
"...Yang lainnya pasti dapat menangani—" Perkataan Astia terhenti karena ada yang aneh.
Meskipun di dalam dirinya terdapat perasaan yang campur aduk dalam memikirkan Yuuki, orang yang paling disayanginya terluka, tapi dia menemukan kejanggalan yang sangat mengancam keberadaan mereka.
Karena itu Astia terkejut dan pergi untuk menemukan keanehan itu, tanpa menghiraukan Yuuki.
—Ini aneh, ini aneh ini aneh...
Saat Cernunnos itu dalam genggaman kemampuan Astia, mahluk itu melakukan suatu hal yang mungkin tidak dapat diketahui gadis lain. Dia ingim segera memberitahunya.
Di area itu, tanpa henti Natasha melakukan serangan kepada Cernunnos, tubuhnya terpecah belah melebur menjadi tanah, tapi kemudian menyembuhkan dirinya sendiri dengan cepat. Marrona membuat pertukaran yang terkoordinasi. Pergerakannya yang cepat dan teratur membuat kecepatan penyembuhan monster itu terlihat melambat.
Lilac dan Amarilis mengatur serangannya ketika Natasha dan Marrona tidak dalam kondisi menyerang, setelah itu mereka membuat lubang besar yang mengoyak tubuh Cernunos.
Dengan serangan yang tanpa henti ini memberikan kesempatan untuk memulihkan diri dengan sempurna menjadi tanpa celah.
Kemudian Astia datang.
"Natasha! Marrona! Menjauh dari mahluk itu!" Astia berteriak dengan nada cemas.
"Eh...?"
Mereka reflek menanggapi Astia, menarik tebasan mereka dengan cukup lihai.
(Itu terlambat.) Dia menaikkan sudut mulutnya.
Mereka berempat terlambat menyadarinya, termasuk Lilac dan Amarilis.
Beberapa akar-akar muncul dari bawah tanah menggapai kaki mereka sebelum mereka bereaksi dengan itu.
Ketika mereka bereaksi dan mencapai keterkejutan, Sebuah dinding air bertabrakan dengan akar-akar itu menyebabkan akarnya hancur dan terkoyak.
(Ternyata kau sudah melapisi mereka juga.)
Dia terkekeh. Monster yang menjelma sebagai pria dewasa itu masih tidak bisa bergerak karena jeratan dari kemampuan Astia. Dia tertawa saat memicingkan matanya ke arah Astia.
"Ternyata selama ini aku benar." Astia bergumam, "Tanpa sepengetahuan yang lain, monster itu memberikan serangan tak terduga dari dalam tanah."
Karena selama para gadis berlatih, bertarung dengan Yuuki, Yuuki tidak pernah memberikan serangan dari bawah tanah. Itu yang membuat gadis lainnya tidak memprediksi hal ini.
Natasha bergabung bersama Marrona, disusul Lilac dan Amarilis.
"Aku ada sebuah kuis." Kata Astia.
"Apa ini waktu yang tepat?" Tanya Lilac acuh tak acuh.
"Selama dia terjerat oleh kemampuanku, dia tidak akan bisa bergerak. Ada batas waktu dalam kemampuanku, jadi ini tidak akan lama."
"Baiklah." Astia berdehem, "Kuis pertama. Apa kalian tahu tujuan Tuan Yuuki membuat pelatihan rutin?"
Beberapa detik kemudian, Natasha menjawab, "Master melakukan itu untuk meningkatkan efesiensi kerja sama 'Tomoe' dalam pertarungan." Seperti yang diharapkan Astia, Natasha dapat menjawabnya.
Kemudian Astia menindak lanjuti, "Untuk melawan siapa?"
Dalam titik ini tidak ada yang bisa menjawab pertanyannya, termasuk Natasha.
"Master tidak mengatakan apapun, jadi master tidak pernah mengatakan untuk melawan hal yang berada diluar akal sehat manusianya."
Tanpa disadari Amarilis mengatakan itu tiba-tiba.
"Mungkin master membuat permainan anak-anak, dan kita selalu kesulitan dalam menghadapinya. Itu karena kemampuan bela diri master cocok untuk melawan kita yang bukanlah monster."
"Tepat. Tujuan Tuan Yuuki membentuk 'Tomoe' bukan untuk berhadapan dengan monster. Jadi wajar saja Tuan Yuuki juga akan kesulitan dalam melawannya."
"Apa itu artinya..."
"Hanya nasib buruk Tuan Yuuki saja."
Mereka berlima hanya bisa menghela napas panjang.
"Dalam wujud manusianya, dia tidak bisa memanipulasi tubuhnya menjadi sebuah struktur tanaman." Natasha berpikir sebisanya, "Kemampuan Astia juga berpengaruh besar dalam menghentikan perubahan wujud monsternya kembali. Sekarang masalahnya adalah bagaimana cara menghentikan keabadiannya."
"Seharusnya kau yang paling mengetahui itu Natasha. Apa yang menyebabkannya abadi, mungkin itu yang mempengaruhinya." Astia menindaklanjuti.
