I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 26.1



Aku masih menunggu mereka berdua pulang...


Itulah yang kulakukan saat ini. Aku menunggu di sofa ruangan kami dan hanya sendirian, di pagi buta sebelum para gadis bangun. Yang sedang kutunggu adalah Annastasia dan Elma...


Sudah hampir dua hari mereka belum pulang juga, aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan— tapi yang bisa kupastikan adalah... Astia pasti marah-marah kepada mereka berdua, khususnya mungkin dia akan memarahi Lilia.


Karena pada dasarnya posisi Astia dengan Lilia adalah setara maka di antara mereka membuat kesepakatan bahwa mereka harus dipastikan untuk pulang sebelum dua puluh empat jam... ini bertujuan untuk semuanya tetap pada posisi masing-masing dan dapat terkumpulnya informasi apapun, tapi kalau Annastasia dan Elma belum pulang pasti kami semua akan khawatir dengan kondisi mereka— yang kami sendiri tidak tahu apa yang terjadi.


Kalau hari ini mereka berdua belum pulang juga, kami semua memutuskan untuk mencari mereka.


Lalu...


Sebuah kenop pintu diputar dari luar, dan sepertinya ada orang yang berbisik-bisik di sana.


“Hah? Pintunya tidak dikunci? Ini beruntung sekali.” bisik gadis itu.


“Ya, aku harap tidak ada yang menyadari kita...” bisik gadis lainnya.


Kemudian kedua gadis itu memasuki ruangan, dan sepertinya dari cara jalan mereka, mereka mengendap-endap seperti pencuri.


“Kenapa gelap sekali?” tanya salah satu gadis dengan berbisik.


“Ini masih malam, mereka semua pasti masih tertidur. Tentu saja lampu ruangannya dimatikan.”


“Oh begitu...”


Yah, memang benar ketika kami semua ingin tidur di malam hari. Seluruh lampu pasti akan dimatikan, dan tersisa lilin-lilin kecil yang berada di sudut ruangan. Jadi mungkin hanya dari situlah penerangan yang tersisa dan juga dari cahaya bulan.


“Kalau begitu ayo cepat! Kita harus masuk ke kamar sebelum semuanya menyadari kita.” bisik gadis itu.


Kenapa mereka begitu takutnya dengan seseorang yang akan menyadari mereka? Apa mereka berdua melakukan kesalahan? Yah, kupikir mereka memang melakukannya.


“Kata siapa tidak ada yang menyadari kalian?” aku langsung menjentikkan jariku, lalu seluruh penerangan lampu menyala.


Sudah kuduga mereka berdua orangnya...


“Ma! Ma-master?!” Annastasia lah yang pertama kali terkejut ketika melihatku, Elma juga masih berada di posisi mengendap-endapnya.


“Tidak, tidak, bukan ini... ini bukan seperti yang master pikirkan.” Elma mencoba menjelaskan, “Kami sedang mencoba sesuatu—”


Tapi aku langsung memotongnya, “Aku melihat semuanya.”


“Ugh!”


Apa yang sedang mereka coba? Sudah jelas mereka ingin menghindar dari kesalahan mereka dan mencoba mencari-cari alasan yang bisa kupastikan tidak akan masuk akal.


“Huh~” aku menghela napas, “Sudahlah, setidaknya duduk dulu.” Kataku.


“I-ya.”


“Baiklah...”


Mereka ragu-ragu dan kikuk ketika hanya ingin duduk. Mungkin inilah perilaku seseorang ketika mereka sedang bersalah. Aku mencoba menelaah gerak-gerik mereka berdua... Annastasia masih menggendong tasnya, mungkin itu adalah persediaan bom yang ada di dalamnya, atau hal yang lain.


Lalu, Elma... Aku dapat melihat seragamnya masih dalam keadaan berpasir dan begitu pula dengan sabit besarnya yang cukup banyak debu di berbagai sisi— itu juga dapat kulihat di peralatan dan seragam Annastasia.


Begitu... ternyata mereka berdua pergi ke tempat entah di mana, dan mereka berdua telah bertarung dengan sesuatu.


“Aku pikir kalian tidak terluka, jadi aku tidak memiliki pertanyaan untuk kalian...” kataku.


“Master...?!” Annastasia dan Elma terlihat senang ketika mendengar pernyataanku.


Namun aku tidak tahu dengan apa yang akan terjadi padanya setelah ini...


Kemudian, aku menyeruput tehku kembali sebelum Elma menanya sesuatu.


“Um, master... Ngomong-ngomong apa kondisi gadis lainnya baik-baik saja?” tanya Elma.


