
Sekarang, Hydra itu kembali bangkit dari 'kematian'. Bahkan setelah menerima serangan tombak dari 'pahlawan', monster itu telah beradaptasi dari serangan itu.
"Ugh! Kemungkinan besar Hydra itu telah beradaptasi terhadap kemampuan yang telah menyegelnya di masa lalu." kata Astia yang masih mengatur napasnya.
Tubuhnya dan kakinya menjadi kaku setelah menggunakan kekuatan 'itu', sekarang dia telah mengungkapkan alasan Monster itu masih bertahan.
"Tidak mungkin... kalau kekuatan pahlawan tidak bisa membunuh Hydra itu... lalu bagaimana?" Rose yang mengatakan itu.
Namun di dalam hatinya, Astia tetap menolak sebutan 'pahlawan' itu, bahkan dia tidak bisa menerimanya. Ketika pahlawan di masa lalu yang menyegel Hydra itu di masa lalu, tapi sekarang Monster itu telah beradaptasi dan bertambah kuat setelah menyerap ratusan kekuatan petualang.
"Lalu bagaimana caranya mengalahkan monster itu? Bahkan Erasure of Thunder milikku tidak bisa melenyapkannya." kata Fay.
Erasure of Thunder milik Fay dapat melenyapkan seekor Wyvern hingga ke tahap tidak pernah ada. Namun untuk saat ini, serangan Fay tidak memiliki efek apapun terhadap Hydra itu.
"Aku tidak tahu... ugh!"
"Astia!" Lilia khawatir dengan kondisi Astia.
Kepala Astia semakin sakit, dia tidak tahu penyebabnya tapi dia mencoba memikirkan cara untuk menghabisi Hydra itu untuk selamanya.
"Natasha...?!"
Lilia menatap Natasha yang berada di sampingnya, tapi Natasha menjawab dengan gelengan kepala.
"Kemampuanku juga tidak mempunyai pengaruh, Lilia. Seperti yang dikatakan Astia— Hydra itu terus beradaptasi terhadap serangan kita."
Serangan kombo mereka semua telah gagal sejak Yuuki terserang dan mendapatkan luka yang fatal. Jadi mereka sudah tidak mempunyai kesempatan kedua untuk memulai kembali.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menemukan sedikit celah untuk menaklukan monster itu— kecuali satu orang.
"Aku sudah mendapatkan jawabannya..."
Itu adalah Raja Azaka, sejak awal dia menganalisis tentang kelemahan Hydra itu dengan 'kebenaran' dan 'karisma' miliknya.
"Yang Mulia...?"
"Benar. Ini bisa dibilang rencana atau cara untuk membunuh kadal itu..."
"Apa itu, Yang Mulia? Tanya Astia."
Lalu Raja Azaka menjelaskan isi pikirannya.
"Monster itu— meskipun dia sudah dihentikan saluran energinya dari dunia ini, tapi energi sihir miliknya sendiri bahkan melampaui jutaan petualang kelas tinggi manapun. Itu artinya, mustahil untuk menghentikan regenerasinya. Dia juga tidak bisa mati dengan senjata pahlawan... jadi dengan sebuah kekuatan yang lebih besar dan yang lebih merusak konsep monster itu— dapat membunuhnya."
Setelah Astia memutuskan aliran konsep energi sihir dunia dengan Hydra itu, Hydra itu tidak memiliki energi yang sangat besar. Tapi, dengan kualitas orang-orang yang ada di tempat itu tidak cukup untuk membunuhnya.
"Jadi kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk merusak konsepsi abstrak miliknya."
"Itu... bukankah tidak ada satupun senjata yang lebih kuat dari senjata pahlawan? Jadi bagaimana bisa kita mendapatkan solusi itu?" tanya Fay yang frustasi.
Namun, Astia melanjutkan pertanyaannya dengan optimis, "Baiklah, berapa persen itu akan berhasil?"
"Sebagai raja seharusnya aku tidak boleh mengatakan ini, tapi maaf, bahkan tidak lebih dari sepuluh persen keberhasilannya."
Perkataan Raja Azaka membuat ekspresi pahit di wajah mereka, tapi meskipun begitu, Astia masih tetap optimis.
"Sepuluh persen ya... itu sangat sulit, tapi masih memiliki harapan."
Kemudian Raja Azaka membuat pernyataan lain.
"Tapi aku mempunyai asumsi lain yang membuat persentase keberhasilannya menjadi sembilan puluh persen."
"Apa itu, Yang Mulia?"
Ketika mendengar pernyataan dari Raja Azaka, orang lainnya menjadi senang.
"Ada satu hal..." kemudian Raja Azaka melanjutkannya, "Yaitu— Sebuah kemampuan seseorang yang berasal dari dunia lain..."
Sebuah keheningan menyelimuti mereka. Mereka tidak bisa menanggapi pernyataan itu atau pun mendapatkan solusi darinya.