(Apa yang kalian bicarakan, mahluk rendahan? Kalian tidak akan pernah membunuhku selama aku berada di sini.) Katanya dengan arogan.
"Heh, baiklah. Sekarang siapa namamu? Kau begitu sombong sampai ketika aku akan mengalahkanmu, sialan!" Natasha menunjuk dan berteriak kepada musuhnya.
(Betapa lucunya mahluk rendahan ini. Memangnya apa yang akan kau berikan untuk mengetahui namaku?)
"Apa yangakan aku berikan? Lucunya. Aku hanya ingin mengenang namamu saat dirimu akan menjadi batu nisan yang kuinjak-injak."
(Kau ingin membunuhku, katamu? Betapa lucunya dirimu Demi-Human! ... Kuku— Baiklah sebagai hadiah karena selalu selamat dalam mimpi tak terbatas dan dominasiku, akan kuberitahu namaku...) Sejenak, mahluk yang disebut Yuuki Cernunnos itu memberikan namanya. (Namaku adalah Varvatos. Penyihir naga yang ag—)
Tapi langsung dipotong oleh Natasha, "Cukup namamu saja, aku tidak butuh julukanmu yang sampah itu."
Lalu Astia berguman di sampingnya. "Siapa Varvatos itu? gak kenal aku."
"Entahlah." Lilac menanggapi acuh tak acuh.
"Aku juga tidak tertarik saat dia mengatakan namanya. Dia berlagak kuat tapi aku tidak mempunyai informasi tentang mitosnya." Jawab Natasha.
"Nah kita kan sudah mengetahui namanya dan kemampuannya, kenapa kita tidak kabur saja?" Tanya Amarilis.
"Maaf Amarilis aku juga berpikir hal yang sama." Kata santai Astia, "Tapi ini adalah kesempatan emas kita. Kalau kita beradu kekuatan dengan wujud monsternya kita tidak mempunyai kesempatan menang."
"Itu dia!" Tegas Natasha.
Astia juga mengira pemikirannya, "Jangan bilang yang menangkal pergerakannya adalah aku?"
"Tepat sekali. makhluk itu tidak bisa bergerak karena air yang menyegel pergerakannya.Aku membuat asumsi kalau regenerasinya berasal dari hutan ini, tidak— lebih dari itu. Dia tidak bisa dibunuh karena unsur kehidupan masih ada di hutan ini."
Asumsi Natasha cukup masuk akal bagi Astia, "Itu artinya kemampuan milikku adalah masalah besar baginya, karena unsur kehidupan bisa kumanipulasi yaitu air?"
"Ya benar. Hutan akan mengalami kekeringan kalau tidak ada air dan mahluk itu membutuhkan energi yang digunakan hutan untuk memulihkan dirinya. Nah, saat dia memulihkan diri, pohon demi pohon akan mati. Lalu saat pepohonan itu mati, dia menggunakan air untuk menghidupkan pepohonan itu kembali. Karena itulah sumber energi mahluk itu ada dua! Dan kalau salah satu dari mereka dihilangkan maka akan merusak 'aturan' lainnya..." Natasha mengumumkan, "Selama ada air dan hutan di area tempat ini, maka mahluk bernama Varvatos itu tidak akan mati."
(Sampai kapan kalian berdiskusi yang tidak ada gunannya. Mahluk rendahan tidak akan bisa membunuhku.)
Natasha kembali menunjuk dan berteriak padanya, "Tapi! Mahluk rendahan seperti kami yang bisa mengancam kehidupanmu! Itu sebabnya matamu selalu waspada terhadap Astia bukan?!"
(Kau!) Matanya melebar karena pernyataan Natasha.
"Karena dialah adalah sumber kelemahanmu!"
"Tapi itu bukanlah semudah yang kau bayangkan Natasha." Gumam Astia di sampingnya, "Mengatur unsur air di seluruh area hutan ini akan menyulitkan untukku."
"Jangan bilang kau tidak bisa Astia karena hanya kau tidak mampu melakukannya"
Kepercayaan diri Natasha meremehkan Astia, dia tersenyum meremehkankan padanya. Astia sedikit terpancing emosi, dia menggertakkan giginya tapi setidaknya dia akan menunjukkan kualitasnya sebagai atasan.
"Kau jangan berpikir aku tidak pernah melawan musuh yang kuat yah!!" Tangan kanan Astia mengarah ke Varvatos, mencengkeram udara seolah-olah menyekik leher Varvatos. Tangan lainnya memosisikan diri untuk menyeimbangkan agar tangan kanannya tetap stabil, "Sekarang kapan kalian akan bertindak?"
Gadis lainnya sedikit melamun tapi langsung berpencar, menyerang Varvatos di segala arah.
Astia bergetar karena berusaha merusak hukum gerak unsur kehidupan itu sendiri. Dengan skala seluruh area hutan itu bukanlah hal yang mudah. Tubuhnya bergetar dan berkeringat, detak jantungnya terasa lebih cepat seolah seperti berlari sekuat tenaga.
