
Di saat itu juga, panggilan dari Lilia datang dari garis depan.
“Astia...”
“Ya, aku berada di posisi, ada apa?” tanya Astia.
“Sesuai dugaanmu, mereka kesulitan ketika melawan musuh-musuh. Lalu mereka membuat keputusan mundur, mungkin itu adalah keputusan yang bagus.”
Astia masih dapat mendengar pertempuran yang sedang terjadi. Kemungkinan para petualang itu masih terlibat pertarungan ketika mereka mundur ke barisan paling belakang.
“Baiklah. Lalu bagaimana situasinya?”
“Tidak ada yang berubah seperti regenerasi musuh yang masih konsisten, di posisi Natasha tempati juga tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaanya adalah tidak ada kabut atau sesuatu yang membuat memanipulasi pikiran. Lalu tidak ada perwujudan dari manifestasi monster yang bernama ‘Varvatos’ itu.”
“Baiklah. Kalau begitu, kalian juga mundur untuk sementara.”
“Baik!”
Tidak ada komentar dari Astia. Itu adalah informasi baru yang didapatkan di garis depan titik timur penyerangan.
Menunggu semuanya berkumpul, termasuk seluruh petualang di perkemahan itu, Astia menyamarkan diri di antara para petualang lain yang mulai berkumpul datangnya dari pasukan garis depan. Beberapa saat kemudian, para petualang garis depan datang dengan tangan kosong. Hanya luka-luka yang terlihat oleh mata, namun tidak sampai mendapatkan luka yang berat.
Mereka semua teratur ketika mundur, petualang medis juga terjaga dengan baik, karena itu kunci pertahanan mereka.
Lalu di saat itu juga, para pemimpin kelompok petualang dan petualang-petualang kelas tinggi memasuki tenda besar yang dapat menampung hingga ratusan orang. Astia juga masuk dan menyamarkan diri di antara para petualang.
Lalu diskusi mereka berlangsung saat itu juga.
Namun di tengah diskusi yang sudah berjalan cukup lama, seseorang terhubung dengan komunikasi Astia.
“Astia...”
“Eh, Tuan Yuuki? Ada apa?”
Itu adalah Yuuki yang menyambungkan komunikasinya kepada komunikasi Astia saat ini, yang berada di titik timur laut bersama dengan Elma.
“Aku butuh bantuanmu...”
“E-eh iya?” Astia sedikit gugup dalam hal ini.
“Aku akan jelaskan situasinya terlebih dahulu. Di posisiku saat ini, sebuah anti sihir meliputi seluruh hutan yang berada di titik timur laut. Itu artinya mereka tidak bisa mengeluarkan sihir sedikitpun dan mereka juga tidak bisa menghubungi garis belakang atau garis titik aman mereka.”
Astia mengangguk ketika dia mendengarkan penjelasan dari Yuuki, tapi dia menemukan kejanggalan dari kalimat itu.
“Tunggu sebentar...” Astia menahan perkataan Yuuki, “Kalau anti sihir berlaku di sana, lalu bagaimana kita bisa terhubung melalui komunikasi ini?”
Beberapa detik, pertanyaan Astia dijawab dengan keheningan yang sementara. Lalu...
“Aku tidak yakin, tapi dugaanku sepertinya ini berkat kemampuanmu yang tersebar di seluruh orang yang kamu kenal.” Kata Yuuki
Setelah perkataan Yuuki, dia menatap tangannya dan bertanya-tanya suatu hal...
Apa ini benar-benar kekuatanku?
Astia tidak berpikir sampai sejauh itu kekuatannya. Bahkan ketika kemampuannya yaitu elemen air yang diubah menjadi penghalang transparan, dapat tersebar ke seluruh gadis dan Yuuki lalu melindunginya dari seluruh kemampuan supranatural. Dalam hal ini Astia tidak menyangka dapat seefektif dan sekuat ini kemampuannya.
