
“Serangan datang!”
Binatang iblis kembali berdatangan di saat ular raksasa itu menyerang di segala sisi. Namun tidak hanya itu, seolah gerbang neraka terbuka dari kegelapan, satu demi satu mahluk bertulang keluar dari kegelapan itu. Mereka adalah Skeleton, memakai senjata-senjata yang terbuat dari tulangnya sendiri.
Para petualang yang memiliki kemampuan dan tingkat petualangnya pada kelas tinggi sekalipun yang mereka banggakan, tapi saat ini serangan mereka semua tidak ada yang berguna karena sebuah Antisihir yang menghalangi mantra peningkatan kualitas tempur mereka.
Akhirnya mereka hanya bergantung pada kemampuan mereka dalam bersenjata, yang di mana itu hanya bergantu pada sekelompok petualang saja.
“Mundur! Skeleton itu juga tidak bisa dibunuh!”
Seharusnya petualang tingkat tinggipun dapat mengalahkan monster Skeleton yang tergolong lemah dan rapuh itu, tapi pergerakan dan kecepatan di antara mereka sama persis, bahkan kemampuan regenerasinya setara dengan binatang iblis.
“Bagaimana cara kita mundur? Monster-monster itu sudah mengelilingi kita di setiap sisi!”
Di sisi lain Frank sudah kehabisan akal untuk mendapatkan kemenangan di tangan. Dia tidak ada pilihan lain selain mundur sementara dan meminta bantuan dari pasukan pembalas, tapi bagaimana caranya?
Seluruh sisi dari formasi melingkar itu sudah terkepung oleh musuh yang jauh lebih banyak dengan kualitas yang setara bahkan di atas mereka.
Petualang yang sedang diobati oleh pasukan medis pun tidak cukup karena sihir mereka telah tersegel, jadi mereka hanya bisa melakukan pertolongan pertama yang itupun tidak dapat meredam rasa sakit yang diderita para petualang.
Namun masih ada satu harapan.
“Baiklah, karena kabutnya sudah hilang, aku yang akan memimpin untuk membuka jalan...” kata Frank ketika dia ingin berteriak, “Semuanya! Alihkan ke posisi busur!”
Seluruh petualang langsung mengubah koordinasinya ke formasi lain, yaitu membentuk sebuah busur. Pasukan medis berada di tengah ketika petualang lain menjaga mereka di sisi kiri dan kanan. Frank di ujung paling depan untuk menumpas segala halangan dan diikuti petualang lainnya.
“HOO!!”
Mereka semua berteriak untuk menutupi rasa takut mereka. Di saat itu juga Frank membasmi seluruh binatang iblis yang ada di depannya dan puluhan Skeleton. Ini adalah serangan acak yang mengedepankan serangan vertikal dan horizontal tanpa memandang kelemahan musuh.
Meskipun musuhnya dapat beregenerasi tapi itu sudah cukup untuk membuat jarak di antara mereka.
“Sial! Akhh!!”
Hampir sebagian petualang terlempar ke segala sisi.
Di situlah kelemahannya. Bagian belakang dari formasi itu tidak memiliki pertahanan sedikitpun, jadi binatang iblis dan ular raksasa yang mengejarnya dapat memporak-porandakan barisan belakang. Akibatnya, jantung kemenangan dari titik timur penyerangan yaitu sebagian pasukan medis terhempas ke segala sisi.
Darah terciprat hingga mengenai armor milik petualang yang masih bertahan. Kekuatan musuh lebih brutal dan lebih mendominasi daripada petualang. Bahkan kecepatan musuh puluhan lebih cepat daripada suara yang mereka keluarkan di setiap kali mereka membuat peringatan. Khususnya pada ular raksasa itu.
Tidak ada pilihan lain untuk Frank sebelum mental petualang lainnya jatuh ke jurang yang lebih dalam. Karena itu dia menghunuskan pedang besarnya dan bersiap menghabisi ular raksasa itu dan si pengganggu binatang iblis.
Ketika ular itu sedikit membuat jarak di antara para petualang, Frank maju langkah demi langkah.
Meskipun dia sudah tidak mempunyai apa-apa selain keterampilan berpedangnya saat ini, tapi dia masih memberanikan diri di atas kematian yang menatapnya.
“Aku akan memenggalmu sampai kau puas.”
Setelah kalimat ini, Frank melesat cepat ke ular raksasa itu. Frank terlalu cepat sampai ular itu tidak dapat bereaksi atas kecepatan Frank. Bagian dari kepalanya terpenggal dengan mulus, namun itu kembali beregenerasi dengan instan.
Hanya dengan berkedip saja, kepala dari ular itu kembali tumbuh dari tubuhnya. Frank sudah menduga hal ini, dia tidak main-main dengan kalimat yang telah dilontarkannya.
Sembari melawan ular raksasa itu, Frank juga mengatasi serangan-serangan dari binatang iblis dan memenggal kepala mereka dengan mulus. Hanya saja dia tidak mengetahui kelemahan dari ular raksasa itu.
Di saat petualang lain yang berusaha menyelamatkan petualang yang terluka lalu diserahkan pada pasukan medis, Frank masih melakukan semua hal itu dalam bersamaan. Melindungi petualang lainnya dari ular raksasa itu dan mengalihkan perhatian binatang iblis untuknya bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Bahkan ini adalah hal yang mustahil untuknya.
