I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II

I Was Thrown Into Another World, IsThis Alright II
Chapter 28 : Penyusupan



Itulah yang dilakukan oleh mereka bertiga sebelum datang ke restoran ini, namun Lilia dan Lilac tidak mengetahui hal tersebut. Ketika Lilia menopang kepalanya dengan bosan, dia memikirkan skenario masternya, Annastasia dan Elma datang ke sini.


“Apa jangan-jangan mereka juga dimintai tolong untuk kencan buta di sini?” gumam Lilia yang tidak bisa didengar oleh siapapun.


Namun Lilia langsung menolak pemikiran itu.


Itu tidak mungkin, Annastasia dan Elma tidak mungkin menerima permintaan hal itu, mereka berdua pasti lebih kasar daripada aku. Lagipula master juga terlibat, jadi mana mungkin, kan?


Setelah beberapa saat menunggu, orang-orang lain datang dan duduk di tempat duduk yang dipersiapkan. Pria dan wanita duduk berseberangan dengan jumlah yang sama— mereka semua saling berhadapan layaknya orang yang ingin memulai kencan buta.


Kemudian, pria besar yang di sebelah Mord— orang yang diduga Lilia adalah pemimpinnya berdiri ketika mengangkat gelas birnya.


“Hari ini kita akan merayakan berhasilnya anggota baru kita! Dan merayakan kedatangan anggota baru kita yang berkompeten!”


Ketika mendengar hal itu, Lilia bertanya-tanya. Mungkin orang-orang yang ada di sini adalah kelompok petualang yang sedang melakukan pesta, dan akhirnya Lilia dan Lilac tidak sengaja terlibat.


“Kalian semua sudah melihat pertarungannya tempo hari, bukan? Oleh karena itu dia layak mendapatkan penghargaan kita, dan itulah kenapa kita merayakan hal ini!”


“Wooo!!”


Mereka semua berteriak dan menjawab perkataan pria besar itu dengan semangat.


Kemudian dia kembali duduk kembali, dan dia terlihat berbisik ke arah Yuuki.


“Memangnya siapa orang barunya?” Lilia bertanya-tanya dengan berbisik.


“Yah mari kita lihat siapa orangnya.” Lilac yang menjawabnya, sepertinya dia mendengar bisikan Lilia.


Kemudian seseorang berdiri dan memperkenalkan dirinya.


“Perkenalkan namaku Ryuuji. Seperti yang dikatakan Tuan Razor, aku sangat berterimakasih karena diterima oleh kelompok petualang yang sangat kudambakan ini. Sebelum perekrutan itu, aku berusaha keras berlatih agar bisa bergabung dengan kelompok ini, karena itulah aku sangat berterimakasih meskipun aku melewati banyak rintangan. Oleh karena itu, untuk kedepannya mohon bantuannya, senior-seniorku.” Katanya sambil tersenyum cerah dengan semangat dan diakhiri dengan tundukan.


“Master...? Tidak mungkin...” Lilia saking terkejutnya mendengar ucapan dari masternya, hampir menumpahkan minumannya yang baru diantar.


Kemudian, dia mengeluh kepada Lilac yang duduk disampingnya.


“Hey, Lilac! Kenapa master mengatakan itu? Itu benar-benar master, bukan?” bisik Lilia ketika menggoyangkan bahu Lilac.


“Ya aku tahu saat ini master benar-benar aneh, tapi aku yakin master punya suatu rencana.” Kata Lilac yang mencoba tenang.


“Ta-tapi bagaimana bisa-bisanya master bisa tersenyum seperti itu? Lihatlah! Memangnya dia pernah tersenyum seperti itu kepada kita?”


Lilia bertanya kepada Lilac dengan panik, seolah-olah itu adalah akhir dunia. Lilia juga mempunyai banyak pertanyaan kepada masternya, dan pertanyaan demi pertanyaan perlahan masuk ke dalam kepalanya.


Bagaimana bisa master bisa masuk ke dalam kelompok ini? Memangnya apa yang master dambakan?!


Lalu, sekilas Yuuki menatap ke arah Lilia dan Lilac sebelum dia duduk kembali.


“Lilia, sepertinya itu adalah senyuman palsu.”


“Benarkah begitu?!” tanya Lilia yang tidak bisa mengontrol perasaannya.


“Kenapa kau tidak bisa menyadarinya? Bukankah master barusan memberitahu kita dengan tatapannya seoal-olah itu adalah kodenya?”


“Huh~ Sepertinya begitu...”


Sebelum orang lain menyadari kelakuan anehnya, Lilia mencoba tenang untuk saat ini.


Lalu, pria besar itu kembali berdiri dan mengumumkan kepada anggotanya.


“Karena ini adalah perayaan, aku akan membayar semuanya yang kalian pesan!”


“Woo!!” Anggota-angota lainnya berteriak dengan semangat.


Itulah yang membuat Lilia menyayangkan hal ini.


“Huh~ pada akhirnya ini memang bukan kencan buta. Ini cuman pesta perayaan biasa.”