“Iya master. Sepertinya master tidak memiliki keluhan apapun, jadi sepertinya semuanya baik-baik saja.” kata Annastasia yang memainkan jarinya, “Kalau begitu, um... Apa Astia—”


Sebelum Annastasia menyelesaikan kalimatnya, seseorang datang ke arah kami, membawakan dua cangkir teh untuk mereka berdua. Dia masih memakai pakaian rumahannya, itu artinya dia sudah terbangun sejak lama.


“A-Astia...?!”


Annastasia sangat terkejut, orang yang paling ingin dia hindari saat ini, tiba-tiba muncul mendatanginya.


Astia hanya mengidangkan secangkir teh untuk mereka berdua. Mungkin aku tidak menyadari apa yang dirasakan Astia saat ini, tapi Annastasia dan Elma sedang tertekan dengan sebuah dominasi kehadiran Astia. Mungkin itu yang saat ini dirasakan oleh mereka.


Aku hanya ingin memalingkan wajah untuk kali ini.


“Aku harap kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi di penginapan kalian sendiri.” kata Astia dengan tersenyum ramah.


Itulah yang kulihat, tapi tentu saja apa yang dilihat olehku akan berbeda apa yang dilihat oleh mereka berdua saat ini.


Oh begitu... ternyata senyuman Astia saat ini pernah kurasakan ketika di masa lalu. Itu artinya ada sebuah perasaan negatif di balik senyumannya yang ramah.


“Ma— Maafkan kami Astia! Kami tidak bermaksud pulang terlambat. Aku tidak tahu kalau misi pencarian artefak itu akan membutuhkan waktu yang selama itu!” kata Annastasia yang hampir bersujud di depan Astia.


“Tidak ada alasan yang seperti itu.” Langsung ditolak mentah-mentah oleh Astia.


“!!” Annastasia benar-benar tidak mempunyai muka untuk menghadapi Astia saat ini. Ditambah alasannya itu langsung ditolak oleh Astia sendiri.


Lalu, Astia melirik ke arah Elma. Elma langsung mencari alasan lainnya...


“Ya-yah, aku hanya mengikuti rencana Anna... padahal aku sudah menolak rencana itu karena akan memakan banyak waktu dalam pencariannya, tapi Anna tetap bersikeras.”


“Elma, kau...!”


Dari reaksi Annastasia, sepertinya alasan Elma baru saja dibuat. Mungkin itu hanya mengada-ngada, dan Elma berakhir dengan mengkhianati kepercayaan Annastasia. Aku tahu Elma tidak akan memiliki argumen untuk menolak misi pencarian yang dilakukan oleh mereka berdua.


“Yah, ahaha—” tawa paksa dari Elma.


“Huh~” Astia menghela napas, “Bukankah kita sudah menyepakati aturannya bahwa kita semua tidak boleh kehilangan kontak lebih dari 24 jam? Lalu, kalian? Kalau kalian mengetahui misi yang akan kalian lakukan membutuhkan waktu lebih, seharusnya kalian beritahu aku atau Lilia lebih dulu.”


“Kami akan kerepotan kalau kalian mendapatkan suatu masalah yang di luar jangkauan kami.” tambah Astia.


“Kami mengerti, Astia. Kami tidak akan mengulanginya kembali...” itulah yang dikatakan Annastasia dan Elma sebagai minta maafnya.


“Baiklah... selama kalian mengerti itu, permintaan maaf kalian diterima.” Kata Astia, kemudian dia melanjutkan, “Kalau begitu... Tuan Yuuki...”


Astia melihat ke arahku. Sepertinya ini adalah giliranku ya...


“Kalian berdua...”


“Ya?!”


Kenapa mereka kaget seperti itu?


“Aku akan mengambil alih komando kalian, jadi aku akan meminta satu hal untuk mengikuti rencanaku nanti malam.” kataku, “Untuk permulaannya, aku akan menjelaskan awal mulanya...”


Aku memberitahukan semuanya kepada mereka berdua, tentu saja Astia sudah mengetahui ini. Ini tentag kronologi ketika aku bertemu dengan Laven dan menemukan sebuah kejanggalan di sana, tentang permintaan itu dan rencananya.


Bisa dibiilang ini adalah satu-satunya rencana yang bisa mengantarkan kita kepada informasi tentang Ellena. Mungkin Astia sudah mempunyai rencana dan informasi lainnya, tapi informasi yang didapatkan Astia masih abu-abu. Jadi aku memutuskan untuk menjalankan rencana ini terlebih dahulu.


“Intinya rencana hari ini... kita akan menyusup.” Itulah kalimat terakhirku.


“Tidak percaya aku kalau dulunya master terlibat dalam insiden itu...” kata Annastasia, “Apa artinya nanti kita hanya memakai pakaian bagus saja, dan pergi bersama master untuk berpartisipasi dala kencan buta?”


“Benar.” Jawabku.


