
"Um Nona Astia, sebenarnya aku masih belum mengerti tentang tugas kita sebenarnya yang dikatakan master... Memangnya apa yang harus kita lakukan?" Tanya Marrona dengan gugup.
Bersama dengan anggota lainnya, kelompok satu yang terdiri dari Astia, Amarilis, Lilac, dan Marrona, berjalan menuju istana kerajaan. Ketika Marrona bertanya, mungkin gadis yang lain juga berpikiran yang sama, tapi mereka hanya pura-pura mengerti saat pertemuan di Mansion Tomoe tadi.
"Yah, mari kita lihat saja... Pertama-tama kita harus menghadap raja terlebih dahulu..."
"Eh, raja dari negeri ini? Duh, apa aku harus belajar tata krama dulu."
Ketika dia berspekulasi berlebihan, Lilac memunculkan ekspresi khawatir di wajahnya. Dia tahu akan fatal jika membuat salah langkah ketika berhadapan dengan orang yang status jauh diatasnya.
Namun Astia menenangkan hal itu.
"Tenang saja, selama kau sopan, tidak akan ada masalah yang percuma."
"Apa itu berarti kita akan melakukan pertemuan resmi langsung?" Tanya Lilac.
"Benar, itulah yang dikatakan Tuan Yuuki. Dia sampai memberikan kemungkinan yang akan terjadi ketika kita menemui raja."
"Apa itu?"
"Kemungkinan terbesar kita akan diberitahu langsung strategi melawan monster kelas bencana itu, dan aku ditunjuk menjadi perwakilan Tuan Yuuki saat dia tidak ada di sini."
"Apa hanya itu?"
"Tentu saja tidak. Bahkan Tuan Yuuki sudah memikirkan bahwa Yang Mulia akan merencanakan sesuatu tentang penaklukannya akan lebih terlambat setelah para petualang menyerang monster itu. Pasukan-pasukan lainnya juga dibahas, tapi aku tidak mengerti hal itu."
"Kenapa terlambat? Bukankah lebih bagus mengerahkan seluruh kekuatan antara para petualang dan pasukan kerajaan?" Amarilis tidak mempunyai kalimat lain selain mengungkapkan kebingungannya.
"Yah kalau itu mungkin kau akan lebih mengerti dengan jelas saat Yang Mulia mengatakannya, tapi yang bisa kukatakan adalah itu sedikit kejam."
"Hmm memikirkan sampai sebegitunya, memang luar biasa master."
"Ah, aku mengerti!" Setelah memikirkan beberapa hal, Lilac berbicara dengan tiba-tiba, "Karena itu kegunaan master membentuk tiga kelompok... Kelompok kita bertugas untuk mendapatkan instruksi dari raja, kemudian kelompok Lilia bertugas untuk mengetahui seberapa kuatnya para petualang untuk menghadapi monster itu, dan yang terakhir kelompok master bertugas untuk mengetahui seberapa bahaya medan dan kuantitas musuh yang akan kita semua hadapi. Setelah semua digabungkan, kita akan menentukan persentase kemenangan kita."
"Dan kita bisa memilih, kita akan bergabung dengan para petualang atau akan bergabung dalam pasukan kerajaan." Amarilis menambahkan itu.
"Benar sekali!" Astia membuat tepuk tangan kecil untuk jawaban benar mereka.
"Tapi yang masih kubingung, kenapa kita harus terlambat mengenai itu." Lilac mengungkapkan kembali kebingungannya.
"Kalian akan mengetahui itu sebentar lagi... Nah kita sampai."
Di depan mereka, istana yang sangat luas dikelilingi oleh taman dengan berbagai bunga yang menghiasinya. Di gerbang sebelum mereka mencapai istana, terdapat dua penjaga yang sedang bertugas, kemudian penjaga itu menyadari kehadiran mereka.
"Apa anda Nona Astia?"
Salah satu penjaga bertanya pada Astia, tapi Astia terkejut karena ada yang mengetahui namanya, apakah memang dia sudah terkenal atau Raja Azaka sudah mengatur semuanya, Astia tidak tahu.
"Ah ya benar, saya Astia."
"Baiklah kalau begitu. Yang Mulia sudah menunggu di ruangannya."
Oleh penjaga gerbang, mereka diantarkan menuju ruangan Raja Azaka yang penuh kertas dan dokumen yang menumpuk.
"Yang Mulia, tamu anda sudah datang." Kata si penjaga gerbang."
"Persilahkan mereka masuk."
Kemudian Astia dan ketiga gadis lainnya memasuki pintu yang membatasi ruangan tersebut.
"Permisi Yang Mulia, kami melapor menemui anda sebagai regu khusus."
Astia melakukannya dengan segala hormat sambil berlutut, diikuti oleh gadis lainnya. Raja Azaka yang sedang membolak-balikkan kertas sambil bersender di meja kantornya senang terhadap kedatangan mereka.
"Oh, kalian. Aku sudah menunggu kalian. Duduklah."
Setelah mereka duduk di sofa tersebut, seorang pelayan menyajikan teh untuk setiap orang.
"Terima kasih."
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai saja."