Di saat kemampuannya aktif, Varvatos yang menggunakan tanaman dan pohon, serangannya terhenti karena itu.
(Sialan!!)
Tubuh Varvatos menjadi lebih kaku, air yang menyelimutinya menjadi lebih merusak dirinya, darah yang mengalir di dalam tubuhnya pun menjadi kacau tak beraturan. Selama dia berada dalam kemampuan Astia, rasa sakit yang luar biasa terus menghujam tubuhnya dari luar dan dalam.
Namun tidak hanya itu.
Keberadaan Natasha dan Marrona mencapai Varvatos. Pedang Natasha dan tangan Marrona menusuk titik vital, merobeknya tanpa ampun. Regenerasi Varvatos menjadi semakin jauh melambat karena kemampuan Astia.
Mereka berdua menjauh membuat jarak. Dari dua sisi yang berbeda, hujan panah merobek udara kemudian meledak dan menciptakan lubang-lubang besar di tubuh Varvatos. Dari jarak jauh, Lilac dan Amarilis tersenyum bangga.
(Sialan! Sialan! Sialan! Sialan!! Kenapa diriku ini....!! Akan kubunuh kau! Akan kubunuh kau! Akan kubunuh kau!)
Dia berteriak dan menatap Astia dengan tajam, merasakan kemarahan yang luar biasa pada seorang manusia saat dia dihujani serangan beruntun.
"Heh!" Astia tersenyum mengejek, membalas tatapan kemarahan Varvatos.
Sekarang keadaannya berbanding terbalik, ini lebih disebut pembantaian sepihak. Tidak ada celah untuk Varvatos mengatasi serangan itu semua.
Ketika serangan dari Lilac dan Amarilis terhenti karena untuk mengisi kembali energinya, Marrona datang dengan kecepatan anak panah yang melesat. Setiap Varvatos memulihkan diri, Marrona datang dengan serangan fisiknya. Tangannya setajam pedang, menyayat di area vital musuhnya, berulang-ulang kali sebelum serangan besar Natasha datang.
Lilac, Amarilis dan Marrona pergi dari area itu ketika Natasha datang. Varvatos tidak dapat menyadarinya ketika Natasha sudah berjarak sejengkal dari tubuh Varvatos.
Varvatos melihat kebawah dan melihat Natasha tersenyum saat menarik pedangnya kebelakang.
"SONICALLY AIIIIRRRR!!!!"
Setiap mili dari tubuh Varvatos hancur dan meledak tanpa sisa, perputaran angin menghancurkan tanah, merobek udara dan hutan yang dilaluinya.
"Apa sudah selesai?" Tanya Lilac kepada Astia.
Astia tidak lengah, dia masih berada dalam posisinya.
"Sepertinya sedikit lagi."
"Hah, dengan kehancuran seperti itu?"
"Lihatlah."
Setiap mili dari tubuhnya kembali tersusun dan menjadi bentuk pria dewasa. Tapi tubuhnya tetap terjerat dengan kemampuan Astia.
(HAHAHAHAHA!! Aku hampir saja mati sialan!!) Matanya melotot dan tertawa keras. (Kau pikir membuat serangan receh seperti itu akan membu—) Suaranya langsung hilang.
Tidak langsung lama. sepersekian detik Varvatos berbicara, tubuhnya meledak berhamburan kemana-mana ke titik tidak dapat dilihat oleh mata. Hanya darahnya saja yang tersisa dan kemudian berubah menjadi lumpur.
"?!" Keempat gadis itu tercengang.
"Lihat, hanya sebentar saja..." Astia menghela napas, "Hanya tersisa sedikit kekuatan darinya, tapi kekuatan itu tidak bisa menahan dari tekanan kuat kemampuanku. Karena itu akan menghancurkannya."
Astia duduk di rumput menghela napas, melihat keterkejutan gadis lainnya saat mendengar pernyataan Astia.
Memang ini yang disebut kekuatan manusia olehmu? Batin Natasha pun tidak menerimanya lagi.
"Kenapa kau begitu santai Astia?" Tanya Natasha.
"Santai darimana? Aku berjuang menahan semua itu."
"Seolah-olah kau pernah mendapatkan ancaman yang seperti ini?"
"Memang. Bahkan lebih buruk. Saat itu kemampuanku tidak mempunyai efek padanya, bahkan tidak dapat menggoresnya."
Astia merasakan itu seperti hari kemarin dia mengalaminya. Hari ini dia memang beruntung karena musuhnya cocok dengan kemampuannya.
Kalau aku kembali bertemu dengannya, hanya akan ada kematian yang menjemput kami.
"Siapa itu—"
"Bukan siapa-siapa." Astia bangun sambil membersihkan roknya.
Aku tidak mau mengingatnya. Itu membuatku teringat apa yang dialami Tuan Yuuki.
Astia menutupi kesedihannya dari gadis lain dengan tersenyum.
"Baiklah sudah tidak ada ancaman. Mari kita ke tempat Tuan Yuuki."
Kemudian mereka pergi ke tempat Yuuki berada...
つづく
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya untuk membuat Author semangat terus!