
Sebuah ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang baik, membuka lebar-lebar pintu masuknya. Sebuah meja rapat ditaruh di tengah-tengah para petualang, dan di atasnya ada sebuah peta besar yang terbuka lebar sehingga siapapun dapat melihatnya.
Selain itu, sepuluh kursi juga ditata dengan jarak yang teratur dan dipersiapkan untuk sepuluh orang pemimpin kelompok petualang yang terkuat menurut pengalaman prestasinya.
"Dengan ini rapat penaklukan monster kelas bencana dimulai."
Selain sepuluh petualang kelas tinggi, puluhan hingga ratusan orang berkumpul di ruangan itu. Ada beberapa orang saling berbicara tentang hal-hal mengenai penaklukan tersebut dan ada yang khawatir, terseret ke dalam misi tersebut karena atasan mereka yang memaksa mereka untuk ikut.
Pertama kalinya mereka bergabung bekerja sama untuk menyelesaikan misi yang tidak diduga. Biasanya mereka enggan untuk bekerja sama karena rasa hormat tinggi yang dimiliki oleh setiap kelompok petualang.
Karena itulah mereka hening, tidak terbiasa dengan situasi ini. Setelah beberapa menit, salah satu orang dari sepuluh orang itu berbicara karena tidak tahan dengan itu.
"Kalau kalian tidak ada yang berbicara maka sia-sia saja pertemuan ini."
Wanita itu berbicara sambil menutup matanya. Dengan paras yang cantik dibaluti oleh rambut pirangnya, membuat dia menjadi pusat perhatian yang dilihat ratusan orang.
"Ahaha! Jangan begitulah nonaku, mereka ini hanya gugup. Pertemuan besar ini membuat mereka seperti itu."
Orang itu berbicara sambil tertawa mengejek, meskipun begitu dia adalah wanita dengan tubuh yang paling kecil daripada sembilan orang lainnya. Tapi meskipun tubuhnya kecil, dia tetaplah pemimpin kelompok.
"Jangan terus-menerus panggil aku nonamu. Aku itu bukan siapa-siapamu!" Wanita pirang itu sedikit kesal, lalu dia berteriak.
"Hmm..." Seorang pria berdengus, "Kalau begitu akan memulainya lebih dulu, kalian semua tidak perlu saling menggonggong. Itu lebih baik untuk keberhasilan kita semua."
Pria itu memiliki peralatan armor yang besar memenuhi tubuhnya, perkataannya juga memiliki karisma tersendiri untuk membangun suasana enerjik. Kemudian dia melanjutkan meskipun ada yang terpancing.
"Mari kita mulai dari petanya terlebih dahulu... Bagian sini adalah padang rumput yang luas yang didekatnya adalah Pegunungan Yatze, itu adalah target kita."
Kemudian orang lain bergabung, "Dengan kata lain di situlah monster hydra itu menguasai daerah tersebut."
"Benar, kita memang tidak tahu pasti dimana monster itu berada, tapi menurut peta ini, ada gua besar yang ada di dekat tebing Pegunungan Yatze. Aku yakin monster itu dibalik dari gua itu."
Wanita pirang itu membuka mata birunya, "Bagaimana dengan monster-monster lainnya. Apakah itu harus mengabaikan monster yang tiba-tiba menjadi kuat dan memfokuskan pada Hydra itu?"
"Tentu saja tidak kan, nonaku?"
"Jangan panggil aku seperti itu!"
"Yah memang benar yang dikatakan gadis kecil itu. Monster lainnya akan mengganggu kita ketika kita terfokus pada Hydra itu, makanya kita harus menumpas habis monster-monster lainnya."
Perkataan pria berarmor itu langsung dibantah oleh pria berjubah dengan menyarungkan pedangnya dipunggungnya. "Apa energi kalian tidak terbatas hah?! Bagaimana kita akan menghabisi hydra itu ketika kita sudah kehabisan tenaga melawan monster lainnya?"
"Yang lemah akan mati. Itu bukanlah pemikiran kesatria ketika kelelahan dijadikan sebuah alasan. Kelompokku akan terus maju apapun yang terjadi." Kata pria berarmor.
"Pemikiranmu sangat egois. Tidak semua orang yang ada di sini memiliki badan besar dan tenaga yang kuat sepertimu."
Kemudian dia mengangkat tangannya dengan sombong, "Memang tidak ada. Karena aku dan kelompokkulah yang terkuat di negara ini. Semua anggota kami saling melengkapi satu sama lain tanpa kekurangan sedikitpun, dengan kata lain 'Sempurna'."
Tidak ada penolakan dari perilaku sombong pria berarmor itu. Pria berjubah itu hanya menghela napas dan bergumam, "Huh, bodohnya."
"Lalu kenapa kau ikut pertemuan ini? Kenapa tidak langsung saja kau serang hydra itu dengan kelompok sempurnamu itu sendirian sekarang?" Kesal si wanita pirang.
"Pertanyaan konyol. Tentu saja semua pengalaman tempur sudah kudapatkan, hanya saja bermain-main 'kerja sama' itu membuatku tertarik."
