I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 16.3



Regu Astia telah bekerja secara aktif, lebih tepatnya ketika mereka berada di titik timur. Astia juga bersama gadis lainnya yang di antaranya adalah Lilia, Annastasia, Amarilis, dan Marrona. Sebelumnya mereka berempat bertindak secara terpisah dengan Astia tapi komando masih berada di tangan Astia.


Namun saat ini mereka berlima telah berkumpul.


Ketika mereka mengetahui keberadaan musuh yang kemungkinan besar tidak bisa ditaklukan oleh para petualang, Astia dan rekan-rekannya yang akan maju dalam hal ini, meskipun dia tahu kalau identitas yang disembunyikannya selama ini akan terbongkar.


Namun mereka telah beruntung karena kondisi yang memaksakan para petualang mundur secara serentak. Ini artinya mereka berlima dapat menghabisi monster yang berbentuk golem itu dengan lancar.


Dalam hal ini Astia cukup terkejut ketika melihat seseorang yang menngincar dan mencurigai dirinya serta kelompoknya. Orang itu terjebak di antara tanaman beracun bersama rekannya. Namun Astia menutupi itu dengan tersenyum percaya diri.


Setelah beberapa saat melakukan percakapan dengannya, Astia dan gadis lain memutuskan untuk menghancurkan halangan yang dihadapi oleh para petualang, yaitu monster berbentuk golem itu.


Ketika mereka berlari menuju monster golem itu, gadis lain bertanya pada Astia.


“Astia, apa kau mengenal petualang itu? Sepertinya dia sudah menargetkan dirimu sejak awal.” Itu adalah Lilia.


“Um? Tidak, aku tidak mengenalnya sama sekali. Tapi karena dia terlalu ikut campur, aku akan memperingatkannya lain kali.”


Lalu gadis lain masuk ke dalam pembicaraan.


“Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau kita berorganisasi, lalu dia mempunyai sebuah niat tertentu kepada kita di masa depan?” tanya Amarilis.


“Kemungkinan begitu. Meskipun kita bekerja dengan memakai sistem organisasi, tapi kita adalah organisasi resmi yang diakui oleh kerajaan. Jadi kalau mereka menghakimi kita ketika kita tidak salah, kerajaan akan menjadi tameng untuk kita.” kata Astia.


Namun gadis lainnya terkejut ketika mendengar hal itu. Salah satunya Amarilis yang tidak mempercayai hal itu.


“A-apa master memprediksi hal ini akan terjadi? Kalau begitu, dengan kata lain master telah memperalat kerajaan untuk menjadi pelindung pribadi!” kata Amarilis.


“Eh?”


Namun Astia juga sama terkejutnya. Bukan karena Yuuki telah melakukan hal yang dikatakan oleh amarilis, tapi Amarilis sudah dalam membuat konsepsinya.


“Itu salah pah—”


Sebelum Astia meluruskannya, Lilia memotong perkataan Astia dan menambahkan kesalahpahaman.


“Seberapa cerdasnya master sehingga bisa memprediksi masa depan yang seperti itu?! Bahkan secara tidak langsung, kerajaan sudah digenggamannya!”


Astia tidak percaya dengan kesalahpahaman yang mendasar ini. Namun itu bukan masalah besar yang harus diluruskan. Selama mereka akur dan mengagumi seseorang lalu membuatnya termotivasi, maka itu yang akan membuat kemajuan dalam tim.


“Y-ya, begitulah...” Dengan terpaksa Astia mengikuti pembicaraan itu.


Namun ada hal yang mendasar yang harus Astia luruskan saat ini.


“Amarilis, kau bilang kita berorganisasi? Itu keliru bukan? Bukankah kita itu keluarga?” tanya Astia yang tersenyum.


“Fu~ Benar juga katamu. Maaf aku sedang tidak fokus.” Kata Amarilis.


Lalu Lilia juga menanggapi, “Benar! Mana mungkin ada sebuah organisasi selalu menikmati tiap harinya dengan tertawa? Bukankah seharusnya keluarga yang dapat melakukan itu?”


Karena pernyataan Lilia, semua gadis tersenyum. Mereka semua menyetujui itu dari lubuk hati mereka.


“Baiklah... target sudah berada di depan kita.” Kata Annastasia.


“Tetap pada sesuai rencana.” tambah Astia yang memimpin komando itu.


“Operasi dimulai!”


Setelah teriakan dari Lilia, mereka berpencar ke segala sisi dari tempat monster berbentuk golem itu berada. Mereka sangat terorganisir karena pengalaman mereka dalam bekerja sama.


Serangan pertama dilancarkan oleh Astia. Sebuah elemen air terbentuk menjadi bor yang melayang di udara, berjumlah puluhan, kemudian melesat ke arah monster itu.


BOOMM!!


Ledakan terjadi. Lubang-lubang yang dihasilkan oleh serangan Astia terdapat di seluruh tubuh monster itu, namun tentu saja regenerasinya terlalu cepat. Itu juga masih di dalam prediksi Astia dan itu adalah sebuah pengalihan.


“Marrona!” teriak Astia


“Aku akan selalu memenuhi tugasku!”


Perkataannya membuat semangat itu sendiri. Marrona memiliki kegesitan, itu yang membuat serangan dari akar-akar yang merambat terus meleset. Kemudian Marrona melompat tinggi dan bergerak seperti anak panah yang meluncur.


“Kemampuan ini sangat berguna!”


