
“Master, sepertinya mereka sudah mengepung kita.”
Perkataan Elma benar adanya, kami sudah dikelilingi oleh orang-orang berjubah yang menutupi wajahnya, aku tidak bisa melihat mereka tapi sepertinya porsi tubuh mereka tidak terlihat seperti seorang pria.
Apa mereka semua adalah perempuan?
Lalu, salah satu mereka turun dari salah satu pohon, lebih tepatnya dia berada di belakang kami, sementara itu orang yang menyerang kami tadi berada di depan kami. Jadi kami benar-benar terkepung.
“Theressa, apa aku boleh memangsa orang-orang ini?” tanya gadis yang berada di depan kami dengan posisi binatangnya.
“Tunggu sebentar, kita akan ulik informasi dari mereka sebanyak mungkin. Jadi kau tenanglah.” jawab seseorang yang berada di belakangku.
Ternyata dia juga gadis, terdengar dari suaranya.
“Baiklah!”
Ternyata gadis yang berada di depan kami memberikan penghormatan yang terdengar dari nadanya kepada seseorang yang bernama Theressa, di belakang kami. Apa dia adalah pemimpinnya?
“Jadi, apa yang kalian lakukan di sini?”
Gadis yang bernama Theressa itu bertanya kepada kami, pertanyaannya terdengar menginterogasi. Kami hanya mendiamkan pertanyaan itu, ini sebenarnya untuk mengulur waktu untuk rencanaku berjalan lancar.
“Oh, salah satu kalian tidak ingin menjawab pertanyaanku?” tanyanya.
Yah, sepertinya aku akan menjelaskan itu... aku menormalkan posisi tubuhku dan meninggalkan posisi kuda-kuda, setidaknya aku akan menyelesaikan masalah ini tanpa ada korban.
Tapi bukan aku yang menjelaskan.
“Aku tidak tahu kenapa kalian terlihat memusuhi kami, tapi kami hanya ingin melihat pemandangan bunga-bunga ini.” Itulah jawaban dari Annastasia.
Setidaknya itu adalah jawaban yang cukup bagus.
“Oh begitukah? Entah kenapa aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan. Lalu kenapa kau sewaspada itu kepada kami?” tanya Theressa.
“Tentu saja kalian yang menyerang kami duluan!” jawab Elma dengan kesal.
“Kami tidak akan menyerang kalau kalian tidak melakukan hal yang mencurigakan di sini.”
Apa yang dia katakan? Tentu saja mereka yang menyerang kami dengan benda sekecil ini terlebih dahulu. Mungkin Annastasia dan Elma sedang mencari tumbuhan tersebut sehingga menjadi pusat perhatian yang mencurigakan, tapi bukankah memang benar salah satu dari mereka menyerang Annastasia dan Elma dengan benda sekecil ini?
“Tentu saja kalian kan yang menyerang duluan?” kataku, ketika melempar benda kecil ini lalu menyentilnya dengan jempolku, “Lalu apa kau bisa menjelaskan apa ini?”
Benda kecil itu melesat dengan kecepatan tinggi, ke arah gadis yang berada di depan kami. Dia menghindarinya dan reflek dengan kecepatan tinggi itu. Hasilnya membuat pohon yang dibelakangnya berlubang dan mengeluarkan asap.
“Sepertinya terbukti kalau kalian lah yang menyerang kami lebih dulu.” tambahku.
“Kau...” dia cukup terkejut ketika aku melakukan hal itu, tapi dia mencoba tenang, “Ternyata kalian berhasil menghindari itu... Baiklah, aku mengakui itu. Kami memang yang menyerang kalian lebih dulu, tapi memangnya kenapa? Bukankah sudah tersebar informasi kalau hutan ini terlarang untuk petualang? Lalu kenapa kalian tetap memaksa datang ke tempat ini?”
Salah satu alasannya bahwa kami memang tidak tahu kalau hutan ini terlarang. Lagipula alasan hutan ini terlarang juga tidak jelas...
“Ternyata begitu... kebanyakan dari petualang ingin mengambil Tumbuhan Elisium itu, kalian juga ingin mengambil tumbuhan itu bukan?” tambah Theressa yang bertanya kepada kami.
Ternyata itu perkataannya...
“Sekarang aku mengerti... ternyata kalianlah yang membuat status hutan ini menjadi terlarang...” kataku, “Jadi apakah kalian mempunyai sertifikat tanah sehingga membuat larangan orang lain untuk berkunjung ke hutan ini?”
Atas dari pertanyaanku, mereka memang tidak menjawab pertanyaanku.
“Kami tidak mempunyai kewajiban untuk menjawabmu.” Itulah jawaban dari gadis yang bernama Theressa di belakangku.
“Kami pun begitu...” jawabku.