Ada beberapa orang dari mereka yang menoleh ke arah Yuuki. Mereka adalah Astia dan Ellena.
"Itu..."
Di saat orang lain ingin menanggapinya, Astia langsung memotongnya, "Itu tidak perlu—" kata Astia, "Aku akan cukup untuk menangani monster itu."
Karena perkataannya, Lilia langsung menolak pernyataan itu.
"Bagaimana mungkin, Astia?! Kau sudah di ambang batas dan tidak bisa bertarung lagi!"
"Tapi... aku tidak bisa mengorbankan orang yang kusayangi untuk mendapatkan kemenangan itu..."
"Astia...?"
Itu adalah fakta untuk Astia, dia tidak bisa menggunakan kekuatan 'itu' lagi karena energi sihirnya sudah habis, sehingga mempengaruhi tubuhnya. Bahkan untuk berdiri saja, dia sangat kesulitan.
Karena itu, Astia hanya bisa menggigit bibirnya dengan frustasi.
"Tenanglah, Astia. Kau tidak perlu khawatir... serahkan tugas itu pada kami semua..." itu adalah Natasha yang berbicara.
Hanya dengan kepasrahan di matanya, yang membuat keputusan terakhir untuk bertahan hidup— walaupun itu mustahil.
"Tidak... tidak, tidak boleh. Itu tidak boleh terjadi... kalian hanya menuju pada kematian!"
Astia menolaknya, meskipun begitu Natasha dan yang lainnya sudah pasrah.
"Aku tahu itu Astia... tapi setidaknya— untuk terakhir kalinya, kami ingin berguna untukmu dan master."
Para gadis tersenyum kepada Astia ketika dibalik ekspresi mereka, ada sebuah kesedihan yang mendalam.
"Kami juga tidak ingin kehilanganmu dan master, Astia..." tambah Lilia yang ada disampingnya.
"Tidak... Aku menolaknya... Aku menolak perbuatan itu! Sebagai pemimpin komando kalian, Aku menolaknya!"
Astia menaikkan suaranya dan berteriak. Astia harus marah kepada mereka, karena bagi Astia, para gadis ingin mengorbankan diri mereka hanya untuk menyelamatkan Astia dan Yuuki. Jadi Astia spontan untuk menolak pernayataan itu.
"Maaf Astia..." kemudian Lilia berdiri dan mengeluarkan belatinya.
"Tidak, kalian tidak boleh seperti itu! Ugh!" Astia mencoba berdiri tapi langsung terjatuh ketika ingin meraih mereka.
Para gadis tetap tersenyum untuk Astia. Namun, sebelum mereka pergi, seseorang menghentikan mereka.
"Master...!"
****
Aku tidak tahan dengan semua peristiwa hal ini, seolah-olah penaklukan monster kelas bencana ini hanya untuk kekalahan kami.
Aku juga tidak tahan dengan eskpresi mereka semua. Semuanya terlihat dengan ekspresi di ambang kematian mereka. Dengan begitu, aku dapat mengetahui sifat asli mereka ketika menghadapi kematian.
Ternyata seperti itu sifat mereka.
Karena itu aku akan menghapus keraguanku terhadap para gadis. Jadi untuk membuktikan janjiku pada para gadis, aku akan mengaktualisasikan semua itu pada sebuah tindakan yang akan kulakukan saat ini.
"Yuuki...?"
"Maaf Ellena, sepertinya tubuhku sudah baik-baik saja." Aku berbohong.
"Tapi tubuhmu?!"
Ellena benar, lukaku belum sembuh sama sekali. Darah terus mengucur dari dadaku dan bagian-bagian lainnya. Di atas rasa sakit ini, aku akan menghentikan para gadis yang ingin mengorbankan dirinya untukku dan Astia.
Namun aku terus melanjutkan langkahku hingga ke tempat Astia dan para gadis.
"Jangan pernah memperlihatkan ekspresi menyerah kalian di hadapanku." Kataku, karena itu aku mengambil pilihan dari Raja Azaka, "Masih ada satu jalan untuk menghentikannya."
"Master..." Lilia menatapku karena kebingungan dengan kehadiranku.
Yah itu wajar ekspresi mereka menjadi bingung, padahal aku sedang sekarat tadi.
"Tempat kalian mati bukanlah di sini. Jadi jangan buat keputusan bodoh seperti itu." Tambahku
"Apa yang kau lakukan, master?! Tubuhmu sudah...!"
Aku tahu itu Lilia, tapi tidak ada tekad yang lebih besar untuk melindungi kalian semua, meskipun ini akan merusak tubuhku lebih dalam.
Darah terus menetes dari kepalaku dan dadaku— jatuh ke tanah, napas terus menyempit dan tidak beraturan. Itulah yang dialami oleh diriku, dan aku hampir bisa terjatuh setiap saat.