Dia memuji Astia secara tidak langsung. Penghalangnya mengoyakkan seluruh tanaman dan akar yang bergerak dengan kecepatan tinggi terus hancur saat menyentuh penghalang Astia.


Itu yang membuat Marrona berani melompat tinggi lalu menusuk tubuh bagian atas monster itu dengan tangan kosongnya. Tidak hanya berhenti di situ, Marrona terus melakukan pergerakan cepatnya berkali-kali hingga monster itu tidak dapat bereaksi sedikitpun.


Ekspresi Marrona adalah... dia tersenyum lebar karena menikmati itu.


“Giliranku!” kata Amarilis.


Lalu Marrona menyingkir dari arah serang jarak jauh Amarilis.


Sebuah panah magis dilepaskan, itu tidak memiliki suara sedikitpun. Kemudian bercahaya karena pantulan sinar matahari. Hanya sebuah anak panah, tapi itu sudah cukup untuk membuat monster itu tersiksa.


Seberapa tebal pertahanan yang dibuat oleh monster itu, panah itu terus menembus akar-akar dan batang runcing yang membuat sebuah tameng yang menutupi monster itu. Namun prinsip Amarilis adalah...


“Hilangkan semua halangan dan hancurkan musuh!”


Seolah menembus kertas kosong, panah itu terus bergerak tanpa ada gesekan sedikitpun. Lalu meledak ketika menghantam tubuh monster itu. Monster itu berubah menjadi abu dan berubah menjadi butiran yang paling kecil.


“Bukankah monster golem itu manifestasi dari perwujudan Varvatos?” tanya Amarilis.


“Benar, kemungkinan ini adalah pasukan-pasukan kecilnya yang tersebar di berbagai tempat. Namun keberadaan si Varvatos itu sudah lenyap dari dunia ini.” Jawab Astia.


“Begitu... pantas saja mereka tidak sekuat Varvatos dan kemampuan serang mereka berdasar insting binatang saja.”


Ketika Amarilis mengatakan itu. Partikel-partikel kecil itu kembali tersusun menjadi sebuah bentuk, yaitu kembali menjadi monster golem.


“Tapi tetap saja... regenerasi mereka tetap menakutkan.” Tambahnya.


“Kalau begitu, mari kita akhiri ini.” Kata Astia ketika dia membuat kuda-kuda.


Astia melakukan kuda-kuda yang sama ketika dia berada di hutan selatan tempo hari ketika melawan monster yang bernama Varvatos. Dia menaruh tangannya ke depan dan membentuk sebuah cengkeraman, Astia juga menurunkan sedikit posisi bagian bawah tubuhnya. Di saat itu juga, seluruh konsep yang mengatur segala kehidupan di hutan itu telah diatur oleh Astia sesuka hati.


Pergerakan serangan dari akar-akar terhenti dan batang-batang pohon tidak menunjukkan aktifitas hidup. Namun ketika monster golem terus diserang oleh Marrona, monster itu bergerak dengan sangat cepat dan berhasil menghindari serangan beruntun Marrona. Dia berusaha kabur dan pergi ke dalam hutan.


Namun Astia tetap tersenyum.


“Mau seberapa jauh dirimu kabur, selama kau masih berada di kawasan hutan ini, kau akan terus terkena efek kemampuanku.” Kata Astia.


“Lagipula Annastasia juga berada di sana.”


Ketika monster itu merasa terancam dan kabur dari serangan musuh, dia terus menjauh dari tanah yang terbuka dan memasuki hutan yang lebih dalam. Monster itu terus merusak pohon yang dilaluinya karena ukuran tubuhnya yang sangat besar.


Namun hanya sampai situ monster itu terus melarikan diri.


BOOM!!


BOOM!! BOOM!! BOOM!!


Ledakan terus terjadi ketika monster itu melewati dan merusak pohon yang baru saja dilaluinya. Ledakan tanpa henti ketika monster itu terus bergerak. Meskipun kemampuan regenerasinya sangat tidak masuk akal, tapi itu memperlambat pergerakannya.


Sampai di titik terakhir, monster itu hancur berkeping-keping karena ledakan di setiap detik. Regenerasinya juga sangat melambat, seluruh bagian tubuhnya terasa kacau.


Melihat hal itu, seorang gadis menaikkan sudut bibirnya dengan bangga ketika dia memainkan sebuah benda kecil yang berbentuk bola. Benda itu adalah bom dan yang memainkannya adalah Annastasia.


Dia telah memasang bom di setiap pohon. Maka karena itu. ketika monster itu membuat kerusakan dan mengincak pohon-pohon yang dilaluinya, bom itu bereaksi dengan cepat dan memberikan hulu ledak yang sangat besar.


“Sepertinya aku harus menyelesaikan ini.” gumam Annastasia.


Ketika monster golem itu berusaha meregenerasi tubuhnya dan terus kesakitan dari dalam, Annastasia menjadikan bom itu menjadi benda yang dilempar dan ditangkap olehnya. Lalu, karena ini adalah sebuah akhir, Annastasia melemparkan bom itu keopada monster itu dengan santai.


Annastasia melemparkannya dari atas pohon. Lalu ledakan besar terjadi, dan itulah yang menjadi akhir dari riwayat monster golem itu. Tubuhnya telah menghilang bersama ledakan itu.


Annastasia hanya meninggalkan senyum kepada monster itu dan kembali ke tempat gadis lainnya.


 つづく


Kalau ada typo mohon dikoreksi ya, dan jangan lupa like, komen, dan klik favorit!