Aku juga tidak ingin menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan oleh Theressa. Lagipula siapa dia? Aku tidak mengetahui motif mereka sehingga mereka menguasai area ini, tapi sepertinya mereka mempunyai kepentingan yang ada di sini.
Sepertinya aku mendapatkan jawaban kenapa Quest ini dibuat.
“Dorothy... Lakukan...”
Itulah perintah dari Theressa.
“Baiklah, Theressa...” dia kembali ke posisi kuda-kuda binatangnya, lalu tertawa seolah kami adalah mangsanya, “Hahaha-hahaha!! Mangsanya ada— tiga!”
“Barbar sekali...” bahkan aku bergumam seperti itu.
Gadis Demi-Human yang bernama Dorothy menyerang kami secara frontal. Dia berlari seperti binatang dan membuat tusukan frontal ke salah satu di antara kami. Dia terlihat brutal dan sangat gesit.
Tentu saja ketika dia berada di jarak serangnya, asap gelap memenuhi pandangan. Ini semua karena bom asap yang telah dilemparkan oleh Annasasia.
Serangan brutal itu segera meleset, sekarang Elma keluar dari asap ini dan menebas dengan sabit raksasanya ke arah gadis itu
“A-apa?!” Elma tercengang ketika sabitnya ditangkis dan ditahan oleh gadis itu.
Ternyata orang-orang ini cukup berbahaya.
“Hah!” Gadis Demi-Human itu berteriak dan terus menyerang, tapi serangan cakaran dan serangan tangannya juga terus ditepis oleh Elma.
“Heh! Bercanda...” Elma tersenyum meragukan lawannya.
“Uh?”
Asap langsung menghilang dari pandangan, kedua kaki gadis Demi-Human itu terhenti dan terikat oleh sebuah tali tambang yang kokoh. Dia terjatuh dan kepalanya segera membentur tanah.
Ini adalah kesempatan... Gadis itu terjatuh dan kami mempunyai kesempatan untuk kabur.
“Inilah saatnya...” kataku...
“Kau pikir aku akan membiarkan kalian...?”
Tiba-tiba pergerakan kami terhenti, Theressa menghentikan kami dengan pedang hitam panjangnya. Dia segera menebas Elma karena Elma lah yang membuat serangan gadis Demi-Human itu tergagalkan.
Sepertinya, Elma tidak menyadari pergerakan Theressa. Dia sangat cepat bahkan lebih cepat daripada gadis Demi-Human itu... Huh, pada akhirnya aku yang mengatasi ini.
Aku mengeluarkan kedua belatiku, salah satunya kulesatkan ke arah Theressa... Aku langsung pergi untuk menghalau serangan Theressa terhadap Elma.
Sebuah dentang pedang terjadi, Theressa cukup terkejut dengan kehadiranku ketika sebuah lesatan belati menghampiri dirinya.
“Ternyata merepotkan...” kata Theressa, dia juga menggagalkan serangan belatiku itu.
Tapi rencanaku adalah untuk membuat kami membuat jarak.
“Terimakasih, master...” bisik Elma dari belakangku.
Akhirnya kami bertiga membuat posisi melingkar untuk menghalau serangan dari luar, dan juga ini untuk menutupi titik buta yang berada di punggung kami.
“Ternyata dugaanku salah...” kata Theressa, “Aku selalu meremehkan orang-orang yang berhadapan dengan kami, mereka pada kenyataannya memang lemah, tapi saat menghadapi kalian... sepertinya aku akan memprioritaskan kepada kalian dan berpikir dua kali.”
Ikatan tali dari Annastasia kepada gadis Demi-Human yang bernama Dhorothy itu terlepas. Sudah kuduga, pasti itu hanya sebuah recehan untuknya.
Untuk pernyataan Theressa kepada kami, aku...
“Aku tidak peduli.”
“Setidaknya bermain-mainlah dengan kami.” Jawab Theressa.
Setelah perkataan Theressa, tujuh orang berjubah lainnya melompat di atas kami lalu mengepung kami secara melingkar. Sepertinya itu adalah rekan-rekannya.
Aku tidak yakin ada di antara mereka yang identitasnya adalah pria. Tinggi mereka rata-rata tingginya setara dengan Astia atau Annastasia. Jadi itu alasannya tidak ada yang mempunyai proporsi dari tubuh mereka yang sepantaran denganku.
Ini memang di luar jangkauan Annastasia dan Elma. Mereka diharuskan melawan sembilan orang dengan tingkat kekuatan yang sangat berkualitas, kupikir. Jadi dalam pertarungan tiga melawan sembilan orang, ini memang tidak seimbang. Tapi...
“Tenang saja... aku akan yang akan melawan orang yang bernama Theressa itu beserta gerombolannya, dan kalian bisa melawan Demi-Human yang bernama Dhorothy itu... anggap saja kalian bertarung melawan Marrona atau gadis lain dari Tomoe Garden.” Kataku.