Tenaganya memang sangat baik, tapi jika dia dihantam tugas yang sedemikian berat itu, daya tahan diri Frank sepertinya sudah berada dalam batasnya. Kemungkinan besar dia sebentar lagi akan mengalami kelelahan yang menyakitkan.
Tapi Frank berusaha melampaui itu meskipun dia akan merusak tubuhnya. Ini hanya karena harga dirinya jauh superior dibanding keselamatannya.
Kemudian Frank kembali mengutamakan serangannya pada ular raksasa itu. Beradu pada kecepatan dan kekuatan yang sama, dia terus menerus memenggal kepala ular raksasa itu dengan pengalamannya selama ini.
Anak panak dari Skeleton itu juga ditepis oleh armor tebalnya.
“Kau kita serangan seperti itu dapat menembusku?”
Namun di saat itu juga, racun yang sangat korosif melesat ke arah Frank. Dia berusaha menghindari itu, kemudian disusul dengan serangan ular raksasa itu dengan rahangnya.
Frank mencoba menghindari ancaman ini dengan gerakan dan teknik semaksimal mungkin.
Tanpa dia sadari, Frank melupakan hal lain yang begitu penting. Sebuah akar yang menjulang tinggi sudah melesat kencang ke tubuh Frank, itu dapat menembus tubuh Frank layaknya kertas.
Frank hanya bisa bereaksi karena tubuhnya sudah berada di posisi maksimal dalam menghindari dari serangan ular raksasa itu.
“Aku... mati...?”
Hanya butuh sepersekian detik akar itu menembus tubuhnya seperti petualang-petualang lain yang telah mati. Di dalam hatinya dia menyayangkan perbuatan dan pemikirannya selama ini, harga dirinya terlalu tinggi dibanding kualitas berpikirnya yang terlalu biasa.
Hanya keputusasaan dan penyesalan yang dapat dirasakan olehnya.
Namun sebelum itu...
“Betapa noraknya kau ini!”
Akar itu terbelah dengan mulus dan cepat. Detik berikutnya ratusan sabitan yang tidak terkontrol menyiksa ular raksasa itu secara brutal, seolah dia memainkan regenerasi super cepat yang dimiliki oleh ular raksasa itu.
Gerakannya terlatih meskipun tindakannya sebrutal itu. Dia tidak menunjukkan kecerobohan sedikitpun dan selalu berhati-hati dengan serangan yang akan mengancam dirinya.
“Kau...?”
Frank menyadari orang itu dan merasa mengenal orang itu. Seorang gadis berambut putih pendek, dengan telinga runcing dan topeng yang menutupi area mata. Pakaiannya khasnya yang hitam membuat orang bertanya-tanya tentang asal dari gadis itu.
“Kau tahu bagaimana caranya bersenang-senang? Inilah yang dinamakan bersenang-senang!”
Gadis itu tertawa dengan keras seolah meluapkan emosinya. Serangannya juga didasari atas kekesalan. Bahkan kalimat dari gadis itu tidak ditujukan untuk Frank, tapi seolah-olah untuk orang lain.
Namun tetap saja serangan dari gadis itu tidak membuat regenerasi dari ular itu terhenti. Sisi baiknya mereka mendapatkan sedikit waktu untuk mengatasi serangan dari pihak lain.
Frank hanya bisa terkejut dan berdiam diri ketika gadis itu melakukan serangan tanpa henti, tapi di sisi lain...
“Hmm, sepertinya regenerasi dari makhluk itu tidak memiliki batas.”
Frank langsung menggigil tanpa sebab. Tiba-tiba seseorang yang misterius berada di dekatnya tanpa ia sadari.
“Siapa kau?!”
Itu adalah respon alami yang dapat dikeluarkan Frank. Mendapatkan seseorang yang tiba-tiba didekatnya tanpa dia sadari, maka dia adalah orang yang sangat abstrak untuk dinilai.
Pria itu memiliki karakteristik pakaian yang mirip dengan gadis itu dan sama-sama memakai topeng. Namun dilihat dari balik topengnya, terlihat mata merah yang cukup mengintimidasi.
“Kenapa yang harus kau pertanyakan sekarang itu identitasku?” kata pria itu, “Itulah sebuah pemikiran yang membuat keruntuhan dalam koordinasi petualang di titik ini.”
“K-kau...” Frank menatapnya, tapi dia tidak berani membalasnya karena semua perkataan dari pria itu cukup benar.
Yang harus dia perhatikan saat ini adalah melihat kelompoknya dan mengatur kembali menjadi komposisi awal yang utuh. Namun saat ini dia dan pasukannya masih berantakan.
“Tapi...” kata pria itu, “Setidaknya serahkan pada kami dalam mengurus ular raksasa ini.
Pria itu terlihat acuh tak acuh dalam mengatakan kalimat itu, tapi dia di balik kalimatnya ada sebuah keseriusan dan pengalaman lebih berat yang pernah dihadapi oleh pria itu.
Dia menghunuskan pedangnya dengan sangat mulus dan pelan, kemudian dia memanggil rekannya yang masih menyiksa ular raksasa itu dengan sabit besarnya.
“Mundur Elma.”
“Siap master!” jawab gadis itu.
Setelah gadis itu pergi menjauh dan mendekat ke arah pria itu, Frank melihat aura kemerahan yang terlihat di pedang panjang pria itu. Kemudian pria itu melancarkan serangannya hingga Frank memiliki pertanyaan besar di kepalanya...
つづく