Pria berarmor itu mungkin menganggap dirinyalah yang paling kuat, tapi kekuatan itulah yang membuat kesombongan yang ada di dirinya. Meskipun karismanya yang tinggi, dengan penolakan orang lain dari dirinya, membuat dirinya dan kelompoknya tidak disukai oleh kelompok petualang lain.
"Huh, terpancing oleh perkataanmu hanya akan menimbulkan perpecahan yang mengakibatkan kehancuran... Baiklah kita lanjutkan... Untuk mengantisipasi hal buruk terjadi atau kelelahan maka kita harus mendiskusikan koordinasinya." Kata pria berjubah.
"Aku setuju."
"Tidak ada masalah."
"Aku juga!"
Ketiga orang tersebut setuju dengan rencana pria berjubah, pemimpin kelompok lain juga mengangguk terlihat tidak ada penolakan.
"Sebelum itu kita harus memperkenalkan diri masing-masing. Mungkin kita mengetahui popularitas dari kelompok petualang masing-masing dari kita yang ada di meja ini, tapi kita sama sekali belum mengetahui nama masing-masing dari kita." Kata pria berjubah.
Tidak ada masalah, pria berjubah melanjutkan, "Baiklah pertama dari aku, namaku Fay dari kelompok 'Pedang tujuh lautan'."
"Aku Rose dari kelompok 'Rosevelt'." Kata wanita rambut pirang.
"Aku adalah Frank dari kelompok 'Knight of rebellion'." Dengan percaya diri pria berarmor memukul dadanya untuk memamerkan semangat juangnya.
"Namaku Leticia dari kelompok 'Mawar biru'!!" Wanita bertubuh kecil itu mengangkat tangannya ke atas, menunjukkan semangat mudanya.
Kemudian pemimpin kelompok lain yang baru mengeluarkan suaranya.
"Aku Vord dari kelompok 'Red dagger'."
"Aku Visco dari kelompok 'New roman'."
Setelah enam orang menyebutkan namanya, sisa 4 pemimpin kelompok lain tidak ingin menyebutkan namanya yang alasannya tidak mau disebutkan. Tapi masing-masing dari mereka yang ada di meja itu tahu kalau keempat orang itu tidak ingin identitasnya diketahui oleh orang banyak. Memang ada petualang yang seperti itu, dan itu adalah hal yang umum.
"Aku akan membagi setiap kelompok utama bertugas di setiap titik berdasarkan arah mata angin..." Kata Fay, "Di setiap titik tersebut diharapkan menyelesaikan tugas dengan baik, dan bagi yang sudah menyelesaikan tugasnya, diharapkan membantu kelompok lain yang belum. Untuk selain kelompok besar yang ada di meja ini, dipersilahkan untuk mengikuti siapapun. Apa sampai di sini ada keluhan?"
Fay melirik ke arah lain. Karena tidak ada penolakan yang muncul, kemudian dia melanjutkan.
"Pegunungan Yatze berada di arah timur dan hutan yang berbahaya itu berada di arah timur laut, karena Frank menganggap dirinya paling kuat di sini maka Frank dan kelompoknya akan berhadapan langsung dengan monster-monster kelas atas."
Frank dari kelompok petualang Knight of Rebellion, dia tidak memiliki masalah di wajahnya, menerima tugas dari Fay tanpa berpikir panjang, dan menganggap semua itu berada di tangan.
"Baiklah satu titik sudah teratasi. Apa di sini ada yang ingin mengajukan diri?"
"Aku! Aku!" Leticia mengangkat tangannya dengan ceria.
"Ya?"
"Karena aku ingin menghemat tenaga sebaik mungkin, aku mengajukan diriku dan kelompokku di arah selatan. Karena mungkin ada serangan musuh dari arah lain, jadi aku ingin berjaga-jaga saja!"
Fay berpikir kalau keputusan itu baik-baik saja, lagipula yang dikatakan Leticia mungkin ada benarnya.
"Baiklah aku akan menandai—"
Sebelum Fay menyelesaikan kata-katanya, dia langsung dipotong oleh Rose.
"Tunggu dulu. Aku juga mengajukan diri di titik itu."
"Kenapa?"
"Kalau membiarkan dia memimpin di titik itu sendirian, itu akan menjadi masalah kalau ada musuh menyerang dari arah lain. Cara berpikirnya masih anak-anak, aku tidak akan membiarkannya di titik yang penting."
Fay sejenak memikirkannya, kemudian menyetujuinya, "Baiklah, kau yang paling mengerti tentangnya. Aku tidak akan mempermasalahkannya lebih jauh."
Setelah disetujui, Leticia mengejek Rose, dan akhirnya saling mengejek dalam diam.
"Apa ada yang ingin mengajukan diri lagi?"
Tidak ada respon dari petualang lain. Jadi Fay sejenak membuat keputusan sendiri.
"Kalau tidak ada tanggapan, aku akan berada di titik timur, dengan kata lain garis depan. Aku membutuhkan dua kelompok di meja ini untuk membantu kelompokku, yaitu Vord dari Red Dagger dan Visco dari New Roman. Bagaimana, apa kalian tidak ada masalah?"