“Baiklah... tapi, apa master tidak apa-apa melawan mereka sendirian?” tanya Annastasia.
“Kau lupa siapa aku? Akulah yang selalu mengalahkan kalian bertujuh, bukan?” Itulah jawabanku kepada Annastasia.
Sepertinya aku akan mengambil standar maksimal dari kekuatan para gadis untuk menjadikannya tolak ukur dari musuh yang akan kami lawan hari ini. Kalau ternyata mereka lebih pintar dan lebih dominan dari para gadis, mungkin aku akan memberikan kekuatan penuhku.
“Kalau begitu, mari kita mulai...”
****
Saat ini, di hutan Anozira, khususnya Annastasia dan Elma dikelilingi oleh orang-orang berjubah. Ketika mereka berdua dibagi peran melawan Dhorothy beserta orang berjubah lainnya oleh Yuuki, Annastasia sudah bersiap memposisikan tubuhnya membentuk sebuah kuda-kuda. Begitu juga dengan Elma, dia mengangkat sabit raksasanya.
“Kalau begitu, mari kita mulai...”
Setelah Yuuki mengatakan itu, mereka bertiga melesat dan menerjang ke arah lawannya masing-masing. Yuuki melawan 8 orang gadis berjubah termasuk Theressa, dan Annastasia bersama Elma saat ini melesatkan serangannya melawan Dhorothy.
Pertama, Annastasia mengeluarkan bom asap dan secara ajaib asap mengepul menghalangi pandangan mereka berdua. Di saat itu juga Elma keluar dari asap, tapi bukan tubuhnya— lebih tepatnya sabit raksasanya yang terlempar ke arah Dhorothy.
Lemparan itu begitu cepat sehingga Dhorothy tidak ada pilihan lain selain menahannya sekuat tenaga dengan tangannya.
“Rrgh!” dengan tekanan yang seperti itu, membuat Dhorothy kesulitan.
“Ternyata kau cukup tangkas ya!” sebuah suara keluar dari dalam asap.
Lalu, suara itu keluar bersamaan dengan bersama gadis yang melesat ke arah sabit itu, tentu saja dia adalah Elma.
Elma kembali memegang sabitnya, dia angkat lalu dia menebaskannya kembali ke arah Dhorothy. Namun, tangan Dhorothy mempunyai sesuatu yang dapat menangkis seluruh tebasan Elma dengan tanpa membuatnya terluka sedikitpun.
Sesuatu itu terlihat menyarungi tangan Dhorothy dengan kokoh dan fleksibel.
“Vega!” teriak Annastasia dari belakang.
“Baiklah!” jawab Elma.
Ketika Elma membuat tebasan terakhir dan ditangkis oleh Dhorothy, Elma melempar sabitnya jauh ke atas, kemudian dia segera menutup mata dan telinganya.
Ledakan kilatan cahaya dan suara terjadi, menyebabkan seluruh pandangan dan pendengaran Dhorothy memutih.
“Akh mataku!!”
Ketika dia saat ini sedang lengah, Elma kembali menangkap sabitnya dan menyerang Dhorothy secara frontal. Di sisi lain Annastasia, melesatkan tendangan berputarnya dari arah titik buta.
Seharusnya kombo ini berhasil padanya, tapi...
Tang!!
Suara memekakkan seperti suara dentang pedang terjadi, tangan Elma bergetar ketika mencapai ke tubuh Dhorothy, tapi sabit itu ditangkap oleh Dhorothy dengan mulus. Tendangan Annastasia juga ditepis oleh tangan lainnya.
“Yang benar saja...” gumam Annastasia.
Meskipun penglihatan Dhorothy sudah tertutup dan pendengarannya terhalangi, dia masih menghalau pergerakan dari Annastasia dan Elma.
Oleh karena itu, mereka berdua terus melancarkan serangan tanpa membuat tangan dan kaki mereka berhenti. Namun sayangnya serangan itu terus dihentikan— sudah puluhan serangan dan pergerakan yang dicoba oleh Annastasia dan Elma, berakhir gagal.
Dhorothy masih mencari lawan-lawannya ketika matanya tertutup, sedangkan Annastasia dan Elma sudah menjaga jarak darinya.
“Merepotkan saja... ini seperti kita melawan master sendiri.” kata Annastasia.
“Padahal kita sudah membutakan inderanya... apa dia benar-benar hanya menggunakan insting binatangnya?” tambah Elma ketika dia bertanya.
“Sepertinya begitu... Aku berharap Marrona sendiri yang melawannya secara pribadi. Mungkin dia bisa mengatasi hal ini.” Tambah Annastasia.