Ketika mereka sudah sedikit tenang, wanita-wanita yang termasuk kelompok itu berdiri, lalu pergi mengelilingi Yuuki. Mereka semua terlihat menggodanya, dan itu membuat rekan-rekannya kesal.


“A-apa yang mereka lakukan pada master?!”


Bahkan Lilia tidak bisa melihat masternya karena sudah dikerumuni oleh wanita. Hampir tidak tersisa wanita yang duduk berhadapan dengan pria didepannya, mereka semua seolah-olah cemburu karena pada waktu ini adalah kesempatan pria untuk menggaet lawan jenisnya. Namun karena ada satu orang yang menarik perhatian para wanita, mereka semua tidak mendapatkan kesempatan.


“Memang sudah seperti ini biasanya.” kata pria besar itu, lalu dia menatap ke arah Lilia dan Lilac, “Oh, kalian gadis-gadis yang diajak oleh Mord dan Leo, ya?”


Lilia dan Lilac masih kesal dengan keadaan yang dilihatnya, tapi mereka langsung mengalihkan hal itu.


“Ah i-ya, kami cukup menikmati perayaan ini kok.” Lilia langsung menjawab seluruh hal agar dia tidak ditanya-tanya lagi oleh orang lain.


“Maafkan aku, akulah yang meminta Mord dan Leo untuk mengajak kalian. Jadi aku harap kalian memaklumi itu.” Kata pria besar yang bernama Razor itu.


Ketika Lilia sekilas melihat Leo dan Mord, mereka berdua seolah-olah memaksakan senyumnya.


“Ah ya tidak apa-apa.” Jawab Lilia secara terpaksa.


“Baguslah kalau begitu.”


Setelah itu, pelayan datang menghidangkan mereka semua makanan. Ketika pelayan itu mengantarkan sebuah hidangan kepada Lilia dan Lilac, mereka berdua terkejut ketika menyadarinya.


“Asti—!”


Namun, pelayan itu menaruh jarinya di mulutnya dan mengisyaratkan untuk Lilia tetap diam. Pelayan itu adalah Astia.


“Ini makanannya nona.” Senyum dari pelayan itu kepada Lilia.


Ketika Lilia menyadari itu, itu artinya Astia tidak sendiri dan bersama Marrona untuk saat ini. Namun ketika dia melihat ke arah lain, dia menemukan Marrona sedang mengantarkan makanan untuk kepada anggota Kelompok Divergent.


“Sepertinya dia digoda oleh laki-laki itu.” Kata Lilac yang disampingnya, mengarahkan pandangannya ke arah Marrona.


Lilia juga melihat itu dari jauh, tapi Astia segera menengahi itu, setidaknya untuk saat ini Lilia tidak bisa membantu mereka. Ketika Lilia masih menatapkan pandangannya ke arah Astia yang sedang menghindangkan makanan untuk anggota Divergent, dia melihat Astia datang ke arah Yuuki.


“Mohon maaf nona-nona, sebaiknya tidak membuat pelanggan yang lain terganggu, saya harap nona sekalian untuk kembali ke tempat duduk masing-masing, terimakasih.” Itulah perkataan dari Astia ketika banyak wanita yang masih mengerumuni Yuuki.


“Huh~ sepertinya itu juga senyuman palsu.” gumam Lilia.


“Yah aku pikir juga begitu.” ucap Lilac di sampingnya, “Kupikir Astia terlihat kesal di balik senyumannya itu.”


“Ya itu wajar saja kalau master dijadikan target oleh wanita lain.”


Pada akhirnya mereka tidak terlalu menikmati acara itu dan hanya melihat percakapan dan obrolan yang tidak berguna di antara orang-orang itu. Itulah yang menyebabkan Lilia dan Lilac hanya menatap masternya saja. Selain Lilia memberikan ancaman tidak langsung kepada Leo dan Mord karena ini tidak seseuai harapannya— pada akhirnya Lilia dan Lilac meninggalkan restoran itu.


“Huh~ pada akhirnya tidak ada yang bisa kita cari informasinya tentang mereka.” Kata Lilia kepada Lilac ketika berada di luar restoran.


“Aku juga bingung maksud master, kenapa dia berada di kelompok itu? Annastasia dan Elma juga sama saja. Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka.”


“Oh iya, ngomong-ngomong dimana mereka berdua, Annastasia dan Elma?” tanya Lilia.


“Bukankah mereka berdua bersama master pergi duluan? Mungkin sudah sampai rumah.” Jawab Lilac yang berspekulasi.


Ketika mereka berdua bertanya-tanya tentang rekannya, mereka menyadari bahwa keadaan sekitarnya hening, tidak ada orang di sekitar atau orang yang berlalu-lalang.


“Bukankah beberapa saat yang lalu masih banyak orang di sini?!” Lilia mulai berjaga-jaga.


“Memang begitu, tapi apakah ini kasus yang sama seperti ilusi?”


“Itu tidak mungkin, bukan? Seharusnya penghalang Astia yang bisa menangkal hal tersebut masih berada pada kita.”