Visco bediri dari kursi, kemudian membelai rambutnya dan memunculkan sifat narsistiknya, "Fiuh~ Aku tidak masalah dengan itu. Selama aku di garis depan, aku bisa menunjukkan betapa jantannya diriku."
Keanehannya membuat mata Fay berkedut, "Ahaha, baiklah kalau begitu... Vord apa kau tidak mempunyai keluhan?"
"Tidak juga. Mengatasi permasalahan dengan cepat adalah keahlian kami. Selama ada kami penaklukan ini akan cepat selesai dan aku bisa tidur lebih cepat." Kata Vord dengan ekspresinya yang mengantuk dan menguap beberapa kali.
"Kalau begitu, selama tidak ada keluhan itu berarti kemampuan memadai untuk pertempuran ini... Dan untuk yang belum, apa salah satu dari kalian ingin mengajukan diri?"
"Meskipun kau bilang begitu, posisi apa yang tersisa untuk kami? Bukannya semuanya sudah terisi?" Katanya dengan acuh tak acuh, pria itu berpenampilan remaja yang sambil mengangkat kakinya sampai ke meja.
Fay mengangkat senyumnya. "Siapa bilang? Malahan ini yang paling penting. Kalian mengisi posisi penyerang balasan."
"Penyerang balasan?"
Kemudian Fay memberikan penjelasannya kepada pria itu.
"Ya, dengan kata lain, ketika kelompok utama telah kehabisan serangan untuk sementara, kalian bisa langsung masuk menggantikan peran kelompok utama dan lakukan penyerangan. Dengan begitu penyerangan kita tidak akan terhenti untuk waktu yang lama."
Kemudian Fay mengambil beberapa bidak lalu dia taruh di atas peta dan memposisikannya sesuai titik.
"Mari kita ambil sebuah asumsi... Kelompok Frank akan berada di timur laut, kelompokku, Visco dan Vord akan berada di timur, kemudian Rose dan Leticia akan berada di selatan. Ketika mereka mengalami sesuatu yang membuat mereka terdesak, si penyerang balasan akan membantu mereka yang kesulitan. Ataupun ketika kelompok utama mengalami tekanan yang membuat tenaga mereka habis, di saat itulah si penyerang balasan akan berganti posisi, dan kelompok utama harus mundur untuk sementara."
"Hmm... Apakah kami akan bersantai-santai dulu ketika misi dimulai?"
"Kalian bisa menganggapnya dengan menghemat energi."
"Fuh, baiklah... Aku dan kelompokku setuju dengan itu... Aku akan mengambil peran itu dan aku ingin berada di titik timur laut."
"Heh..." Frank mendengus kembali, "Jangan kira kau akan mendapatkan jatah main di sini... Palingan kau akan terus bersantai-santai seperti itu dengan menaikkan kakimu ke atas meja sampai Hydra itu kuhabisi."
Pria remaja mendengar itu, menggertakkan giginya, "Hah! Kau jangan sombong dulu ya bodoh! Dengan armor usangmu itu hanya akan membuat sulit monster-monster itu memakanmu. Terlalu besar kesombonganmu sampai-sampai otak ototmu itu dipenuhi oleh kesombongan."
Frank berdiri dari bangkunya, marah karena kalimat yang dikeluarkan oleh pria remaja itu, kemudian menghampirinya yang ada di sampingnya.
Tapi sikap dari pria itu masih tidak ada yang berubah, masih mengangkat kakinya di atas meja, sampai seragamnya ditarik oleh Frank.
"Siapa namamu?!" Pertanyaan Frank membuat atmosfer sekitar menjadi lebih berat. Perbuatan inilah yang membuat kelompok pria remaja itu kaget dan marah.
"Elderich, kenapa emang?" Jawab santai Elderich ketika dia melambaikan tangannya untuk menenangkan kelompok petualangnya.
"Aku akan membalasmu di masa depan ketika kau mengejek diriku, tapi aku akan menghancurkanmu sekarang saat kau merendahkan perlengkapanku."
Frank masih marah ketika dia mengangkat Elderich, tapi Elderich masih bersikap biasa saja.
"Fuh, memangnya kenapa? Apakah memang benar perkataanku tadi?" Perkataan Elderich membuat keadaan semakin sulit untuk terkendali. Satu langkah lagi sebelum kerusakan terjadi.
"Armorku ini terbuat dari lapisan terbaik dan langka yang membuatnya tidak tergoreskan sedikitpun. Inilah yang membuatku sekuat ini... lalu dirimu yang merendahkannya, memangnya kau anggap apa armorku ini?"
Frank dalam puncak kemarahannya. Satu lagi kalimat yang akan keluar dari mulut Elderich akan membuat pertemuan yang sedang di tengah perencanaan akan berantakan. Bahkan semua orang tahu, kata-kata apa yang akan keluar dari Elderich.
"Norak banget..." Tapi bukan Elderich yang berbicara... Suara yang berasal dibalik kerumunan itu membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang.
つづく
Jangan lupa like, komen dan klik favorit ya!