Karena Marrona dan Dhorothy memiliki persamaan yaitu mempunyai ras yang sama yaitu Demi-Human, kemungkinan Marrona akan dapat mengetahui dengan cepat tentang kelemahan lawan mereka berdua saat ini.
“Sepertinya kita belum bisa memikirkan hal itu...”
Benar kata Elma, saat ini Dhorothy sudah memulihkan inderanya dan perlahan membuka matanya.
“Kutemukan kalian!! Saatnya giliranku!” Dhorothy sudah hampir pulih sepenuhnya, dia melihat ke arah Annastasia dan Elma seolah mereka berdua adalah mangsa yang akan diburu.
Dhorothy menerjang, berlari seperti binatang buas, kemudian dia melompat dengan menyeringai gembira. Di balik jubahnya, dia mengeluarkan pedang panjang hitamnya, bersamaan dia melolong dengan buas.
Untuk menghindari serangan yang merusak, Elma dan Annastasia pergi ke arah samping dan membuat tanah hancur ketika yang mereka pijak tadi. Itu adalah kerusakan yang diakibatkan oleh Dhorothy. Sekali mereka berdua terkena serangan itu, dipastikan mereka akan hancur berkeping-keping.
“Tidak manusiawi sekali.” gumam Annastasia.
“Itu katamu...?” sebuah suara dari belakang Annastasia.
Annastasia langsung merinding, dia memutar tubuhnya karena reflek dan melancarkan sebuah pukulan dan hindaran. Hanya berjarak lima senti dari tubuh Annastasia, pedang itu hampir mengenainya, tapi segera dia melompat ke arah lain dengan cepat.
Pergerakannya seperti monster dan binatang buas secara bersamaan.
Ketika Annastasia menghindar ke arah lain, Elma segera memberikan serangan balasan terhadap Dhorothy. Sabit raksasanya dilempar ke arahnya dan Dhorothy segera menepis dengan pedangnya, tapi dari titik buta— Elma melancarkan tendangan horizontal.
“Masih dengan jawaban yang sama.” gumam Elma.
Seperti yang dikatakan Elma, Dhorothy dapat menghalau serangan dan teknik seperti itu. Bahkan teknik ini telah Elma tiru sedemikian rupa dari pergerakan masternya selama latihan. Dengan sebuah lesatan senjata dan serangan fisik secara bersamaan.
Meskipun teknik itu adalah teknik yang pernah mengalahkan mereka dalam sekejap, tapi ini seolah tidak berlaku kepada Dhorothy.
Kemudian Elma kembali mengambil sabitnya dan mundur. Dia berpikir sejenak untuk melancarkan serangan.
“Apa aku harus memakai teknik yang sama ketika aku melawan ular raksasa?” gumam Elma.
Mungkin dia akan berhasil melawan kebrutalan dengan sebuah kebrutalan juga. Ini seperti ketika Elma membuat ratusan dan ribuan tebasan melawan ular raksasa ketika di sebuah misi penaklukan monster kelas bencana.
Namun kelemahannya akan berada di kemampuan pertahanannya. Ketika dia ingin membuat serangan yang membabi-buta, ada kalanya dia akan mengabaikan pertahanannya.
Namun... Elma terlalu banyak berpikir.
Dia tidak menyadari bahwa lawannya sudah satu jengkal di hadapannya. Dhorothy kembali melenyapkan hawa keberadaannya sehingga Elma tidak menyadari itu.
“Vega!!” Annastasia berteriak dari kejauhan ketika menyadari rekannya lengah.
Itu bukan karena Elma tidak menyadari sepenuhnya, tapi kecepatan Dhorothy benar-benar di luar akal manusia. Dengan ujung jarinya yang mematikan dari Dhorothy, dia segera menusuk jantung Elma.
“Akhirnya satu tumbang.” Bisik Dhorothy ketika satu inci lagi tangan Dhorothy menyentuh tubuh Elma.
“Fu—” seketika Elma tersenyum.
Elma memegang sabitnya lebih kuat, dan di saat itu juga— aliran listrik keluar dari tubuh Elma dan berakhir amukan petir menyelimuti tubuh Elma.
“Ugh!”
Dhorothy terhempas ke kejauhan, tubuhnya tersengat petir bertegangan tinggi. Pertahanan dari jubah dan tubuhnya tidak bisa menggapai kekuatan yang seperti itu. Seluruh jubah dan pakaiannya robek di segala sisi dan akhirnya menampilkan wajah Dhorothy seluruhnya.
Petir tidak terkendali terus mengamuk ke segala arah dan merusak area sekitarnya. Pada akhirnya mereka berdua menjadikan peluang tersebut menjadi titik balik kemenangan mereka
Itu terjadi ketika Dhorothy tersungkur tidak berdaya dan kaku.
つづく