"Tuan Yuuki...?" Astia menyadariku dan berusaha menghentikan aku, "Tidak, Tuan Yuuki... hentikan itu! Kamu tidak boleh melakukan itu! Tubuhmu akan hancur!"
Astia berusaha menghentikanku dan mencoba meraihku dengan sekuat tenaga, tapi dia tidak bisa mencapaiku.
"Maafkan aku. Pada akhirnya sebagai pemimpin, aku tidak ingin kalian mengorbankan diri kalian hanya untukku."
"Tidak, Tuan Yuuki! Aku mohon... tolong hentikan itu..."
Aku mengabaikan panggilan dari Astia, aku terus melangkah ke depan dan menghunuskan pedangku, tapi sebelum itu aku ingin meminta sesuatu kepada Raja Azaka.
"Yang Mulia, aku mohon bantu aku dengan serangan jarak jauh Yang Mulia. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain lagi."
Raja Azaka menatapku, "Baiklah kalau itu keputusanmu. Sebagai atasanmu aku tidak berhak mengatur jalan hidupmu. Aku akan membantumu."
"Terimakasih..."
Aku sudah berada di depan tanpa ada yang menggangguku untuk melancarkan sebuah serangan. Aku sedikit lelah dan berlutut sejenak dengan tumpuan pedangku sebelum aku melancarkan seranganku.
"Hoo~ Ternyata manusia dengan keberadaan 'rusak' sepertimu telah bertahan dari seranganku. Aku apresiasi itu, manusia!"
Aku juga mengabaikan pernyataan dari Hydra itu.
Sekarang aku berdiri dan mengangkat pedangku. Serangan ini akan kulesatkan dengan keseluruhan energi yang kumiliki. Jadi, dengan kondisi tubuh yang seperti ini, akan membuat tekanan yang merusak.
Karena itu, peluangku untuk hidup setelah menggunakan kekuatan ini adalah sebesar— lima puluh persen.
Huh~ ternyata perjudian yang adil...
Tugas ini adalah yang paling cocok untukku karena faktor yang telah disebutkan oleh Raja Azaka.
Lalu...
Sebuah aura merah melingkari tubuhku dan itu seperti serbuk-serbuk cahaya. Dan ketika itu terjadi, puluhan lingkaran sihir dari Raja Azaka tercipta, lalu energi hitam pekat ditembakkan ke arah Hydra itu.
"Kau pikir serangan yang sama masih berlaku untukku?"
Memang tidak ada gunanya, tapi aku akan mencoba serangan yang belum pernah diterima olehnya.
Huh~ pada akhirnya aku melanggar pernyataanku sendiri tentang hierarki itu. Aku telah memerintahkan mereka untuk diam di saat aku melakukan hal ini. Aku juga memaksa mereka untuk tidak menolak pernyataanku.
Tapi aku mempunyai janji yang harus kutepati.
"Wahai naga jahat yang terjatuh ke dala**m jurang kegelapan~"**
Aku mengencangkan pegangan tanganku pada gagang pedangnya. Aura hitam pekat menyelimuti pedangku disertai aura merah di sekitarku.
"Bersama iblis jahat yang terkutuk! Diriku akan membawa mereka ke lapisan yang terdalam~"
Lalu aura merah kegelapan bercampur dengan aura hitamnya. Seluruh energi kukumpulkan pada satu serangan ini.
"Dengarkanlah permintaanku ini, tekadku, pencapaianku, perjuanganku! Terciptalah mimpi emas dan terlepasnya kejahatan dari dunia."
Sebuah serbuk-serbuk emas menyelimuti dan bercampur dengan aura gelap pedang ini. Aku bisa mendengar teriakan khawatir dari para gadis, tapi aku fokus pada hal ini/.
"Kekuatan itu...?!" Hydra itu terkejut, lalu dia melesatkan seluruh kekuatannya untukku seorang, tapi Barrier Azaka mengatasi itu.
Aku terus mengabaikan hal itu.
"Dengan seluruh kemampuanku ini! Tunjukilah seluruh kebenaran yang ada!"
Dan inilah kekuatanku sebenarnya...
'"BALMUUUUUNG!!!""
Energi magis merah tercampur oleh energi hitam pekat dengan serbuk cahaya, membuat tebasan dahsyat dengan skala dan ledakan yang masif. Energi terkonsentrasi yang sangat padat dengan jangkauan yang luas. Kecepatannya tidak perlu diragukan.
Energi pemusnah telah dilancarkan.
Pembengkokan ruang dan waktu terjadi, udara terobek dan terjadi penolakan hukum fisika. Penghentian waktu juga tidak berlaku pada serangan ini. Tidak perlu bertanya padaku, aku terus memusatkan seluruh energi yang ada di tubuhku ke pedang ini.
Hydra itu juga melesatkan jutaan kali lipat energi hitam pekatnya ke arahku, tapi tidak bisa menghantam seranganku ini.
つづく