Raja Azaka duduk di sofa lainnya, para gadis hanya duduk dengan gugup dan tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Astia, kau tahu kan saranku setelah aku menghadiahkan kalian tempat tinggal?" Kata Raja Azaka sambil melipat tangannya.
"Begitu ya, Yuuki juga mengeluhkan hal itu saat itu, tapi yang kuingat bawahan yang kumaksud itu hanya untuk bersih-bersih."
Astia kembali mengingat momen itu, yang dikatakan Raja Azaka juga tidak salah.
"Benar juga sih, tapi Tuan Yuuki tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu. Meskipun begitu, aku bisa meyakinkan Yang Mulia kalau mereka pandai mengerjakan pekerjaan rumah dan juga kompeten dalam pertarungan."
"Apa ini semua atas persetujuan Yuuki?"
"Benar."
Kemudian Raja Azaka menutup matanya sambil berpikir, sesekali dia menatap gadis lainnya.
"Apa hanya segini?"
"Tidak. Tidak termasuk aku, seluruhnya ada tujuh gadis, yang bekerja di bawah Tuan Yuuki. Hanya kami berempat yang bisa datang ke sini, yang lainnya mengerjakan tugas lain."
Pada titik ini Astia tidak percaya diri jawaban Raja Azaka yang akan diberikan. Apakah keputusan Raja Azaka untuk membuat Yuuki dan Astia sebagai bawahannya, hanya mereka berdua saja? Dan orang lain tidak masuk dalam kategorinya. Kalau Raja Azaka tidak menyetujui itu, kedepannya akan menjadi rumit bagi Yuuki dan Astia.
"Kerja bagus! Ini diluar ekspetasiku." Tanpa disangka Astia, Raja Azaka memuji mereka. Astia hanya bisa bersyukur dalam hatinya.
"Huh~" Astia menghela napas panjang.
"Tidak kusangka Yuuki menemukan keberuntungan ini... Kalau begitu, kalian semua menjadi pasukan khusus resmi kerajaan untuk pertama kalinya."
Kemudian Raja Azaka melemparkan sebuah kertas perkamen yang digulung dan disegel dengan cap resmi kerajaan kepada Astia.
Astia menangkapnya, "Eh, apa ini?"
"Berbahagialah! Itu adalah tanda resmi kalian yang menjadi pasukan khusus kerajaan."
"Benarkah? Terima kasih Yang Mulia." Astia dengan senang menerima hal itu. Perkataan raja tentang hal itu memang bukan omongan belaka. Itu berarti krisis ekonomi yang akhir-akhir ini dialami oleh Yuuki dan Astia akan membaik, dan pendapatan mereka akan menaik.
"Um, maaf memotong Yang Mulia. Namaku Lilac." Lilac masuk kedalam pembicaraan, "Um, apa kami yang berbeda ras tidak dipermasalahkan?"
"Tidak, aku tidak memikirkan hal itu. Selama kalian kompeten dalam pekerjaan, itu tidak akan menjadi masalah."
"Terima kasih."
"Sebelum aku masuk ke pembicaraan yang lebih serius, ngomong-ngomong dimana Yuuki?" Karena Raja Azaka tidak menemukan keberadaannya hari ini atau menemuinya secara pribadi, itu sebabnya Raja Azaka mencarinya.
"Um, sebenarnya Tuan Yuuki pergi ke daerah Pegunungan Yatze bersama Natasha, anggota kami yang lainnya untuk memeriksa secara keseluruhan medan pertempuran yang akan kita lewati..."
"Benarkah? Itu sangat berbahaya." Azaka sempat terkejut karena itu.
"Ya, kami juga tahu hal itu. Tapi aku yakin Tuan Yuuki sudah memikirkannya sampai sejauh itu."
"Huh~ benar juga. Aku juga masih mengingat kalau dia pernah menghabisi Wyvern seorang diri."
Astia pun juga berpikiran hal yang sama, tapi kemudian dia terkejut, "Benar, Tuan Yuuki akan melakukan apapun selama ada persentase kemenangan... Eh, menghabisi Wyvern seorang diri?" Gadis lainnya dengan sama terkejutnya.
"Kau baru tahu itu Astia?"
Astia mengangguk atas pertanyaan Azaka, dan Amarilis dengan diamnya sambil bergumam.
"Pantas saja kami selalu kalah dalam pertarungan..."
Kemudian Azaka melanjutkan.
"Dengan pengalaman yang seperti itu, aku yakin dia percaya diri dalam menangani monster-monster itu dengan terampil."
Kemudian Astia membuat kontra, "Aku tidak yakin, dalam kondisi musuh yang belum dipastikan jumlahnya, Tuan Yuuki lebih memilih untuk menghindari pertempuran. Jika Tuan Yuuki dalam posisi yang tidak diuntungkan, dia lebih memilih mundur."
"Hmm, setelah orang yang paling mengenalnya berkata seperti itu, aku tidak bisa ngomong apa-apa."
"Ah, tidak Yang Mulia. Aku belum berada di titik mengenalnya."
Mungkin Astia malu setelah dipuji seperti itu, tapi dia tersadar oleh perkataannya sendiri. Dirinya berpikir hanya melihat dengan matanya sendiri tidak bisa membuatnya mengetahui apapun tentang Yuuki.
つづく
Jangan lupa like, komen dan klik favorit ya!