“Sepertinya begitu. Berhati-hatilah.”


Ketika Lilia menyiapkan kedua belatinya sedangkan Lilac menyiapkan busurnya, mereka mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi.


“Apa jangan-jangan sebuah racun dimasukkan kepada makanan kita tadi? Itu yang membuat kita berhalusinasi saat ini?” tanya Lilia.


Mungkin sebuah pemanipulasi pikiran tidak akan bekerja menggunakan serangan sihir atau serangan langsung, itu karena ada penghalang Astia yang menyelimuti mereka. Namun, kalau sesuatu itu langsung dimasukkan melalui tubuh, kemungkinan mereka akan berhalusinasi karena melewati makanan. Itulah yang disebut keracunan.


“Seharusnya tidak mungkin. Lagipula yang memberikan hidangannya kepada kita adalah Astia secara langsung.” Jawab Lilac yang mencoba memecahkan misteri itu.


“Bagaimana dengan minumannya? Minuman itu tidak diberikan oleh Astia.”


Yang dikatakan oleh Lilia benar adanya. Sebelum makanannya datang, minumannya dihidangkan terlebih dahulu dan diantarkan oleh orang lain yang tidak dikenal.


Ketika mereka sedang berproses dalam mencari kebenarannya, sebuah bayangan hitam besar berada di belakang Lilia.


“Lilia! Belakangmu!” Lilac berteriak, tapi Lilia tidak bisa bereaksi terhadap hal itu.


“Ugh!”


Tengkuk Lilia dipukul dari belakang ketika tubuh Lilia menjadi kaku, kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri.


“Lilia!” Lilac berteriak dan mencoba membuat jarak dari orang yang menyerangnya itu.


“Sepertinya racun itu cukup bekerja pada sihir kalian.” Kata orang itu.


Ketika Lilac ingin menarik busurnya dan melesatkan anak panah, tapi tiba-tiba anak panah magisnya tidak bisa keluar dan terasa kosong.


“Sihirku menghilang?”


“Huh? Sepertinya begitu. Sepertinya tubuhmu mempunyai ketahanan terhadap petrifikasi ya... tidak seperti rekanmu.” Kata orang itu.


“Kau!!”


Sekarang Lilac marah, dia berlari ke arah orang itu— menyerangnya dengan busurnya yang bisa dipergunakan seperti pedang. Namun Lilac berakhir menebas udara kosong, orang yang diserangnya tidak ada di sana.


Ketika Lilac menyadarinya bahwa orang itu di titik buta Lilac, dia sudah terlambat untuk melakukan eksekusi, dan berakhir dipukul di bagian tengkuknya.


“Ugh...”


Lilac jatuh dan tidak bisa menggerakkan satu pun jarinya.


“Oh kau masih belum pingsan juga? Ternyata ada orang yang bisa bertahan dari pukulanku.”


“K-kau...” Lilac berusaha berbicara ketika dia tersungkur di tanah, “Kau adalah orang yang sama de-dengan Razor itu...”


“Kau mengetahuinya? Tentu saja itu adalah aku sendiri. Setiap orang pasti memiliki topeng publik, bukan?” kemudian orang yang bernama Razor itu mendekat, “Nah, sekarang apa yang kau ketahui tentang kelompok kami?”


Ketika Lilac ditanya pertanyaan seperti itu, dia tidak mengerti menjawab apa. Itu karena memang Lilac tidak mengerti apapun.


“Si-siapa?” tanya Lilac yang hampir kabur penglihatannya.


Namun ketika Lilac hampir menutup matanya, dia mendengar sebuah suara dari arah lain. Itu misterius dan bergema di seluruh area.


“Seharusnya kami yang akan bertanya tentang kelompokmu.”


“Suara itu?!”


Ketika Razor cukup mengenal suara itu, kaki kirinya tertembus oleh sesuatu benda kecil— persis di betis kirinya. Itu membuat Razor berlutut dan tidak bisa mengangkat kaki kirinya. Kakinya ada sebuah lubang dan terus mengucurkan darah.


“Apa-apaan ini... bagaimana ada orang yang bisa menembus Barrier ilusiku?” kesal Razor.


Ketika kedua tangannya ingin memproyeksikan sihir, tiba-tiba kedua tangannya diserang oleh sesuatu yang sangat cepat, itu kecil dan sangat panas. Panasnya tidak terlalu berasa tapi membuat lubang di kedua tangannya, kemudian dia baru merasakan panas dan sakit yang luar biasa setelanya.


Dia melihat kedua tangannya dibanjiri oleh darah, namun ketika dia melihat ke depannya— sebuah tendangan sudah melayang di depannya. Itulah yang akhirnya membuat Razor pingsan.


Dengan pria sebesar itu dapat dikalahkan dengan cepat. Lilac yang sudah di ambang batas kesadarannya, melihat seseorang yang sangat dikenalnya, berada tepat di depan tubuh Razor.


Kemudian Lilac memanggilnya dengan lemah.


“Master...”


Setelah kalimat itu, kesadaran Lilac perlahan lenyap.


つづく