kau ingin melakukan sesuatu yang tidak ingin kami ketahui? Apakah itu bisa kusebut dengan rencana licik?” tanya Amarilis yang juga memancing emosi Elma.


Karena untuk memecah keributan kecil itu, aku berdehem. Lalu mereka semua melihat ke arahku.


“Ma-master? Apa yang master lakukan di sini?”


Gadis yang menanyakan keberadaanku adalah Annastasia.


“Tidak ada yang penting, aku hanya menunggu Elma.”


“EH?!” mereka semua terkejut.


Namun aku tidak terlalu berurusan dengan keributan kecil itu, jadi aku bisa memaklumi ekspresi mereka. Di sisi lain mereka menatap Elma yang masih mengepalkan tangannya.


“Jadi ini tujuanmu?! Bangun pagi-pagi sekali dan berniat menemui master!” salah satunya adalah Lilia.


Dengan rambutnya yang masih berantakan dan salah satu bagian belum dikepang, aku tahu Lilia masih belum menyiapkan apa-apa dan masih memakai pakaian tidur. Kupikir dia memang pemalas.


Namun tanggapan Lilia langsung diterima oleh Elma.


“Huh! Memang! Karena kelengahan kalian, aku bisa berduaan dengan master setiap pagi!”


“Huh? Kau pikir kau bisa seenaknya begitu saja?”


“Tentu! Lagipula sebentar lagi aku akan jalan-jalan dengan master di kota!” kata Elma.


“Huh?”


Lilia cukup terkejut, lalu dia menoleh ke arahku dan mencoba menilai ekspresiku untuk mengonfirmasi perkataan Elma. Namun, seolah dia benar-benar tidak percaya dengan kebenaran itu, dia menunjukkan kepasrahannya.


“Kenapa bisa...?”


Di saat Lilia yang pasrah, Annastasia mencoba menangani itu.


“Serahkan padaku, Lilia...” Annastasia maju ke depan dan berhadapan langsung dengan Elma, “Apa kau bisa jelaskan hal ini, Elma? Aku harap kau tidak membawa masalah baru lagi.”


“Kenapa kau bertanya? Kau yang terlalu malas untuk membaca situasinya. Kenapa kau tidak tanya saja pada master tentang ini?”


Kemudian Annastasia menatapku dan diikuti oleh gadis lain. Ini terlalu menginterogasi diriku, padahal aku tidak bersalah di sini.


“Master, apa Elma tadi mengajakmu jalan-jalan di kota? Kalau itu yang terjadi, itu hanya tipu muslihat yang dilakukan olehnya.”


Kemudian Elma sedikit kesal karena pernyataan Annastasia.


“Hah?! Kenapa kau selalu menuduhku seperti itu?!”


Yah mungkin mereka berdua mempunyai konflik pribadi yang tidak bisa kujelaskan dengan detail. Namun, di saat mereka berdebat, kemungkinan besar masalah akan terjadi.


Tapi aku menolak semua pernyataan Annastasia.


“Aku tidak tertarik dengan trik semacam itu. Kali ini kau yang salah salah sangka Annastasia. Aku yang mengajak Elma jalan-jalan di kota, dan aku sudah berniat memberikan sesuatu padanya.”


“Hah, itu benar?” Annastasia terkejut ketika Elma tersenyum mengejek di sampingnya.


“Elma diberi hadiah meskipun dia tidak mendapatkan pencapaian?” tambah Lilia.


“Kau menghinaku Lilia?”


Aku mengacuhkan reaksi mereka semua atas perkataanku, lalu aku berdiri dari sofa dan berjalan ke luar rumah.


“Ayo Elma, kita sudah melewatkan beberapa batas waktu.”


“Siap master.”


Ketika Elma mengikutiku, gadis lain juga mengikuti Elma sampai ke pintu keluar. Aku juga berhenti di saat Elma berhenti, kemudian Elma berbalik dan mengejek gadis lain sambil menyilangkan tangannya. Khususnya dia mengarahkan tatapannya pada Annastasia.


“Akan aku tunjukkan padamu cara bersenang-senang yang sebenarnya!”



Elma tersenyum ketika mengatakannya. Dia secara tidak langsung menghina perkataan Annastasia tadi malam. Mungkin karena kegagalan Annastasia tadi malam, Elma mendapatkan bahan utama untuk menghina Annastasia yang selalu membuatnya risih.


Sebagai tanggapannya, Annastasia menggertakkan giginya. Kali ini perkataan Elma tepat sasaran dan dia menang.


Setelah itu, kami berdua pergi ke kota ketika gadis-gadis lain sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke titik masing-masing...


つづく


Jangan lupa like, komen dan klik favorit untuk membuat Author semangat terus ya!