Jika itu kebenarannya maka itu bagus dan perlu ditingkatkan. Namun untuk saat ini, Astia tidak terlalu memikirkan hal itu.
“Baiklah aku mengerti...” kata Astia, kemudian dia melanjutkan, “Itu artinya pasukan pembalas yang ada di sana juga tidak berguna?”
Perkataan Astia cukup menyakitkan jika didengar oleh pasukan yang ada di timur laut, karena itulah fakta yang terjadi di sana. Astia juga tidak seolah tidak tahu kondisi selanjutnya yang berada di titik timur laut dan kemudian bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?” Namun Astia tidak mengatakan omong kosong seperti itu yang akan membuatnya seperti beban.
“Bisa dibilang begitu. Aku berpikir dengan datangnya pasukan pembalas akan membantu sedikit pasukan tempur mereka, tapi aku salah dalam satu sisi. Itu yang mengakibatkan mereka jatuh ke lubang yang sama dan terkena anti sihir.” kata Yuuki.
“Aku pikir itu adalah kesalahan murni mereka. Mereka terlalu bergantung pada kemampuan sihir dan tidak mengembangkan kemampuannya dengan kualitas tempur. Mungkin di titik itu yang terdapat paling banyak masalah.”
Astia tersenyum dengan perkataannya sendiri. Sekarang Astia dapat lebih banyak berbicara daripada sebelumnya, karena untuk saat ini Astia yang mendapatkan alih komandonya.
“Baiklah, aku sudah mengerti kondisinya...” kata Astia yang mengepalkan tangannya, kemudian dia kembali memperhatikan diskusi yang masih berlangsung, “Beri aku beberapa menit.”
“Baiklah, Nona Astia.”
“Tuan Yuuki, dari mana kau—!”
Astia tersentak dengan perkataan Yuuki yang menjadi aneh menurut Astia. Namun langsung dipotong oleh Yuuki.
“Sambungannya akan kututup—”
Sambungannya langsung terputus, meskipun ada kejanggalan di hati Astia. Astia hanya keheranan dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Untuk pertama kalinya Astia dipanggil oleh orang yang paling dekat dengan sebutan ‘Nona’.
Karena itu, Astia hanya perlu mengatur napasnya hingga tenang.
“Baiklah, mari kita memulai operasi ini dengan senang hati.”
Astia berguman ketika dia terus mendengar sebuah diskusi yang melibatkan kelompok petualang yang berada di titik timur dan kelompok petualang yang berada di titik aman, yaitu Angel Queen.
“Tenang saja. Karena itu kamilah yang bertugas di titik aman. Itu juga yang membuat kami dapat melancarkan sebuah serangan jarak jauh.”
Sebuah suara yang mengatakan kalimat itu, berasal dari pengeras suara yang tersalurkan dalam telekomunikasi jarak jauh. Itu adalah suara dari pemimpin kelompok Angel Queen.
“Eh...?”
Astia terkejut dalam hal ini.
Seolah keberuntungan berpihak padanya, sebuah solusi yang paling efektif datang yang berasal dari pihak lain.
Ini seolah-olah Tuan Yuuki telah meramalkan hal ini, dan inilah yang akan membantu pasukan petualan di titik timur laut.
Ketika Astia menyatakan itu dari dalam hatinya, sebuah suara lagi datang dari pihak lain.
“Tapi aku membutuhkan koordinat yang pasti, agar serangan kami tepat sasaran.”
Karena perkataan itulah yang membuat Astia menghubungi Yuuki. Di sisi lain, para petualang sedang meributkan tentang caranya membuat sebuah penanda agar tanda itu dapat diketahui oleh Angel Queen dari jauh.
“Tuan Yuuki...”
“Kamu cepat juga ya.”
“Tidak, hanya kebetulan...” lalu Astia menjelaskan semuanya.
Astia menjelaskan tentang pemberian bantuan serangan dari jarak jauh, cara pertamanya adalah membuat sebuah penanda dengan apapun itu, yang penting dapat terlihat oleh pasukan petualang yang berada di titik aman.