“Aku sih baik-baik saja dengan rencana itu, tapi aku tidak tahu dengan jawaban Elma. Aku mengkhawatirkan sikapnya nanti, tapi sebelum itu... Apa master baik-baik saja dengan ini? Bukankah master tidak terbiasa dengan hal yang berbau seperti itu?” tanya Annastasia seketika dia melirik ke arah Astia.


Mungkin yang dikatakan Annastasia benar, aku tidak terbiasa dengan hal yang berbau dengan ‘kencan’.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan Astia...” kataku, mungkin Annastasia memiliki maksud tentang menghubungkan aku dengan Astia, “Dia sudah tahu tentang rencana ini. Aku juga baik-baik saja dengan itu...”


“Aha, ah ternyata begitu...” jawab Annastasia ketika dia kembali gemetar ketika aku menyadari lirikannya.


“Lalu, bagaimana denganmu, Elma?” tanyaku, menunggu persetujuannya.


“Ya-yah, aku baik-baik saja sih...” katanya.


Aku tidak yakin dengan ekspresinya.”


“Kenapa kau ragu-ragu?” langsung dipotong oleh Astia.


“Ya! Nona Astia! Aku setuju! Aku setuju itu!!” jawab Elma dengan pasrah.


Huh~ padahal biasanya Elma akan bersikap kasar kepada gadis lainnya, tapi sepertinya untuk kasus Astia, itu adalah pengecualian.


Untuk kali ini, mereka berdua tidak mempunyai hak untuk menolak permintaan ini. Ini adalah salah satu untuk menebus kesalahan yang mereka berdua lakukan.


“Baiklah. Untuk menjalankan rencana itu, kalian berdua akan belajar satu hal, dan kalian akan memiliki ‘CodeName’ kalian sendiri.”


“CodeName?” tanya Elma.


Mungkin mereka berdua bingung dengan itu. Ngomong-ngomong aku baru mengatakan hal ini hanya kepada mereka berdua saja.


“Sederhananya itu adalah nama samaran.”


“Begitu... Lalu apa yang akan kita pelajari? Tanya Annastasia.


“Kode morse... sederhananya itu adalah bahasa pengganti atau sinyal yang akan kita gunakan untuk mengelabui musuh kita, dan ini bukan bahasa yang melalui lisan.”


“Ba-baiklah aku akan berusaha dengan itu.” Kata Elma.


Mungkin Elma adalah salah satu gadis yang paling sulit untuk mengerti tentang ini, tapi aku akan mengajari ini untuknya.


Lalu, aku mengajari mereka berdua tentang rumusan awalnya, dasar-dasarnya dan cara penggunaannya. Biasanya aku menggunakan ini dalam sebuah ketukan atau goresan dengan jariku pada sebuah objek, dala hal lain mungkin aku akan menggunakan sebuah cahaya yang disalurkan oleh cahaya apiku atau sebuah ketukan dari pijakan kaki.


“Untuk lebih jauhnya, aku akan memberikan buku ini kepada kalian. Aku sudah menulisnya untuk kalian dengan bahasa yang sesederhana mungkin.


Aku akan meminta kalian untuk sudah menguasai itu sebelum waktu rencana kita tiba.”


Aku memberikan buku catatan itu kepada Annastasia, itu akan dipelajari untuk mereka berdua. Sepertinya Elma sudah pada batasnya ketika aku mengajari hal itu barusan.


Mungkin Astia juga baru mendengar hal ini, tapi aku yakin dia adalah pelajar yang cepat. Jadi aku tidak mengkhawatirkan itu padanya... untuk gadis lainnya, sepertinya lain waktu untuk mengajarinya, atau aku akan serahkan itu kepada mereka berdua untuk mengajari gadis lainnya.


“Aku harap kalian berdua sudah menguasai itu sebelum matahari terbenam.” Kata Astia.


““Dimengerti! Nona Astia!”” serentak mereka berdua.


Dengan tekanan dari Astia, aku harap mereka dapat cepat mempelajarinya... tapi kenapa mereka malah memberikan hormat kepada Astia dengan memanggilnya ‘nona’?


Ternyata mereka berdua sangat ketakutan dalam menghadapi Astia ketika mereka bersalah.


“Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku.” kataku.


Tapi sebelum aku bangkit dari sofa, Annastasia memanggilku.


“Tunggu, master! Bagaimana dengan ‘CodeName’ itu?” tanyanya.


Elma juga mengangguk sebagai pertanyaann yang sama.


“Aku akan serahkan itu pada kalian... Kalian pikirkan saja nama yang cocok untuk nama samaran kalian. Itu saja.” Jawabku.


“Ba-baiklah.”


Lalu aku berdiri, pergi ke kamar dan meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.


Semoga rencana ini akan berjalan dengan baik...


つづく


Kalau ada typo mohon dikoreksi ya, dan jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya! terimakasih!