Ini adalah bantuan yang sangat dibutuhkan karena tidak perlu membutuhkan banyak waktu dan personil.
“Aku mengerti. Ternyata itu sederhana.”
“Sederhana? Bagaimana caranya kamu memberikan sebuah tanda kepada pasukan Angel Queen dengan jarak yang sejauh itu dan terlihat?”
Pertanyaan Astia masuk akal. Dengan jarak di antara mereka terdapat jarak yang lebih dari puluhan kilometer dan ditambah halangan seperti kabut, maka melihat sebuah ‘tanda’ akan mustahil untuk penglihatan elang sekalipun.
Namun Yuuki memiliki pemikiran lain.
“Tidak, kamu salah Astia. Jangan terlalu meremehkan kemampuan petualang kelas atas. Kemungkinan mereka mempunyai sesuatu untuk menutupi jarak penglihatan tanpa halangan dengan meningkatkan ketajaman pengindraan mereka. Aku tidak tahu itu, tapi aku yakin mereka dapat memperluas penglihatan mereka sampai sejauh apapun dengan kemampuan mereka.”
“Maafkan aku.”
“Itu tidak perlu. Baiklah untuk saat ini aku akan melakukan rencanaku untuk memisahkan antara daya hancur yang akan ditimbulkan dan personil yang berada di area sasarannya. Kalau begitu akan kututup.”
“Aku mengerti. Semoga berhasil.”
Setelah beberapa menit sabungan itu terputus, sebuah keributan terjadi, yang mengatakan bahwa ada energi merah menjulang tinggi ke langit di titik timur laut.
“Inikah tandanya?” gumam Astia.
Astia juga mengerti kondisinya. Kalau konsekuensi itu terjadi, maka identitas yang dicurigai oleh para petualang di tenda itu sejak tadi akan terungkap. Itu karena energi merah yang merupakan sebuah tanda, telah diperlihatkan meskipun informasi itu belum disebar.
“Organisasi asing yang telah kita bicarakan memang benar adanya! Dan mereka sedang berada di antara kita!” salah satu petualang kelas atas mengatakan itu dengan tegas.
Astia hanya tersenyum, karena dugaannya telah menjadi kenyataan.
Ketika mereka semua sedang mencurigai satu sama lain, Astia masih tersenyum. Itu karena Astia sudah menyiapkan sesuatu agar dia terlepas dari kecurigaan sedikitpun.
Astia memegang sambungan yang berada di telinganya, dan mengatakan, “Lakukan, Lilia.”
“Siap, Astia!”
Hanya dengan beberapa detik, sebuah kecurigaan perlahan menghilang karena ada sebuah terompet yang menandakan keberadaan musuh.
“Musuh datang!”
Astia menyebut ini dengan ‘Pengalihan Isu’.
Semuanya karena Lilia dan gadis lain telah memancing para binatang iblis dan monster lain agar datang ke perkemahan para petualang. Lalu semuanya teralihkan dengan cepat karena itu.
Di saat para petualang keluar dari tenda tersebut, giliran Astia yang keluar dari tempat itu untuk melanjutkan rencana mereka. Namun seseorang menyadari keberadaan Astia.
Namun Astia juga menyadarinya kalau seorang petualang itu menatapnya. Astia menaikkan sudut bibirnya ketika dia memakai topeng matanya. Kemudian dengan ekspresi yang seperti itu, Astia membalas tatapannya.
“Kau!!”
Petualang itu berteriak, dan mengejar Astia dengan kecepatannya. Namun Astia segera menyamarkan keberadaannya, seperti yang telah dia lakukan kepada Ellena.
Tanpa sebuah rasa peduli, Astia pergi ke tempat lain dan segera berkumpul dengan gadis lain.
つづく
Kalau ada typo atau kalimat yang tidak masuk akal mohon dikoreksi ya, dan jangan lupa like, komen, dan klik Favorti. Terima kasih!